Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
Taruhan Lama


__ADS_3

" Kamu mengenal Tuan Raman Mas?" Tanya Nesha.


" Di.... Dia....


" Aku sahabat lamanya saat dia bersama Vera dulu." Sahut Raman.


" Iya sayang kami kawan lama." Ujar Farhan.


" Kawan lama yang masih mempunyai tanggungan." Ujar Raman.


" Tanggungan apa Mas? Kamu punya hutang padanya?" Tanya Nesha menatap Farhan.


" Tidak." Sahut Farhan.


" Kawan apa kau lupa dengan janjimu dulu? Apa kau lupa dengan taruhan yang kita buat dulu? Itu masih berlaku sampai sekarang kawan, Jangan mencoba untuk melupakannya." Ujar Raman.


" Mbak Nadia tolong bawa anak anak ke kamar mereka ya, Saat ini kami sedang ada urusan sebentar." Ucap Nesha.


" Baik Nona." Sahut Mbak Nadia mengajak anak anak ke dalam kamar Nathan.


" Taruhan? Taruhan apa? Katakan yang jelas apa maksud anda Tuan Raman? " Tanya Nesha menatap Raman.


" Dulu dengan bangganya Farhan mengatakan jika cintanya hanya untuk Vera seorang, Tidak akan ada wanita yang bisa merebut hatinya." Ucap Raman.


Nesha menatap Farhan dengan tatapan kecewa. Bagaimana mungkin Farhan mendahului kehendak Tuhan.


" Dia bilang padaku jika dia tidak akan mencintai wanita lain selamanya...


" Cukup jangan bicara apa apa lagi." Potong Farhan.


" Kenapa? Apa aku tidak boleh mengetahuinya begitu?" Tanya Nesha.


" Bukan begitu sayang itu hanya masa lalu dan tidak berlaku untuk masa sekarang." Sahut Farhan.


" Teruskan saja." Titah Nesha menatap Raman.


" Kami membuat kesepakatan, Jika sampai Farhan menikah lagi maka dia akan menyerahkan istrinya kepadaku dengan suka rela, Dan kebetulan mungkin sekarang waktunya Farhan menepati janjinya padaku, Aku juga seorang single bukan? Jadi tidak masalah jika aku dekat denganmu." Ucap Raman.


" Aku tidak akan menyerahkan istriku pada siapapun." Tegas Farhan.


" Wah sikapmu tidak mencerminkan sikap laki laki kawan, Kau kalah dalam taruhan ini jadi kau harus menerima konsekuensinya dan merelakan istrimu menjadi milikku." Ucap Raman.


" Aku sudah bilang aku tidak akan menyerahkan istriku padamu Raman." Bentak Farhan.


" Oh apakah itu sebabnya kamu memblock nomerku? Supaya aku tidak tahu jika kau sudah punya kehidupan baru bersama istrimu? Aku akan membuat perhitungan jika sampai kau mengingkari janjimu Farhan." Sahut Raman.


" Maaf Tuan Raman ini adalah masalah kalian, Aku tidak mau ikut terlibat di dalamnya yang jelas aku bukan barang yang bisa kalian jadikan bahan taruhan, Dan aku tidak bisa di oper ke sana kemari demi kepentingan kalian berdua, Selesaikan masalah kalian tanpa melibatkan aku di dalamnya, Permisi." Nesha meninggalkan keduanya yang masih dalam kondisi bersitegang.


" Istrimu menarik juga Han, Aku akan senang hati menerimanya darimu." Ucap Raman.

__ADS_1


" Bukankah aku sudah bilang padamu kalau aku tidak akan pernah menyerahkan istriku pada siapapun, Sekarang pergilah dari rumahku jangan pernah mengusik kehidupanku lagi." Usir Farhan.


" Aku akan mendapatkan istrimu melalui putriku." Ujar Raman.


" Aku tidak akan mengijinkan putrimu bermain ke rumah ini lagi." Sahut Farhan.


" Nesha pasti akan memarahimu Han, Aku yakin jika Nesha sudah menyayangi Meli, Secara tidak langsung dia adalah milikku jadi aku akan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku." Sahut Raman.


" Dasar sinting." Cebik Farhan meninggalkan Raman sendirian di ruang tamu.


" Hei kau mau kemana? Selesaikan dulu masalah kita Farhan." Teriak Raman.


Farhan menuju kamar Nathan menghampiri Nesha dan kedua putranya.


" Sayang." Panggil Farhan. Nesha tidak bergeming.


" Meli Papamu sudah menunggumu, Oh ya untuk ke depannya jangan sering sering kemari ya karna Papamu tadi marah marah sama Om." Dusta Farhan.


" Baik Om maafin Mei ya, Om Tante, Mei pulang dulu ya." Ucap Meli menyalami Farhan dan Nesha bergantian.


" Hati hati sayang." Ucap Nesha.


" Vernathan Gama, Mei pulang dulu ya sampai jumpa di sekolah." Ucap Meli.


" Hmm." Gumam Nathan.


Meli keluar kamar Nathan menuju ke ruang tamu dimana Papanya sudah menunggunya, Sedangkan Nesha kembali ke kamarnya sendiri tanpa menghiraukan Farhan.


" Sayang bermainlah dengan Mbak Nadia, Papi mau ke kamar dulu ya." Ucap Farhan.


" Iya Pi." Sahut Nathan.


Farhan masuk ke dalam kamarnya, Ia menghampiri Nesha yang sedang duduk bersandar pada headboard sambil memejamkan matanya. Jujur hatinya merasa kecewa setelah mendengar ucapan Raman. Hati Nesha sangat sensitif jika mengenai mantan.


" Sayang." Panggil Farhan duduk di tepi ranjang.


" Nggak usah manggil manggil sayang jika aku hanya kamu jadikan taruhan saja, Bahkan dengan bangganya kamu bilang kalau kamu tidak akan mencintai wanita lainnya selain Vera." Cebik Nesha kesal.


" Sayang bukan begitu, Aku...


" Bukan begitu gimana? Jelas jelas tadi aku dengar Raman bilang seperti itu, Mau menyangkal apalagi? Apa kamu akan menyerahkan aku pada Raman sesuai janjimu padanya? Sama saja aku korban cintamu dengan Vera." Potong Nesha.


" Maafkan aku sayang... Dengarkan penjelasanku! Dulu aku mengira jika aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi karna rasa trauma yang Vera berikan padaku, Jika aku tahu aku akan bertemu denganmu maka aku akan menghempaskan seribu Vera demi mendapatkan wanita sebaik dirimu sayang, Percayalah padaku, Aku benar benar sangat mencintaimu kali ini aku tidak akan berbohong jika hanya kamu wanita yang aku cintai, Percayalah!" Ujar Farhan.


" Gombal, Sekali pembohong tetap akan jadi pembohong Mas." Cebik Nesha.


" Tidak sayang... Aku serius, Apa kurang selama ini aku membuktikan cintaku padamu? Aku tidak berbohong ini dari hatiku yang terdalam." Sahut Farhan.


" Baiklah aku percaya padamu." Ujar Nesha.

__ADS_1


" Terima kasih sayang, I Love U Muah." Ucap Farhan memeluk tubuh Nesha sambil mencium kening Nesha.


Di tempat lain Jordan sedang menenangkan Arsya yang sedang menangis. Ia menggendong Arsya sambil jalan mondar mandir di dalam kamarnya, Tapi semua itu tidak membuat Arsya diam.


" Sayang tenanglah sebentar lagi Mama pasti pulang." Ucap Jordan.


" Sifa sebenarnya kamu kemana sih? Kenapa belum pulang juga sayang." Monolog Jordan terus menimang Arsya.


Ceklek....


Sifa membuka pintu kamarnya. Ia menghampiri Jordan.


" Sini biar aku yang gendong Mas." Ujar Sifa mengambil alih gendongan Arsya.


" Kamu darimana saja jam segini baru pulang?" Tanya Jordan.


" A... Aku dari rumah temenku Mas." Sahut Sifa.


" Kenapa tadi ada temanku yang bilang lihat kamu sedang di Cafe bersama seorang pria?" Selidik Jordan.


" Ah mungkin temanmu salah lihat Mas." Sahut Sifa.


" Jangan bermain main denganku Sifa, Karna kau tahu betul siapa aku, Aku akan dengan mudah bisa mendapatkan informasi sekecil apapun." Tekan Jordan.


" Iya Mas." Sahut Sifa.


" Besok aku mau ke rumah Farhan menjenguk Nathan, Apa kau mau ikut?" Tanya Jordan.


" Akan aku usahakan Mas." Sahut Sifa.


" Baiklah aku tidur dulu, Love U sayang." Ucap Jordan mencium pipi Sifa.


" Hmm." Gumam Sifa.


Jordan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Sedangkan Sifa menidurkan Arsya di boxnya. Setelah itu Ia merebahkan tubuhnya di samping Jordan dengan memunggunginya.


"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku menjelaskannya kepada Mas Jordan?" Batin Sifa.


Sifa mencoba memejamkan matanya menuju alam mimpi, Ia berharap hari esok akan lebih baik dan lebih indah dari hari ini.


Tbc.....


Hayoooo kira kira ada apa nih? Author sendiri juga tidak tahu ha ha ha


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya serta doa supaya author bisa membuat cerita yang menarik ya...


Makasih atas doa dan suportnya...


Miss U All...

__ADS_1


__ADS_2