Menikah Dalam Perjodohan

Menikah Dalam Perjodohan
Episode 130 S2


__ADS_3

"Aku dengan nya," tanya Alvaro.


"Iya dengan nya, jadi dengan siapa lagi, kalian akan bekerja sama, Bella tidak lama hanya dua minggu saja."


"Tidak masalah, ya kan Bella, kita saling mengenal jadi semuanya akan lebih mudah," ucap Alvaro.


Riga pun pergi meninggalkan Alvaro, membiarkan mereka berdua bekerja. Ia juga memiliki pekerjaan lainnya yang segera harus cepat di kerjakan.


"Alvaro," ucap Bella.


"Panggil aku tuan Al, aku bos mu hahahha," kata Alvaro dengan sangat sombongnya.


"Al." Bella mengerutkan dahi nya.


"Hahaha aku bercanda Bell, sudah ayo bekerja jangan diam saja, aku bekerja hanya tiga kali seminggu, jadi mungkin kita hanya 6 kali bertemu," ucap Alvaro.


"Kenapa tidak setiap hari saja," tanya Bella.


"Tidak mau ah, aku masih ingin bersenang-senang, dan menghabiskan waktu ku dengan istri ku," jawab Alvaro.


"Alvaro Alvaro, ya sudah aku ingin membuat kopi, kU mau tidak," tanya Bella.


"Boleh seperti yang dulu ya." Alvaro duduk di meja kebesaran nya. Menjadi seorang bos ternyata enak juga. Alvaro sedikit menyesal baru masuk ke dunia kerja.


"Jika aku bekerja mungkin aku tidak perlu melanjutkan S2 ku," batin Alvaro.


Siang hari nya, waktu jam istirahat. Melanie datang ke perusahaan membawa makan siang Alvaro. Semua itu atas permintaan Alvaro sendiri, lagi pula jarak apartemen dan kantor sangat lah dekat. Dari pada ia makan di luar yang belum tentu sehat, lebih baik ia makan masakan istri sendiri yang sudah sangat terjamin.


"Ayah ini makan siang ayah," ucap Melanie yang tidak sengaja bertemu dengan Riga.


"Wah terimakasih, ayah baru ingin pesan makanan. Oh iya itu ruangan suami mu, sering sering ya Melanie," kata Riga.

__ADS_1


"Hehehe pasti yah, aku ke mas Al dulu," ucap Melanie.


Melanie mengetuk pintu ruangan itu sebelum masuk ke dalam, ia tidak berani langsung masuk ke dalam ruangan Alvaro.


"Buka mungkin penting," ucap Alvaro.


"Iya." Bella yang kebetulan masih di ruangan itu membuka kan pintu ruangan itu.


"Ada apa yah," tanya Bella.


"Al... Alvaro ada," tanya Melanie yang terkejut malah wanita yang membuka kan pintu ruangan itu.


"Ada tunggu sebentar...


"Alvaro ada wanita yang mencari mu," kata Bella.


"Suruh dia masuk," ucap Alvaro.


"Mas," ucap Melanie.


"Melanie, kamu sudah datang." Alvaro langsung berdiri.


Melanie melirik ke arah Bella, lirikan itu pertanda jika ia meminta penjelasan dari Alvaro, siapa wanita yang bersama dengan nya.


"Dia sekertaris ku, nama nya Bella, dia pernah ke apartemen, saat pasta kemarin," ucap Alvaro.


"Perkenalkan aku Bella, senang berkenalan dengan mu."


"Melanie istri nya Alvaro."


"Seperti nya kalian ingin menghabiskan waktu berdua, aku pergi dulu, sudah waktunya istirahat," ucap Bella dan pergi meninggalkan berdua.

__ADS_1


"Dia benar benar sekertaris mu," tanya Melanie.


"Iya Melanie, kamu cemburu ya aku satu ruangan dengan nya," tanya Alvaro.


"Aku cemburu dengan nya, itu tidak mungkin. Lagi pula siapa kau aku cemburuin," jawab Melanie.


Alvaro menarik Melanie agar lebih dekat dengan nya. Ia mengambil makanan yang di bawa oleh Melanie dan meletakkan nya di meja kerja nya.


"Mau apa mas," tanya Melanie yang dag dig dug du buat Alvaro, ia takut Alvaro kembali meminta jatah nya."


"Tidak ada aku hanya lapar, tapi aku bingung mana yang harus aku makan," jawab Alvaro.


"Kan aku hanya membawa satu makanan, kenapa bingung mas," tanya Melanie.


"Kamu juga bisa menjadi makanan siang ku." Alvaro mencium kuat leher Melanie yang membuat leher itu berbekas.


"Ahh mas, jangan nanti ada yang melihat kita, ada CCTV," kata Melanie.


"Iya iya, ayo siapkan makanan ku, atau kamu yang aku makan," ucap Alvaro.


"Hehehe iya iya."


Melanie dan Alvaro duduk bersama di sofa, Melanie membuka makanan yang ia bawa dan mulai menyuapi Alvaro.


"Daddy sudah makan belum ya," ucap Alvaro.


"Tadi aku sudah memberikan ayah makan," kata Melanie.


"Bagus, pasti daddy sangat senang, kamu sangat baik," ucap Alvaro.


Menurut Alvaro seperti ini lah istri yang ia butuhkan, perhatian pada nya dan juga keluarga nya. Tetapi karena sifat Alvaro yang masih labil pikiran Alvaro belum bisa menetap pada istri nya seorang. Ya masih mengharapkan prinsipnya kebebasan.

__ADS_1


__ADS_2