
Sifa dan Nesha berjalan masuk ke dalam Mall, Mereka berdua ingin menghabiskan waktu dengan bersenang senang tanpa suami mereka. Nesha membeli beberapa perlengkapan bayi karena usia kehamilannya memasuki bulan ke enam, Nesha orang yang selalu percaya kepada Tuhan, Ia tidak percaya akan mitos mitos yang beredar. Ada yang bilang jika belum genap tujuh bulan tidak boleh membeli perlengkapan bayi, Tapi Nesha pasrah kepada Allah karena apa yang terjadi semua atas kehendakNya.
" Sif sini... Sepatunya bagus banget." Ucap Nesha memanggil Sifa.
" Mana?" Tanya Sifa.
" Itu yang warna biru." Tunjuk Nesha.
" Ah iya benar, Kita ambil ya." Ucap Sifa mengambil sepatu kain yang di maksud Nesha.
Mereka berdua berjalan lagi melihat lihat yang lainnya.
" Nggak beli popok sama baju sekalian?" Tanya Sifa.
" Kalau itu belinya harus sama Mas Farhan, Sekarang kita beli accesoris aja dulu." Ujar Nesha.
" Baiklah, Kita beli topi aja gimana?" Usul Sifa.
" OK baiklah." Sahut Nesha.
Mereka berdua membeli sepatu, Kaos kaki, Topi yang lucu hingga mainan untuk bayi. Tidak lupa mereka juga membelikan beberapa baju dan mainan untuk Nathan, Si anak pertama mereka.
" Capek kita makan dulu yuk." Ajak Nesha setelah selesai memasukkan belanjaannya ke dalam mobil.
" Ayo." Sahut Sifa.
Keduanya masuk ke dalam foodcourt untuk membeli makanan. Nesha memesan sop ayam jamur sama jus stroberri, Sedangkan Sifa memesan bakso pelakor sama jus jeruk. Mereka berdua makan dengan lahap. Selesai makan mereka bersantai dulu sambil menghabiskan minumannya.
" Vanesha Febiola, Akhirnya kita bertemu di sini." Ucap seorang pria menghampiri mereka. Ia duduk berhadapan dengan Nesha hanya terhalang meja saja. Nesha dan Sifa menatap ke arah pria tersebut.
" Masih ingatkah kau padaku?" Tanya Pria itu menatap tajam ke arah Nesha.
" Arnold???" Ucap Nesha. Sifa mengingat ingat nama itu sampai Ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
" Yah... Ternyata kau masih ingat denganku, Lelaki yang pernah kau campakkan begitu saja." Ucap Arnold.
" Aku tidak mencampakkanmu, Kau sendiri yang menganggapku sebagai pacarmu." Ujar Nesha.
" Kau memang pacarku sayang..... Kenapa kau tidak mengerti juga akan perasaanku, Sekarang pun kau masih ku anggap sebagai kekasihku." Ucap Arnold.
" Dasar gila." Cebik Nesha.
" Aku memang gila sayang.... Aku tergila gila denganmu." Sahut Arnold.
" Jangan pernah menganggu hidupku lagi, Aku sudah menikah dan saat ini aku sedang mengandung anak dari suamiku." Jelas Nesha.
" Bukan... Itu anakku sayang, Bolehkah aku menyentuhnya?" Tanya Arnold.
" Sejak kapan kau keluar dari rumah sakit jiwa?" Tanya Nesha dengan senyum meremehkan.
" Sudah lama... Karena memang aku tidak gila." Sahut Arnold.
" Sifa ayo kita pulang." Ajak Nesha karena Ia enggan menanggapi pria gila seperti Arnold.
" Sayang kita belum ngobrol." Ucap Arnold mencekal tangan Nesha.
" Arnold lepaskan tangan Nesha." Bentak Sifa.
" Tenang Sif biar aku yang mengatasinya." Ucap Nesha.
Ya hanya Nesha yang bisa menenangkan Arnold, Arnold harus di perlakukan secara lembut karena Ia tidak bisa di kasari, Jika di kasari Arnold akan semakin menggila.
__ADS_1
" Arnold.... Lepaskan tanganku, Kau menyakitiku." Ucap Nesha lembut.
Dan benar saja Arnold langsung melepas cekalannya. Ia langsung berubah drastis tidak dingin seperti tadi. Begitulah jika sudah menyangkut wanita yang di cintainya.
" Maaf Yank aku tidak sengaja." Ucap Arnold mengelus tangan Nesha. sebenarnya Nesha risih di sentuh oleh pria lain tapi tidak mudah menghadapi Arnold.
" Aku mau pulang dulu ya... Mungkin besok besok kita bisa bertemu lagi." Ujar Nesha.
" Tidak kau pasti bohong padaku, Buktinya selama bertahun tahun kau meninggalkan aku di dalam penjara itu, Aku tersiksa Yank, Mereka jahat padaku, Saat aku ingin mencarimu mereka pasti menyuntikku, Sakit Yank... Rasanya sakit banget berada di sana, Mereka sering menyiksaku, Jangan tinggalkan aku lagi kita besarkan anak kita bersama sama, Aku nggak mau kehilangan kamu lagi." Ujar Arnold memeluk Nesha.
Hati Nesha terenyuh, Ia juga merasa sakit atas apa yang menimpa Arnold, Air mata menetes begitu derasnya di pipi Nesha. Bagaimanapun Arnold menjadi seperti ini karena dirinya.
Author nulis part ini kok sambil nangis ya... Nyesek rasanya, Author baper sendiri 😢😢😢
Arnold melepas pelukannya, Ia menatap wajah Nesha yang banjir air mata.
" Sayang jangan menangis, Kau tidak boleh menangis karena aku, Aku ingin kamu bahagia, Jangan menangis lagi." Ucap Arnold mengusap air mata Nesha. Bukannya berhenti Nesha justru semakin menangis karena tidak tega melihat tingkah Arnold yang seperti ini. Rasa bersalah kembali menyeruak pada dirinya.
" Jangan menangis sayang.. Atau aku akan menghukum diriku sendiri karena telah membuatmu menangis." Ucap Arnold sedih.
" Jangan... Aku tidak akan menangis." Ucap Nesha menghapus air matanya. Ia tidak mau Arnold hilang kendali.
" Aku sangat mencintaimu sayang.... Bertahun tahun aku menderita dengan perasaan ini, Aku sangat menderita terkurung di tempat itu, Keluargaku tidak pernah menjengukku, Mereka malu punya keluarga yang gila sepertiku, Padahal aku tidak gila kan Yank? Kamu menyayangiku Kan Yank?" Tanya Arnold masih memeluk Nesha.
Tiba tiba dari arah belakang ada yang menarik kasar tubuh Arnold dan...
Bugh....Bugh...
" Mas Farhan." Teriak Nesha melihat Farhan yang sedang memukuli wajah Arnold.
" Jangan pernah sentuh istriku?" Bentak Farhan sambil memukuli Arnold.
" Mas jangan kasari dia... Dia akan menggila Mas." Teriak Nesha memeluk tubuh Farhan.
Farhan mendorong tubuh Arnold hingga terhuyung di lantai. Ia membalikkan badannya menatap Nesha yang sedang menangis.
" Kau menangisi pria itu? Katakan Nesha." Bentak Farhan cemburu.
" Jangan membentak pacarku." Teriak Arnold menarik tubuh Farhan dan...
Bugh.... Arnold membalas pukulan Farhan tadi.
" Arnold cukup... Ku mohon hentikan semua ini Hiks... Hiks..." Isak Nesha yang masih di dengar Arnold.
Arnold menghampiri Nesha.
" Kamu menangis karenaku?" Tanya Arnold menatap Nesha.
" Tidak... Aku tidak menangis Arnold." Nesha segera mengusap air matanya.
" Kau bohong Nesha.. Kau menangis karena aku, Aku membuatmu sedih, Aku membuatmu menangis, Apa kau akan meninggalkan aku lagi? Aku jahat, Aku membuatmu menangis." Teriak Arnold mulai hilang kendali. Ia mengambil gelas di samping mejanya lalu...
Pyarrrrr...
" Arnold..." Teriak Nesha saat Arnold menghantamkan gelas itu ke kepalanya, Hingga membuat kepalanya berlumuran dar*h.
Arnold mulai mengacak acak seluruh meja dan kursi yang ada di sana sambil teriak teriak menyebut dirinya brengsek karena tak mampu membuat nyaman Nesha saat berada di dekatnya. Pihak keamanan langsung menelepon rumah sakit jiwa untuk menangkap Arnold yang sedang mengamuk.
Tak lama pihak rumah sakit jiwapun datang dengan Dokter dan beberapa perawat pria. Mereka segera menghampiri Arnold yang masih mengamuk.
" Hentikan Arnold." Teriak Dokter Jiwa yang biasa menangani Arnold.
__ADS_1
Arnold menoleh ke arah sumber suara, Ia menatap ketakutan ke arah Dokter. Arnold langsung berlari memeluk Nesha.
" Yank aku tidak mau di bawa mereka, Bawa aku pergi dari sini Yank ku mohon... Mereka jahat, Mereka akan mengurungku Yank... Mereka akan memyuntikku, Mereka akan memasung kakiku lagi, Sakit Yank aku tidak bisa bergerak, Aku tidak bisa bebas di sana Yank, Ku mohon tolong aku, Aku tidak gila Yank." Ucap Arnold ketakutan.
Farhan ingin menghampiri dan menghajar Arnold tapi Dokter menahannya. Akhirnya Ia hanya bisa pasrah melihat istrinya di dominasi oleh pria lain.
" Tenanglah Arnold aku ada di sini, Sekarang kamu ikut dulu dengan mereka, Kalau kamu udah sembuh baru boleh menemuiku lagi." Bujuk Nesha.
" Tapi aku tidak gila Yank." Ujar Arnold.
" Aku tahu Ar... Tapi saat ini kau butuh pengawasan dari mereka agar kau tidak melukai dirimu sendiri, Lihat... Kepalamu berdarah kau masih melukai dirimu sendiri itu artinya kamu belum sembuh benar, Biarkan mereka mengawasimu ya." Ucap Nesha.
" Kau memanggilku dengan sebutan Ar?" Tanya Arnold dengan mata berbinar.
" Iya... Kamu mau kan bertemu denganku dan anakku suatu hari nanti?" Tanya Nesha.
" Anakmu? Anak kita maksudmu?" Arnold balik bertanya membuat Farhan mengepalkan tangannya. Ia tidak terima anaknya di akui oleh pria lain. Apalagi pria gil* seperti Arnold.
" I... Iya.." Sahut Nesha melirik Farhan.
" Jadi kamu harus ikut mereka ya, Buktikan kalau kamu tidak gila pada mereka, Nanti mereka akan mengantarmu menemuiku lagi." Ujar Nesha.
" Baiklah aku akan ikut mereka Yank, Tunggu aku sampai bertemu kembali." Ucap Arnold. Arnold membungkukkan badannya menatap ke arah perut buncit Nesha.
" Sayang... Papa pergi dulu ya... Doakan Papa cepet sembuh, Papa akan segera menjemputmu dan Mama, Tunggu Papa sayang." Ucap Arnold mengelus perut Nesha. Nesha membungkam mulutnya agar tidak mengeluarkan suara tangisannya.
Arnold menghampiri Dokter dan perawat itu.
" Dokter jangan di suntik penenang lagi, Dan segera obati lukanya." Ucap Nesha.
" Baik Non terima kasih atas bantuannya, Maaf atas kelalaian kami hingga membuat pasien kami kabur." Sahut Dokter. Nesha menganggukkan kepalanya.
Dokter menggiring Arnold menuju ambulan. Mereka segera membawanya kembali ke rumah sakit jiwa. Nesha duduk di kursi yang selamat dari amukan Arnold.
" Hiks....Hiks.... Maafkan aku Arnold... Maafkan aku Hiks hiks... Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini.. Maafkan aku.." Tangis Nesha pecah mengiringi kepergian Arnold.
Huaaaaaa Author tidak sanggup menulisnya... Air mata banjir... Para readers sedih gak sih..
" Sayang kenapa kamu menangis?" Tanya Farhan memeluk Nesha.
" Aku merasa bersalah atas keadaannya saat ini Mas... Hiks..Hiks... Semua ini terjadi gara gara aku." Ucap Nesha di sela isakannya.
" Jangan menyalahkan dirimu Nes... Semua ini sudah takdir." Ucap Sifa mengelus pundak Nesha.
" Enggak Sif... Jika saja saat itu aku tahu keadaannya akan begini, Aku tidak akan menolaknya Sif.... Aku membuat hidupnya hancur.." Ujar Nesha.
" Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian? Kenapa kamu begitu merasa bersalah seperti ini?" Tanya Farhan.
" Aku akan menjelaskannya di rumah Mas, Sekarang aku mau pulang." Ucap Nesha.
" Baiklah ayo pulang." Sahut Farhan.
Sebelum pulang Farhan menemui manager resto terlebih dahulu, Ia membayar semua ganti rugi yang di lakukan oleh Arnold. Setelah selesai, Ia segera melajukan mobilnya menuju rumah. Sedangkan Sifa mengikuti mobil mereka dari belakang. Hari ini Ia akan menjemput Nathan karena Ia tahu saat ini hati Nesha sedang tidak baik. Biarkan Nesha menenangkan diri dulu.
TBC....
*Tunggu cerita kelanjutannya ya.... Author nggak kuat nulisnya sedih banget... Jangan hujat author ya.. Nanti author tambah sedih lagi...
Makasih atas suportnya...
Miss U All*....
__ADS_1