
"Enak," ucap Alvaro.
"Apa masakan ku pernah mengecewakan, pasti enak lah," kata Melanie.
"Hahaha benar, istri yang hebat." Alvaro mengusap rambut Melanie sambil tersenyum manis pada nya.
"Bagaimana mas? apa pekerjaan menyenangkan mu?"
"Tidak ada pekerjaan yang menyenangkan Melanie, tapi better lah, hitung hitung belajar bekerja. Nanti aku mewarisi perusahaan kakek ku," kata Alvaro.
"Bekerja dengan benar Al, jangan mengecewakan keluarga mu dan diri ku," ucap Melanie.
"Cerewet, iya Melanie." Alvaro menarik Melanie dan mencium bibir Melanie.
"Pelanggaran, mulut kamu berminyak," kata Melanie.
"Tapi enak kan, mau berminyak ataupun tidak, kamu tetap harus....
"Mau aku cium, karena aku tidak pernah salah, itu kan yang ingin kamu katakan." Melanie mengatakan nya dengan nada seperti Alvaro.
"Itu benar." Alvaro kembali mendekati Melanie dan menciumnya.
Saat sedang asik asik nya. Tiba tiba Riga datang, Riga benar-benar mengacaukan momen ini.
"Maaf." Riga langsung membalik banda nya.
"Daddy, ini sudah yang ke dua kali nya," ucap Alvaro.
"Ya mana aku tau kau sedang apa di sini, lagi pula bisa bisa nya bermesraan saat di kantor," kata Riga..
"Ya terserah ku, ini kan ruangan ku."
"Iya ya kau benar, terimakasih Melanie makanannya enak sekali. Oh iya Al, nanti malam bisa datang ke rumah," tanya Riga.
"Tidak bisa dad, ada yang ingin aku kerjakan dengan istri ku," jawab Alvaro.
"Ya lah, yang pengantin baru, lagi enak enak nya," kata Riga.
__ADS_1
"Itu tau daddy, jangan menganggu ku," ucap Alvaro.
"Hahaha bagus al, cepat buat anak dan berikan aku cucu," kata Riga.
"Cara nya hanya itu kan dad, keluar masuk dan nembak di dalam," tanya Alvaro.
"Itu pintar, lain kali main ke rumah, daddy ajarin teknik yang bagus," jawab Riga.
"Oke besok aku main ke sana," kata Alvaro.
"Ya sudah lanjutkan lah, maaf mengganggu. Jam pulang jam 4 sore, jangan kurang dari jam itu, jika sudah waktunya langsung pulang saja."
"Iya dad, sudah sana pergi," ucap Alvaro.
"Anak kurang ngajar." Riga pergi ruangan itu.
"Mas aku benar-benar malu, setiap saat pasti kita kepergok seperti ini," kata Melanie.
"Ya nama nya juga suami istri, tidak ada salahnya juga kan, kita sudah sah hukum dan agama, jadi untuk apa malu."
"Hadeh, ya sudah aku pulang dulu, aku tunggu kamu di apartemen," ucap Melanie.
"Tidak mau, aku ingin membuat kue untuk mu, bye aku tunggu di apartemen, jangan pulang terlambat," ucap Melanie dan pergi meninggalkan Alvaro.
Setelah Melanie pergi, Bella kembali masuk ke dalam ruangan Alvaro. Ia tidak enak masuk jika ada Melanie di dalam. Jadi ia menunggu Melanie pergi baru lah ia masuk.
"Sudah siap makan siang nya," tanya Bella.
"Sudah ayo lanjut lagi," jawab Alvaro.
"Enak ya, makan siang di antar oleh istri," kata Bella.
"Hahaha memang enak, dia sangat jago masak, jadi aku sangat suka masakan nya. Untuk apa membeli jika ada istri yang bisa memasak," ucap Alvaro.
Alvaro dan Bella pun melanjutkan pekerjaan mereka, Alvaro ingin segera menyelesaikan semuanya, karena besok ia libur. Ia bekerja hanya tiga kali dalam satu minggu. Senin, Rabu dan Jumat.
Di tempat lain. Pactrik ingin keluar bertemu dengan Vera, dari pada ia merasa tidak enak di rumah lebih baik ia bertemu dengan Vera saja. Pertengkaran nya dengan Roger tadi membuat mood Pactrik sangat jelek.
__ADS_1
"Mau kemana," tanya Roger.
"Mau pergi yah, boleh?"
"Kemana?"
"Bertemu dengan Vera," kata Pactrik.
"Iya boleh, bagus kau bertemu dengan wanita ayah sangat mendukung mu."
"Yah kira kira apa keunggulan ku dari Alvaro," tanya Pactrik.
"Burung mu lebih besar dari nya," jawab Roger.
"Ayah aku serius."
"Ayah serius, kau keturunan ku, pasti besar sekali kan, ayo ngaku."
"Iya si tapi bukan soal itu," ucap Pactrik.
"Jika tidak soal itu, banyak keunggulan mu. Kau lebih pintar dari nya, kau tidak manja seperti nya, kau lebih tampan dari nya."
"Hahaha itu yang ingin aku dengar, memang aku lebih dari nya. Ya sudah aku pergi dulu," ucap Pactrik.
"Mas memang benar itu nya dia sama seperti mu," tanya Tiffany.
"Sayang dia anak ku, ya pasti nurun dari ku, tidak dari yang lainnya, kenapa emang nya?"
"Aku hanya kasihan dengan istri nya nanti, pasti sangat menyakitkan seperti ku dulu, rasa nya mau mati."
"Hahaha tapi nagi kan," tanya Roger.
"Ya begitu lah," jawab Tiffany.
"Yok."
"Ngapain," tanya Roger.
__ADS_1
"Menyebarkan benih," jawab Roger.