
Setelah dari toilet Alfi kembali berjalan mendekati Riga. Ia masih memikirkan apa yang terjadi di toilet tadi, ia tidak menyangka jika ada wanita berkelas memiliki sifat seperti itu, ia juga tidak tahu kenapa banyak sekali wanita yang menyukai Riga. Jika di lihat dari luar saja memang Riga bisa di katakan sebagai pria idaman. Tinggi, memiliki kulit yang bersih, tampan dan tubuh nya terlihat sangat tegap. Tetapi jika sudah masuk ke sifat nya, semua itu tidak berguna lagi, menurut Alfi Riga memiliki sifat kasar, aneh, arogan dan semua sifat jelek ada di Riga. Yang pasti semua sifat nya itu membuat wanita normal ilfil pada nya.
Riga menatap ke arah Alfi yang sedang mendekati nya, dari mimik wajah nya Alfi terlihat kesal. Ia tidak tau apa yang membuat gadis desa itu kesal.
"Apa dia tidak bisa membuang air kecil atau air besar karena gaun nya," batin Riga.
"Sudah, kenapa lama sekali," tanya Riga.
"Tumben dia bertanya pada ku," batin Alfi.
"Sudah, maaf aku terlalu lama," jawab Alfi.
"Tidak ada yang menempelkan," tanya Riga.
"Apa yang menempel, tidak ada yang menempel sedikit pun," jawab Alfi.
Kalina berjalan keluar dari toilet, wajah kesal nya tadi sebisa mungkin ia hilangkan dari wajah cantik nya. Kalina pun kembali bergabung dengan para teman-teman sosialita nya. Mata Kalina terfokus pada Alfi dah Riga yang terlihat selalu bersama, hal itu sangat membuat hati nya terasa panas.
"Kenapa Kalina," tanya Eva.
"Gadis itu membuat ku kesal," jawab Kalina.
"Karena apa," tanya Eva.
Kalina tidak menjawab pertanyaan dari teman nya, ia menatap ke arah Alfi yang dekat dengan Riga. Ia sangat tidak suka melihat Alfi bisa dekat seperti itu dengan Riga. Kalina tidak tau jika mereka bisa dekat seperti itu karena ada yang sedang mengawasi mereka berdua.
"Kita ke sana, aku ingin berkenalan dengan nya," kata Kalina.
__ADS_1
"Kau yakin, kata mu dia membuat mu kesal tetapi sekarang kau ingin berkenalan dengan nya," tanya Eva.
"Jangan banyak tanya, sudah ayo kita ke sana," jawab Kalina.
Kalina dan teman-temannya berjalan mendekati Alfi dan Riga. Alfi sadar jika diri nya sedang perhatikan oleh seseorang, saat memalingkan wajah nya orang itu sudah berada di dekat nya. Seperti tidak terjadi apapun sebelum nya Kalina tersenyum manis berkenalan dengan Alfi.
"Hay Kalina, aku Sahabat nya Riga," ucap Kalina, di wajah Kalina saat ini benar-benar di penuhi dengan senyuman, tidak seperti saat di di toilet tadi.
Alfi hanya diam tanpa menanggapi Kalina, ia malas menanggapi wanita bermuka dua seperti Kalina. Saat ini Kalina terlihat seperti gadis dari yang sopan dan bermoral, sebaliknya Alfi yang tidak menggubris Kalina terlihat bersikap tidak sopan.
"Lihat gadis desa itu, dia seperti wanita tidak bermoral."
"Ya ya kau benar, padahal nona Kalina menyapa nya terlebih dahulu."
Alfi sudah biasa mendengar hal seperti itu, di sini gadis desa memang tidak pernah benar, mereka semua selalu melihat dengan satu sisi saja.
"Baik," jawab Riga.
Alfi cukup terkejut melihat sifat Riga yang cukup dingin pada Kalina, ia pikir Riga dingin hanya kepada nya, tetapi seperti nya pada setiap wanita di dunia ini.
"Hahaha rasakan kedinginan nya, kau sahabat nya bukan, sahabat seperti tidak di anggap," batin Alfi.
Kalina yang merasa di cuekin tidak menyerah, ia yakin saat ini di dalam hati Alfi, Alfi sedang mentertawakan nya.
"Riga kau ingin mendengarkan aku bermain piano," tanya Kalina.
Riga hanya melirik ke arah Kalina sejenak, kemudian ia kembali mengabaikan Kalina tanpa menjawab pertanyaan Kalina. Kalina berjalan ke depan piano memainkan sebuah lagu yang ia hafal. Semua orang menatap ke arah nya, permainan piano nya terbilang biasa saja, tidak terlalu baik dan tidak buruk juga.
__ADS_1
Setelah selesai bermain piano Kalina kembali mendekati Alfi dan teman-temannya. Kalina meminta agar Alfi juga bermain piano, karena Alfi berasal dari kampung Kalina pikir Alfi tidak mungkin bisa bermain piano, dan hal itu akan mempermalukan Alfi di depan semua orang. Kalina yakin Riga juga akan ilfil melihat Alfi.
"Maju ke depan dan main lah," kata Kalina.
"Saya tidak bisa," ucap Alfi.
"Kalina kau ada-ada saja, mana mungkin gadis seperti nya bisa bermain piano, kau saja berlatih dengan pelatih profesional baru bisa bermain piano," ujar Eva.
"Hahaha pasti gadis desa seperti mu tidak bisa, apa yang kau bisa," saut Kalina sambil tertawa, ia sangat puas melihat Alfi di pandang rendah oleh orang lain.
"Nona itu benar, mana mungkin dia bisa bermain piano."
Alfi membuang nafas nya dengan perlahan, ia berjalan maju ke depan untuk memenuhi permintaan Kalina, bermain di piano. Alfi memainkan piano dengan lagu yang sama seperti yang dengan yang Kalina mainkan. Orang yang mengerti dengan musik, menyadari jika Alfi bermain piano lebih baik dari pada Kalina.
Riga memalingkan wajah nya saat mendengar suara piano yang begitu indah. Ia sampai tertegun mendengar suara itu. Kemudian ia menatap ke arah Alfi yang sedang memainkan piano, tangan lentik nya bergerak lincah menekan not balok sehingga menghasilkan suara yang indah, permainan indah nya juga di lengkapi senyuman manis di bibir nya. Cara duduk dan bermain Alfi sudah seperti seseorang yang sering memainkan piano. Bukan hanya Riga para tamu dan termasuk beberapa orang yang merendahkan Alfi juga ikut tertegun melihat penampilan Alfi.
Berbeda dengan yang lainnya Kalina yang melihat hal ini merasa malu karena permainan pianonya tidak sebagus Alfi.
"Kalina dia bermain lebih baik dari mu," kata Eva.
"Diam lah, jangan membuat ku semakin kesal," ucap Kalina, ia tidak menyangka jika Alfi bisa bermain piano begitu indah nya. Bahkan dirinya yang sudah berlatih dengan pelatih Profesional pun tidak bisa bermain sebagus ini.
Saat sedang bermain Piano, Alfi melihat pengurus rumah yang berasal dari rumahnya datang ke acara ini, ia berpikir jika seseorang itu melihat nya identitasnya yang selama ini ia sembunyikan akan terbongkar.
"Ya Tuhan bagaimana ini, kenapa dia ada di sini, aku sangat takut jika dia membongkar semuanya. Dia pasti melihat ku. Semoga saja dia tidak membongkar semua nya," batin Alfi.
Alfi telah selesai bermain piano semua orang memberikan tepukan tangan pada nya, termasuk Riga sendiri yang masih kagum dengan permainan piano Alfi. Alfi cukup gugup saat semua orang bertepuk tangan pada nya, tetapi ia juga puas melihat wajah Kalina yang terlihat kesal.
__ADS_1