Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
91. Anak Anak Mami Nesha


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Cia segera masuk ke dalam kamarnya. Ia berdiri di balkon kamarnya menatap ke bawah dimana Irvan sedang memarkirkan mobilnya di dalam garasi rumahnya. Setelah Itu Ia segera menyusul Ria menuju kamarnya.


" Sayang terima kasih sudah mendukung aku di saat saat seperti ini, aku bersyukur banget memiliki kamu sayang, terima kasih aku mencintaimu." Ucap Irvan memeluk Cia dari belakang.


" Iya Mas, bukankah itu sudah tugasku yang harus selalu mendukungmu." Sahut Cia.


" Setelah masalah selesai, sekarang kita tinggal fokus dengan program kehamilanmu, dan semoga segera berhasil sayang, aku sudah tidak sabar menanti kehadirannya." Ujar Irvan mengusap perut Cia.


" Hmm." Gumam Cia menganggukkan kepalanya.


" Bolehkah aku melakukannya sekarang sayang?" Tanya Irvan.


" Iya Mas." Sahut Cia.


Irvan menuntun Cia menuju ranjangnya. Tanpa membuang waktu lebih lama, Ia segera memulai permainannya. Permainan yang membuat keduanya bermandikan keringat tapi juga membuat keduanya bahagia bisa terbang bersama menuju nirwana.


Di tempat lain, tepatnya di rumah Dika. Ia sedang menatap Azza yang sedang sibuk memasak di dapur. Entah kenapa gerakan Azza terlihat indah di mata Dika. Setelah selsai Azza menata makanannya di meja makan. Tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan Dika.


" Kenapa Mas menatapku seperti itu hmm?" Tanya Azza lembut.


" Mas merasa kagum menatap bidadari cantik yang sedang bertugas melayani suaminya, tapi sayangnya kalau urusan melayani di dalam kamar belum dia lakukan selama ini." Sahut Dika.


Azza duduk di depan kursi Dika sambil menatap suaminya.


" Bukan aku yang tidak mau Mas, tapi Mas Dika yang tidak pernah memintanya, aku berpikir kalau Mas Dika memang sengaja tidak memintanya karena Mas Dika belum bisa melupakan Cia dan belum mampu melakukannya padaku." Ujar Azza.


" Astaga sayang.... Jadi kamu berpikir seperti itu? Mas malah berpikir kalau kamu masih marah sama Mas padahal udah lama berlalu, lagian tanpa Mas minta harusnya kamu menawarkannya kan?" Tanya Dika.


" Maafkan aku jika aku salah karena negative thinking kepada Mas, sebenarnya aku mau menawarkan hanya saja hatiku belum siap untuk menerima luka yang lebih dalam lagi jika Mas Dika menolaknya lagi Mas." Sahut Azza membuat Dika kembali merasa bersalah kepadanya.


Dika menggenggam tangan Azza.


" Dengarkan Mas sayang, waktu itu bukannya Mas belum mencintaimu hanya saja Mas kepikiran dengan Cia, biasanya kalau Mas merasakan hal seperti itu, Cia dalam bahaya sayang, maafkan Mas yang justru mengkhawatirkan wanita lain tanpa peduli akan perasaanmu, tapi percayalah sayang setelah Mas tahu kalau Cia baik baik saja, bayangan Cia langsung menghilang dalam pikiran Mas sayang." Terang Dika.


" Maafkan Mas yang sudah melukaimu di awal pernikahan kita, Mas mengaku salah akan hal itu, tapi kamu bisa lihat sendiri kan dalam beberapa bulan terakhir ini Mas sudah membuktikan cinta Mas kepadamu, Mas tidak pernah berhubungan dengan Cia ataupun wanita lainnya, apa sekarang kamu sudah percaya jika Mas mencintaimu atau kamu perlu bukti lebih lama lagi? Mas siap menunggu dan memberikan waktu sampai kapan kamu bisa mempercayai Mas lagi." Ujar Dika menatap Azza.


" Maafkan aku Mas, sebenarnya aku sudah percaya akan cinta yang kamu berikan sejak lama, tapi aku menunggu kejelasan dari Mas untuk menghapus keraguan dalam hatiku." Sahut Azza.


" Jadi mulai sekarang kita lupakan masa itu ya, mari kita ukir kenangan indah untuk pernikahan kita, kita buat anak anak yang lucu yang akan membuat rumah kita ramai dengan tangisan bayi, tentunya atas izin Allah sayang." Ucap Dika.


" Iya Mas." Sahut Azza.


" Jadi persiapkan dirimu untuk malam nanti, malam pertama kita yang tertunda sejak lama." Ujar Dika.

__ADS_1


" Pikirkan itu nanti malam saja Mas, sekarang mari kita makan, aku sudah lapar." Sahut Azza.


" Baiklah sayang, setelah makan kita jalan jalan ya mumpung Mas ada waktu." Ujar Dika.


" Mau jalan kemana Mas?" Tanya Azza.


" Kita ke pantai aja gimana." Tawar Dika.


" Baiklah Mas, tapi nanti nunggu agak sorean aja biar nggak panas." Ujar Azza.


" Baiklah sayang." Sahut Dika.


Keduanya makan dengan khidmat. Sambik menunggu sore hari, keduanya menonton film bergenre romantis yang membuat keduanya senyum senyum sendiri. Entah film apa yang mereka tonton author juga tidak tahu.


Berbeda lagi dengan kehidupan Gama si bucin dan istri tercintanya. Saat Ini Gama sedang menatap Luci yang makan dengan lahapnya.


" Pelan pelan donk Yank, nanti kalau tersedak gimana? Kenapa aku lihat akhir akhir ini nafsu makan kamu bertambah ya." Ucap Gama.


" Mas nggak suka kalau aku makan banyak ya? Apa kamu takut kalau aku berubah menjadi gendut dan tidak menarik lagi?" Tanya Luci meletakkan sendoknya.


" Eh bukan gitu sayang, aku malah suka kok kalau kamu lebih berisi, lebih kelihatan seksi.... Sekarang habiskan makanannya." Sahut Gama.


" Bohong! Kamu bilang begitu supaya aku gak marah sama kamu kan? Aku nggak nafsu makan lagi." Ucap Luci meninggalkan meja makan.


Luci tidak bergeming, Ia terus berjalan menuju kamarnya. Ia masuk ke dalam kamar lalu duduk di tepi ranjang menghadap ke arah jendela kamarnya.


" Sayang jangan marah donk, maafkan aku ya." Ujar Gama duduk di samping Luci.


Gama heran dengan sikap Luci yang sering berubah ubah akhir akhir ini. Bentar bentar marah, bentar bentar sedih dan Luci juga mudah tersinggung. Ia akan menanyakannya kepada Abangnya nanti apa penyebab dari semua ini.


" Sayang ayo kita makan lagi, kamu mau makan apa biar aku belikan deh... Mau eskrim, bakso, mie ayam, pasta, spagethi, pizza atau yang lainnya?" Tanya Gama membujuk Luci.


Kalau Luci marah alamat tidak dapat jatah nanti malam. Pikir Gama.


" Yank.... Kamu mau apa akan aku turuti." Ucap Gama.


" Beneran apa aja?" Tanya Luci menatap Gama.


" Iya apa aja." Lirih Gama menganggukkan kepalanya.


Perasaan Gama berubah menjadi tidak enak. Entah apa yang akan Luci minta nanti.


" Aku ingin Mas memasakkan nasi goreng untuk makan malam, harus yang enak." Ucap Luci.

__ADS_1


Glek....


Gama menelan kasar ludahnya. Masak nasi goreng? Jangankan nasi goreng, memasak mie instant aja Gama nggak bisa.


" Em gimana kalau kita beli aja sambil jalan jalan melihat suasana malam." Saran Gama.


" Nggak mau, aku maunya kamu masak sendiri kalau nggak mau aku marah lagi nih." Ancam Luci.


" Ah baiklah aku akan memasaknya untukmu, tapi kalau rasanya nggak enak jangan marah ya." Ujar Gama.


" Siap Mas, sekarang masaklah aku aka menunggu." Sahut Luci.


Gama segera turun ke dapur untuk membuat apa yang Luci inginkan. Dengan bermodalkan tutorial dari ponsel akhirnya Gama berhasil membuat nasi goreng setelah berkutat selama hampir satu jam.


" Udah Mas?" Tanya Luci duduk di meja makan.


" Sudah sayang, sekarang makanlah." Sahut Gama menyajikan sepiring nasi goreng di sertai ayam dan telur mata sapi di atasnya.


Luci mencoba menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya tiba tiba....


" Huek...." Luci menutup mulutnya, Ia berlari menuju wastafel untuk memuntahkan isi dalam mulutnya.


Huek.... Huek....


Bukan hanya nasi goreng yang baru masuk ke mulutnya yang Luci muntahkan, tapi juga seisi perutnya.


Huek... Huek...


" Sayang kamu kenapa? Apa kamu keracunan?" Tanya Gama panik sambil memijat tengkuk Luci.


" Gimana sayang apa sudah baikan?" Gama bertanya lagi. Ia cemas dengan apa yang di alami Luci. Ia takut Luci kenapa napa gara gara nasi goreng buatannya.


Kira kira Luci kenapa ya????


Tunggu jawabannya di bab berikutnya...


Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya biar author semangat...


Mau tamat atau lanjut nih????


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...

__ADS_1


TBC...


__ADS_2