Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
115. Kesabaran Azza


__ADS_3

Siang ini Azza sedang bersiap. Kali ini Ia memakaian setelan modern seperti stylenya selama ini. Ia akan pergi ke kantor Dika untuk mengajak Dika makan siang. Entah kenapa tiba tiba Ia ingin makan sate kambing di kedai yang terletak di dekat danau.


Selesai bersiap Azza segera melajukan mobilnya menuju kantor Dika. Sekitar tiga puluh menit Azza sampai di gedung yang menjulang tinggi. Perusahaan VA Group milik Nathan dan Valen. Azza turun dari mobil lalu masuk ke dalam lobby perusahaan.


" Siang Mbak Azza, mau bertemu dengan Pak Dika ya?" Tanya Receptionist bernama Sarah.


" Assalamu'alaikum Mbak." Sapa Azza.


" Ah iya Mbak maaf lupa, Wa'alaikumsallam." Sahut Sarah.


" Iya Mbak Sarah, apa Mas Dika ada di ruangannya?" Tanya Azza.


" Ada Mbak, cuma saat ini Pak Dika sedang ada tamu dan beliau berpesan kepada saya tidak mau menemui tamu siapapun itu, karna Pak Dika tidak mau di ganggu." Sahut Sarah.


" Apa itu tamu penting sehingga Mas Dika tidak mau di ganggu?" Tanya Azza.


" E.... E.... I... Itu." Ucap Sarah menggaruk kepalanya.


" Kenapa Mbak Sarah? Siapa tamu yang sedang Mas Dika temui? Kalau memang itu tamu penting aku akan menunggunya di sofa itu saja sampai tamunya Mas Dika pergi." Ujar Azza menunjuk sofa yang ada di lobby. Sarah menjadi tidak enak hati. Mau bilang takut Azza salah paham, kalau tidak bilang kasihan Azza.


" Dia Nona Valecia Mbak Azza." Sahut Sarah.


Deg.....


Jantung Azza berdetak dengan kencang.


" Ada perlu apa Cia menemui Mas Dika hingga Mas Dika tidak mau di ganggu oleh siapapun?" Tanya Azza dalam hatinya.


" Gimana kalau saya coba telepon Pak Dika aja untuk memberitahu kalau Mbak Azza datang dan ingin menemuinya, secara kan Mbak Azza bukan tamu tapi istrinya Pak Dika." Ujar Sarah akhirnya walaupun sebenarnya Ia sangat takut karna melakukan kesalahan.


" Tidak perlu Mbak, aku akan langsung menemuinya ke atas saja, jika nanti Mbak Sarah di salahkan bilang saja kalau memang aku sendiri yang mau menemuinya." Ujar Azza berjalan meninggalkan Sarah.


Azza masuk ke dalam lift menekan tombol lima belas. Di dalam lift pikirannya tidak karuan.


" Ya Allah ampuni hambamu jika sudah berpikiran negatif kepada suami hamba, tabahkan hati hamba apapun yang akan terjadi ke depannya, hamba harus ikhlas menerima takdir darimu." Monolog Azza.


Setelah pintu lift terbuka Azza segera keluar lift menuju ruangan suaminya. Dengan jantung yang bertalu talu Azza membuka pintunya dengan pelan.

__ADS_1


" Assalamu'alaikum Mas." Ucap Azza membuka pintunya.


Deg....


Jantung Azza terasa berhenti berdetak saat melihat Dika memeluk Cia. Ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak melampiaskan emosinya. Azza memejamkan matanya menahan sesak di dadanya. Istri mana yang tidak marah mendapati suaminya sedang memeluk wanita lain? Apalagi itu mantan kekasihnya?


Mendengar suara salam, Dika dan Cia menoleh ke arah pintu.


" Sa... Sayang." Ucap Dika melepas pelukannya.


" Azza..." Lirih Cia membulatkan matanya.


Dika menghampiri Azza dan hendak memeluknya, namun Azza mundur membuat Dika melongo.


" Jangan sentuh aku setelah kamu menyentuh wanita lain Mas, aku tidak mau tubuhku ikut terkena kotoran." Ucap Azza menjauh dari Dika.


" Sayang ini tidak seperti apa yang kamu bayangkan." Ujar Dika.


" Memang kau tahu apa yang sedang ada dalam pikiranku saat ini? Kamu tahu kenapa kita tidak di perbolehkan berduaan dengan yang bukan muhrim kita?" Tanya Azza.


" Iya... Karna...


" Azza maafkan aku, aku tidak bermaksud berbuat hal hal aneh dengan suamimu." Ucap Cia merasa bersalah.


" Minta maaflah kepada suamimu, karna kau tidak bisa menjaga dirimu dari sentuhan pria lain." Ucap Azza membuat hati Cia tertohok.


" Azza." Bentak Dika tanpa sadar membuat Azza berjingkrak kaget.


" Jaga ucapanmu Azza, kami tidak melakukan apapun, Cia datang ke sini dalam keadaan sedih dan tanpa sadar aku memeluknya untuk menenangkan dirinya, hanya itu." Ucap Dika.


" Kau membentakku demi wanita lain Mas, hebat... Aku tersanjung melihat sikapmu yang seperti ini, jika Cia butuh sandaran kenapa dia tidak lari ke dalam pelukan Abangnya? Yang jelas jelas mahramnya dan tidak akan menimbulkan dosa bukan? Tapi tidak masalah jika kau masih mau menenangkannya lanjutkan saja, maaf aku mengganggu waktu kalian." Ucap Azza membalikkan badannya.


" Sayang maafkan aku, bukan begitu maksudku... Sayang." Panggil Dika menghentikan langkah Azza.


" Oh ya satu lagi Mas, jangan memarahi Sarah! Dia tadi sudah bilang kalau kamu tidak mau di ganggu tapi aku yang kekeh ingin ke sini." Ucap Azza berjalan meninggalkan ruangan Dika.


" Mas Dika kenapa jadi begini? Azza benar seharusnya aku tidak ke sini, seharusnya aku ke Kak Gama atau ke Bang Nathan, maafkan aku Mas aku sudah mengacaukan hubunganmu dengan Azza." Ucap Cia merasa bersalah.

__ADS_1


Cia terbiasa apa apa dengan Dika, di saat ada hal yang mengganjal pikirannya Ia langsung berlari kepada Dika, hingga hari ini Ia lupa jika situasi dan kondisi sudah tidak lagi sama seperti dulu lagi. Cia merutuki kebodohannya sendiri.


" Tidak pa pa Cia, semua orang pernah melakukan kesalahan kan? Aku minta maaf karna sudah memelukmu, aku melupakan hal yang sudah di ajarkan oleh istriku, sekarang aku pergi dulu ya, aku harus segera meminta maaf kepada Azza." Ucap Dika.


" Hati hati Mas." Ucap Cia.


Dika segera berlari keluar ruangannya untuk menyusul Azza. Tapi sesampainya di parkiran Dika sudah tidak menemukan mobil Azza lagi. Ia berlari menuju mobilnya untuk mengejar mobil Azza, siapa tahu Azza belum jauh dari perusahaan.


" Azza sayang maafkan aku, aku khilaf hingga memeluk Cia dan melukai perasaanmu, bahkan aku membentakmu sayang... Kamu dimana? Kenapa mobilmu sudah tidak terlihat lagi." Monolog Dika.


Dika mencoba menelepon Azza sambil fokus menyetir. Panggilan tersambung namun Azza tidak mengangkatnya.


" Angkat donk sayang, aku khawatir sama kamu, aku takut kamu dan babby kenapa napa sayang." Ujar Dika.


Hingga panggilan kelima Azza tidak juga mengangkat teleponnya membuat Dika semakin gelisah. Dika memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya. Ia berlari menuju pintu rumahnya.


" Terkunci, itu tandanya Azza belum sampai rumah, ah iya bego' mobilnya aja tidak ada di rumah.... Dika lo bego' banget sih." Ucap Dika menarik kasar rambutnya.


Di tengah tengah kegalauannya, ponsel Dika berbunyi tanda pesan masuk. Ia segera membukanya.


📲 Istriku Sayang


Tidak perlu mencariku Mas, aku sedang ingin ke suatu tempat dan tidak ingin di ganggu, Aku akan pulang ke rumahmu karna bagaimanapun aku masih istrimu, maafkan aku yang sempat emosi kepadamu dan tidak mengangkat panggilan teleponmu, ridhoi kepergianku Mas....


📲 Me


Baiklah sayang maafkan Mas ya... Hati hati jika terjadi sesuatu segera kabari Mas, Mas menunggumu di rumah 😘


" Maafkan aku sayang yang telah melukaimu." Ucap Dika menatap ponselnya.


Dika membuka pintu dengan kunci yang ada di dalam sakunya. Ia berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk menunggu Azza pulang. Ia menuruti apa kata Azza untuk tidak mencarinya karna Dika ingin memberikan waktu untuk Azza sendiri. Ia tidak mau membuat Azza semakin marah kepadanya.


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author...


Semoga sehat selalu.....

__ADS_1


Miss U All.....


TBC


__ADS_2