
Melanie ingin memejamkan matanya kata iya sudah mengantuk, berbeda dengan alvaro yang baru tertidur tadi ia sama sekali belum mengantuk. Ia melihat melanie yang akan tertidur hal itu membuatnya panik. Karena memang ia tidak akan mungkin berani membuka matanya sendiri.
"Hey hey jangan tertidur," ucap alvaro sambil membayangkan tubuh Melanie.
"Hmmm aku mengantuk alvaro aku belum ada tidur sejak tadi."
"Buka matamu melanie jangan tertidur aku tidak berani sendirian,"
"Kau sudah dewasa alvaro kenapa pula kau harus takut di rumahku tidak ada setan jangan takut.
"Kita membahas mantan mu saja bagaimana," tanya Alvaro, Alvaro sengaja mengatakan hal itu agar Melanie tidak tertidur meninggalkan nya.
"Tak mau, aku tidak ingin membahas mantan mantan ku," jawab Melanie.
"Melanie buka baju mu ya."
"Untuk apa al," tanya Melanie.
Alvaro membuka baju nya sendiri, ntah kenapa rasa nya ia ingin memeluk Melanie tanpa menggunakan pakaian, pasti rasa nya sangat hangat sekali.
"Alvaro nanti kau masuk angin," ucap Melanie.
Tanpa banyak berbicara Alvaro membuka satu persatu kancing baju Melanie, ia melepaskan pakaian itu dan langsung memeluk nya dengan erat. Sentuhan kulit mereka berdua terasa sangat hangat sekali. Alvaro juga menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
"Hangat sekali," ucap Alvaro.
"Alvaro otot-otot mu sangat luar biasa," kata Melanie.
"Hahaha sentuh sesuka mu, itu sangat enak, geli," ucap Melanie.
"Apakah malam ini aku akan melakukan nya," batin Alvaro.
Alvaro ingin sekali melakukan hubungan itu, ia sudah sangat penasaran sekali, apalagi saat mengingat daddy dan mamah nya melakukan hal itu di depan nya. Insting seorang pria nya langsung bekerja dengan sangat baik.
"Tidak ah, jangan Alvaro jangan nanti saja, kalau sudah di apartemen," batin Alvaro.
Melanie terlalu nyaman berada di dalam pelukan itu sampai dia tertidur dengan sangat nyenyak. Begitu juga dengan Alvaro, yang awal nya tida mengantuk jadi tertidur dengan nyenyak saat mendapatkan pelukan hangat itu.
Pagi harinya. Alvaro membuka matanya dengan lebar, hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah cantik Melanie. Terkadang alvaro terpana tersendiri melihat wajah cantik istri nya. Melanie benar-benar wanita yang sangat sempurna, hidung yang mancung, bibir tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis, mata yang cukup besar, dan bulu mata yang sangat lentik.
"Aku menarik semua kata-kataku semalam, jujur dia benar-benar sangat cantik, jika seperti ini dia tipe ku," Batin Alvaro.
__ADS_1
"Hai kebo bangun."
Cukup satu kali Alvaro membangunkan Melanie, Melanie yang tidak bangun juga membuat Alvaro memikirkan ide aneh, ide itu berasal dari daddy nya.
Alvaro mendekati leher jenjang Melanie, ia mencium nya dengan sangat lembut, ciuman itu juga tidak membuat Melanie terbangun dari tidur nya. Alvaro mencium dan mengisap nya, hal itu baru membuat Melanie terbangun dari tidur nya.
"Aahhh," Ucap Melanie.
"Merah," Ucap Alvaro.
"Sakit Alvaro," Kata Melanie sambil membuka mata nya.
"Enak atau sakit," Tanya Alvaro.
"Dua dua nya si, tapi lebih ke sakit," Jawab Melanie.
"Hahaha aku hanya melakukan apa yang daddy ku lakukan pada mamah," Kata Alvaro.
"Di depan mu," Tanya Melanie.
"Iya, kata nya lakukan dengan istri mu, ya sudah aku lakukan sekarang, dan kau berhasil bangun dari tidur mu," Ucap Alvaro.
"Ya memang bangun, tapi kan jadi berbekas seperti ini."
Saat ini menyentuh nya tiba-tiba Handphone Alvaro berbunyi, Alvaro langsung membuka handphone itu dan melihat panggilan dari siapa.
"Daddy," Ucap Alvaro.
"Halo dad."
"Pulang al ayo kita berangkat," Ucap Riga.
"Berangkat, jam berapa ini dad," Tanya Alvaro.
"Jam 9 al, kau lama sekali pulang nya, habis dapat jatah ya," Tanya Riga.
"Kami tertidur terlalu lama, ya sudah kami pulang sekarang," Kata Alvaro.
Alvaro mematikan panggilan itu dan langsung bangkit dari tempat tidur nya. Hal itu membuat Melanie bingung.
"Kenapa Al," Tanya Melanie.
__ADS_1
"Ayo pulang, kau ingat membawa barang barang tidak? Bawa saja yang sangat penting, kalau bisa di beli jangan di bawa," Jawab Alvaro.
Melanie pun ikut bangkit dari tempat tidurnya, ia memakai kembali baju yang dilepaskan Alvaro, semua itu ia membuka lemarinya untuk mengambil beberapa dokumen penting dan juga beberapa perlengkapan yang memang tidak bisa di beli. Seperti yang alvaro katakan ia tidak membawa barang-barang yang bisa di beli. Alvaro lah yang akan bertanggung jawab jika ia memintanya nanti.
"Sudah ayo kita berangkat."
Mereka pun pergi meninggalkan rumah aku, melanie menatap sendu rumah itu karena ia mungkin akan lama tidak melihatnya lagi. Rasa sedih bercampur bahagia pun melanie rasakan, ntah dari mana rasa bahagia itu, melanie pun tidak tau.
Sesampainya di rumah Ryan, ternyata mereka sudah menyiapkan semua barang-barang termasuk barang Melanie dan milik alvaro.
Mata mereka semua tertuju pada bekas merah di leher Melanie. Hal itu sudah jelas menimbulkan tanda tanya.
"Pantas saja lama," Ucap Ryan.
"Hahaha iya, dapat berapa ronde al," tanya Riga.
"Hmmm 3 dad," jawab Alvaro asal.
"Ya sudah mandi dulu sana, pakaian kalian sudah ada di atas tempat tidur," kata Alfi.
"Siap mah."
Mereka berdua langsung naik ke atas untuk membersihkan diri. Kepergian mereka berdua langsung menjadi bahan gosipan Riga dan Ryan.
"Ayah seperti nya menemukan wanita yang tepat," kata Riga.
"Ayah sudah menduga nya, memang mereka berdua sangat cocok, baru beberapa hari mereka bersama sudah sedekat itu, bahkan Alvaro sudah membobol nya," ucap Ryan.
"Aku tidak yakin Alvaro membobol nya, pasti dia hanya asal berkata, tidak mungkin jika di bobol Melanie bisa berjalan seperti biasa."
"Iya sayang kamu benar, milik Alvaro lebih besar dari ku, pasti membuat Melanie tidak bisa berjalan, ya mungkin Alvaro menunggu di rumah, dia tidak ingin kita semua tau. Apalagi Alvaro sangat mengindari pertanyaan seperti itu, dia itu sebenarnya mau tapi malu."
Di dalam kamar Alvaro dan Melanie kembali berdebat. Ada dua hal yang menjadi perdebatan mereka berdua, pertama Melanie mempermasalahkan tanda merah di leher nya, tanda itu membuat diri nya malu. Dan yang kedua siapa yang mandi lebih dulu.
"Ya sudah aku minta maaf, aku pikir tidak akan sampai seperti ini," kata Alvaro.
"Tidak sampai apa, aku sangat malu," ucap Melanie.
"Untuk apa si malu, ya sudah kita mandi saja," kata Alvaro.
"Aku dulu," ucap Melanie.
__ADS_1
"Dari pada berdebat lagi lebih baik mandi bersama." kata Alvaro.