Menikah Dalam Perjodohan

Menikah Dalam Perjodohan
Episode 114 S2


__ADS_3

Alvaro pun memakan burung puyuh itu, rasanya seperti ayam hanya saja sedikit lebih lembut dan mempunyai bau yang ciri khas.


"Burung mu dengan yang ini besar mana al," tanya Melanie.


"Pertanyaan macam apa ini, ya jelas milik ku lah," jawab Alvaro.


"Burung ini saja aku makan, kapan kau memakan burung ku," tanya Alvaro.


"Bagaimana rasa nya al," tanya Melanie


"Apa nya burung ku?"


"Itu burung puyu nya enak tidak," tanya Melanie.


"Not bad, aku masih bisa memakannya tetapi rasanya memang sedikit aneh, tapi karena masakan mamah mu, aku akan menghabiskan."


"Jangan mencari perhatian lagi pada mamaku, dia sudah pergi jadi tidak ada gunanya lagi kau mencari perhatian pada mamah ku," kata Melanie.


"Melanie aku tidak mencari perhatian pada mamah mu, lagi pula untuk apa aku melakukannya. Aku hanya menghargai masakan mamah mu, jika tidak aku yang menghabiskan siapa lagi? Kau tidak suka bukan."


Alvaro bingung kenapa Melanie selalu curiga dengan cara nya, padahal saat ini ia sedang mode baik.


"Oh begitu maaf aku berburuk sangka. Ternyata suami ku memiliki hati yang baik."


"Oh jelas, siapa lagi Alvaro pria tampan dari kota," kata nya dengan sekali sangat percaya diri.


Melanie sudah tidak aneh heran lagi dengan dengan kepercayaan diri Alvaro yang benar-benar sangat tinggi.


Alvaro pun makan dengan sangat lahap, ia berusaha untuk menghabiskan semua makanan yang telah telah tersedia.


Meskipun begitu alvaro tetap tidak bisa menghabiskan semua makanan itu karena memang makanan itu terlalu banyak untuknya dan juga Melanie. Iya sampai tidak bisa bergerak karena kekenyangan.


"Sumpah aku sudah sangat kekenyangan, cukup aku tidak kuat." Alvaro tetap berusaha makan meskipun sudah tidak kuat lagi.


"Siapa yang memintamu untuk menghabiskan semuanya, ya kalau sudah kenyang berhenti, untuk apa kau memaksakan ya dari pada perutmu terasa sakit lebih baik berhenti sekarang juga."


"Cie yang perhatian padaku," ucap Alvaro sambil minum.


"Aku tidak perhatian padamu, aku hanya tidak ingin perutmu sakit dan kau merepotkan aku," kata Melanie.


"Oh begitu, jadi kau tidak ingin direpotkan oleh suaminya sendiri, daddy ku saja sering merepotkan mamaku tapi tidak sepertimu."


"Tidak seperti itu Alvaro, kenapa kau sensitif sekali, kau sedang tidak datang bulan kan," tanya Melanie.


"Hey Melanie untuk apa bulan datang padaku. Mereka terlalu besar," jawab Alvaro.


"Bukan itu maksudku Alvaro, ya sudah aku malas berdebat dengan oke."

__ADS_1


Alvaro bangkit dari tempat duduk itu dan pergi meninggalkan melanie, setelah mengisi ya iya ingin membuangnya, tetapi Alvaro tidak tahu dimana letak kamar mandi rumah melanie berada.


"Melanie di mana kamar mandinya aku sudah tidak tahan," teriak alvaro.


"Tunggu sebentar aku ke sana."


Melanie berlari dengan cepat ke arah belakang, ia takut suaminya malah kepicit karena sudah tidak tahan.


"Dimana aku sudah tidak kuat," tanya Alvaro sambil memegang pantatnya.


Melanie memegang tangan Alvaro dan membawanya ke kamar mandi yang terpisah dengan rumah nya. Mata Alvaro terbelalak karena tempat itu terlalu jauh.


"Di sana, cepat sana. Aku ingin membereskan yang tadi."


"Di sana, itu terlalu jauh melanie. Aku mana mungkin berani." Alvaro mulai merengek seperti biasa nya.


"Kau seorang pria masak tidak berani, aku sedari kecil saja berani."


"Jangan samakan aku dengan dirimu, ayo temanin aku," kata Alvaro.


Mau tidak mau Melanie pun menemani Alvaro membuang air.


"Jongkok," tanya Alvaro.


"Iyalah," jawab Melanie.


"Ha tidak bisa," tanya Melanie.


"Iya tidak bisa, pegangin aku," kata Alvaro.


Alvaro mulai membuka celana nya dan memberikan nya pada Melanie. Tida seperti daddy nya dulu yang sangat malu menunjukkan kejantanan nya pada istri nya. Alvaro malah bangga memperlihatkan nya.


"Kalau sedang seperti itu kecil ya," kata Melanie.


"Dia sedang tidur," ucap Alvaro.


Alvaro jongkok dan Melanie jongkok juga di depan Alvaro. Setelah itu Alvaro memegang pundak Melanie agar tidak terjatuh ke belakang.


"Melanie aku pegang ini saja ya," kata Alvaro.


"Pegang mana," tanya Melanie.


"Pegang ini." Alvaro bergerak ke arah dada Melanie.


"Alvaro jangan, sakit kalau ke tarik," kata Melanie


"Hahaha maaf, kau tidak ingin punya anak Melanie," tanya Alvaro.

__ADS_1


"Kau sendiri bagaimana?"


"Aku si terserah, kalau kita berpisah pun kita tetap bisa mengurus anak kita, ya meskipun sudah tidak menjadi suami istri."


"Aku tidak tahu aku males membahasnya. Lagi pula untuk apa memikirkannya sekarang, aku ingin semuanya berjalan seperti air mengalir, tanpa beban pikiran yang membuatku stress. Jika memang sudah ditakdirkan seperti itu, ya aku tidak mungkin bisa menolaknya." Melanie mengatakan nya dengan sangat serius sekali.


"Tumben bijak sekali, biasanya hanya marah-marah tidak jelas," kata Alvaro.


"Sejak kapan aku marah marah padamu, semenjak kita menikah aku tidak pernah marah marah lagi padamu lagi, tetapi kalau ku menjengkelkan ya aku pasti marah padamu"


"Ya ya ya aku sudah siap, mana tisu nya," tanya Alvaro.


"Pakai air alvaro bukan pakai tisu, kau ini ada ada saja, mana sama kan dengan rumah mu."


"Bagaimana caranya," tanya Alvaro.


"Arahkan air itu ke tempatnya, oke setelah itu bersihkan dengan tanganmu. Dan cuci kembali tangan mu," jawab Melanie.


"Sama saja seperti pada tisu. Sudah ayo."


"Sudah bersih kan," tanya Melanie.


"Sudah dong," jawab Alvaro.


Melanie merasa seperti menemani berak anak kecil, harus di beri tau terlebih dahulu.


Setelah selesai mereka berdua pun kembali masuk ke dalam rumah, alvaro duduk melihat melani yang kembali merapikan meja makan. Ia ingin membantu, tapi males bergerak. Hasilnya alvaro hanya melihat melalui sejak tentang membantunya.


"Alvaro bisa tidak membantuku," ucap Melanie


"Sepertinya kau wanita yang bandel," kata Alvaro memegang, ia tidak Terima jika Melanie merasa memanggilnya dengan sebutan nama.


"Maksudmu apa?" Melanie menaikkan satu alisnya.


"Kan sudah aku katakan berhenti memanggil namaku kau ini sebenarnya siapa sih," ucap Alvaro dengan nada yang cukup kesal.


"Mas Alvaro yang tampan tolonglah bantu istri mu ini." Melanie merasa mengatakan nya nya dengan sangat lembut ddan manis. Hal itu melulu kan hati seorang Alvaro.


"Nah begitu kan enak, harus ku bawa ke mana?"


Alvaro bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Melanie.


"Bawa saja ke dapur besok aku akan mencucinya."


Alvaro bergerak membawa beberapa piring kotor itu ke dapur.


Setelah selesai membereskan semuanya, tiba tiba-tiba hujan besar di sertai petir datang. Alvaro dan Melanie memutuskan untuk masuk ke dalam kamar, lagi pula waktu Magrib juga sudah tiba.

__ADS_1


__ADS_2