Menikah Dalam Perjodohan

Menikah Dalam Perjodohan
Episode 42 S4


__ADS_3

"Berhenti tertawa kau pikir tertawa mu itu bagus," ucap Tiffany.


"Memang bagus, seperti wajah ku kan," kata Roger.


"Jangan sok tampan seperti itu, sudah hitam banyak berbicara lagi. Tidak ada yang menarik dalam diri mu," ucap Tiffany.


"Aku hitam manis bukan," tanya Roger.


"Manis dari mana, kau sangat pahit seperti kopi yang tidak diberikan gula."


Tiffany beberapa kali menghapus satu gambar di lukisannya, ia seperti tidak yakin dengan gambar itu. Roger yang memang sangat jago melukis memegang tangan Tiffany dan menuntun Tiffany menggambar hal yang ingin ia gambar dengan baik.


Tiffany diam sesaat, mata nya langsung tertuju pada Roger. Ia tidak terkejut Roger bisa melukis, karena saat sekolah dulu Roger selalu baik dan juara dalam melukis.


"Begini, jangan terlalu ke atas, perhatikan setiap detail nya dengan baik, jangan memperhatikan wajah ku yang tampan ini."


Perkataan Roger sontak membuat Alfi memalingkan wajahnya. Wajahnya memerah menahan malu, karena memang benar ia memperhatikan wajah tampan Roger. Sebenarnya mereka berdua bisa bersatu jika Tiffany mau memaafkan apa yang Roger lakukan dulu pada nya.


"Hahaha jangan malu seperti itu, sudah bagus itu," ucap Roger.


"Terimakasih," kata Tiffany.


"Tiffany, kau dulu pindah ke sekolah lukis," tanya Roger.


"Untuk apa bertanya? jangan menanyakan masa lalu ku, aku tidak suka," kata Tiffany.


"Iya iya maaf, sudah bawa aku keliling rumah mu, sebentar lagi kita akan menikah aku harus tau setiap sudut rumah mu."

__ADS_1


"Cih, menikah, enak sekali kami berkata menikah," kata Tiffany.


"Lah kita kan sudah berpacaran, tinggal menikah saja lah. Apalagi coba, kau juga belum menikah kan, sama dengan ku, aku juga belum menikah."


"Ya aku memang belum menikah, tapi aku tidak ingin menikah dengan mu, sudah pergi sana jangan ganggu aku."


"Lah kau mengusir ku, ayah mu saja meminta ku untuk berkeliling rumah dengan mu. Ayo lah ajak pacar mu ini berkeliling," ucap Roger.


Tiffany membereskan peralatan lukisnya. Ia pergi meninggalkan Roger sambil membawa lukisan nya ke dalam rumah. Dengan cepat Roger berlari mengejar Tiffany, ia tidak mau kehilangan jejak calon istri nya itu.


Tiffany masuk ke dalam ruangan khusus untuk lukisan nya. Saat masuk ke dalam mata Roger di manjakan dengan lukisan yang sangat indah dan cantik. Ia yang mengerti akan seni benar-benar terpukau melihat ini semua.


"Kau sangat jago ya," ucap Roger


"Memang kau saja yang jago, aku juga bisa bodoh," kata Tiffany.


"Kau siapa seperti mengenal kehidupan ku, percintaan ku hanya aku yang tau, tanpa orang lain," kata Tiffany.


"Oh iya, aku yakin di usia mu saat ini kau belum pernah berciuman, atau jangan jangan kau belum pernah berpacaran. Hmmm siapa juga yang mau dengan wanita galak seperti mu, jangan galak galak agar pria tidak takut pada mu."


Tiffany sangat kesal mendengar ucapan dari Roger, memang benar ia belum pernah berciuman bahkan berpacaran, tetapi Roger juga tidak perlu mengatakan nya, perkataan Roger benar-benar menyinggung diri nya.


"Jangan berkata seenaknya Roger, kau tidak tau siapa aku, kita baru saja bertemu, jangan pernah memandang ku sebelah mata," ucap Tiffany.


"Aku tidak pernah memandang mu sebelah mata, ayolah jangan seperti itu, tunjukan jati diri mu Tiffany."


Tiffany membalik tubuh nya, perlahan ia mendekati Roger. Roger tidak mundur sama sekali, ia seperti menantang apa yang ingin Tiffany lakukan pada nya. Dengan cepat Tiffany mengecup bibir Roger, ini kecupan pertama bagi Tiffany.

__ADS_1


"Wah ini yang aku inginkan," batin Roger.


"Puas, aku sudah pernah berciuman," ucap Tiffany.


"Tiffany Tiffany, betapa polos nya diri mu, itu bukan berciuman, itu hanya kecupan saja Tiffany, sudah jangan membuat ku ingin tertawa karena tingkah lucu mu."


Tiffany semakin tidak terima dengan apa yang di katakan Roger, seperti nya Roger memang benar-benar ingin memancing amarahnya. Tiffany kembali mendekati bibir Roger dan mulai menciumnya. Ia tidak tau harus mulai dari mana, ia hanya menempelkan bibir nya dengan bibir Roger. Roger diam sesaat, setelah itu ia menaikan tangan Tiffany ke atas pundak nya, tangan nya juga bergerak memegang tengkuk leher Tiffany, setelah itu baru lah Roger memberikan pelajaran penting untuk Tiffany.


Tiffany cukup gelagapan mendapatkan balasan dari Roger, ia ingin melepaskan ciuman itu tetapi tangan Roger menahan kepalanya, hal itu membuat Tiffany tidak bisa berbuat apa apa selain menikmati ciuman itu.


Roger memberikan sesuatu yang belum pernah Tiffany rasakan sebelumnya nya. Sesuatu yang luar biasa yang membuat nya seakan pasrah pada Roger. Setelah ia mulai kehabisan napas baru kah ia menarik kepala nya dengan kuat.


"Sekarang kamu sudah tau kan rasanya ciuman. Hahaha aku yang mendapatkan ciuman pertama pacar ku."


"Kita tidak pacaran, jangan mengaku ngaku," ucap Tiffany.


"Hey kamu melupakan apa yang kamu katakan beberapa saat tadi, ini pacar ku. Sayang coba katakan sesuatu. Dengan kamu mengatakan hal itu aku sudah yakin jika kamu memang suka dengan ku, dan kita sudah resmi berpacaran. Ciuman tadi adalah bukti jika kita sudah meresmikan hubungan kita."


"Tidak ada jangan halu,, ucap Tiffany.


Prok... prok... prok...


"Wah keren sekali yah, kau sangat hebat Roger, untung saja Tiffany tidak langsung kau Anboxing, jangan sampai ya, menikah dulu baru membuat anak. Ayah sudah melihat semuanya, kalian sudah berpacaran dengan waktu yang singkat. Jadi minggu depan kalian akan menikah," ucap Bram yang berjalan mendekati mereka berdua.


"Ayah tidak mau, aku belum suka dengan nya, aku tida mau menikah dengan nya, jangan memaksa ku yah, aku Mohon pada mu."


"Sayang ayah sudah memberikan mu banyak kesempatan, ayah sudah hidup sendiri, kau anak ayah satu satunya. Ayah ingin seorang menantu yang bisa membantu ayah. Ayah ingin cucu yang akan menghibur ayah. Ayah Mohon sayang, ini sudah terlalu lama untuk ayah, jangan membuat ayah menunggu lebih lama lagi, jangan sampai ayah pergi sebelum mendapatkan apa yang ayah mau sayang."

__ADS_1


"Ayah jangan berkata seperti itu, aku akan menjadi menantu yang baik untuk mu. Aku akan memberikan mu banyak cucu yang menggemaskan untuk mu. Aku yakin Tiffany hanya malu saja untuk mengakui perasaan nya, ayah tau aku rasa dia sudah menyukai ku sejak lama, sejak kami satu sekolah dulu. Sekarang dia hanya memendam perasaan nya pada ku yah, dan aku sangat setuju jika minggu depan kami menikah...."


__ADS_2