
Alfi sudah berada di ruang bersalin. Sudah waktunya untuk diri nya melahirkan anak hasil buah cinta nya dengan Riga. Perasaan nya saat ini sedang campur aduk, senang, sedih takut semua nya melebur menjadi satu.
"Aku ikut ya," ucap Tiffany.
"Jangan nanti kamu malah takut melahirkan lagi, aku sendiri saja tidak papa," kata Alfi.
"Kamu yakin," tanya Tiffany.
"Aku sangat yakin," jawab Alfi.
Dokter dan suster sudah mempersiapkan semua. ya. Saat ini Alfi benar-benar sendiri, merasakan sakit sendiri tanpa ada yang menemani nya.
"Dok saya sudah tidak kuat," ucap Alfi.
"Tahan sebentar ya, jangan di dorong dulu," kata Dokter.
Di tempat lain, kondisi Riga tiba-tiba membaik Seketika. Tidak tau apa yang membuat nya melewati koma itu, padahal dokter yang Warsa panggil belum melakukan pemeriksaan apapun. Saat ini Riga hanya menunggu sadar saja yang pasti tidak memerlukan waktu yang lama.
"Riga ayo bangun Riga, Alfi membutuhkan mu," ucap Warsa.
Alfi sudah mulai mendorong bayi nya keluar dari rahim nya. Rasa nya benar-benar sangat luar biasa sakit, ia sampai menggelengkan kepala nya karena merasa tidak yakin bisa melewati semua ini.
"Sayang," Alfi menangis sambil mendorong bayi nya. Hati nya terus memanggil nama Riga.
"Kamu pasti bisa Alfi, kamu pasti bisa ayo." Tiffany memutuskan untuk masuk ke dalam, ia tidak bisa membiarkan sepupu nya berjuang sendirian.
"Hmmmmmmm." Alfi terus mendorong bayi nya. Tetapi tetap terasa sangat sulit. Karena bayi Alfi terlalu besar, beberapa koyakan terdengar dengan jelas. Dokter menambah jalan lahir bayi Alfi.
"Ayo dorong, satu dua tiga Alfi dorong," ucap Tiffany sambil menggenggam tangan Alfi dengan erat.
Waktu terus berlalu tetapi Alfi belum bisa mengeluarkan anak nya. Alfi merasa ia seperti akan kehilangan kesadaran nya. Jika hal itu terjadi benar-benar sangat berbahaya bagi bayi maupun Alfi sendiri.
"Alfi kamu kuat, ayo cepat dorong." Tiffany terus memberikan semangat untuk sepupu nya.
Saat Alfi sudah hampir menyerah tiba-tiba tangan Alfi di genggam oleh seseorang Seseorang pria yang benar-benar Alfi butuhkan.
"Sayang kamu bisa, ayo sayang ayo."
"Riga." Alfi berulang kali mengedipkan mata nya, ia pikir ia sedang berhalusinasi, tetapi ternyata tidak. Riga benar-benar berada di samping nya menggantikan Tiffany.
"Iya ini aku, ayo satu.. dua tiga... dorong sayang," ucap Riga. Riga benar-benar berada di samping Alfi, meskipun saat ini ia duduk di kursi roda.
__ADS_1
"Hmmmmmmmmmm." Beberapa dorongan kuat Alfi lakukan. Saat melihat Riga, Alfi seperti mengisi ulang energinya.
"Ayo sayang terus kamu bisa." Riga menggenggam erat tangan istri nya. Wajahnya ia dekatkan dengan wajah Alfi, meskipun kaki nya masih gemetaran karena baru sadar. Riga tetap berusaha berdiri.
"Aku sangat mencintai, benar-benar mencintaimu, kamu bisa, aku percaya itu." Riga terus membisikan kata kata cinta yang membuat Alfi seperti tercars kembali.
Satu dorongan kuat akhirnya membuat bayi besar itu keluar dari dalam sana. Tangisan bayi itu membuat Riga dan Alfi ikut menangis, mereka berdua terharu setelah melewati berbagai macam rintangan.
"Terimakasih terimakasih sayang." Riga benar-benar sangat senang sekaligus terharu.
Setelah di bersih kan anak itu langsung di berikan pada Riga. Wajahnya benar-benar mirip dengan Riga, Riga belum sadar akan hal itu karena ia masih terharu.
"Sayang anak kita," ucap Riga.
Beberapa saat setelah proses melahirkan. Alfi sudah dipindah kan ke ruangan inap. Semua orang juga sudah boleh masuk untuk melihat Alfi dan anak nya. Begitu juga dengan Riga, yang sudah berganti baju dengan pakaian biasa, tangan nya masih diinfus agar Riga tidak lemas.
"Bagaimana bisa," tanya Alfi yang masih tidak percaya.
Riga mendekati wajah Alfi dan mencium nya.
"Bagaimana mungkin aku membiarkan istri ku berjuang sendirian," ucap Riga.
"Seharusnya aku yang berterimakasih pada mu, terimakasih telah melahirkan anak ku yang tampan ini, aduh beratap tampan nya dia, tapi dia sangat gemuk harus diet seperti nya," ucap Riga.
"Riga kau ada ada saja, anak baru lahir sudah kau suruh diet," ujar Varo.
"Sumpah dia tampan sekali, kulit nya bersih sekali," kata Tiffany.
"Tunggu dulu, aku rasa dia sangat mirip dengan mu Riga, mata nya, hidung nya bibir nya, apalagi bentuk wajahnya," ucap Warsa.
"Apa!!!!."
Riga memperhatikan anak nya dengan seksama, memang benar-benar seperti duplikat nya. Ia tidak tau bagaimana mungkin tidak ada sedikitpun wajah Alfi di sana. Semua nya mirip dengan nya.
"Kenapa bisa seperti ini, sayang kamu pasti terus memikirkan ku, bagaimana mungkin dia bisa semirip itu dengan ku. Hey kau babyboy jangan sampai sifat mu sama seperti daddy mu ini."
"Aku rasa sama saja, manja keluar saja sangat susah," ucap Alfi.
"Sayang," rengek Riga.
Inilah yang Alfi rindukan rengek kan Riga yang menurut nya sangat menggemaskan. Riga benar-benar sudah kembali berdansa dengan nya.
__ADS_1
"Maaf aku terlambat," ucap Aldy.
"Teman macam apa kau," kata Riga.
"Riga kau sudah sadar? kenapa tidak ada yang memberitahu ku. Aku hanya tau jika Alfi sudah melahirkan," ucap Aldy.
"Tu lah makannya selalu Aptude," kata Riga.
"Hay baby boy, siapa nama mu, kau benar-benar mirip dengan daddy mu ya," ucap Aldy.
"Siapa nama nya yah," tanya Riga.
"Lah kau yang punya anak, kenapa meminta jawaban dari ku," jawab Varo.
"Aku sangat bersyukur bertemu dengan ayah kembali, ayah pasti sudah merawat istri ku dengan baik saat aku sedang tertidur, sebagai ucapan terimakasih ku aku memberikan nama anak ku Alvaro Vargas Rueckner."
"Kau yakin, terus panggilan nya apa," tanya Varo.
"Al baby al," jawab Riga.
"Bagaimana sayang kamu setuju," tanya Riga.
"Bagaimana mungkin aku tidak setuju, nama yang sangat bagus," jawab Alfi.
"Nama nya saja yang sama, jangan sampai sifat nya sama juga ya. Jangan sampai anak mu mempunyai istri yang banyak," kata Warsa.
"Iya jangan sampai lah, aku akan memenggal nya," ucap Riga.
"Sayang apa anak kita akan seperti itu juga, tampan sekali," kata Jolie.
"Ya jelas dong, ayah nya saja tampan bagaimana mungkin anaknya tidak tampan," ucap Varo.
"Sudah hamil, cepat sekali," tanya Riga.
"Ya cepat lah, kau meragukan ku, aku sudah jauh lebih berpengalaman dari mu."
"Ternyata aku sudah melewati banyak hal," ucap Riga.
Riga mendekati telinga Alfi ada yang ingin ia katakan pada Alfi.
"Sayang kapan kita buat adik nya Al," bisik Riga
__ADS_1