
"Mandi bersama itu hal yang buruk," ucap Melanie.
"Buruk apa nya, itu hal yang sangat baik Melanie, kau tidak ingin mandi bersama dengan ku," tanya Alvaro.
"Kenapa kita harus mandi bersama," tanya Melanie.
"Karena agar mempercepat waktu saja, orang tua ku sudah menunggu kita berdua, jadi agar cepat kita mandi bersama," jawab Alvaro.
Belum Melanie menanggapi perkataan nya. Alvaro menggendong Melanie ke dalam kamar mandi. Melanie tidak ada pilihan lain selain menuruti apa yang Alvaro katakan.
"Naked," tanya Melanie.
"Aku si iya, kalau kau terserah mu, kalau tidak nyaman aku lihat ya sudah pakai saja dalaman," jawab Alvaro sambil membuka satu persatu pakaian nya. Alvaro sudah tidak ada rasa malu lagi pada Melanie.
Untuk apa ia malu, tubuh nya sempurna dengan otot yang terbentuk dengan kokoh, ia juga sangat bersih karena Alvaro tidak suka ada bulu di tubuh nya. Barang nya juga tidak bisa diremehkan.
Mata Melanie terbelalak melihat Alvaro yang dengan muda nya naked di depan nya. Alvaro sudah seperti model ****** *****. Alvaro menyalahkan air dan membasuh setiap inci tubuh nya.
Berbeda dengan Alvaro yang sudah sangat berani, Melanie malah sebaliknya, ia tidak berani sama sekali. Ia memakai dalaman saja agar Alvaro tidak melihat semua tubuh nya.
"Seksi," ucap Alvaro sambil menarik Melanie ke arah nya.
"Alvaro, kau tidak malu pada ku," tanya Melanie.
"Hahaha untuk apa malu si, aku kan suami mu bukan orang asing," kata Alvaro.
Mereka pun akhirnya mandi bersama, hanya mandi tidak melakukan apapun karena Riga dan Melanie sudah meninggal mereka berdua dibawa. Setelah selesai mandi mereka langsung turun ke lantai dasar.
"Sudah siap," tanya Riga.
"Sudah dad ayo pergi," jawab Alvaro.
Sebelum pergi Alvaro mendekati Ryan dan memeluk nya. Ia sangat berterimakasih pada Ryan karena telah menampung nya dengan sangat baik.
"Terimakasih kek untuk semua, kita pasti akan sering bertemu setelah ini," kata Alvaro.
"Alvaro jangan kecewa kan kakek mu ini, cepat berikan kakek cicit dan jaga pernikahan mu dengan sangat baik. Kakek tidak ingin mendengar masalah lagi dari mu."
"Iya iya aku akan melakukan nya dengan baik," kata Alvaro.
"Terimakasih kek untuk semuanya," ujar Melanie.
__ADS_1
Setelah berpamitan mereka pun pergi meninggalkan rumah itu. Rumah yang sangat berarti bagi Alvaro dan Melanie, di sana semua awal kehidupan mereka di mulai.
"Kita naik apa dad," tanya Alvaro.
"Naik jet pribadi kakek mu, mungkin hanya beberapa menit saja sampai," jawab Riga.
"10 menit," tanya Alvaro.
"Tidak 10 menit juga Alvaro, 25-30 menit kita akan sampai," jawab Riga.
Pukul 1 siang mereka sampai di rumah. Ini bukan pertama kali nya Melanie pergi ke kota, sebelum nya ia sudah pernah pergi bersama dengan Pactrik mantan pacar nya.
"Apartemen ku sudah di cari oleh Ivan belum y" ucap Alvaro.
"Daddy sudah membelikan nya, lagi pula Ivan juga sedang di Korea, dia ada pekerjaan," kata Riga.
"Jadi daddy yang membelikan nya dimana dad," tanya Alvaro.
"Di dekat perusahaan, lantai 43," jawab Riga.
"Pas aku suka ketinggian, kau tidak papa kan kita tinggal di tempat yang tinggi," tanya Alvaro.
"Tidak sama sekali, kau tenang saja," jawab Alvaro.
Alvaro membawa Melanie naik ke lantai 4 tempat kamar nya berada. Memang Alvaro lebih suka tinggal di tempat yang lebih tinggi, ia lebih merasa lebih bebas tinggal di tempat yang tinggi.
"Ini kamar mu," tanya Melanie.
"Iya ini kamar ku, kau tidak suka? memang nuansa kamar pria," jawab Alvaro.
"Ya kita juga tidak akan lama di sini, jadi tidak masalah untuk ku."
Melanie merebahkan diri nya ke atas kasur, ia sangat lega sampai kota dengan selamat, jujur Melanie sangat takut naik pesawat, hanya saja saja merahasiakan semuanya.
Alvaro sudah tidak sabar ingin keluar bersama teman-temannya, tetapi pasti orang tuanya tidak akan mengizinkan nya pergi. Alvaro berpikir dengan keras agar ia bisa pergi dari rumah dengan aman. Saat melihat melanie ia menemukan bagaimana caranya.
Alvaro berjalan mendekati melanie dan duduk disampingnya. Ia memulainya dengan suara yang lembut.
"Melanie aku ingin pergi loh, tetapi pasti orang tuaku tidak mengizinkan ku," ucap Alvaro dengan nada yang lembut. Jika ada mau nya Alvaro memang seperti ini.
"Lalu kenapa berkata kepadaku, kau ingin meminta bantuan ku," tanya Melanie yang tidak biasa mendengar suara lembut Alvaro.
__ADS_1
"Nah tepat sekali, tolong bantu aku. Katakan saja pada orang tua ku, jika kau yang menyuruh ku pergi untuk membeli sesuatu. Jangan katakan yang sebenarnya, aku tidak akan selingkuh kok, aku hanya ingin berkumpul dengan teman teman ku," ucap Alvaro.
"Alvaro mau baru saja sampa rumah, apa tidak lelah," tanya Melanie.
"Tidak Melanie, ayo tolong aku, aku hanya ingin bersenang-senang dengan teman teman ku."
"Tidak mau aku tidak mau berbohong, lagi pula aku tidak mendapatkan apapun."
"Sebagai gantinya kau boleh meminta apapun yang kau mau," ucap Alvaro dengan gamblang nya, ia tidak tau jika permintaan Melanie itu pasti akan membuat nya repot.
"Kau serius, apapun itu," tanya Melanie.
"Iya apapun itu aku akan memberikannya padamu," jawab Alvaro.
"Oke aku setuju, tapi sebelum pergi kau pulang jam berapa biar aku bisa mengatakannya. Nanti mereka akan curiga jika aku menjawab nya acak acakan."
"Ini jam satu kemungkinan besar aku pulang 5 sore," kata Alvaro.
Mereka sudah menemukan persetujuan, alvaro sudah tidak sabar untuk pergi, ia mengganti pakaiannya, membawa dompet dan handphone. Setelah itu langsung membawa Melanie keluar dari kamar. Melanie sangat bingung kenapa Alvaro menarik nya keluar kamar.
"Tunggu tunggu Alvaro, kenapa kau menarik ku. Aku ikut Alvaro," tanya Melanie.
Alvaro membuang nafas nya dengan kasar, Ternyata Melanie tidak sepintar yang Alvaro pikiran.
Kau harus ikut ke bawah untuk menjelaskan nya kepada orang tuaku. Jika hanya aku yang ke bawah mereka mana percaya pada ku."
"Oh gitu yasudah ayo."
Melanie dan Alvaro pun turun dari dalam kamar dan langsung mendekati Riga yang sedang duduk sendiri menonton televisi.
"Daddy aku harus pergi," ucap Alvaro.
"Mau pergi lagi? kemana," tanya Riga.
"Membelikan istri ku sesuatu, aku tidak memberikan nya apapun setelah kami menikah, aku ingin memberikan sesuatu yang spesial," kata Alvaro.
"Ya sudah pergi lah, kau tidak ikut Melanie," tanya Riga.
"Kalau dia ikut tidak spesial lagi hadiah nya," jawab Alvaro.
"Ya sudah pergi lah, jangan lama lama, hati hati Alvaro."
__ADS_1