
"Bang jika aku menikah, hmmm apa aku masih mendapatkan uang jajan," tanya Ivan.
"Ya tidak lah, kau bodoh sekali. Kau lupa jika kau itu pewaris utama perusahaan yang aku pimpin sekarang."
"Lah kok aku, bukan nya Alvaro," tanya Ivan.
"Tidak lah, Alvaro mewarisi perusahaan kakek nya di desa. Ingat kau itu anak nya ayah Varo, jadi kau yang paling berhak," jawab Riga.
"Oh begitu, jadi aku harus bekerja," tanya Ivan.
"Ya jelas lah, kau itu harus bekerja. Enak saja tidak bekerja, hidup itu perlu perjuangan Ivan, jangan enak lehai lehai di rumah," jawab Riga.
"Hahaha iya bang, tapi aku menikah dengan siapa, aku saja tidak mempunyai pacar," kata Ivan.
"Kau pria Ivan, cari pacar dong, jangan main saja."
"Aku takut tidak dapat yang tidak bersegel, aku ingin membuka segel bang," kata Ivan.
"Segel apa segel terkutuk, sudah lah nanti aku akan carikan jodoh untuk mu," ucap Riga.
"Nah begitu dong, sudah tidak sabar."
"Ya kalau ayah mengizinkan mu menikah."
"Kenapa tidak? ayah saja mempunyai istri banyak," kata Ivan.
"Ayah kuat Ivan, dia bisa menghidupi istri istri nya. Bisa memberikan keadilan bagi istri istri nya. Sedangkan kau apa bisa? bermain sekali saja sudah KO, belum lagi jika istri mu menuntut ini itu. Kau pikir memiliki banyak istri itu enak? aku saja yang hanya satu istri sudah lebih dari cukup."
"Abang ku tersayang, tercinta. Siapa yang ingin memiliki banyak istri, aku hanya berkata jika ayah tidak mengizinkan ku menikah," kata Ivan.
"Hahaha oh begitu ngomong ngomong kita cukup mirip ya."
"Ya kata mu kita berasal dari burung yang sama, ya mirip lah," kata Ivan.
"Burung ayah besar bang," ucap Ivan.
"Ya terus kau ingin besar juga," tanya Riga.
__ADS_1
"Pantas saja, mamah sampai seperti itu. Hahahaha aku jadi ingin," ucap Ivan.
Riga merasa jika ia terus menanggapi Ivan bisa gila hidup nya. Adik nya ini memang memiliki sifat yang berbeda dari yang lainnya. Dengan nya saja tidak hanya sedikit mirip, mungkin karena mereka beda mamah.
"Abang ingat uang jajan ku bulan ini dua kali lipat," kata Ivan.
"Sebenarnya untuk apa si, uang jajan yang kuberikan setiap biasanya saja sudah sangat banyak, dari ayah juga tidak kalah banyak. Dan setiap ada apa apa kau minta nya ke aku," ucap Riga.
"Kan.. kan. kan.. sudah din temani seperti itu."
"Hahaha iya iya, terimakasih dan jangan cerewet," kata Riga.
Sesampainya di rumah Riga dan Ivan belum bisa langsung istirahat. Riga mengajak Ivan untuk mengupas buah kedondong itu. Mereka berdua sangat kesulitan yang memang tidak memiliki besik mengupas buah buahan.
"Di dalam nya ada biji yang aneh bang," kata Ivan.
"Nah dari pada kau bingung dengan biji aneh itu, lebih baik kau coba, rasa nya sangat manis dan enak, kakak ipar mu saja sangat suka dengan rasa nya," ucap Riga.
"Apa benar, aku belum pernah memakan nya," kata Ivan sambil mengambil sepotong buah itu.
"Bang ini benar-benar masam," ucap Ivan.
"Hahaha tapi nanti ada rasa manis di belakang nya," kata Riga.
"Iya hanya sedikit."
Ivan merasa aneh kenapa orang hamil suka memakan makanan aneh dan sulit untuk di cari. Coba saja meminta hamburger, pizza, spaghetti, sushi pasti sangat mudah untuk mereka cari dan mereka bisa ikut memakannya.
"Sudah cukup, aku ke kamar dulu." Riga membawa mangkuk yang berisi buah buah itu ke dalam kamar.
Riga membuang nafas nya dengan kasar. Alfi sudah tertidur dengan pulas dan ia bingung harus melakukan apa. Ia takut jika membangunkan Alfi, Alfi akan mengamuk pada nya begitu juga jika ia tidak membangunkan Alfi. Ia takut Alfi malah semakin marah padanya. Saat ini apa yang Riga lakukan sedang di posisi serba salah.
Riga berjalan mendekati Alfi dan mulai membangunkan nya, ia rasa lebih baik dia membangun Alfi, dari pada ia mencari buah ini besok lagi, Riga benar-benar kapok mengambil buah kramat ini.
"Sayang bangun aku sudah kembali." Riga memberikan beberapa kecupan manis di wajah istri nya.
"Sayang tolong bangun aku sudah membawa buah yang kamu inginkan."
__ADS_1
Alfi mulai membuka matanya, orang yang sejak tadi ia tunggu akhirnya datang juga.
"Kamu lama sekali," ucap Alfi sambil memperbaiki posisinya.
Riga mencium bibir istri nya agar tidak mengomel terus menerus.
"Hehehe kamu pikir enak mencari buah ini, aku melakukan perjuangan yang hebat untuk mendapatkannya."
"Dan yang perlu harus kamu tau aku tidak peduli. Karena apa? Karena kamu yang membuatku ingin aku buah ini. Siapa yang membuatku hamil?"
"Yayaya aku, sudah berhenti membahasnya sekarang kamu makanlah. Jangan biarkan perjuangan ku sia sia. Ini sangat enak sayang, apalagi makan nya malam malam dan di temanin suami tercinta."
"Malas aku sudah tidak menginginkannya." Alfi sengaja ingin memancing kesabaran suaminya, ia masih sangat kesal karena Riga benar-benar sangat lama.
"Sayang kamu tidak menghargai perjuangan ku untuk mengambilnya, aku harus lewati hutan bambu yang menyeramkan, ku harus mengusap perut ibu hamil, membeli buah ini dengan harga yang tinggi, terlempar oleh buah ini, tertimpa oleh ivan, dan berlari terbirit-birit karena ketakutan."
Alfi menahan tawa nya mendengar cerita Riga, ia yakin Riga tidak ngarang karena memang suaminya ini sejak dulu memiliki sifat yang random.
"Ya ya aku menghargai perjuangan suami tercinta ku." Alfi mengambil sepotong buah itu dan langsung memakannya.
"Hmmm masam, tapi enak sekali," kata Alfi.
"Kalau terlalu masan lihat saja wajah ku, pasti rasa nya jadi manis," ucap Riga sambil tersenyum manis di depan istri nya.
"Ingat jika hamil, jatah berhenti selama trimester pertama," kata Alfi.
"Iya iya aku mengerti, aku yakin anak kita ini dapat tumbuh dengan sangat baik, daddy nya kuat sudah pasti anak nya akan kuat," ucap Riga.
"Kamu ingin anak kita perempuan atau wanita?"
Riga mengerutkan alis nya. Seperti nya kalimat Alfi ada yang salah. "Sayang maksud kamu perempuan atau pria."
"Ya aku berkata seperti itu tadi, aku tidak salah."
"Ya ya ya kamu benar oke, aku salah. Hmmm aku ingin anak perempuan saja lah, agar dia bisa mewarisi kecantikan mamah nya," kata Riga.
"Tidak tidak, pria saja lah. Aku tida cukup cantik. Lebih baik tampan seperti mu, enak di pandang," ucap Alfi.
__ADS_1