
"Kenapa," tanya Alfi.
"Kenapa apa nya?"
"Kenapa bertanya seperti itu, apa ada yang salah dari saya?"
"Banyak, kau bisa minta bermain piano dengan baik, kau bisa menggunakan alat masak yang canggih di rumah ku dan kau bisa menyelesaikan semua pekerjaan mu dengan baik di perusahaan. Bukan nya itu hal yang aneh untuk gadis kampung," ucap Riga.
"Untuk itu semua saya bisa menjelaskan nya," kata Alfi.
"Hmmmm," gumam Riga.
"Hmmmm apa," tanya Alfi.
"Jelaskan semua nya," jawab Riga.
"Oh iya. Saya bisa memasak dengan peralatan canggih ini karena saya pernah menjadi pembantu di rumah orang kaya. Saya bekerja untuk membiayai kuliah saya, itu sebabnya saya bisa melakukan pekerjaan dengan baik."
"Untuk bermain piano," tanya Riga.
"Saya mengambil ekstra musik dari SMA." Semua yang di katakan Alfi adalah kebohongan semata, ntah dari mana ia mendapatkan semua kata kata itu.
Percaya tidak percaya Riga hanya diam saja, ia merasa apa yang di katakan Alfi masih mengganjal di otak nya. Semua nya masih terasa bias. Tetapi Riga enggan menanyakan nya lagi karena ia yakin Alfi pasti mengulangi jawaban yang sama. Ia masih trauma saat di mobil kemarin, semua jawaban Alfi tidak ada yang beres.
"Riga eh saya besok boleh bertemu dengan Daniel,) " tanya Alfi.
"Tidak," jawab Riga dengan singkat padat dan sangat jelas kalau ia melarang Alfi.
__ADS_1
"Kenapa, saya kan hanya ingin bertemu dengan teman ku," tanya Alfi
"Besok kau menjadi asisten pribadi ku, semua yang aku perlukan kau yang menyiapkan nya," jawab Riga.
"Kenapa bisa begitu, bukan nya saya sudah mempunyai pekerjaan sendiri."
"Kau menolak nya, ya sudah pergi sana jangan kembali lagi." Riga pergi meninggalkan Alfi.
Alfi mengerutkan dahi nya saat melihat Riga yang pergi begitu saja. Ia tidak tau kenapa Riga mendadak seperti marah pada nya. Padahal nya ia ingin bertemu dengan Daniel saat jam istirahat dan tidak akan mungkin menganggu pekerjaan nya.
"Dia kenapa si, kenapa sangat melarang ku," batin Alfi sambil berjalan menyusul Riga.
Riga kembali berbaring di atas ranjang. Ia menghidupkan laptop nya untuk melanjutkan pekerjaan nya yang tertunda. Lagi pula ia juta tidak akan bisa tidur malam-malam begini. Berbeda dengan Riga Alfi langsung tidur di sofa, ia sudah mengantuk kembali dalam waktu yang singkat.
Pagi hari nya, Alfi membuka mata nya saat merasakan rasa silau dari sinar matahari yang masuk ke dalam kamar. Alfi melihat Riga masih sibuk dengan laptop nya, ia tidak habis pikir bagaimana mungkin bisa Riga berada di depan laptop selama itu.
Riga malah merasa heran dengan Alfi, hari Weekend seperti ini untuk apa Alfi masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa pakaian kantor. Serajin rajin nya Riga ia tidak pernah bekerja di hari Weekend.
"Wanita aneh, memang aneh dan sangat aneh," batin Riga.
Alfi keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi. Ia masih melihat Riga berada di tempat nya, ia rasa Riga belum bergerak dari saja sejak malam tadi.
"Riga kamu tidak bekerja," tanya Alfi.
"Weekend," jawab Riga.
Alfi menepuk jidat nya, ia sama sekali tidak tau jika hari ini adalah hari Weekend. Pantas saja Daniel mengajak nya keluar dan bodoh nya ia membalas Daniel pada jam istirahat.
__ADS_1
"Kalau kau sakit jangan menyusahkan ku," kata Riga.
"Saya lupa." Alfi memutar tubuhnya, rasa malu nya sangat besar pada Riga.
"Tunggu kau jadi pergi," tanya Riga.
"Kamu tidak mengizinkan saya," jawab Alfi.
"Ganti pakaian mu dan ikut dengan ku," ucap Riga.
"Kemana?"
Tanpa menjawab Riga menutup laptop nya, ia beranjak dari atas kasur dan masuk ke dalam kamar mandi. Dan bodoh nya ia tidak membawa pakaian ganti.
"Pria aneh, baik kalau ada mau nya," ucap Alfi.
Alfi mengganti pakaian kerja nya. Seperti biasa ia make up hanya secukupnya saja. Tak lupa parfum yang akan pakai sedari kecil, ia tidak pernah mengganti parfum nya dengan parfum lain.
"Sudah mau habis, aku harus minta lagi," ucap Alfi.
Alfi mengirimkan pesan pada kakek nya untuk mengirimkan parfum khusus ini. Mungkin hanya Alfi lah yang mempunyai parfum yang ia pakai ini.
Riga kebingungan mencari pakaian nya, ia lupa jika tidak membawa pakaian ganti. Di dalam kamar mandi hanya ada handuk yang mampu menutupi separuh badan nya.
"Ah aku harus apa, aku keluar dengan handuk ini. Enak kali dia bisa melihat pemandangan indah di pagi hari," batin Riga.
Dengan terpaksa Riga keluar dari dalam kamar mandi, ia harap Alfi sudah pergi dari dalam kamar, dan ternyata Alfi sedang berada tak jauh dari kamar mandi. Mata Alfi langsung Terfokus pada hal di depan nya.
__ADS_1