
Pagi ini Valen menemani Erald bermain di kamarnya. Valen mendudukkan Erald di atas ranjang dengan berbagai mainannya.
" Ma.... Mi.." Ucap Erald menepuk paha Valen.
" Apa sayang?" Tanya Valen.
" Mam... Mam.. Mam." Celoteh Erald.
" Erald mau makan?" Tanya Valen yang di balas anggukan kepala oleh Erald.
" Owh anak Papi lapar ya, kasihan nggak di kasih apa apa sama Mami ya, cuma di kasih mainan aja ya nggak bisa di makan Mi." Ucap Nathan yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
" Iya Pi, padahal Elald udah calapan lhoh tapi masih lapal." Sahut Valen menirukan suara anak kecil.
" Lucu juga suaramu Yank." Ucap Nathan.
" Aaaa... Itu pujian apa ejekan Mas?" Tanya Valen dengan nada manja.
" Terserah kamu mau pilih yang mana." Sahut Nathan.
" Aku anggap itu pujian, makasih Maskuh." Ucap Valen.
" Sama sama sayangkuh." Sahut Nathan mencium kening Valen.
" Mam... Mam.. Mam.." Erald berceloteh lagi.
" Mungkin Erald mau makan biskuit Yank, ambilin gih." Ujar Nathan.
" Yah nanti kotor ranjangnya kalau Erald makan di sini Mas." Ujar Valen.
" Kalau begitu mainnya pindah di karpet aja ya sayang, sebentar Papi pasang dulu karpetnya biar Erald bisa main sambi makan cemilan biar badannya makin gembul." Ucap Nathan memasang karpet di atas lantai.
" Iya Papi sayang." Sahut Valen.
" Udah sini Yank." Ucap Nathan setelah karpetnya terpasang.
Valen menggendong Erald lalu mendudukkannya di atas karpet. Ia duduk di sebelah Erald.
" Sabar ya Papi ambil biskuitnya dulu sayang." Ucap Nathan mengambil biskuit untuk Erald di dalam almari kecil khusus menyimpan makanan untuk Erald.
" Ada Mas?" Tanya Valen.
" Ada donk sayang, kan aku selalu nyetok buat Erald ngemil." Sahut Nathan duduk di depan Erlad sambil membawa sebungkus biskuitnya.
" Mam... Mam... Mam..." Celoteh Erald bersorak girang melihat bungkusan biskuit yang di pegang oleh Nathan.
" Uluh udah nggak sabar rupanya nih anak Papi, emang udah pengin banget ya? Apa udah lapar banget?" Ujar Nathan sambil membuka bungkusannya.
Erald mengangguk anggukkan kepalanya.
" Pintarnya anak Mami, sekarang udah bisa di ajak bicara.
" Ma.... Mi..." Ucap Erald.
" Iya sayang." Sahut Valen mengelus kepala Erald.
" Ini sayang biskuitnya, sekarang di makan ya." Ucap Nathan memberikan sekeping biskuit kepada Erald.
__ADS_1
Erald segera mengambil biskuit itu lalu memasukkannya ke dalam mulutnya membuat Valen dan Nathan merasa gemas melihat tingkah imut putra mereka.
" Lucu banget kamu Nak." Ucap Valen menoel pipi Erald.
" Jangan di ganggu Yank! Erald kan masih makan, entar kalau kesedak kan kasihan" Ucap Nathan.
" Iya Mas maaf, sayang maafin Mami ya." Ucap Valen menatap Erald yang di balas anggukan kepala oleh Erald.
" Uh anak Mami pintar banget deh, mirip siapa sih?" Tanya Valen.
" Mirip Papi donk Mi." Sahut Nathan merangkul pundak Valen.
Valen berbaring dengan paha Nathan sebagai bantalan. Ia menatap wajah tampan suaminya dengan seksama. Nathan menatap ke bawah membuat tatapan keduanya bertemu.
" Kenapa menatapku seperti itu Yank? Kagum ya sama cowok setampan diriku." Ucap Nathan narsis.
Valen tersenyum menatap Nathan.
" Aku nggak nyangka deh Mas kalau kamu bisa narsis juga." Ujar Valen.
" Kan cuma sama kamu doank, kalau sama lainnya ya Mas nggak pernah Yank." Sahut Nathan.
" Ya kali, aku kan nggak tahu." Ujar Valen.
" Kamu nggak percaya sama aku Yank?" Tanya Nathan menyelipkan rambut Valen ke telinga.
" Percaya nggak ya?" Goda Valen.
" Ya harus percaya donk Yank, langgengnya sebuah hubungan itu karena kuatnya kepercayaan, kalau sudah tidak ada kepercayaan di antara kita terus bagaimana?" Ujat Nathan bertanya.
" Iya deh aku percaya, aku percaya sepenuhnya kepada suami tercintaku, kalau suamiku mau ngegombal sama cewek lain maka aku pun bisa melakukannya." Ujar Valen.
Nathan mengecup bibir Valen dengan lembut.
" Mas ada Erald." Ucap Valen.
Nathan menoleh ke arah Erald yang sedang asyik memakan biskuitnya lalu Ia kembali menatap Valen.
" Erald sedang asyik dengan dunianya sendiri." Ucap Nathan kembali menundukkan kepalanya membuat wajahnya berdekatan dengan wajah Valen.
Cup....
Nathan kembali mengecup bibir Valen. Valen memejamkan matanya sambil membuka sedikit mulutnya. Nathan menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Valen. Ia mengekspos setiap inchinya. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Nathan ******* lembut bibir Valen.
Setelah keduanya merasa kehabisan nafas, Nathan melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Valen menggunakan jempolnya.
" Manis Yank." Ucap Nathan menegakkan tubuhnya kembali.
" Iya lah." Sahut Valen.
Valen menoleh ke arah dimana Erald duduk tadi namun tiba tiba Ia membulatkan matanya tatkala tempat yang di duduki Erald kosong.
" Erald Mas." Pekik Valen spontan membuatnya bangun.
Dugh....
" Awh." Pekik Nathan dan Valen bersamaan.
__ADS_1
" Sakit Mas." Cebik Valen.
" Aku juga sakit Yank." Sahut Nathan.
Valen mengusap kepalanya sedangkan Nathan mengusap dagunya.
" Erald kemana Mas?" Tanya Valen panik.
Valen dan Nathan segera beranjak dari duduknya. Keduanya berjalan keluar kamar mencari Erald.
" Haduh dimana Erald Mas? Kamu sih Mas tadi pintunya nggak di tutup lagi, kan jadinya Erald keluar Mas." Omel Valen.
" Ya maaf Yank, kan aku juga tidak tahu kalau akan begini jadinya, masa' Erald cepat banget sih jalannya." Ujar Nathan.
" Haduh Mas dimana ini?" Tanya Valen melongok ke bawah tangga. Barangkali Erald jatuh menggelinding ke bawah seperti bola.
Valen membalikkan badannya membuat tubuhnya menabrak tubuh Nathan.
" Mas gimana sih! Ngapain ngikutin aku coba, carilah Mas di tempat lain jangan ngikutin aku." Cerocos Valen.
" Ah iya Yank maaf." Sahut Nathan berjalan berlawanan arah dengan Valen.
" Erald." Panggil Valen mencari Erald ke lorong lorong kamar.
" Ya Allah Erald dimana? Apa mungkin Erald keluar rumah? Tapi bagaimana mungkin? Kan nggak mungkin Erald berjalan menuruni tangga sendiri, ah..... Erald kamu dimana sayang? Kalau tahu gini tadi mending aku mainnya di ruang bermain Erald saja." Monolog Valen.
Nathan kembali menghampiri Valen yang sedang berdiri di depan kamarnya.
" Gimana Mas? Dimana Erald? Mana Erald Mas?" Tanya Valen menatap Nathan sambil mengusap kepalanya sendiri.
" Tidak ada sayang." Sahut Nathan.
" Tidak ada gimana Mas? Apa mungkin Erald di culik? Ah Ya Allah jangan sampai semua itu terjadi, Mas buruan telepon polisi bilang kalau anak kita di culik Mas." Ujar Valen.
" Bi Nadia... Aku harus tanya sama Bi Nadia dulu." Sambung Valen.
" Bi... Bi Nadia." Teriak Valen dari atas.
" Iya Non." Sahut Bi Nadia dari dapur.
" Apa Bibi lihat Erald?" Tanya Valen.
" Tidak Non, saya baru saja mengepel di bawah tangga juga tidak melihat Den Erald Non." Sahut Bi Nadia.
" Mas... Erlad dimana hiks.... Erald...." Isak Valen.
" Tenang sayang, Erald pasti akan baik baik saja." Ucap Nathan memeluk Valen.
" Sayang kamu dimana?" Tanya Valen.
Hayo kira kira dimana nih?
Bantu beri petunjuk donk buat Valen...
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author semakin semangat namatinnya ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All....
TBC.....