
" Mamiiiiii." Rengek Nathan.
Nesha dan Farhan segera menghampirinya.
" Iya sayang Mami di sini." Ucap Nesha mencoba menahan air matanya.
" Mami peluk Athan, Jangan tinggalin Athan Mami." Ucap Nathan dengan mata berkaca mungkin karena saking panasnya.
Nesha naik ke atas ranjang berbaring di samping Nathan.
" Mami akan selalu di sini menemanimu sayang." Ujar Nesha sambil memeluk Nathan.
Nathan langsung membalas pelukan Nesha.
" Mi sakit." Ucap Nathan.
" Mana yang sakit sayang?" Tanya Nesha.
" Sini." Sahut Nathan menyentuh kepalanya sendiri.
" Mami pijit ya." Ujar Nesha yang di jawab anggukan kepala oleh Nathan.
Nesha memijit pelan kepala Nathan. Ia mulai menitikkan air matanya. Farhan yang melihatnya menghampirinya lalu mengusap air mata Nesha menggunakan tisu.
Farhan menggelengkan kepala seakan mengatakan jangan menangis. Nesha mencoba menahan tangisannya supaya Nathan tidak sedih melihatnya rapuh seperti ini.
Bukankah kerapuhan seorang ibu saat melihat anak anaknya sakit? Sekuat apapun seorang ibu jika melihat anaknya sakit pasti akan merasa sangat sedih. Bahkan seorang ibu rela menukar nyawanya demi kesembuhan sang buah hati mereka, Doa yang tak pernah ibu lupakan adalah memohon kesehatan untuk anak anak mereka. Karena sehat itulah yang utama. Begitulah yang Nesha rasakan saat ini.
" Mas nanti malam pulang aja biar aku yang jaga Nathan di sini." Ucap Nesha.
" Ya kita jaga bareng aja sayang, Entar kamu repot kalau sendirian di sini." Ujar Farhan.
" Kasihan Gama Mas, Mas di rumah ngurus Gama aja." Sahut Nesha.
" Iya deh Mas di rumah aja nemenin Gama." Ucap Farhan.
"Mas telepon Mbak Nad gih suruh Mbak Nadia kasih sufor ya Mas dan jangan sampai telat makannya." Ujar Nesha.
" Baiklah Mas telepon Mbak Nadia dulu." Ucap Farhan keluar ruangan.
Saat Farhan hendak keluar saat itu juga Dokter Anton hendak masuk.
" Tuan Farhan." Sapa Dokter Anton.
" Apa ini sudah jam visit Dokter?" Tanya Farhan melihat jam mewah yang melingkar di tangannya.
" Belum Tuan saya hanya mau menjenguk Nathan sama sedikit berbincang dengan Vanes." Ujar Dokter Anton jujur.
" Anda mau bernostalgia?" Selidik Farhan.
" Sedikit." Sahut Dokter Anton.
Mendengar suara Farhan sedang berbincang dengan seseorang Nesha turun perlahan dari ranjang, Ia menghampiri Farhan yang masih berdiri di depan pintu dengan pintu sedikit tertutup seperti menghalangi seseorang yang mau masuk.
" Siapa Mas?" Tanya Nesha.
Farhan menoleh ke arah Nesha membuat Nesha melihat seseorang yang berada di luar sana.
" Mas Anton? eh Dokter Anton." Nesha segera meralat ucapannya.
" Suruh masuk atuh Mas." Ujar Nesha.
Akhirnya dengan berat hati Farhan membiarkan Dokter Anton masuk ke dalam.
__ADS_1
" Mau visit atau...
" Mau ngobrol sama kamu, Kebetulan aku free jadi bolehlah ngobrol dulu sama kamu secara kita kan udah lama nggak ketemu." Ujar Dokter Anton tanpa memikirkan seseorang yang sedang menahan gemuruh di dadanya.
" Boleh... Silahkan duduk." Sahut Nesha membuat Farhan memejamkan matanya untuk meredam emosinya.
Nesha dan Dokter Anton duduk di sofa yang ada di ruangan itu di ikuti dengan Farhan yang duduk di samping Nesha sambil menggengam tangannya. Dokter Anton tersenyum melihatnya.
" Tidak perlu di genggam seperti itu Tuan, Saya tidak akan membawanya kabur kecuali kalau Vanesnya mau." Ucap Dokter Anton.
" Terserah saya donk istri istri saya." Sahut Farhan.
" Mass." Lirih Nesha.
" Apa sayang?" Tanya Farhan lembut.
" Oh ya Van gimana keadaan Mama kamu?" Tanya Dokter Anton.
" Van?" Tanya Farhan mengerutkan keningnya.
" Iya Van, Vanes kan?" Ujar Dokter Anton.
" Itu panggilan special dariku untuknya sejak kita masih kecil." Sambung Dokter Anton.
Farhan menatap tajam ke arah Dokter Anton.
" Mas udah telepon Mbak Nadia dulu sana keburu Gama kelaparan." Ucap Nesha.
" Kamu mengusirku?" Tanya Farhan tidak percaya.
" Hmpt..." Dokter Anton menahan tawanya.
" Apa Lo mau ngetawain gue?" Kesal Farhan.
" Ha ha ha... Sori Om kelepasan." Sahut Dokter Anton meninggalkan ucapan formalnya.
" Mas jangan keras keras entar Nathan bangun." Ujar Nesha.
" Ckk belain aja dia terus." Ujar Farhan pergi meninggalkan mereka dengan lerasaan dongkolnya.
Nesha hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kecemburuan suaminya.
" Suamimu posesif banget Van." Ucap Dokter Anton.
" Ya gitu saking sayangnya sama aku Mas." Sahut Nesha.
" Terpaut berapa umur kamu sama dia?" Tanya Dokter Anton.
" Sepuluh tahunan." Sahut Nesha.
" Menang banyak donk dia." Ujar Dokter Anton.
" Ya nggak juga sih Mas, Kan malah enak tuh dia bisa momong aku." Sahut Nesha.
" Kaya'nya kebalik deh, Eh gimana kabar Tante Ranti?" Tanya Dokter Anton.
" Alhamdulillah baik, Kapan kapan kalau lewat sana mampir Mas." Ucap Nesha.
" Iya deh kapan kapan, Sebenarnya aku mau pindah praktek di sini karena aku nyariin kamu, Pengin ngajak kamu ke KUA tapi sayang aku terlambat, Kamu melupakan perjanjian kita waktu itu." Ujar Dokter Anton.
" Janji?" Nesha mengerutkan keningnya.
"Ya janji jika kamu sudah berusia dua puluh dua tahun aku akan mendatangimu untuk meminangmu, Tapi kamu bahkan tidak peduli akan janji itu." Ujar Dokter Anton.
__ADS_1
" Maaf aku kira itu hanya janji palsu anak anak saja Mas, Jadi aku tidak begitu memikirkannya, Maaf untuk itu." Ucap Nesha.
" Padahal waktu itu kamu begitu serius menanggapinya, Ternyata kamu menganggapnya hanya angin lalu saja." Ujar Dokter Anton.
" Sudahlah Mas memang bukan jodoh kita juga, Lagian kamu juga nggak pernah kontek aku." Ujar Nesha.
" Iya waktu aku pindahan ponselku hilang, Jadi aku kehilangan nomer Tante Ranti, Yang terpenting kamu sudah bahagia sekarang." Sahut Dokter Anton.
" Iya Mas aku bahagia bersama keluarga kecilku." Sahut Nesha.
" Gimana keadaan putramu sekarang? Udah turun kan panasnya?" Tanya Dokter Anton.
" Iya Mas udah mendingan." Sahut Nesha.
" Syukurlah semoga cepet sembuh, Aku akan visit sore nanti, Aku pamit dulu." Ujar Dokter Anton.
" Iya Mas terima kasih." Sahut Nesha.
Dokter Anton keluar ruangan bersamaan denga Farhan yang masuk ke dalam. Keduanya hanya saling pandang lalu saling berlalu.
" Udah sembuh kangennya?" Tanya Farhan menghampiri Nesha.
" Apa sih Mas kok ngomongnya gitu." Ujar Nesha.
" Ya kan baru ketemu gebetan lama, Kalau belum puas nanti bisa di ulang lagi." Sahut Farhan.
" Iya tenang aja nanti dia ke sini lagi kok." Ucap Nesha membuat Farhan membulatkan matanya.
" Mau apa dia ke sini? Mau kangen kangenan lagi?" Selidik Farhan.
" Ya mau periksa Nathan lah Mas." Kekeh Nesha.
" Sama mau lihat kamu juga." Cebik Farhan.
" Ya nggak pa pa sambil menyelam minum air." Canda Nesha.
" Kamu ini nggak peka banget sih Yank." Kesal Farhan dengan wajah cemberut.
" Nggak peka gimana? Emang kamu kenapa?" Tanya Nesha pura pura.
" Tau ah." Sahut Farhan.
" Kenapa Om?" Goda Nesha.
" Om? Kamu ikut ikutan dokter ganjen itu?" Tanya Farhan tidak terima dirinya di anggap om om.
" Dokter Anton namanya bukan dokter ganjen Mas." Protes Nesha.
" Bela aja terus, Kaya'nya kamu ada rasa sama dia." Ucap Farhan.
" Ya iyalah ada rasa masa' sesama manusia nggak ada rasa kan nggak mungkin." Ucap Nesha.
" Ya ya ya terserah kamu saja, Kamu mau ngapain aja, Kamu mau ketemuan sama dia juga boleh, Kamu mau jalan sama dia jug...
Nesha membungkam mulut Farhan dengan bibirnya. Ia mencecap bibir Farhan lalu menggigit bibir bawahnya agar Farhan membuka mulutnya. Farhan membalas ciuman Nesha, Ia menahan tengkuk Nesha memperdalam ciumannya. Memang senjata paling ampuh untuk membuat pasangan kita diam adalah ciuman. ( Bilang aja benar ya jangan protes, Kalau istri yang ngomel senjata suami mah kasih bunga saldo yang banyak Bang )
TBC....
*Jangan lupa like vote hadiah dan komennya buat author ya...
Dukung juga karya author yang lainnya*..
__ADS_1
*Makasih...
Miss U All*...