
Satu bulan sejak kelahiran Babby Erald. Valen dan Nathan sangat menyayangi Babby Erald. Nathan rela begadang sepanjang malam demi menemani Erald.
" Duh anak Papi sayang, makin gembul aja nih pipinya." Ujar Nathan mencium pipi Erald yang sedang tertidur di box bayi.
" Mas jangan di ciumi terus, entar dia bangun lhoh, kan baru saja tidur." Ujar Valen duduk di tepi ranjang.
" Mas suka gemes Yank, penginnya nyubit tuh pipi." Sahut Nathan.
" Giliran mewek entar bingung, pakai bangunin aku yang lagi bobok nyenyak." Sindir Valen.
Ya... Nathan suka mengganggu Erald tapi kalau Erald nangis Ia langsung kebingungan tidak bisa menenangkan Erald. Al hasil Erald Ia berikan kepada Valen.
" Yank kapan mau bikin adek buat Erald?" Seloroh Nathan.
" Astaga Mas masa nifasku aja belum selesai, pikiranmu udah sampai ke sana." Cebik Valen.
" Udah puasa satu bulan masa' nggak buka buka Yank." Ujar Nathan.
" Bodo'ah." Ketus Valen.
" Ya jangan jutek gitu donk Yank." Ujar Nathan duduk di samping Valen.
" Kamu mau punya anak berapa Yank?" Sambung Nathan. Valen menatap ke arah Nathan.
" Aku maunya cukup Erald aja." Sahut Valen.
" Ya nggak bisa gitu donk Yank, Erald harus punya adek, minimal dua." Ujar Nathan.
" Nggak mau, satu aja." Sahut Valen.
" Dua Yank." Ujar Nathan.
" Satu atau tidak sama sekali." Ucap Valen.
" Baiklah satu." Sahut Nathan pasrah.
Di tempat lain Ria dan Davian saat ini sedang makan malam.
" Makan yang banyak sayang, biar nanti saat persalinan kamu punya tenaga yang banyak." Ucap Davian menyuapkan makanan ke dalam mulut Ria.
" Makasih Mas." Sahut Ria.
Saat keduanya sedang makan, tiba tiba bel rumah berbunyi.
" Siapa malam malam begini yang datang ya Mas?" Tanya Ria.
" Tidak tahu, mungkin Luci." Sahut Davian.
" Aku bukain pintu dulu Mas." Ujar Ria.
" Tidak perlu, kamu di sini saja biar aku yang buka, lagian kamu jalan aja udah susah." Ujar Davian.
" Aku akan segera kembali." Sambung Davian mencium kening Ria.
Davian berjalan meninggalkan Ria untuk membuka pintu rumahnya.
Ceklek....
Deg....
Jantung Davian berdetak dengan kencang saat melihat dua orang polisi berdiri di depannya.
" Dengan Tuan Davian?" Tanya salah satu polisi itu.
" Ya saya sendiri." Sahut Davian.
__ADS_1
" Anda kami tangkap atas tuduhan bisnis gelap yang anda jalankan Tuan." Ucap Pak polisi.
" Bisnis gelap? Bisnis gelap yang mana? Saya tidak menjalankan bisnis gelap apapun." Ujar Davian.
" Ada seseorang yang melaporkan anda dengan membawa semua bukti bukti itu Tuan." Sahut pak polisi.
" Siapa yang melaporkan aku seperti ini?" Tanya Davian.
" Saudara Reno." Sahut pak polisi.
" Anda salah pak polisi, justru Renolah yang menjalankan bisnis itu." Ujar Davian.
" Berikan keterangan anda nanti di kantor polisi saja Tuan." Sahut pak polisi.
" Ada apa Mas?" Tanya Ria menghampiri Davian.
Davian menoleh ke belakang menatap Ria yang sedang berjalan ke arahnya.
" Tidak apa sayang, kamu masuklah aku ada perlu sebentar di luar." Ujar Davian.
Ria tidak mengindahkan ucapan Davian, Ia terus berjalan sampai di depan pintu Ia menghentikan langkahnya.
" Kenapa ada Pak Polisi? Apa ada masalah Mas?" Tanya Ria menatap kedua polisi itu.
" Masuklah sayang." Ujar Davian.
" Katakan dulu ada apa ini." Ujar Ria.
" Kami kemari untuk menangkap Tuan Davian Nona." Ujar Pak Polisi. Davian memejamkan matanya. Sebenarnya Ia tidak mau membuat Ria khawatir dengan semua ini.
" Apa? Menangkap suami saya? Memang apa kesalahannya Pak?" Tanya Ria.
" Sudahlah sayang ini hanya salah paham saja, kamu masuklah aku akan ikut mereka, aku berjanji akan segera kembali." Ujar Davian.
" Tidak Mas, aku harus tahu permasalahannya kalau tidak aku tidak bisa tenang." Ucap Ria.
" Baiklah Pak, tapi saya mohon jangan borgol suami saya karena dia belum terbukti bersalah." Ujar Ria.
" Baiklah Nona, mari Tuan ikut kami untuk penyelidikan." Ucap Pak Polisi.
" Sayang tunggulah aku di rumah, dan jangan khawatir aku pasti baik baik saja." Ucap Davian memeluk Ria.
" Iya Mas, segeralah kembali aku selalu menantimu, semoga semuanya akan baik baik saja." Sahut Ria mengecup pipi Davian.
" Tentu sayang, aku pergi ya jaga diri baik baik." Sahut Davian.
Davian di gelandang ke mobil polisi. Ria menutup pintunya dengan mata nanar. Cairan bening yang Ia tahan akhirnya lolos juga.
" Ya Tuhan kuatkan kami menghadapi cobaan ini, jangan sampai polisi menguak tentang kematian Kak Adrian, aku tidak mau sampai Mas Davi ikut mendapat hukuman karena itu, aku harus menelepon Kak Valen, ya... Aku akan menelepon Kak Valen sekarang juga, aku akan meminta bantuannya." Monolog Ria.
Ria berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Ia segera mengambil ponselnya, lalu Ia menekan icon telepon pada kontak Valen.
Tut.... Tut... Tut...
" Halo Ria." Sapa Valen di setelah mengangkat panggilannya.
" Kak... Hiks..." Isak Ria.
" Ria ada apa? Apa terjadi sesuatu denganmu? Katakan Ria jangan membuat Kakak khawatir." Ucap Valen. Nathan yang berada di sebelahnya menoleh ke arah Valen. Ia memberi kode kepada Valen untuk mengaktifkan loudspeakernya.
" Mas Davi di tangkap polisi Kak." Sahut Ria.
" Apa? Di tangkap polisi?" Pekik Valen.
" Apa yang terjadi Ria? Sekarang katakan pada Abang." Ujar Nathan.
__ADS_1
" Iya Bang, Mas Davi di tuduh melakukan bisnis gelap, aku menelepon kalian karena aku mau minta bantuan Kak Valen untuk menyelesaikan semua ini Kak, aku mohon keluarkan Mas Davi dari sana, bantu Mas Davi Kak Valen karena aku yakin Mas Davi tidak bersalah." Ujar Ria menghapus air matanya.
" Tenanglah Ria, Kakak akan meminta Irvan untuk mencari bukti untuk pembelaan Davi, tapi kamu tenang ya... Jangan sampai kepanikanmu membuat bayimu dalam bahaya." Ucap Valen.
" Iya Kak." Sahut Ria menarik nafasnya dalam dalam.
" Siapa yang sudah melaporkan Davi ke polisi Ria?" Tanya Valen.
" Reno Kak." Sahut Ria.
" Reno... Reno temannya maksud kamu?" Valen kembali bertanya.
" Iya Kak." Sahut Ria.
" Baiklah Kakak akan memberikan bukti pembelaan ke kantor polisi dengan segera, kamu tenang ya." Ujar Valen.
" Iya Kak terima kasih." Ucap Ria.
" Awh."
Tiba tiba terdengar Ria mengaduh.
" Ria kamu kenapa Ria?" Tanya Nathan.
" Awh Bang perutku sakit banget Bang, ah zakit Bang." Ujar Ria mengusap perutnya.
" Jangan jangan kamu mau melahirkan Ria." Ujar Valen.
" Nggak tahu Kak, tapi sakit banget Kak." Ucap Ria.
" Mas cepat kamu ke rumah Ria sekarang, bawa dia ke rumah sakit Mas." Ucap Valen.
" Ah baiklah." Sahut Nathan.
" Ria bersabarlah Abangmu akan ke sana, bertahanlah Ria kalau terjadi sesuatu sebelum Abangmu sampai sana segera telepon Kakak ya." Ucap Valen.
" Iya Kak." Sahut Ria menutup teleponnya.
Nathan memakai jaketnya lalu mengambil kunci mobilnya di atas nakas.
" Mas berangkat Yank." Ucap Nathan mencium pipi Valen.
" Hati hati Mas, kalau ada apa apa kabari aku ya, aku akan segera menelepon Irvan untuk meminta bantuannya." Ucap Valen.
" Iya sayang." Sahut Nathan.
Setelah Nathan pergi Valen segera menelepon Irvan, sambungan telepon berdering tinggal menunggu Irvan menjawabnya.
" Halo Len ada apa?" Tanya Irvan di sebrang sana.
" Davian di tangkap polisi atas tuduhan bisnis gelap yang pernah dia jalankan, aku mau kamu mencari bukti jika Davian tidak bersalah, oh ya satu lagi, cari bukti jika Davian hanya di jebak oleh Reno." Ucap Valen.
" Ok." Sahut Irvan menutup sambungan teleponnya.
" Ya Tuhan... Mudahkanlah Irvan dalam mencari semua bukti buktinya, dan lindungilah adik hamba ya Rob, semoga semua baik baik saja." Monolog Valen.
Thor kok konflik lagi sih????
Biar tegang dulu ya.... Ha ha ha...
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya....
Nantikan kisah Erald dewasa ya....
Terima kasih untuk readers yang selalu mensupport author... Semoga sehat selalu....
__ADS_1
Miss U All....
TBC.....