
Tes....
Air mata Cia menetes tiada henti. Dadanya terasa sesak menahan sakit dan rasa kecewa yang Irvan torehkan. Cia kembali menutup pintunya dengan pelan. Ia berjalan menjauhi ruangan itu.
" Aku tidak menyangka Mas, kau membuatku menunggu hingga berjam jam lamanya hanya demi wanita lain, jangan pernah kau katakan kalau semua yang kau lakukan demi rasa kemanusiaan, aku tidak akan menerimanya." Batin Cia mengusap air matanya.
Cia kembali menaiki taksi menuju rumahnya. Ah tidak! Malam ini Cia kembali ke rumah orang tuanya. Ia malas jika harus bertemu Irvan di apartemen. Ia ingin menyendiri dulu untuk beberapa saat.
Di dalam ruangan Vip, saat ini Irvan sedang menatap Irvan kecil yang kini di ganti nama menjadi Saka. Saka sangat bersemangat melahap makanan yang di berikan oleh Irvan. Tadi Irvan sempat menyuapinya namun setelah Elin menyuruh Saka untuk makan sendiri, Saka menurutinya. Alhasil Ia makan hingga makanannya habis.
" Makasih ya Van, kamu sudah mau menolong kami." Ucap Elin yang terbaring lemah di atas rajin.
" Tidak masalah Lin, bukankah sesama manusia harus saling menolong." Sahut Irvan.
" Ini sudah terlalu malam Van, aku takut istrimu menunggumu di rumah." Ucap Elin.
Jeduar....
Bagai di sambar petir tubuh Irvan berubah menjadi kaku kala mengingat janjinya dengan sang istri tercinta.
" Astaga Ya Tuhan.... Aku melupakan janjiku kepadanya." Gumam Irvan.
" Baiklah Lin aku pulang ya, aku akan menjengukmu esok hari." Ucap Irvan berpamitan.
" Iya Van, hati hati ya, sekali lagi terima kasih." Ujar Elin.
" Ok.... Saka Om pulang dulu ya, jagain Mamamu kalau ada apa apa kamu minta tolong suster ya." Ucap Irvan mengelus kepala Saka.
" Terima kasih Om, aku sayang sama Om." Ucap Saka.
" Ok." Sahut Irvan.
Irvan berjalan keluar meninggalkan ruang rawat Elin menuju mobilnya. Sesampainya di mobil Irvan segera mengambil ponsel yang Ia letakkan di dashboard.
" Astaga ponselnya mati, Ya Tuhan semoga Cia tidak marah padaku." Monolog Irvan.
Irvan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju cafe KA. Ia berpikir jika Cia masih menunggu di sana.
Sesampainya di cafe, Irvan segera berlari menemui kasir yang ada di sana.
" Maaf Mbak saya mau tanya, apa masih ada reservasi atas nama Valecia?" Tanya Irvan dengan nafas ngos ngossan.
" Oh ada Mas, Mbak Cia mereservasi hingga jam dua belas malam, Vip nomer lima ya Mas." Sahut sang kasir.
" Baiklah terima kasih." Sahut Irvan.
Irvan kembali berlari menuju ruang yang di maksud oleh kasir tadi.
" Vip nomer lima, ya betul ini ruangannya." Ujar Irvan.
Ceklek....
Irvan membuka pintu lalu Ia masuk ke dalam. Ruangan nampak sepu dan sedikit gelap, hanya ada cahaya dari lilin yang menerangi ruangan itu. Beberapa makanan masih tersusun rapi di meja.
Irvan menghampiri meja dan tatapannya tertuju pada satu makanan yang terletak di meja itu.
__ADS_1
Sebuah kue ulang tahun bertuliskan
'Happy Birthday Daddy Irvan Adriano'
" Happy birthday? Daddy Irvan?" Gumam Irvan mengingat tanggal hari ini.
" Ya ampun sayang.... Maafkan aku yang mengacaukan kejutan yang akan kamu buat di hari ulang tahunku, aku tidak sengaja melakukannya sayang..... Aku yakin kamu pasti kecewa banget sama aku, semua ini jadi mubadzir gara gara aku." Ucap Irvan memotong kue tar itu lalu Ia memakannya.
" Walaupun sangat terlambat tapi aku tidak akan menyianyiakan usahamu sayang, aku akan mencicipi semua makanan yang sudah kamu pesan ini." Ujar Irvan mencicipi sedikit demi sedikit semua makanan yang berada di atas meja.
Setelah selesai Ia mengusap mulutnya menggunakan tisu. Ia menatap kembali tulisan yang ada di atas kue itu.
" Daddy... Apa maksudnya Cia menulis daddy di kue ini? Apa mungkin aku akan menjadi seorang daddy? Tapi tadi pagi hasilnya negatif, ah mungkin karena Cia ingin segera mengandung jadi dia menulis daddy di sini, kelihatannya lucu juga jika aku di panggil daddy." Monolog Irvan.
Irvan kembali melajukan mobilnya menuju apartemen untuk segera menemui istrinya. Ia ingin meminta maaf dan menjelaskan kenapa Ia terlambat datang ke cafe KA untuk menemui Cia.
Tiga puluh menit Irvan memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen. Ia segera turun dari mobil menuju ke unitnya. Setelah mbuka pintu, Irvan langsung menuju kamarnya. Ia yakin jika saat ini Cia sedang menunggunya di kamar.
Ceklek...
" Sayang." Panggil Irvan.
Irvan mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar namun nihil. Kamarnya kosong, tidak Cia di sana. Irvan mencari Cia ke dalam kamar mandi, dapur dan setiap sudut ruangan yang ada namun tetap saja Ia tidak bisa menemukan Cia di sana.
Irvan segera mengecash ponselnya. Irvan membersihkan tubuhnya sambil menunggu bateray ponselnya terisi. Setelah selesai, Irvan segera menyalakan ponselnya.
" Lima panggilan tak terjawab dari Cia." Gumam Irvan.
Irvan segera menelepon Cia, berdering namun tidak di angkat. Terpaksa Irvan menelepon Valen untuk menanyakan apakah Cia ada di sana atau tidak.
" Halo Van, ada apa?" Tanya Valen di sebrang sana.
" Maaf aku tidak tahu, malam ini aku sedang menginap di rumah Papa Alex Van." Ujar Valen.
" Oh ya udah, aku akan ke sana saja untuk memastikan kalau begitu." Uap Irvan.
" Baiklah hati hati, segera selesaikan permasalahannya jangan sampai berlarut." Ujar Valen seolah tahu apa yang sedang terjadi dengan Irvan dan Cia.
" Ok." Sahut Irvan memutuskan panggilan teleponnya.
Irvan turun ke bawah menuju parkiran. Ia melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya.
...****************...
Sinar matahari memasuki kamar Cia melalui celah celah korden. Ia membuka matanya.
" Eh kok ada Mas Irvan? Apa gue mimpi ya?" Batin Cia mengucek matanya saat melihat Irvan yang sedang tidur sambil memeluknya.
" Bukan mimpi, ternyata dia memang ke sini, ah perutku mual sekali." Gumam Cia dalam hati.
Cia menyingkirkan tangan Irvan yang sedang memeluk perutnya. Setelah berhasil Ia segera berlari ke kamar mandi.
Huek..... Huek....
Cia memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan bening saja.
__ADS_1
Huek... Huek....
Irvan membuka matanya, Ia langsung turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi. Ia menghampiri Cia yang sedang berdiri di depan wastafel.
" Sayang kamu kenapa lagi?" Ucap Irvan hendak memijat tengkuk Cia namun Cia menghindarinya.
Huek...
" Sayang." Cia menahan Irvan menggunakan kode tangannya.
Irvan sadar jika saat ini Cia sedang marah, Ia hanya menurut saja, Ia sedikit menggeser tubuhnya menjauh dari Cia.
" Sepertinya kamu sakit, kita harus ke dokter ya." Ujar Irvan.
Cia membasuh mulutnya lalu mengelapnya dengan tisu.
" Sayang kita ke dokter ya." Sambung Irvan.
" Ngapain mau ke dokter?" Tanya Cia.
" Ya berobatlah Yank, mau ya? Aku akan bersiap untuk mengantarmu." Ucap Irvan.
" Nggak perlu." Ketus Cia kembali ke ranjangnya.
Cia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia memijat sendiri kepalanya yang berdenyut nyeri.
" Sayang aku mau tanya sesuatu sama kamu? Apa kamu seperti ini karena kamu hamil?" Tanya Irvan membuat Cia menatap ke arahnya.
" Bukan... aku mual karena asam lambungku naik, sejak kemarin siang aku nggak makan apapun." Ketus Cia menohok hati Irvan.
" Maafkan aku yang terlambat datang sayang." Ucap Irvan.
" Heh terlambat, kalau terlambat itu beberapa menit bukan beberapa jam." Sinis Cia.
" Maaf sayang, tapi Mas semalam datang ke sana kok walaupun sudah sangat terlambat, aku juga mencicipi semua makanan yang ada di sana, beneran." Terang Irvan.
" Aku tidak peduli." Sahut Cia memejamkan matanya. Ia kembali merasakan sakit saat mengingat Irvan yang berada di ruangan Elin semalam.
"Oh ya di kue itu ada tulisan daddy untukku, aku pikir saat ini kamu sedang hamil." Ujar Irvan.
" Mungkin itu dari anakmu yang lain." Ucap Cia.
" Apa maksudmu sayang? Anakku yang lain yang mana? Aku bahkan belum punya anak." Ujar Irvan.
" Anak yang kamu suapi semalam."
Jeduar.....
Nah loh.... Ketahuan kan????
Apa yang akan Irvan jelaskan kepada Cia ya???.
Udah double up kasih hadiah yang banyak donk.....
Author kasih untuk pengantar tidur ya... Semoga mimpi indah....
__ADS_1
Miss U All....
TBC....