
Beberapa hari telah berlalu, hari ini Riga dan Alfi ingin ke dokter untuk memeriksa kandungan bayi Alfi. Mereka berdua sudah tidak sabar dengan rupa anak mereka. Riga benar-benar berharap anak nya tidak mirip dengan nya, bukan hanya wajah sikap saja ia tidak ingin anak nya sama dengan nya.
"Bagaimana yah, aku jadi tidak nyaman begini," kata Riga, ia jadi maju mundur untuk pergi bersama Alfi.
"Kamu kenapa si sayang, dari tadi malam kenapa seperti ini, kamu masih takut dengan ketakutan konyol itu," ucap Alfi.
"Itu tidak konyol sayang, kalau dia mirip dengan ku, itu sangat sulit untuk diri nya, pasti banyak yang akan mengejar ngejar nya. Aku pria yang memiliki banyak musuh sayang," kata Riga.
"Hanya itu saja," tanya Alfi.
"Bukan hanya itu sayang, jika sikap nya mirip dengan ku itu sangat buruk, aku tidak mau dia memiliki sikap seperti ku," jawab Riga.
"Lah semakin aneh, jika kamu tidak ingin anak mu memiliki sikap seperti mu, ya jangan punya anak. Jelas jelas benih nya dari diri mu ya tidak mungkin tidak mirip dengan mu, pasti semua nya akan sangat mirip dengan mu," kata Alfi.
"Tidak mau sayang, aku tidak mau anak ku mirip dengan ku, mirip dengan mu lebih baik."
"Sudah jangan aneh aneh, ayo kita berangkat nanti terlalu sore dokter nya sibuk."
"Tidak jadi pergi." Riga kembali merebahkan diri nya dan menutup kepala nya dengan bantal.
"Sayang ayo lah, perut ku sudah besar aku yakin dia sudah bisa terlihat, jangan ngambekkan seperti ini sayang," kata Alfi.
"Tidak dengar," ucap Riga.
Alfi yang sangat kesal dengan Riga pergi meninggalkan Riga begitu saja. Saat ini hanya ada satu orang yang bisa membantu nya, siapa lagi jika bukan ayah Varo. Ayah Varo pasti bisa memberikan pemahaman pada Riga yang semakin lama semakin seperti bocah sikapnya.
"Ayah sibuk tidak," tanya Alfi.
"Tidak, ada apa?"
"Anak mu membuat ulah lagi, tolong berbicara dengan nya," kata Alfi.
"Ulah bagaimana sayang, dia ingin menikah lagi," tanya Varo.
"Ih tidak yah, dia tidak mau kedokter untuk memeriksa kandungan ku, alasan nya sangat tidak masuk akal, tolong berbicara dengan nya."
__ADS_1
"Oh begitu, anak itu ya. Memeriksa kandungannya saja tidak mau." Varo langsung pergi meninggalkan Alfi.
Alfi duduk di sofa sambil menghubungi seseorang.
"Hallo Alfi," ucap Tiffany.
"Hallo bagaimana kabar mu setelah di unboxing" tanya Alfi
"Mampus aku demam, hanya dua kali di hari pertama dan kedua setelah itu aku demam," jawab Tiffany.
"Hahaha bagaimana bisa sampai demam, apa sesakit itu," tanya Alfi.
"Tidak sakit tapi mau mati rasa nya. Jelas sakit lah, kau pun ada ada saja. Kau tau sosis nya berukuran sangat jumbo, ntalah aku malas mengingat nya lagi."
"Hahaha sudah sabar ya, semoga kalian bisa segera mempunyai anak, sosis yang besar pasti memiliki banyak isi, nah isi nya nya itu lah akan berkembang di rahim mu. Cepat sembuh agar bisa enak enak. lagi dan kita bisa bertemu lagi."
"Iya, ya sudah orang nya datang." Tiffany mematikan sambungan telepon itu.
"Siapa Tiffany," tanya Roger.
"Alfi dia bertanya kabar ku saja."
"Maaf ya aku membuat mu sampai sakit seperti ini, aku juga minta maaf kurang memperhatikan mu, ayah mengajak ku kemana-mana untuk berbisnis aku di ajari banyak bisnis oleh nya."
"Iya tidak papa, kamu sudah bekerja," tanya Tiffany.
"Sudah dong, sebagai suami yang baik aku harus bekerja, ya walaupun aku bekerja di perusahaan ayah mu," jawab Roger.
"Bagus aku senang ayah ku memiliki teman bekerja."
"Sayang sudah hampir 4 hari kamu sudah tidak sakit lagi kan," tanya Roger.
"Emang nya kamu mau apa," tanya Tiffany yang masih belum paham dengan apa yang di maksud oleh Roger.
"Sayang masak kamu tidak peka si, itu loh sayang, jatah jatah sayang," jawab Roger.
__ADS_1
"Kamu sudah membeli pelumas baru, aku tidak mau tampa itu pasti terasa sangat sakit sekali kalau tidak pakai itu" tanya Tiffany.
"Sudah aku sudah stok banyak."
Di tempat lain.
"Kau kenapa si, kenapa jadi gila seperti ini, aku sebentar lagi menikah loh jangan menjadi gila seperti ini Riga," kata Varo.
"Biar saja aku tidak peduli dengan pernikahan ayah, ayah tidak tau apa yang membuat ku khawatir, ayah tidak tau segala nya," kata Riga.
"Hahaha seperti nya kau sudah pernah membahas ini dengan ku," kata Varo.
"Dengar bodoh, kau jangan takut soal anak mu, kau jangan takut jika anak mu mirip dengan mu, itu pasti akan terjadi. Karena anak mu ya berasal dari diri mu. Sikap mu, wajah mu semua nya lah. Jika dia mirip dengan mu itu malah semakin bagus bodoh. Kau tampan, kulit mu putih dan kau juga pintar, anak mu juga pasti akan sama seperti mu. Hidup nya pasti akan sangat baik."
"Aku tidak paham, yang terpenting aku tidak mau ke dokter," kata Riga.
"Kau tau jika kau tidak mau ke dokter, Alfi tidak mau memberikan mu jatah. Alfi akan pergi lagi dari rumah, biarkan saja lah. Kau memang sangat bodoh."
"Ayah, yasudah aku bersiap siap, katakan pada nya," ucap Riga.
Varo kembali keluar dari kamar Riga, ia kembali bertemu dengan Alfi yang masih duduk di sofa.
"Sudah jangan khawatir suami mu sudah mau, kau jangan takut untuk mengancam nya, ancam saja tidak akan diberikan jatah. Akan pergi meninggalkan Riga, sudah itu akan membuat nya takut," kata Varo.
"Siap yah, dia memang sangat aneh, nama nya juga anak nya, pasti akan mirip dengan nya, aku pikir dulu masalah anak sudah selesai, ternyata masih saja bermasalah.
Riga berjalan mendekati Alfi dan langsung memeluk Alfi dari belakang, ia sangat kesal dengan Alfi karena Alfi sudah pandai mengadu pada ayah nya. Biasa nya Alfi tida seperti ini.
"Kamu sudah pandai mengadu ya sayang."
"Hahaha salah siapa kamu bandal, sudah ayo kita pergi," kata Alfi.
"Ayolah, kalau tidak pergi semakin banyak masalah ku."
"Dari tadi kek, jadikan tidak membuat masalah," ucap Alfi.
__ADS_1
"Hahaha benar sekali, kau semakin lama semakin aneh Riga. Oh iya pernikahan ayah akan dilaksanakan lusa di rumah, jadi kau jangan kemana-mana harus membantu ayah."
"Siap pak bos, saat malam pertama pun aku bantu," kata Riga.