
"Siapa," tanya Tiffany.
"Riga," jawab Roger.
"Riga, ada apa dengan nya," tanya Tiffany.
"Tak ada, dia hanya izin untuk pulang kerumahnya." Roger memeluk Tiffany dari belakang. Ia sudah terlalu bersemangat untuk kembali membuat Tiffany tergempur oleh nya.
"Roger masih sangat sakit loh," kata Tiffany.
"Tidak sayang, tidak sakit ayolah, kamu kan tadi malam suka," ucap Roger.
Roger memang seperti pria pada umumnya jika sedang menginginkan sesuatu, segala ucapan manis pasti ia katakan.
Di tempat lain. Jolie Dan Varo sedang membahas pernikahan mereka berdua. Roger sudah menikah dan sudah waktunya mereka berdua menikah. Varo sudah banyak rencana untuk pernikahan keempatnya ini, tetapi ia harus Membicarakan hal ini dengan Jolie, Jolie mau atau tidak tentang semua rencana yang sudah ia buat.
"Sayang jika kita sudah menikah akan tetap tinggal di sini," tanya Jolie.
"Jadi dimana lagi, jika kita pergi rumah ini akan terasa sepi, lebih baik kita tinggal disini untuk meramaikan rumah ini."
"Aku si tidak papa, tetapi apa istri mu mau menerima ku, aku takut mereka malah membuang mu, menghajar ku dan lain-lain, aku sangat takut seperti yang di film film, itu sangat menyeramkan," kata Jolie.
"Hahaha itu tidak akan terjadi, mereka sudah memberikan ku restu, jadi mereka pasti akan menerima mu apa ada nya, jangan takut untuk masalah itu."
"Kamu yakin, nanti saat mereka datang aku langsung di bully," kata Jolie.
"Hahaha tidak sayang, pikiran kamu sudah sangat jauh. Sekarang aku ingin membahas pernikahan kita. Jujur aku tidak ingin pesta besar, aku hanya ingin merayakan pernikahan ini dengan keluarga dekat saja. Untuk konsep kamu bebas memilih."
"Aku terserah, tapi aku hanya ingin satu hal yaitu Hanymoon di kapal pesiar, berkeliling dengan kapal di beberapa negera."
"Itu sangat bisa, aku akan melakukan hal itu untuk kamu, tapi kalau Riga dan yang lainnya ikut bagaimana. Tenang saja mereka tidak akan menganggu kita."
"Terserah, sayang," ucap Jolie.
__ADS_1
"Bagus, jadi pernikahan kita secara tertutup dengan konsep?"
"Modern, seperti kerjaan, aku sangat ingin menjadi ratu dalam satu malam," kata Jolie.
"Itu sangat mudah, aku pasti bisa menuruti hal itu, sudah kan tidak ada lagi?"
"Jadi pernikahan kita kapan," tanya Jolie.
"Orang ku sedang mengurus semua nya, yang pasti secepatnya, bisa jadi lusa ataupun besok. Yang terpenting kita ready dulu," jawab Varo.
"Oke sayang, aku sangat Redy dalam pernikahan ini, apalagi pernikahan ini dengan kamu, pasti aku sangat Ready," kata Jolie.
"Bagus aku suka dengan wanita seperti ini, dan apa kamu sudah siap menerima rudal ku," tanya Varo.
"Kalau itu mah sekarang pun aku sudah siap, kamu ingin sekarang ayo ke kamar."
"Sssttt jangan begitu, nanti aku menjadi contoh yang tidak baik jika aku melakukan nya terlebih dahulu sebelum menikah."
Riga turun dari kamar nya, ia menggelengkan kepalanya melihat kedekatan Varo dan Jolie, ayah nya seperti lupa diri jika sudah tidak abg lagi. Dia saja yang masih Abg tidak sampai sebegitu nya.
"Hahaha diam kau ya, mau kemana kau sudah rapi seperti ini," tanya Varo.
"Aku sedang ada acara yah, hmmm ayah mau ikut," tanya Riga.
"Mau kemana kau, acara apa?"
"Peresmian perusahaan teman ku, ayah juga tidak tau si siapa dia, jadi lebih baik tidak ikut."
"Kalau begitu ya sudah sana pergi, kemana malah mengajak ku tadi," ucap Varo.
"Hanya bercanda, aku pergi dulu yah. Oh iya ingat kau sudah tidak muda lagi, memberikan contoh yang baik pada semua orang, aku pergi dulu." Riga pergi meninggalkan Varo yang terdiam dengan kata-kata nya.
"Kurang ngajar ya, anak ini memang sangat mirip dengan ku, kata kata nya dapat mudah menusuk ke dalam hati."
__ADS_1
Sambil pergi Riga menghubungi Roger, ia ingin mendengar banyak cerita dari Roger, sudah lama ia pergi dari rumah Roger dan Riga yakin Roger sudah selesai melakukan hal itu.
"Hmmm ada apa," tanya Roger.
"Hahaha bagaimana, apa enak," tanya Riga.
"Pertanyaan mu aneh, ya enak lah, seperti nya aku akan segera mempunyai anak."
"Kenapa kau sangat percaya diri sekali akan segera mempunyai anak, bagaimana apa dia menangis karena punya mu itu."
"Tidak Riga dia tidak menangis, hanya kesakitan, banyak darah yang keluar tapi dia tidak menangis sama sekali, apa dia tidak punya air mata," kata Roger.
"Tenang aku bisa menjelaskan nya, aku menelpon mu juga ingin menjelaskan hal itu."
"Nah jelaskan lah, pasti Alfi banyak cerita pada mu."
"Kau tau, Tiffany sampai seperti itu tidak muda, banyak yang hal yang harus ia lalui, termasuk memperbaiki mental nya yang hancur. Mental Tiffany sudah benar-benar hancur saat keluar dari sekolah, ya mungkin karena kau pembully nya. Ia selalu menangis setiap saat, tidak percaya diri dan lainnya sebagai nya. Banyak hal yang ayah nya lakukan untuk membuat nya bangkit tetapi memperbaiki mental seseorang itu tidak mudah. Sampai pada akhirnya, Tiffany mau bangkit karena ayah nya yang terkena kanker."
"Lalu apa semuanya sudah baik baik saja," tanya Roger.
"Sudah, Tiffany sudah sembuh dari mental nya. Paman juga sudah sembuh dan satu lagi Tiffany tidak akan menangis sesakit apapun dia. Ia sudah berjanji untuk tidak menangis, jadi jangan lakukan hal yang membuat nya bersedih, jangan lakukan hal yang membuat nya menangis, kau pria yang aku percaya. Aku yakin pasti kau bisa melakukan hal ini."
"Terimakasih telah mengingat ku, aku sudah berjanji pada hadapan Tuhan, pada hadapan kalian semua aku tidak akan menyakiti nya, aku akan setia pada nya, aku pasti bisa membuat nya bahagia. Riga kau sungguh luar biasa, aku yakin kebaikan mu pasti di balas oleh Tuhan berlipat-lipat kali."
"Ah kau bisa saja, ya sudah aku ada acara, jangan kau gempur terus, jangan membuat nya tidak bisa berjalan."
"Hahaha iya iya aku tau itu, terimakasih untuk pelumas nya, sangat berguna untuk ku."
"Apa kau pakai?"
"Jelaslah, kalau tidak aku pakai mana mungkin bosa masuk ke dalam, oh iya beli dimana aku ingin membeli nya untuk stok."
"Yang aku beri habis?"
__ADS_1
"Habis dua kali pakai," kata Roger.
"Kau sangat tidak beruntung Tiffany, nanti aku share toko nya," ucap Riga.