Menikah Dalam Perjodohan

Menikah Dalam Perjodohan
Episode 110 S2


__ADS_3

"Ini sangat luar biasa dad" Alvaro benar-benar terlihat sangat senang.


Bukan hanya Alvaro, Riga pun sangat senang melihat pemandangan yang sangat indah ini. Seumur hidupnya ia tidak pernah ke tempat seperti ini. Sama seperti Alvaro kehidupannya ia habiskan di kota.


"Kau yakin ingin pindah dari sini al," tanya Riga.


"Walaupun aku melihat tempat ini. Keputusanku untuk pindah ke kota sudah bulat dad. Lagi pula kan aku harus mulai bekerja. Jika aku di sini aku bekerja di mana, menanam padi tidak mungkin kan."


"Iya mana tau kau ingin menanam padi, kau juga bisa ikut kakak Ryan, dia kan mempunyai perusahaan besar juga. Bahkan lebih besar dari daddy," kata Riga.


"Terus yang meneruskan perusahaan nya siapa dad?"


"Siapa lagi jika bukan dirimu Alvaro, Kakek mu sudah tidak memiliki keturunan lagi selain kau dan mamah mu, umur nya juga tidak muda lagi, itu sebabnya ia ingin kau menjadi pria yang baik agar siap memimpin sebuah perusahaan yang sangat besar."


"Lah jadi yang meneruskan perusahaan daddy siapa jika aku ke tempat kakek. Tidak mungkin aku dibagi menjadi dua. Aku si kemana saja bisa," kata Alvaro.


"Kan ada ivan. Ivan sama berhak nya dengan diri mu. Malahan dia yang lebih berhak darimu."


"Iya juga ya, iya kan anak dari kakek. Tetapi kenapa sapi daddy yang menjadi pemimpin perusahaan?"


"Ya karena daddy yang sudah disiapkan dari kecil. Dulu kan kakek mu tidak tinggal bersama lah kami."


"Aku belum pernah mendengar ceritanya dad."


"Ceritanya cukup panjang tetapi bisa aku singkat. Sebenarnya nenek kandung mu itu tidak salah satu diantara istri kakek mu sekarang."


"Kalau itu aku sudah tau. Nenekku bernama sarah bukan?"


"Oh kau sudah tahu. Kau tahu dari mana apakah aku pernah cerita padamu?" Alvaro merasa heran dari mana Alvaro tau semua nya, padahal ia belum pernah menceritakan semua nya pada Alvaro. Atau mungkin diri nya lupa.


"Daddy bagaimana sih, kan pernah mengajakku ke rumah nenek." Alvaro yang bingung dengan daddy nya, padahal daddy nya sendiri yang pernah membawa nya ke rumah Sarah.


"Oh iya kenapa aku bisa lupa. Oke kalau itu kalau sudah tahu berarti aku hanya tinggal memberitahumu kenapa nenek dan kakek kamu bisa berpisah."


"Nah itu aku belum tahu kakek sudah pernah cerita pada ku."


"Riga pun menceritakan semuanya, tidak perlu menutupi semuanya lagi dari alvaro. Alvaro sudah besar dan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Lagi pula cepat atau lambat Alvaro akan tahu semuanya."


"Oh begitu, kakek sangat hebat. Dia memiliki istri yang banyak. Apa aku boleh melakukannya juga dad?"


"Boleh asalkan istrimu menyetujuinya." Meskipun Riga berkata seperti itu ia yakin Alvaro tidak akan berani. Alvaro tidak akan mempunyai nyali meminta izin pada Melanie.


Melanie telah selesai memotong buah yang alvaro minta. Ia membawa buah itu ke tempat Alvaro berada.


"Di Sana saja melanie, disini ketahui dalam kau bisa tenggelam."

__ADS_1


Kok pikir aku tidak bisa berenang. Jangan sepele pada diriku alvaro


"Aku bukan menyepelekan mu. Dari pada kau tenggelam dalam mati, lebih baik di pinggir saja oke."


"Iyalah sesuka hati mu," ucap Alvaro.


Mereka berdua duduk tidak jauh dari air terjun. Duduk berdua seperti pasangan suami istri yang sangat bahagia. Ya memang hari ini mereka berdua benar-benar sedang dalam bahagia.


Alvaro menarik Melanie ke atas pangkuan nya. Ia kedinginan dan membutuhkan ke hangatkan.


"Liat Alvaro, meskipun ayah sudah tidak terlalu muda lagi, tetapi otot tubuh nya masih terlihat dengan jelas."


"Hey kenapa mau melihat otot daddy ku. Kau tidak melihat otot suami mu sendiri." Alvaro berubah kesal seketika. Ia tidak tau ntah kenapa jika Melanie membicarakan pria lain, rasa nya kesal saja.


"Hahaha iya kau juga sangat bagus." Melanie tidak bisa memungkiri hal itu.


"Coba goyangkan bokong mu," ucap Alvaro.


"Untuk apa," tanya Melanie.


"Coba saja, aku hanya penasaran kenapa mamah waktu itu bisa begitu cepat," jawab Alvaro.


Melanie menurut saja dengan apa yang suaminya katakan. Ia bergoyang goyang di atas pangkuan Alvaro. Alvaro terkejut karena bokong Melanie menyentuh junior nya. Hal itu membuat Junior nya langsung bangun Seketika.


"Tidak tidak teruskan," kata Alvaro.


Alvaro memegang bokong Melanie dan menggerakkan nya lebih keras lagi.


"Sial enak sekali," ucap Alvaro.


"Alvaro sudah ah, itu apa." Melanie bangkit dari pangkuan Alvaro.


Mata Melanie terbelalak melihat sesuatu yang panjang meneplak di kolor Alvaro. Berbeda dengan wanita lain yang takut Melanie malah penasaran.


"Sayang lihat apa yang mereka lakukan," ucap Riga..


"Sayang jangan melihat mereka ah, biarkan mereka berdua," kata Alfi.


"Hahaha seperti nya Alvaro sedang ingin jatah, bukti nya Melanie ia minta duduk di pangkuan nya."


"Sayang kamu lupa jika Alvaro begitu polos tentang hal begitu. Dia kan tidak pernah tau hal seperti itu, jangan jangan dia mencontoh apa yang ia lihat kemarin."


"Mungkin saja, kita lihat saja lah. Seru juga melihat anak sendiri," kata Riga.


Alvaro mengerut dahi nya melihat Melanie melihat ke arah junior nya.

__ADS_1


"Melanie itu buka saja," kata Alvaro..


"Ah aku malu ada ayah mertua," ucap Melanie.


"Mata mu ke arah junior ku, kau penasaran kan," tanya Alvaro.


"Eh kau tau, hahaha iya si aku penasaran. Alvaro kenapa bisa seperti itu, dia bengkak, tadi awal nya tidak loh," jawab Melanie.


"Hahaha Melanie melihat ini nama nya, ereksi kau tau kan," tanya Alvaro.


"Ya aku tau, tapi apa mungkin hampir sampai seperti penggaris," ucap Melanie.


"Ya mungkin saja. Kenapa tidak, bukti nya ini apa."


"Oke kau ingin melihat nya tidak? kalau iya kita barter," ucap Alvaro.


"Barter bagaimana," tanya Melanie.


"Kau bisa melihat milik ku, tapi aku aku boleh melihat dada mu, aku penasaran seperti nya punya mu besar."


"Hmmm seperti nya tidak buruk. Oke aku setuju, aku melihat milik mu dan kau melihat dada ku."


"Deal."


Seperti rencana Riga untuk menjadi kejam pada Alvaro tidak berhasil. Alvaro berubah rencana, la ingin kejam pada Melanie saat sudah di kota saja. Selagi masih di desa, ia ingin bemanja manja dengan Melanie, apalagi banyak hal yang masih ia ingin tau.


Mereka duduk saling berhadapan, Alvaro dan Melanie duduk cukup dekat agar Riga dan Alfi tidak curiga dengan mereka berdua.


"Aku dulu," ucap Melanie.


"Oke." Tanpa rasa malu Alvaro menurunkan celana kolor nya. Junior Alvaro yang tengah setengah bangun terpampang dengan orang sangat nyata.


"Besar Al." Melanie menutup mulut nya.


"Hahaha memang besar kok, pegang lah. dia bisa lebih besar lagi."


"Boleh," tanya Melanie.


"Boleh."


Melanie memegang junior Alvaro yang awal nya setengah bangun langsung bangun secara sempurna ukuran nya juga berubah lebih besar lagi. Urat di bagian samping sangat terasa di tangan Melanie.


"Ahh"


"Kenapa, apa sakit?"

__ADS_1


__ADS_2