
Malam hari Azza yang baru puang segera turun dari mobilnya. Ia melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Ceklek....
Azza membuka pintu, Dika yang sedang duduk di ruang tamu menunggu Azza segera menghampirinya.
" Sayang kamu sudah pulang? Kamu kemana aja sayang?" Tanya Dika hendak memeluk Azza namun Azza menahan menggunakan tangannya.
" Aku capek mau istirahat Mas." Ucap Azza berlalu meninggalkan Dika.
Dika segera mengejar Azza yang sedang menaiki tangga.
" Sayang maafkan aku, aku bisa menjelaskan semuanya sayang, percayalah aku dan Cia tidak memiliki hubungan apa apa." Ujar Dika mengikuti langkah Azza dari belakang.
Azza memasuki kamarnya tanpa mempedulikan ucapan Dika. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi lalu mengunci pintunya.
" Say...." Ucapan Dika menggantung bersamaan dengan pintu yang tertutup.
Dika duduk bersandar di atas ranjang menunggu Azza. Ia akan meminta maaf pada Azza karena kesalahan yang Ia lakukan siang tadi. Setelah lima belas menit Azza keluar dari kamar mandi, Ia sudah berpenampilan rai dan siap menyambut alam mimpi. Ia berjalan mendekati ranjang lalu berbaring di sebelah Dika dan mulai memejamkan matanya.
" Sayang aku mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi siang, dengarkan aku agar kamu tidak salah paham." Ujar Dika.
" Aku mau tidur Mas, aku tidak mau membahas hal yang tidak penting bagiku, mau Mas Dika punya hubungan dengan Cia atau tidak, aku tidak mempedulikannya, aku lebih peduli pada kesehatanku dan calon anakku." Sahut Azza.
" Tapi aku mau kamu peduli sayang? Aku tidak mau kamu bersikap dingin kepadaku seperti ini, aku tidak sanggup menahannya." Ujar Dika.
" Bersikap seperti apa aku padamu itu adalah hakku Mas, yang terpenting aku tidak meninggalkan kewajibanku sebagai seorang istri, aku juga selalu menjaga pandanganku terhadap pria lain dan aku tidak pernah berhubungan dengan pria manapun selain kamu, itu udah cukup bagiku." Sahut Azza menohok hati Dika.
" Maafkan aku yang tidak bisa menjaga diriku dari wanita lain, aku salah sayang, tolong maafkan aku." Ucap Dika.
" Sebagai sesama manusia kita harus saling memaafkan Mas, apalagi kau suamiku, aku sudah memaafkanmu, begitupun sebaiknya jika suatu hari nanti aku melakukan kesalahan kau juga harus memaafkanku." Sahut Azza.
__ADS_1
Dika memejamkan matanya. Ia semakin merasa bersalah kepada Azza. Dika merubah posisinya menjadi miring, Ia menghadap ke arah Azza.
" Sayang hatimu lembut bagaikan sutra, kau mudah memaafkan kesalahan orang lain, aku beruntung memiliki istri sepertimu." Ucap Dika merapikan anak rambut Azza.
" Itulah sebabnya kau selalu melakukan kesalahan yang sama, aku mau tidur Mas, selamat malam." Ucap Azza memunggungi Dika.
Dika menghela nafasnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Di pandanginya rambut indah milik istrinya yang hanya dia sendiri yang tahu. Dika memeluk Azza dari belakang, Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Azza.
" Lepaskan Mas, aku kesulitan bernafas." Ucap Azza menjauhkan tangan Dika dari tubuhnya.
" Kau masih marah sama Mas, sekali lagi Mas minta maaf karena telah membuat hatimu terluka, Mas berjanji tidak akan mengulanginya sayang." Ujar Dika mencium rambut Azza.
" Ku mohon biarkan aku tidur dengan tenang Mas, jika Mas mau membahas soal tadi, maka renungkanlah kesalahanmu, jangan pernah kau ulangi kesalahan itu lagi karena hatiku bisa saja berubah saat itu, saat ini aku masih bisa memaafkanmu tapi entah dengan nanti." Ujar Azza.
" Baiklah sayang, sekarang tidurlah." Ucap Dika.
" I love you." Sambung Dika. Azza tidak bergeming, Ia mengantuk dan butuh istirahat.
Pagi harinya, Azza mengerjapkan mata setelah mendengar Adzan subuh. Ia segera bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah selesai melakukan kewajibannya Ia segera turun ke dapur. Ia memang tidak membangunkan Dika karena Dika terbiasa bangun sendiri.
Ya keduanya belum menjalankan shalat berjamaah karena Dika merasa belum pantas. Dika ingin membenahi diri terlebih dahulu sebelum menjadi imam shalat untuk Azza, Azza tidak mempermasalahkannya yang penting Dika mau menjalankan kewajibannya dengan rajin.
Sesampainya di dapur Azza memasak nasi menggunakan rice cooker. Sambil menunggu nasi matang Ia menyiapkan sayurnya. Ia memasak rendang dan sop ayam, serta lauk pauk berupa tahu goreng, tempe goreng dan tak lupa ayam gorengnya.
Setelah semua matang, Azza segera menatanya di meja makan.
" Sayang." Ucap Dika memeluk Azza dari belakang menghentikan kegiatan Azza.
" Masih marah?" Tanya Dika.
" Tidak Mas, sekarang lepaskan aku! Aku mau mandi." Ucap Azza dingin.
__ADS_1
" Enggak mau, aku mau kamu kembali seperti biasanya, ceria, bersikap hangat, bertutur lembut, tidak bersikap dingin seperti ini." Ujar Dika mempererat pelukannya.
Azza tidak bergeming, Ia diam saja dan membiarkan apa yang akan Dika lakukan kepadanya. Azza malas berdebat karena dirinya sudah capek.
" Anak Papa sayang, kamu juga marah ya sama Papa? Maafkan Papa ya... Papa sering melakukan kesalahan yang menyakitimu dan Mama kamu, Papa belum bisa menjadi Papa dan suami yang baik untuk Mamamu yang sempurna ini, Papa belum bisa jauh dari kata dosa dan kata khilaf sayang." Ucap Dika mengusap perut Azza membuat Azza memejamkan matanya.
Azza terharu mendengar ucapan Dika yang merendahkan dirinya. Jujur... Dika sekarang sudah menjadi pribadi yang lebih baik, Ia menjadi lebih sabar dalam menghadapi segala hal, Ia menjadi rajin shalat, dan Ia menjadi pribadi yang lebih tenang. Dan tentunya itu semua berkat Azza.
Azza bagaikan air es di dalam padang pasir yang tandus. Azza bagaikan oksigen di tengah tengah asap pekat yang mengepul. Azza merupakan detak jantung dan denyut nadi bagai Dika selama ini.
" Sayang kamu dan Mama mau kan memaafkan Papa? Kemarin Tante Cia ada masalah dengan Om Irvan, dia terbiasa kalau ada masalah datang ke Papa, dan mungkin terbawa sampai sekarang tanpa menyadari situasi kami telah berbeda." Ucap Dika mencoba menjelaskan semuanya sambil terus memeluk Azza supaya Azza tidak kabur.
" Sayang... Cia merasa cemas karena akhir akhir ini sikap Irvan sedikit berubah, Ia tidak seperti biasanya yang selalu ada waktu untuk Cia, Cia takut jika Irvan sudah tidak mencintainya lagi, entah itu karena hormon kehamilan atau bukan aku tidak tahu yang jelas Cia menjadi tidak bisa mengendalikan emosi, Cia meminta bantuanku untuk menyelidiki alasan Irvan berubah, Cia tidak mungkin meminta bantuan Gama ataupun Nathan, karena kalau mereka sampai tahu masalah ini maka mereka pasti akan menghajar Irvan sayang." Ujar Dika.
" Kemarin mendadak Cia menjadi emosi, dia menangis meraung raung di dalam ruanganku, aku tidak mau para pegawai tahu akan hal itu, itulah sebabnya aku mencoba menenangkannya dengan memeluknya." Sambung Dika.
" Sayang." Ucap Dika membalikkan badan Azza menjadi menghadapnya.
" Aku akui aku melakukan kesalahan, aku memeluk wanita lain yang bukan mahramku, aku minta maaf padamu sayang, perlu kau tahu kalau aku memeluknya sebagai Kakaknya, aku memeluknya tanpa hasrat dan niat apapun, aku minta maaf padamu, aku minta maaf padamu sayang." Ucap Dika mencium kening Azza.
" Jangan pernah terlibat dalam hubungan orang lain Mas, itu tidak baik." Ucap Azza meninggalkan Dika.
Dika menghela nafasnya pelan. Begitu susahnya membujuk perempuan jika sedang marah. Di bibir Ia mengatakan memaafkan namun dalam hatinya sukar melupakan.
TBC.....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya....
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author...
Semoga sehat selalu....
__ADS_1
Miss U All....