
Seluruh anggota keluarga Ardiansyah kembali ke rumahnya tentunya tanpa keluarga Jordan. Mereka sudah tidak peduli dengan ketiga orang yang sudah menyebabkan kehancuran dalam keluarga mereka. Nathan segera masuk ke kamarnya mencari istri tercintanya untuk meminta maaf.
" Sayang." Panggil Nathan. Ia mengedarkan pandangannya berharap menemukan sosok yang Ia cari tapi kosong.
Nathan berlari menuju almari, dan semuanya kosong saat Nathan membukanya. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Ia menarik kasar rambutnya. Ia sudah memprediksi jika semua ini pasti akan terjadi.
" Sayang, kenapa kau meninggalkan aku? Aku tidak bisa hidup tanpamu.... Kenapa kamu tidak bisa mengerti keadaanku yang terjebak dalam situasi sulit seperti ini." Monolog Nathan.
Mata Nathan menangkap sesuatu di atas nakas. Ia berjalan mendekati dan menatap sebuah kertas, kartu atm bahkan cincin pernikahan mereka tergeletak di atas sana.
" Hiks.... Hiks....." Nathan terisak dalam rasa sakit di hatinya. Apakah Valen benar benar akan meninggalkannya untuk selamanya sampai Valen harus melepas cincin pernikahannya? Apakah Valen tidak mau memaafkan semua kesalahannya?
Nathan mengambil kertasnya yang Ia yakini sebuah surat. Lalu Ia membacanya.
Maaf aku harus pergi....
kehadiranku di sini sudah tidak berarti lagi
entah kau sadar atau tidak tapi kau yang memulai semua ini
dan sudah menjadi tugasku untuk mengakhiri
Andai saja kau tidak membuat keputusan sendiri mungkin aku masih bisa memaafkan
tapi sayang....
kau berjalan sendiri tanpa menggandengku
saat itu......
aku tersesat...
maka jalan satu satunya aku harus kembali bukan?
kau yang sudah mengorbankan cinta ini demi menolong keluargamu
aku harap kau tidak akan pernah menyesalinya
aku tidak sanggup mengirim surat cerai untukmu.....
tapi aku harap kau mau mengirimkannya untukku.....
VA...
" Valeeeennnnnnn." Teriak Nathan sambil meremas surat itu.
Semua orang yang masih berkumpul di bawah berlari ke kamar Nathan saat mendengar teriakannya. Mereka masuk ke kamar Nathan dan menatap iba kepada Nathan. Saat ini kondisi Nathan kacau. Ia duduk di lantai menekuk kedua kakinya dan menundukkan kepalanya. Kemeja yang Ia pakai sudah lusuh berantakan entah karna apa.
" Hiks.... Maafkan aku sayang, jangan tinggalkan aku.... Baru saja kita membina kebahagiaan kini kau memilih pergi dariku... Hikssss.... Aku tidak sanggup....." Isak Nathan pilu.
" Abang." Ucap Mami Nesha menepuk pundak Nathan. Nathan mendongak menatap Maminya.
__ADS_1
" Mami bujuk Valen untuk kembali Mi, Abang tidak sanggup berpisah darinya Mi, suruh Valen menghukummu dengan memukulku atau menamparku tapi ku mohon Mi jangan biarkan Valen menghukumku seperti ini, Abang tidak mau kehilangannya Mi... Mi Valen meminta pisah dariku, Abang tidak mau menceraikannya Mi." Isak Nathan dalam pelukan Mami Nesha.
" Sabar Abang, saat ini Valen sedang dalam keadaan emosi, tunggu sampai emosinya reda sayang, Mami yakin dia akan kembali lagi ke rumah ini." Ucap Mami Nesha mengelus punggung Nathan.
Gama, si kembar dan Papi Farhan ikut meneteskan air matanya. Ini kali pertama Abangnya terlihat sangat rapuh.
" Hiks... Kakak." Lirih Ria memeluk Gama.
" Jangan menangis! Saat ini kita harus menjadi kekuatan untuk Abang." Ujar Gama menghapus air matanya.
" Iya Kak." Sahut Ria.
" Papi lakukan sesuatu untuk Abang, mintalah Kak Valen kembali ke rumah ini Pi." Ucap Cia memeluk Papinya.
" Abangmu yang membuat keputusan maka Abangmu juga yang harus menyelesaikannya." Sahut Papi Farhan. Bukan tidak mau membantu tapi biarkan Nathan mempertanggungjawabkan semua akibat dari ulahnya.
" Sekarang Abang istirahat saja, nanti kalau udah baikan baru Abang susul Valen ke rumahnya dan membujuknya untuk kembali lagi ke dalam keluarga kita." Ujar Mami Nesha menuntun Nathan ke ranjang.
Nathan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, namun pikirannya menerawang jauh ke rumah Valen.
" Tidak Mi, Abang harus ke sana sekarang." Ucap Nathan beranjak.
" Jangan Abang, istirahat dulu." Sahut Mami Nesha.
" Enggak Mi, Abang harus membawa pulang Valen sekarang juga, Abang takut dia akan pergi meninggalkan kota ini." Ujar Nathan.
" Tenanglah Abang, dia tidak akan kemana mana." Ucap Mami Nesha.
" Bagaimana aku bisa tenang jika istriku meninggalkan aku Mi." Bentak Nathan tanpa sadar.
" Mami.... Maafkan Abang Mi, bukan maksud Abang membentak Mami, maafkan Abang Mi." Ucap Nathan.
" Baiklah jangan di pikirkan." Sahut Mami Nesha.
Nathan berdiri di depan bufet yang berisikan pajangan.
" Arghhhh." Teriak Nathan frustasi.
" Semua ini gara gara Papa Jordan, Aku membencinya... Aku sangat membencinya.... Dia selalu membuat keonaran dalam hidupku, sejak awal aku sudah tidak menyukai kehadirannya dan betapa bodohnya aku terlena dalam kebohongannya, aku membencinya." Teriak Nathan menyapu semua pajangan keramik di atas bufetnya.
Prank.... Pyar....
" Abang kendalikan dirimu Bang." Ucap Papi Farhan menghampiri Nathan.
" Aku tidak mau kehilangan Valen Pi..... Aku tidak mau kehilangannya...." Lirih Nathan bersamaan dengan tubuhnya luruh ke lantai.
" Abang." Pekik semuanya.
Nathan kehilangan kesadarannya. Papi Farhan membaringkan tubuh Nathan di atas ranjang.
" Cia bersihkan kamarnya, Mi badan Abang panas." Ucap Papi Farhan menyentuh dahi Nathan.
__ADS_1
" Biar Mami kompres Pi." Ucap Mami Nesha.
" Baiklah, Gama, Ria ayo kita keluar saja biar Abang mendapat oksigen lebih." Ajak Papi Farhan.
" Iya Pi." Sahut Gama dan Ria bersamaan.
Di tempat lain tepatnya di dalam kamar Valen, Valen sedang rebahan di atas ranjang dengan punggung bersandar pada headboard sambil memainkan ponselnya.
" Sayang." Papa Alex masuk menghampiri Valen.
" Iya Pa." Sahut Valen meletakkan ponselnya di atas nakas.
Papa Alex duduk di tepi ranjang menatap Valen.
" Kenapa Papa menatapku seperti itu?" Tanya Valen.
" Apa keputusanmu tidak membuat masalah ini semakin rumit?" Tanya Papa Alex.
" Di buat simple aja Pa." Sahut Valen.
" Pendapat seorang istri tidak di butuhkan dalam pernikahan, lalu untuk apa aku di sana Pa?" Sambung Valen.
" Papa akui dalam hal itu memang Nathan salah, tapi coba kamu lihat dari sudut pandangnya Len." Ucap Papa Alex.
" Dari sudut pandang yang bagaimana Pa? Kalau waktu itu Mas Nathan meminta pendapatku, aku tidak akan sekecewa ini Pa, aku akan membantunya, tapi apa? Bahkan aku berkali kali bertanya padanya apakah dia akan mengubah keputusannya? Tapi dia selalu menjawab maaf aku harus melakukannya, lalu aku harus bagaimana Pa?" Terang Valen.
" Jika saja aku tidak berhasil membuktikan kebohongan Meli dan Tuan Jordan, pernikahan itu sudah berlangsung Pa, dan saat ini aku... Putrimu memiliki madu yang terasa sangat pahit dalam pernikahanku, apa aku harus memaafkan Mas Nathan begitu saja setelah dia melakukan kesalahan besar? Begitu maksud Papa?" Sambung Valen.
" Aku tidak selemah tangisan seorang istri Pa, aku akan bertindak jika ada hal yang menyakitiku ataupun yang membuatku tidak senang, aku rasa Papa lebih paham akan sifatku." Ucap Valen.
Papa Alex menghela nafasnya. Ia tahu bagaimana tegas dan keras kepalanya putrinya ini. Valen tidak akan mengampuni orang yang sudah berani mengusik hidupnya. Walaupun kata memaafkan sudah keluar dari bibirnya tapi Ia tidak akan melepas orang itu begitu saja. Valen tidak akan mudah luluh hanya dengan melihat air mata saja.
" Sekarang tenangkanlah dirimu dulu, setelah itu baru kau renungkan keputusanmu." Ucap Papa Alex.
" Aku tidak akan mengubah keputusanku kecuali Mas Nathan mampu menunjukkan rasa cintanya dan penyesalannya Pa." Sahut Valen.
" Baiklah sayang apapun keputusanmu Papa akan mendukungnya." Ucap Papa Alex keluar Kamar.
" Pa." Panggil Valen saat Papa Alex hendak menutup pintunya.
" Aku tidak mau menemui siapapun dari keluarga Ardiansyah." Ucap Valen.
" Baiklah." Sahut Papa Alex menutup pintunya.
Nah lohhhh sikap Valen sama Nathan lebay nggak sih???? Enggak ya....
Nih mau langsung damai apa nunggu Nathan lelah dulu?
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya...
Author ucapkan terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu....
__ADS_1
Miss U All....
TBC.....