
Weekend ini Jordan menghabiskan waktunya dengan beberes rumah, Ia menyapu semua lantai dan mengepelnya, Setelah itu Ia mengelap meja, Kursi dan pajangan yang ada di bufetnya. Keringat menetes pada dahinya sebesar jagung, Sesekali Ia mengusapnya. Sedangkan Sifa sedang duduk bersandar pada sofa sambil memainkan ponselnya. Ia mengawasi Jordan yang sedang menjalankan hukumannya.
" Hah lelah sekali... Ya ampunnnn ternyata gini yah jadi ibu rumah tangga, Ada aja kerjaannya... Belum lagi harus ngurus anak dan suami, Di bela belain kaya' gini kadang banyak suami yang kurang bersyukur." Keluh Jordan mengusap keringat pada dahinya. Sifa yang melihatnya langsung mengembangkan senyumannya.
" Mas buruan masak aku udah lapar..." Teriak Sifa.
" Iya sayang...." Sahut Jordan.
Jordan berjalan menuju dapur, Ia segera menyiapkan bahan bahan yang hendak Ia masak.
" Eh.... Mau masak apa ya????" Gumam Jordan menggaruk kepalanya.
" Ah searching di goglo aja." Ujar Jordan.
Jordan membuka ponselnya mencari cara memasak menu sederhana. Setelah lama memilih akhirnya Jordan memilih masakan yang paling sederhana yaitu sop ayam dan tempe goreng. Ia segera menyiapkan bahan bahannya. Setelah itu Ia mulai memasaknya.
Satu jam berlalu akhirnya Jordan berhasil menyelesaikan masakannya. Ia segera menatanya di meja makan. Jordan memanggil Sifa untuk sarapan walaupun sangat terlambat karena sekarang sudah jam setengah sebelas.
" Sayang udah mateng, Ayo kita sarapan." Ajak Jordan.
Sifa melangkah mengikuti Jordan dari belakang , Sesampainya di meja makan Jordan menarik kursi untuk Sifa duduki. Sifa menatap masakan yang ada di depannya. Matanya memicing melihat warna tempe goreng yang berubah menjadi hitam.
" Sejak kapan tempe goreng warnanya hitam Mas?" Tanya Sifa bergidik ngeri membayangkan rasa tempe tersebut.
" Itu namanya matang Yank." Sahut Jordan.
Jordan mengambilkan Sifa nasi, Sayur sop, Serta tempe goreng itu.
" Eeeee tunggu Mas, Aku nggak mau pakai tempenya." Ucap Sifa.
" Kenapa Yank?" Tanya Jordan.
" Aku meragukan rasanya." Jawab Sifa pelan.
" Ya udah nggak usah di makan, Kita delivery saja." Sahut Jordan murung.
" E nggak usah Mas, A... Aku makan." Ucap Sifa.
Sifa mulai menyendok makanannya lalu menyuapkannya ke dalam mulutnya. Ia mulai merasakan masakan suaminya. Matanya membola, Ia menelan kasar makanan yang ada pada mulutnya sampai tiba tiba
" Uhuk uhuk uhuk...." Sifa tersedak makanannya sendiri.
" Hati hati Yank.... Ini minum dulu." Ucap Jordan menyodorkan segelas air putih ke depan Sifa. Sifa langsung meminumnya hingga tandas.
" Hah leganya." Gumam Sifa.
" Udah nggak usah di makan, Kita delivery saja." Sahut Jordan merebut piring Sifa.
Jordan mengambil semua makanan hasil masakannya lalu menumpahkannya ke tong sampah. Ia mengambil ponselnya lalu delivery makanan lewat g* Food. Sifa hanya bengong menatap tingkah suaminya. Ia merasa bersalah karena tidak menghargai hasil kerja keras suaminya.
" Mas maaf." Ucap Sifa menunduk.
__ADS_1
" Mas yang minta maaf sayang, Mas belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu, Bahkan masak sajaMas nggak bisa." Sahut Jordan.
" Enggak Mas jangan ngomong gitu, Itu bukan tugasmu kok, Maaf ya.... Nanti malam biar aku yang masak." Ujar Sifa.
" Baiklah terserah kamu saja." Sahut Jordan.
Di tempat lain Farhan dan Nesha sedang menemani Nathan bermain. Nesha menyandarkan kepalanya ke bahu Farhan. Tangan Farhan menyuapi Nesha makanan ringan, Nesha terlihat begitu manja hari ini, Mungkin efek kehamilannya yang mudah berubah ubah.
" Massss." Ucap Nesha sambil mengelus perutnya.
" Iya sayanggg." Sahut Farhan.
" Aku pengin pulang ke rumah Mama, Aku kangen sama Mama." Ujar Nesha.
" Gimana kalau Mama saja yang ke sini, Bukannya aku nggak mau mengantarmu ke sana sayang, Tapi aku khawatir entar kamu kecapekan di jalan sayang, Kasihan dedeknya kan." Ucap Farhan.
Walaupun perjalanan hanya memakan waktu sekitar tiga jam an tapi Farhan takut kalau Nesha kecapekan dan terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan, Apalagi kandungan Nesha sudah mulai membesar.
" Tapi kasihan Mama Mas kalau Mama yang ke sini, Ya udahlah besok besok aja Mas, Sekarang aku mau diem aja dulu di rumah." Ujar Nesha.
" Ya udah terserah apa maumu sayang..." Sahut Farhan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini Nesha di antar oleh Farhan untuk memeriksakan kandungannya ke Dokter langganannya. Farhan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Sebelum mereka berangkat ke rumah sakit, Sifa lebih dulu menjemput Nathan untuk menginap di rumahnya. (Ingatkan kalau Jordan sedang puasa jadi nggak bakalan ganggu Nathannya).
Sesampainya di rumah sakit, Farhan menggandeng tangan Nesha berjalan masuk ke dalam menuju poli kandungan. Mereka menunggu antrian merek di panggil. Nesha menatap wanita di depannya, Wanita yang duduk bersandar pada sandaran kursi dengan perutnya yang begitu besar. Nesha meringis membayangkan jika perutnya sebesar itu. Pasti dirinya tidak akan cantik lagi, Apakah Farhan masih akan tetap setia kepadanya? Apakah Farhan tidak akan ilfeel dengannya. Pemikiran itu bermunculan dalam benak Nesha. (Maklum masih dua puluh satu tahun).
Farhan menggandeng Nesha masuk ke dalam ruangan dimana Dokter sedang menunggu mereka. Nesha menyodorkan buku KIA kepada Dokter Mila.
" Silahkan duduk Nona." Ucap Dokter Mila.
Nesha duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh rumah sakit, Sedangkan Farhan berdiri di belakangnya.
" Apa ada keluhan?" Tanya Dokter Mila.
" Kenapa saya kadang tiba tiba merasa ngantuk, Kadang malas banget untuk ngapa ngapain Dok." Ujar Nesha.
" Itu wajar bu, Masih dalam tahap umum ya... Mari kita lihat dedeknya dulu, Silahkan berbaring di sana Nona." Ujar Dokter Mila menunjuk brankar.
Nesha di bantu oleh suster untuk berbaring di atas brankar, Suster menutup bagian bawahnya dengan selimut, Lalu menyibak dress yang Nesha kenakan. Dokter Mila mengusapkan gel pada perut Nesha. Dokter Mila menggerakkan transduser ke kanan dan ke kiri.
" Dengarkan Nona.... Ini suara detak jantungnya, Usianya dua puluh minggu, Sudah sebesar pisang ya... Ukuran dari kepala sampai tumit dua puluh lima centi, Beratnya sekitar tiga ratus lima belas gram, Kondisi sehat, Jenis kelamin belum di ketahui ya karena dedeknya masih malu malu." Jelas Dokter Mila. (Sumber goggl*)
Nesha dan Farhan menatap ke arah layar yang menunjukkan gambar bayinya. Walau tidak terlihat jelas tapi sebagai orang tua mereka bisa merasakannya.
" Selesai Nona." Ujar Dokter Mila.
Nesha turun dari brankar lalu duduk kembali ke kursinya.
" Jangan lupa di minum vitaminnya, Perbanyak minum air putih, Makan makanan yang bergizi terutama hati ayam bisa meningkatkan zat besi, Dan makan buah yang cukup Nona, Kita bertemu lagi bulan depan ya, Seperti biasa kita buat janji dulu, Ini resep yang harus di tebus." Ujar Dokter Mila.
__ADS_1
" Terima kasih Dok." Sahut Nesha.
Farhan dan Nesha berjalan menuju apotik yang ada di dalam rumah sakit tersebut untuk menebus obat, Setelah membayar di Kassa tentunya. Setelah berhasil menebus obatnya, Farhan menggandeng Nesha menuju mobilnya. Farhan membukakan pintu mobil untuk istri tercintanya. Saat Nesha hendak masuk ke dalam mobil tiba tiba....
" Ayah...." Panggil anak kecil seumuran Nathan kepada Farhan. Nesha mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil, Ia berdiri di depan Farhan menatap Farhan dengan tatapan penuh selidik. Farhan hanya mengedikkan bahunya saja.
" Ayah kenapa Ayah ninggalin aku? Ayah jahat huuuuu." Ucap anak itu menarik narik celana Farhan. Sifa berjongkok di depan anak itu walau agak kesusahan.
" Kamu mengenal suamiku?" Tanya Nesha menatap anak kecil itu.
" Iya.... Dia Ayahku." Sahutnya.
Nesha berdiri kembali menatap Farhan.
" Bukan Yank... Aku juga tidak kenal dengannya." Elak Farhan.
" Adek.... Apa kamu pernah bertemu dengannya?" Tanya Nesha menunjuk Farhan.
" Dia seling ke lumahku Tante... Dia Ayahku." Ucap Anak itu.
" Adek... Aku bukan Ayahmu, Bahkan aku tidak mengenalimu." Ujar Farhan.
" Ayah bohong... Katanya Ayah mau pulang, Bunda udah nungguin Ayah." Teriak Anak itu.
" Mau ngaku atau mau mengelak?" Tanya Nesha dengan tatapan tajamnya. Bahkan setajam silet ..
" Ngaku gimana sayang.... Aku tidak mengenalnya." Ucap Farhan.
" Kalau kamu tidak mengenalnya kenapa anak itu kukuh kalau kamu Ayahnya Mas... Nggak usah bohong lagi deh, Sekali bohong.. Bohong aja terus." Cebik Nesha.
" Beneran Yank." Sahut Farhan.
" Adek manis... Siapa namamu?" Tanya Farhan lembut.
" Dalen Ayah." Sahut Anak itu yang ternyata bernama Daren.
" Rumahmu dimana?" Farhan mencoba bertanya lagi.
" Kan Ayah sudah tahu lumahku, Apa Ayah lupa?" Daren balik bertanya membuat Farhan menepuk jidatnya.
" Urusin anakmu dulu, Aku mau pulang." Ucap Nesha.
" Sayang dia bukan anakku, Kenapa kamu tidak percaya sih... Dia hanya tersesat saja sayang, Ayo kita bantu cari orang tuanya." Ujar Farhan.
" Nggak mau... Kamu aja sana." Sahut Nesha.
Nesha berjalan meninggalkan Farhan mencari taksi untuk mengantarkan ke rumahnya. Farhan hendak mengejarnya tapi Daren malah menangis kencang sambil menarik narik celana Farhan membuat Farhan menjadi pusat perhatian sekitar. Akhirnya Farhan menyelesaikan masalahnya dengan bocil itu dulu.
**TBC.....
Jangan lupa like dan komentnya ya.... Baca dan dukung juga cerita author yang lain ya..
__ADS_1
Makasih.... Miss U All**