
Alvaro bertanya pada orang di sekitar sana, memang sudah tidak ada toko handphone lagi di desa ini selain toko itu. Ia mau kembali tapi sudah terlanjur malu. Jadi Alvaro memutuskan untuk pulang ke rumah, ia akan meminta kakek nya untuk membelikan nya handphone.
Alvaro berjalan ke arah dapur. Sudah banyak makanan di sana, ia yang sudah sangat lapar langsung memakan makanan yang tersedia dengan lahap. Ia tidak menunggu kakek nya terlebih dahulu.
"Kau makan dengan lahap, tanpa menunggu ku," ucap Ryan.
"Hahaha maaf kek, aku sangat lapar. Oh iya kek aku butuh handphone," kata Alvaro.
"Butuh handphone sampai marah marah di toko handphone," ucap Ryan.
"Kakek tau dari mana," tanya Alvaro.
"Tau lah, kau memang membuat ku malu. Kau ingin handphone ini kan? ini aku yang sudah memesan nya." Ryan memberikan handphone yang Alvaro inginkan di toko handphone tadi.
"Oh jadi kakek yang sudah memesan nya, aku mana tau. Terimakasih," ucap Alvaro.
"Minta maaf pada Melanie," kata Ryan.
"Tidak mau," ucap Alvaro.
"Minta maaf Alvaro, atau kau tidak jadi aku belikan mobil," kata Ryan.
"Kakek, kenapa malah sama seperti mamah. Jika begitu aku tidak betah tinggal di sini," ucap Alvaro.
"Alvaro jika tinggal disini ikuti apa yang kakek katakan. Dari pada kau aku kirim ke luar negeri, mau mengurus perusahaan ku di luar negeri."
"Aku pulang saja lah," ucap Alvaro.
"Hahaha pulang kemana, ke rumah daddy mu, kau sudah di serahkan disini oleh mereka. Sekarang makan dulu dengan lahap. Hari ini kau kakek berikan kebebasan, kemana saja lah. Asalkan kau jangan macam-macam dan meminta maaf pada wanita itu," kata Ryan.
Alvaro merasa tidak enak jika seperti ini, ia ingin mencari kebebasan disini tetapi malah mendapatkan kenangan seperti ini. Tetapi jika pulang ke rumah pun pasti ia akan lebih di kekang oleh daddy dan mamah nya.
"Aku jadi bingung," ucap Alvaro.
Setelah selesai makan, Alvaro kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung memainkan handphone baru nya untuk menghubungi teman teman nya. Mana tau ada yang bisa ia ajak kumpul dekat dekat seperti ini.
"Al." Pesan masuk dari Ivan.
__ADS_1
Alvaro pun memilih menghubungi Ivan.
"Iya van, ada apa?"
"Kau sudah membeli handphone baru? bagaimana di sana apakah enak?"
"Aku sudah membeli nya. Ya begitu lah lebih baik dari pada di rumah sana,, ucap Alvaro.
"Kau bagus di sana saja dulu, seperti nya orang tua mu sedang merencanakan sesuatu yang aneh pada mu, pasti kau tak akan senang lah."
"Ha!! mereka benar-benar sudah tidak menyayangi ku. Aku tidak akan pulang ke rumah jika seperti ini," ucap Alvaro.
"Itu lah, sudah lebih baik kau di sana saja dulu. Mana tau hidup mu akan lebih bahagia di sana. Mana tau kau bisa mendapatkan jodoh," kata Ivan.
"Jodoh dari mana, gadis desa seperti ini tidak tipe ku. Di sini tidak ada wanita yang memenuhi syarat menjadi pendamping ku."
"Gaya sekali kau, aku yakin pasti kau akan kepincut oleh gadis desa, hahaha selamat menempuh hidup baru." Ivan mematikan sambungan telepon itu.
"Hahaha bagus Ivan, dengan begitu dia tidak akan pulang untuk waktu yang dekat," ucap Alfi.
"Teman curhat atau teman berbuat nakal," tanya Varo.
"Hahaha iya dong yah, Alvaro kalau berbuat nakal tidak pernah setengah setengah. Dia selalu total."
"Oh jadi kau ingin aku kirim ke sana juga ya, kau mau main main dengan ku," tanya Varo.
"Tidak tidak, aku kan tidak manja seperti Al. Ya sudah aku ingin menjemput mamah dulu," ucap Ivan.
Ivan memilih untuk langsung pergi dari sana sebelum ia menjadi sasaran ayah nya. Ia tidak mau di asing kan seperti Alvaro. Itu pasti sangat tidak mengenakan. Tidak ada kebebasan yang akan ia dapat.
"Kau seperti tidak bertenaga seperti itu," ucap Varo.
"Bagaimana aku bertenaga, aku sudah merindukan nya. Aku tidak pernah berpisah lama dengan nya," kata Riga.
"Hahaha makanya buat anak yang banyak agar kaun tidak kesepian. Anak seperti itu saja kau rindukan, baru satu hari dia pergi," ucap Varo.
"Ya mau bagaimana lagi, mau jelek jelek namannya juga anak," kata Riga.
__ADS_1
Siang hari ini Alvaro hanya diam di rumah menunggu mobil nya datang ke rumah. Ia sudah tidak sabar jalan jalan dengan mobil yang kakek nya belikan untuk nya.
"Disini sebenarnya sangat enak, udaranya sangat sejuk. Tidak panas sekali, sangat enak lah Apalagi jika banyak teman teman ku, ah hidup ku sudah seperti di surga," ucap Alvaro.
Di balkon lantai tiga rumah itu. Alvaro bisa melihat pemandangan sawa yang sangat indah. Beberapa foto juga ia ambil untuk di upload di akun instagram nya.
"Wanita itu," ucap Alvaro.
Alvaro melihat seorang wanita yang tidak asing menurutnya. Wanita itu Melanie penjaga konter handphone tadi. Ini kesempatan nya untuk bertemu dengan Melanie, ia tidak mungkin ke toko handphone itu untuk meminta maaf pada Melanie. Di rumah saja dia sudah ogah ogahan.
"Dimana tuan Ryan," ucap Melanie.
Melanie datang ke rumah Ryan untuk mengantarkan beberapa pesanan Ryan. Selain menjadi penjaga konter handphone. Melanie juga bekerja sebagai pengantar makanan.
"Mau apa kau datang," ucap Alvaro.
"Kau." Melanie memicing kan mata nya. Ia mengingat ngingat siapa pria di depan nya ini.
"Oh kau pria sombong, angkuh dan sok kaya itu," ucap Melanie.
"Jaga mulut mu ya, aku memang kaya raya."
"Dimana tuan Ryan, aku tak ada urusannya dengan mu," ucap Melanie.
"Kakek ku sedang pergi," kata Alvaro.
"Berarti kau saja lah, ini ada pesanan makan siang untuk Tuan Ryan," ucap Melanie.
"Kau menyerahkan bungkus makanan seperti ini pada ku. Kau punya kaki dan tangan, kau masuk dan susun di atas meja. Jadi pelayan jangan setengah setengah." Alvaro kembali masuk ke dalam.
Jika tidak karena Ryan. Melanie tidak mungkin mau masuk ke dalam. Ryan sudah menjadi orang yang sangat terhormat di desa ini. Tetapi sayang nya Ryan memiliki cucu yang menjengkelkan seperti Alvaro.
"Jika tidak karena tuan Ryan, sudah aku lempar kam makanan ini di wajah sok tampan nya itu," ucap Melanie sambil masuk ke dalam.
Melanie bergerak dengan sangat cepat. Ia tidak mau lama lama berada di ruangan itu. Apalagi ada mata elang yang sedia memperhatikan nya.
"Hati hati itu semua barang mahal, kau tida mungkin bisa membeli nya jika rusak," ucap Alvaro.
__ADS_1