
"Jangan di sini," ucap Melanie.
"Hmmmm tidak papa sayang." Alvaro mulai melakukan pemanasan kecil, ia ingin membuat Melanie termanjakan oleh diri nya. Hitung hitung sebagai permintaan maaf nya pada Melanie.
"Mas mas." Melanie tidak tahan jika Alvaro agresif seperti ini.
"Iya sayang, aku buka ya."
Dan terjadi lah apa yang seharusnya terjadi di ruangan itu. Melanie memejamkan mata nya saat benda tumpul besar menyelinap masuk kedalam rahimnya. Rasa nya sangat sakit di awal tapi sangat enak setelah nya.
Suara decitan meja makan terdengar jelas. Melanie merasakan sakit di punggung nya karena tertatap oleh meja makan yang keras. Ia memeluk Alvaro dengan erat agat tidak terlalu sakit.
"Mas sakit."
"Maaf maaf." Alvaro menggendong Melanie dan membawa nya ke kamar. Ia tidak ingin terlalu memaksakan kehendak nya.
Di tempat lain.
"Sudah malam sayang, ayo pulang," ucap Vera.
"Sayang kamu ada masalah," tanya Vera.
"Ha tidak," jawab Pactrik.
"Serius," tanya Vera, Vera merasa Pactrik tidak seperti biasa nya.
__ADS_1
"Tidak sayang." Pactrik menarik Vera ke atas pangkuan nya.
"Pactrik jangan begini ah, malu," kata Vera.
"Malu? untuk apa sayang, tidak ada yang melihat kita juga," ucap Pactrik.
"Pactrik, kamu kenapa si," tanya Vera.
"Cup." Pactrik mencium wajah Vera.
"Pactrik, kamu pelanggaran," kata Vera.
"Hahaha tidak papa dong, kan aku pacar kamu, apa salah mencium pacar sendiri," ucap Pactrik.
"Nah itu kamu pelanggaran, hahaha tidak rugi kan aku cium," kata Pactrik.
Dari kejauhan. Ivan yang tidak sengaja datang di cafe itu bersama teman-teman melihat semua nya. Hati nya terasa sakit karena memang ia suka dengan Vera, apalagi ia melihat Pactrik lah yang bersama wanita itu. Pactrik sendiri tau bagaimana perasaannya pada Vera.
"Tunggu sebentar," ucap Ivan yang berjalan mendekati mereka berdua.
"Pactrik Vera," ucap Ivan dengan senyuman manis.
"Ivan." Pactrik buru buru menurunkan Vera dari pangkuan nya.
"Kalian jadian," tanya Ivan.
__ADS_1
"I.. iya," jawab Pactrik.
"Selamat ya, aku ikut senang."
Pactrik benar-benar merasa tida k enak pada Ivan, ia tau kalau Ivan suka dengan Vera. Ia berpacaran dengan Vera agar Alvaro tidak curiga, dan tentu saja sebagai pelarian nya.
"Ivan, kau sedang apa di sini," tanya Pactrik.
"Tidak ada, hanya jalan jalan saja, tetapi aku menemukan sesuatu yang tidak terduga. Ya sudah lanjutkan lah. Maaf aku menganggu kalian." Ivan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ada apa dengan nya, dia seperti kesal pada kita," ucap Vera.
"Tidak papa sayang, sudah ayo, aku antar kamu pulang."
"Sekarang," tanya Vera.
"Jadi kapan lagi, besok kita ada kelas. Nanti aku jemput lagi," jawab Pactrik.
Pactrik melihat ke arah Ivan, ia yakin pasti Ivan sangat marah pada nya. Ikatan saudara yang sudah terjalin perlahan rusak karena hanya sebuah percintaan. Pactrik yakin hubungan nya dengan Alvaro pasti tidak jauh dengan Ivan nanti. Atau mereka bertiga akan saling membenci.
Ivan mengambil handphone nya untuk menghubungi Alvaro, tetapi Alvaro tidak kunjung mengangkat telepon nya. Padahal ia sangat butuh Alvaro saay ini.
"Sial," ucap Ivan.
Bagaimana Alvaro mau mengangkat nya. Ia masih bersenang-senang dengan istri nya. Handphone yang berdering tidak pernah Alvaro gubris. Ia fokus membuat diri nya dan Melanie terbang ke langit ke 7
__ADS_1