Menikah Dalam Perjodohan

Menikah Dalam Perjodohan
Episode 9


__ADS_3

"Kamu mengejutkan ku," kata Alfi.


"Mau kemana? menghindar dari ku," tanya Riga.


"Tidak, ini sudah malam dan saya harus pulang, saya sudah lelah dan mengantuk," jawab Alfi.


"Pulang dengan ku," kata Riga.


"Tidak, saya bisa pulang sendiri," tolak Alfi.


Alfi ingin menyingkir dari hadapan Riga, ia sudah melihat kemarahan di wajah Riga saat ia menolak ajak kan dari Riga. Sebelum pergi meninggalkan nya, dengan cepat tangan Riga menarik Alfi kembali ke posisi nya.


"Ah sakit, kenapa kamu kasar." Alfi merasakan sakit karena Riga cukup kuat mencengkeram lengan nya.


Riga melepaskan tangan nya dari lengan Alfi. Sejenak ia membuang nafas nya secara perlahan. Riga merasa Alfi juga memiliki sifat yang cukup keras seperti nya.


"Pulang dengan ku," ucap Riga.


"Untuk apa saya pulang dengan kamu," tanya Alfi.


"Kamu tidak dengar, aku katakan pulang dengan ku, aku tidak mau banyak berbicara dengan mu," jawab Riga.


"Kenapa aku harus pulang dengan mu, nanti kan di rumah kita juga bertemu," kata Alfi.


Riga yang mudah terpancing emosi kembali membuang nafas nya dengan kasar. Ia rasa ia tidak bisa membawa gadis di depan nya ini dengan cara seperti itu.


"Aku sudah berbicara dengan kakek. Aku dan kakek sudah sepakat untuk berhubungan dengan mu dan menjamin keselamatan mu. Dengan pulang bersama dengan ku, kau akan terjamin keselamatan nya. Ini sudah malam jika terjadi sesuatu pada mu siapa yang bisa bertanggung jawab, aku tidak mau kau repot kan jika terjadi sesuatu yang tidak-tidak pada mu."


Sebelum mendengar ucapan dari bibir Alfi, dengan cepat Riga menarik Alfi bersama nya. Alfi cukup terkejut akan hal itu dengan terpaksa Alfi ikut bersama dengan Riga. Alfi terdiam sejenak karena fokus dengan perkataan Riga soal berhubungan. Otaknya salah fokus dengan perkataan itu.


"Berhubungan apa aku akan berhubungan itu dengan nya, tidak mungkin kami berdua belum menikah dan tidak mungkin akan menikah, aku tidak mungkin memiliki perasaan pada nya," batin Alfi.


Momen berdua Alfi dan Riga terlihat oleh Kalina, hal itu membuat Kalina semakin kesal pada Alfi. Sebelum pergi meninggalkan tempat itu, Kalina menghubungi seseorang, ia tidak akan membiarkan Alfi hidup dengan tenang. Ia yakin orang yang ia hubungi ini bisa membantu nya.


"Halo, Hmmm siapa ya," tanya Alena.

__ADS_1


"Kau tidak menyimpan nomor ku, aku Kalina?" Kalina tampak semakin kesal.


"Kalina, maaf maaf aku lupa menyimpan nomor mu, ada apa kau menghubungi ku," tanya Alena. Alena cukup terkejut seorang Kalina menyimpan nomor nya.


"Kau masih ingin berteman dengan ku kan?"


"Siapa yang tidak ingin berteman dengan mu, aku ingin sekali berteman dengan mu."


"Bagus kau bisa berteman dengan ku kan, kau bisa bertemu dengan ku dengan satu syarat," kata Kalina.


"Apa itu," tanya Alena.


"Hmmmm kau tau Alfi, gadis kampung yang di jodoh kan dengan Riga?"


"Iya aku tau dia, dia departemen sekertaris," kata Alena.


"Bagus, aku tidak suka dengan nya, dia sangat menyebabkan. Aku ingin kau menyulitkan pekerjaan nya di kantor, buat hidup nya tidak tenang, berikan pekerjaan tersulit untuk nya," ucap Kalina.


"Kau yakin, tuan Riga tidak akan marah," tanya Alena.


Alena diam sejenak, ia juga tidak suka pada Alfi. Alena pikir tidak ada salah nya menuruti permintaan Alfi. Toh itu bukan perkara yang sulit untuk ia lakukan.


"Bagaimana kau mau tidak?"


"Iya aku mau, dengan senang hati aku melakukan nya."


"Hahaha aku suka itu, lakukan dengan baik," kata Kalina.


"Siap Kalina, jadi mulai sekarang kita berteman," ucap Alena.


"Iya kita berteman, tetapi jika apa yang ku minta tidak kau kerjakan dengan baik, aku akan memutuskan pertemanan kita. Dan aku tida akan memberikan kesempatan kedua kali untuk mu," kata Kalina.


"Kau tenang saja, aku akan melakukan nya dengan baik."


Kalina memutuskan sambungan telepon itu, ia tersenyum lebar sambil meninggalkan tempat itu. Saat ini rasa kesal nya sudah hilang seketika. Ia hanya tinggal menunggu kabar dari Alena, teman baru nya.

__ADS_1


"Akhirnya aku bisa berteman dengan Kalina," ucap Alena dengan sangat senang.


Di perjalanan pulang mereka berdua tidak ada yang berbicara, mereka diam larut dengan pikiran masing-masing. Riga masih memikirkan bagaimana bisa gadis kampung seperti Alfi bisa bermain piano dengan sangat baik, bahkan lebih baik dari Kalina yang ia tau sudah berlatih sangat lama.


Riga memutuskan mulai membuka obrolan, ia ingin bertanya seputar piano tadi, ia berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan.


"Permainan piano mu tadi bagus," kata Riga.


Alfi langsung memalingkan wajah nya ke arah Riga, ia cukup terkejut Riga mengeluarkan suara nya disaat seperti ini. Tetapi mendengar perkataan dari Riga, Alfi dapat menembak akan lari kemana obrolan ini.


"Terimakasih," ucap Alfi.


"Mau apa dia, jangan bilang dia mu, Ah Alfi otak mu kenapa jadi seperti ini, jangan berpikir yang tidak-tidak," batin Alfi.


Sebelum kembali berbicara, Riga melepaskan beberapa kancing baju nya, ia merasa cukup gugup karena ia tidak pernah memulai obrolan terlebih dahulu pada seorang wanita. Setelah semua nya kembali aman baru lah Riga kembali berbicara.


"Bagaimana bisa kau bermain piano," tanya Riga.


"Belajar," jawab Alfi dengan singkat.


"Belajar? dengan siapa? bukan nya kau berasal dari kampung? apa di kampung ada les piano?" Pertanyaan Riga semakin intens, ia sangat ingin mendengar jawaban dari semua pertanyaan nya itu.


"Dengan seseorang," jawab Alfi. Dari semua pertanyaan yang di berikan Riga Alfi hanya menjawab seperti itu.


"Sial, hanya itu jawaban nya, jawaban mu tidak mewakili semua pertanyaan ku. ," batin Riga.


Riga mulai kesal pada Alfi, ia tau Alfi sengaja menjawab pertanyaan nya seperti itu. Hal itu tidak membuat putus asa begitu saja. Riga kembali bertanya dengan topik yang sama.


"Hmmm dimana kau belajar," tanya Riga.


"Di gedung," jawab Alfi.


"Aku tau di gedung, ah memang kau tidak ingin menjawab pertanyaan ku," batin Riga.


Kali ini batas kesabaran Riga sudah habis, ia lebih memilih diam kembali, ia yakin Alfi tidak akan menjawab pertanyaan nya dengan benar jika ia bertanya kembali.

__ADS_1


Alfi melirik ke arah Riga, ia tau pasti Riga sudah sangat kesal pada nya, bagaimana Riga tidak marah, semua pertanyaan yang Riga tanyakan dia jawab dengan singkat, bahkan terbilang ngasal. Ia bersyukur Riga tidak memakan nya hidup-hidup.


__ADS_2