Menikah Dalam Perjodohan

Menikah Dalam Perjodohan
Episode 88 S2


__ADS_3

"Diam, jangan berbicara dengan ku, jangan sok kenal sok dekat pada ku," ucap Alvaro.


Alvaro merasa makanan yang ia makan lebih enak dari biasanya. Terlihat dengan jelas wajah nya benar benar menikmati makanan ini.


"Siapa yang memasak," tanya Alvaro.


Melanie hanya diam sambil menyuapi Alvaro. Hal itu membuat si sumbu pendek kembali mengeluarkan kata kata mutiara nya.


"Hey kau tuli, aku bertanya pada mu? siapa yang memasak," tanya Alvaro.


"Kata mu aku tidak boleh berbicara dengan mu, ya sudah aku diam," jawab Melanie.


"Dasar bodoh, sudah aku sudah kenyang," ucap Alvaro.


"Orang sudah habis juga, sangat lapar ya pak. Atau doyan," kata Melanie.


Melanie meletakan piring di atas meja. Ia menyiapkan obat untuk Alvaro minum.


"Itu obat," tanya Alvaro.


"Tidak hanya Vitamin," jawab Melanie.


Melanie sudah mendapatkan warning oleh Ryan jika Alvaro tidak suka dengan obat, mau bagaimana pun bentuk dan rasa nya Alvaro tetap menolak yang namanya obat.


"Jangan berbohong," ucap Alvaro.


"Ayo minum, kata ingin cepat sembuh. Harus minum vitamin atau kau ingin lama lama bersama ku," tanya Melanie.


"Aku tida ingin ku minum dan aku tidak ingin lama lama bersama mu."


"Tuan Alvaro yang tampan ayo minum. Atau aku Melakukan nya dengan pemaksaan," ucap Melanie. Ia bisa saja melakukan hal kasar pada Alvaro karena ia tidak sesabar yang Alvaro pikirkan.


"Kau memaksa ku, jika seorang perawat seperti mu bisa mati yang kau rawat."


"Jika yang aku rawat seperti mu, bisa gila aku," ucap Melanie.


Ntah bagaimana cara nya Alvaro bisa meminum obat itu. Melanie tersenyum puas dan kembali membereskan kamar Alvaro yang berantakan. Alvaro sampai menggelengkan kepala nya, bisa bisa nya kakek nya menyuruh Melanie sebagai perawat nya. Baru satu jam bertemu mereka berdua sudah menunjukan ketidaksukaan masing-masing.


"Mandi biar tidak bauk," ucap Melanie.


"Ambil kan aku handuk," kata Alvaro.

__ADS_1


Melanie bergerak menuju kamar mandi untuk mengambil handuk. Ia sebenarnya bingung bagaimana cara nya Alvaro mandi dengan kondisi nya seperti itu, bisa bisa ia sendiri yang memandikan Alvaro.


"Kau bisa mandi sendiri kan," tanya Melanie.


"Aku juga tidak tau bagaimana cara nya aku mandi, ke kamar mandi saja tidak tau bagaimana cara nya," jawab Alvaro.


"Aduh jangan bilang aku yang memandikan mu," ucap Melanie.


"Jangan bilang ini rencana mu, kau menawarkan kun mandi agar mata mu bisa terpuaskan dengan bentuk tubuh seksi ku," tanya Alvaro.


"Sumpah otak mu terlalu jauh, aku benar-benar najis melihat tubuh mu," ucap Melanie.


Melanie mengambil handphone nya untuk menghubungi Ryan. Ia ingin bertanya soal mandi memandikan Alvaro, karena memang tak ada di perjanjian awal.


"Oh iya tuan terimakasih," ucap Melanie dengan sangat lembut.


"Dengan kakek ku saja kau lembut seperti ini, atau jangan jangan kau ingin menjadi istri kakek ku," tanya Alvaro.


"Alvaro bisa tidak jangan bertanya dan berkata yang tidak tidak. Aku sudah mempunyai seorang pacar, jadi aku bukan calon istri kakek mu. Dia orang terhormat di desa ini, tetapi kenapa kau seperti ini, jangan sampai nama baik kakek mu jelek karena ulah cucu nya yang seperti tidak ada akhlak ini."


"Biasa saja lah, kenapa kau malah marah marah seperti ini pada ku," ucap Alvaro.


"Aku rasa dia itu wanita, mulut nya benar-benar terasa sangat pedas. Tetapi saat lahir kelamin nya langsung berubah seketika," ucap Melanie.


Seusai dengan yang di katakan Ryan tadi. Melanie berjalan ke sebuah ruangan untuk mengambil kursi roda. Alvaro bisa bergerak dengan cukup bebas dengan menggunakan Kursi roda.


"Dia pergi begitu saja, tidak bertanggung jawab. Aku ingin mengganti dia, aku tida suka dengan cara bekerja nya," ucap Alvaro.


Belum kering bibir Alvaro berkata. Melanie kembali masuk dengan membawa kursi roda. Alvaro yang melihat itu masih tidak mengerti kenapa Melanie membawa kursi roda masuk ke dalam kamar nya.


"Untuk apa itu," tanya Alvaro.


"Untuk lebih mudah melemparkan mu dari lantai tiga," jawab Melanie.


"Jangan macam macam kau ya," ucap Alvaro. Ia cukup takut dengan apa yang Melanie katakan, ia tidak bisa melawan jika Melanie membuangnya dari lantai tiga.


"Kau ingin mandi kan, cepat naik ke sini," ucap Melanie.


"Tidak, aku tidak mau, nanti kau melemparkan ku dan mengambil harta kakek ku."


"Aku tidak seperti itu. Cepat Alvaro atau kau naik di sini dengan cara ku sendiri," ancam Melanie.

__ADS_1


"Berbalik, aku sedang naked," ucap Alvaro.


Alvaro bingung bagaimana caranya ia menutupi sosisnya. Ia saja sangat sulit menggerakkan tangan nya. Dengan terpaksa Alvaro kembali meminta bantuan Melanie.


"Kau berbalik ke sini, tapi kau tutup mata mu dengan sesuatu. Aku tidak bisa menutup tubuh ku sendiri," ucap Alvaro.


"Ha!! jangan gila."


"Tidak ada pilihan lain, cepat lah aku sudah ingin mandi," ucap Alvaro.


Melanie mengambil sesuatu untuk menutupi mata nya, ia tidak yakin dengan hanya memejamkan mata nya ia tidak melihat semuanya. Bisa saja mati nya khilaf dan malah melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.


"Ingat jangan membuka mata mu," ucap Alvaro.


"Iya aku buka pun aku tidak bisa melihat apapun," kata Melanie.


Alvaro berusaha untuk berdiri meskipun terasa sangat sulit. Untung saja satu kaki nya tidak kenapa kenapa dan satu kaki nya lagi masih mampu menahan berat badan nya. Setelah ia berdiri dengan tegap baru lah Alvaro meminta Melanie melilitkan handuk ken tubuh nya.


"Dimana handuk nya," tanya Melanie.


"Kanan mu," jawab Alvaro


"Oh iya ini, terus aku mulai dari mana," tanya Melanie.


"Ikuti ucapan ku ya," ucap Alvaro.


Alvaro benar-benar harus membimbing Melanie dengan benar, jika tidak tangan Melanie bisa menyentuh sosis nya. Ntah bagaimana caranya akhirnya Melanie berhasil melilitkan handuk ke tubuh Alvaro.


"Sudah buka mata mu," ucap Alvaro.


"Akhirnya." Melanie langsung membuka mata nya. Ia cukup terkejut melihat Alvaro yang hanya memakai handuk setengah badan. Tubuh kekar Alvaro terlihat dengan jelas dari belakang sana.


Secara perlahan, Alvaro duduk di kursi roda. Ia tinggal menunggu Melanie mendorong nya.


"Cepat," ucap Alvaro.


"Cepat apa," tanya Melanie.


"Dorong bodoh, tangan ku tidak bisa aku gerakan dengan bebas," jawab Alvaro.


"Oh iya, maaf bisa biasa saja tidak itu mulut, aku tidak bodoh." Sambil ngeromet Melanie mendorong kursi roda itu ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2