Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
58. Hukuman Davian


__ADS_3

Pagi ini Valen sedang bermanja manja dengan Nathan. Keduanya duduk bersandar pada headboard dengan kepala Valen berada di pundak Nathan. Sedangkan Nathan mengelus perut Valen.


" Yank hari ini ingin makan apa?" Tanya Nathan.


" Nggak pengin makan apa apa Mas, cuma pengin deket aja sama kamu." Sahut Valen memeluk perut Nathan.


" Baiklah hari ini aku tidak akan ke kantor, aku akan menemani istri tercintaku seharian di rumah." Ucap Nathan.


" Nggak mau di rumah, aku ingin jalan jalan." Ujar Valen.


" Kemana hmm?" Tanya Nathan mencium kepala Valen.


" Gimana kalau kita jalan ke mall aja Mas." Saran Valen.


" Boleh sih, tapi jangan kecapekan ya." Ujar Nathan.


" Iya Maskuh." Sahut Valen.


" Sekarang kita turun, sarapan dulu yuk." Ajak Nathan.


" Iya Mas ayo, sun dulu." Ucap Valen dengan nada manja.


Cup... Cup... Cup...


Nathan mencium kedua pipi dan kening Valen.


" Bibirnya lebih lama." Ujar Valen.


Nathan mencium bibir Valen dengan lembut. Valen membuka sedikit mulutnya membiarkan Nathan mengekspos setiap inchinya. Suara decapan demi decapan memenuhi ruangan kamar Nathan. keduanya menikmati sensasi yang Nathan ciptakan di pagi hari. Setelah keduanya kehabisan nafas, Nathan melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Valen dengan jempolnya.


" Udah segini aja dulu, kita lanjutkan nanti malam." Ucap Nathan mencium pipi Valen.


" Iya Mas." Sahut Valen.


Nathan menggenggam tangan Valen. Keduanya berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan.


Di dalam kamar Ria, Ia sedang memakai riasan setelah mandi. Davian menatapnya dari arah ranjang sambil memainkan ponselnya. Selesai bersiap Ria hendak berjalan keluar kamarnya, tapi Davian mencegahnya.


" Vale sayang." Panggil Davian menghentikan langkah Ria. Ria berbalik badan menatap Davian. Semalam Ia sudah memikirkan keputusan apa yang akan Ia ambil. Ia merenungi ucapan Valen tapi hatinya masih ragu. Ia harus melakukan sesuatu untuk memastikan perasaannya.


" Sampai kapan hubungan kita akan seperti ini Vale, aku minta maaf padamu, mari lupakan semuanya kita buka lembaran baru dan mengukir kebahagiaan dalam rumah tangga kita sayang." Ucap Davian mengelus pipi Ria.


" Jika tidak demi aku maka lakukanlah demi anak kita, dia butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya sayang, aku mohon maafkan aku, jika kau mau hukum aku sesuka hatimu aku akan menerimanya." Sambung Davian.


Ria menatap Davian dengan tatapan yang sulit di artikan. Tanpa menjawab ucapan Davian Ia berjalan keluar kamar turun ke bawah untuk sarapan. Davian menghela nafasnya mrnatap punggung Ria. Di meja makan semua orang sudah menunggu keduanya.


" Pagi sayang." Sapa Mami Nesha.

__ADS_1


" Pagi Mi." Sahut Ria duduk di kursinya.


Semua yang berada di sana saling melempar tatapan. Sepertinya Ria sudah benar benar sembuh dan normal seperti biasanya.


" Pagi semua." Sapa Davian duduk di samping Ria.


" Pagi." Sahut semua orang serempak.


Mereka makan dengan khidmat. Selesai makan mereka berbincang sejenak sebelum melanjutkan aktifitas masing masing.


" Semuanya ada yang ingin aku beritahukan kepada kalian tentang keputusan hubunganku dengan Mas Davi." Ucap Ria membuat semuanya menoleh kepadanya.


" Apa yang akan kau putuskan sayang? Jangan mengambil keputusan di saat emosi supaya kamu tidak akan menyesalinya di kemudian hari." Ucap Papi Farhan.


" Aku sudah memikirkan keputusan ini matang matang Pi, aku tidak akan meminta cerai dari Mas Davian." Ucap Ria. Semua orang bernafas lega.


" Alhamdulillah." Ucap Mami Nesha.


" Tapi aku juga tidak mau tinggal serumah dengannya." Sambung Ria membuat semua orang melongo.


" Apa maksudmu sayang? Katakan yang jelas." Ucap Davian menatap Ria.


" Aku tidak meminta cerai darimu bukan berarti aku sudah memaafkan atas apa yang kamu lakukan padaku Mas, aku tidak bisa melupakannya." Sahut Ria.


" Aku tahu itu, maafkan aku tapi jangan usir aku dari sini." Pinta Davian.


" Ini pilihan yang sulit untukku sayang, aku tidak bisa jauh darimu tapi aku juga tidak mau kehilanganmu... Ya Tuhan hukuman apalagi yang akan kau berikan padaku." Ujar Davian menarik kasar rambutnya. Semua orang menatapnya iba kecuali Ria.


" Tapi baiklah jika itu maumu aku akan mengabulkannya, aku anggap ini hukuman darimu dan aku akan menanti berakhirnya hukuman ini, aku akan kembali ke rumahku sekarang juga dan aku harap kamu tidak memberikan aku harapan palsu." Ucap Davian.


" Maaf semuanya, sesuai keinginan Ria maka aku pamit pergi, maafkan atas semua kesalahan yang pernah aku perbuat, semoga kita bisa bertemu lagi." Ucap Davian.


Davian berjalan meninggalkan meja makan. Ria menatap nanar punggung Davian yang semakin menghilang dari pandangannya. Ia beranjak dari kursinya lalu berlari menuju kamarnya.


" Ria." Teriak Valen.


Valen mengejar Ria sampai di kamarnya. Ia menghampiri Ria yang telungkup di atas ranjang dengan bahu naik turun. Valen yakin saat ini Ria sedang menangis.


" Ria." Ucap Valen duduk di tepi ranjang sambil mengelus rambut Valen.


Sedangkan Davian, Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit Ia sampai di kediamannya. Davian langsung berlari menuju kamarnya. Tubuhnya luruh ke lantai di balik pintu kamarnya.


" Hiks... Vale... Hukuman yang kau berikan kepadaku terlalu berat untuk aku jalani, aku tidak mau jauh darimu dan calon anak kita sayang... Hiks... Hiks.." Isak Davian.


Davian menatap tangannya sendiri.


" Tangan ini kan yang sudah membuatmu terluka, aku akan menghukumnya." Ucap Davian

__ADS_1


Davian membuka ikat pinggangnya. Ia juga membuka kemejanya lalu Ia mulai mencambuk tangannya dengan ikat pinggang itu.


Ceter.....


Ceter....


Luci yang melintas di depan pintu kamar Davian seketika membuka pintu yang tidak di kunci oleh Davian. Luci menutup mulutnya dengan telapak tangannya saat melihat tubuh dan tangan Davian memar memar.


" Kakak.... Apa yang Kakak lakukan? Hentikan Kak." Pekik Luci mencoba menghentikan Favian.


" Minggir Luci! Kakak harus menghukum diri Kakak sendiri karna sudah membuat Kakak iparmu menderita." Ucap Davian mendorong tubuh Luci hingga ke depan pintu. Setelah Luci berhasil Ia keluarkan dari kamarnya. Davian mengunci pintunya.


" Kakak buka pintunya." Ucap Luci mengetok pintu.


Ceter....


Ceter...


" Kakak aku mohon jangan sakiti diri sendiri Kak, aku mohon hiks... Hiks.." Isak Luci.


Di dalam kamar Ria, Valen berusaha membuat Ria tenang. Ia tida mau Ria menjadi depresi lagi.


" Ria jika kamu mau membagi dukamu, maka Kakak siap mendengarkannya." Ucap Valen.


Ria merubah posisinya menjadi duduk bersila di atas ranjang.


" Kamu menangis?" Tanya Valen mengusap air mata Ria.


" Katakan! Kenapa kamu menangis setelah mengusir Davian?" Tanya Valen.


" Kakak aku......


Hayooo alasan apa yang akan Ria katakan pada Valen ya????


Temukan jawabannya di bab selanjutnya ya....


Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya....


Terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport author selama ini semoga sehat selalu....


Beri author hadiah donk biar semangat nulisnya


Hahaha author mah banyak maunya...


Miss U All....


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2