Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
62. Ngidam Bareng


__ADS_3

Pagi hari Valen mengerjapkan matanya. Ia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Lima belas menit Ia keluar dari kamar mandi menghampiri Nathan yang masih meringkuk di atas ranjang.


" Mas." Panggil Valen mengguncang tubuh Nathan.


" Hmm." Gumam Nathan.


" Mas bangun." Ucap Valen.


" Ada apa sayang? Ini hari minggu Mas free." Sahut Nathan masih memejamkan matanya.


" Aku ingin makan es krim coklat sama bubur ayam yang ada di alun alun Mas." Ucap Valen.


Nathan langsung beranjak duduk sambil mengucek matanya. Ini permintaan pertama Valen kepadanya selama masa kehamilannya.


" Kamu menginginkan sesuatu dariku?" Tanya Nathan. Valen menganggukkan kepalanya.


" Baiklah aku mandi dulu sebentar ya." Ujar Nathan mencium pipi Valen.


Nathan turun dari ranjang, Ia berjalan menuju kamar mandi. Sambil menunggu Valen menyandarkan tubuhnya pada headboard sambil memainkan ponselnya. Ia membuka pesan dari Irvan yang di kirimkan kepadanya.


📲 Irvan


Ada seorang pria yang beberapa hari ini mengintaimu, aku masih menyelidiki siapa dia, berhati hatilah


" Seorang pria? Siapa ya?" Gumam Valen.


" Ada apa Yank?" Tanya Nathan yang baru keluar dari kamar mandi.


Aroma wangi sabun Nathan membuat Valen merasa tenang. Valen menghampiri Nathan lalu mengalungkan tangannya ke leher Nathan.


" Kenapa hmm?" Tanya Nathan.


" Rambut basah, tetesan air membuatmu nampak se**** Mas, aku tidak sadar kalau ternyata suamiku setampan ini." Ucap Valen mengelus pipi Nathan.


" Seharusnya kamu goda akunya tadi sebelum mandi sayang, biar aku nggak mandi lagi." Ujar Nathan.


" Emangnya mau apa? Kita kan mau pergi." Ujar Valen.


Valen menatap bibir mungil Nathan. Ia memajukan wajahnya lalu mencium bibir Nathan. Nathan membiarkannya, Ia justru senang dengan Valen yang agresif. Valen mencecap bibir Nathan, Ia menyusupkan lidahnya mengekspos setiap inchi mulut Nathan yang beraroma mint. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Keduanya saling menikmati manisnya ciuman yang Valen ciptakan pagi ini. Di rasa keduanya kehabisan nafas, Valen melepas pagutannya. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Sedangkan bibir Nathan, Ia usap dengan tisu di sebelahnya.


" Manis." Ucap Nathan.


" Aku memang selalu manis Mas." Sahut Valen.


" Jadi makan bubur?" Tanya Nathan.


" Jadi donk, dedeknya pengin makan bubur ayam sama eskrim coklat... Mmm Nyummy." Ucap Valen membayangkan betapa nikmatnya bubur ayam sama es krim coklat.


Nathan berlutut di depan perut Valen. Ia menempelkan telinganya ke perut Valen yang masih terlihat rata.


" Pagi sayangnya Daddy, udah lapar ya pengin makan bubur sama es krim sepagi ini, sehat sehat di dalam sini ya Daddy udah nggak sabar nunggu kamu lahir." Ucap Nathan mencium perut Valen.


" Nunggu enam bulan lagi Mas." Ujar Valen.

__ADS_1


" Kira kira mereka kembar nggak ya Yank?" Tanya Nathan.


" Mas... Biasanya kalau hamil kembar itu karna ada keturunan yang kembar sedangkan kita tidak punya keturunan kembar kan." Ujar Valen. Nathan menatap ke arah Valen.


" Iya kau benar, aku lupa jika aku bukan anak kandung Mami." Sahut Nathan sendu.


" Maaf Mas bukan maksudku seperti itu." Sesal Valen merasa bersalah.


" Tidak masalah sayang, aku juga kasihan sama kamu kalau mereka kembar, udah yuk keburu habis entar buburnya." Ajak Nathan merangkul bahu Valen.


" Mau naik mobil apa jalan?" Tawar Nathan.


" Jalan aja Mas, deket ini." Sahut Valen.


Nathan dan Valen berjalan sambil bergandengan tangan menuju alun alun kota yang tak jauh dari taman dekat rumahnya. Keduanya melihat sekeliling yang mulai ramai dengan orang orang yang sedang jogging.


" Ramai juga ya Mas." Ucap Valen.


" Iya, ingat nggak waktu kita ketemu saat jogging?" Tanya Nathan.


" Iya kamu kasih aku air minum." Sahut Valen.


" Aku nggak nyangka ternyata kamu jodohku Yank, kalau kamu nggak hadir dalam hidupku saat itu mungkin aku udah nikah sama Kavia." Ucap Nathan tanpa sadar.


Valen menghentikan langkahnya membuat Nathan ikut berhenti. Nathan menatap Valen sambil mengerutkan keningnya.


" Maksudmu aku yang menyebabkan pernikahanmu dengan Kavia gagal begitu? Kamu menyesal karna gagal menikahinya? Bukannya karna kamu mengalah sama Gama." Ketus Valen dalam mode on.


" Maaf sayang aku salah bicara, bukan begitu maksudku." Ujar Nathan merutuki kebodohannya. Ia memancing singa yang sedang kelaparan.


Valen menyentak kasar tangannya membuat genggaman Nathan terlepas.


" Bodo' ah." Ketus Valen kembali berjalan.


" Sayang tunggu, jangan ngambek donk." Ujar Nathan mengejar Valen.


Valen tidak bergeming, Ia terus berjalan tanpa menghiraukan Nathan yang terus membujuknya. Ia kesal karna Nathan mengungkit tentang masa lalunya yang membuat Valen sakit hati.


Tak jauh dari mereka seorang pria tersenyum smirk menatap mereka.


" Aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia, tunggu saatnya aku mengambil semuanya." Ujar pria itu.


Di tempat lain tepatnya di rumah Davian. Ria sedang muntah muntah di wastafel kamar mandinya.


Huek.... Huek...


Davian yang mendengarnya, beranjak pelan dari ranjang menghampiri Ria walau dengan langkah tertatih.


" Sayang kamu tidak apa?" Tanya Davian sambil memijat tengkuk Ria.


Huek.. Huek...


Ria membasuh mulutnya dengan air dan mengelapnya dengan tisu.

__ADS_1


" Minggir Mas ini sangat menjijikkan, lagian kamu juga masih sakit, tidurlah kembali maaf aku mengganggumu." Ucap Ria.


" Aku yang membuatmu seperti ini maka aku yang harus bertanggung jawab kan, aku tidak akan membiarkan kamu menanggung ini sendirian, apa sudah mendingan?" Tanya Davian.


" Lumayan Mas walau sedikit mual." Sabut Ria.


" Sayangnya Papa udahan ya muntahnya, kasihan Mama kalu muntah terus, anak Papa kan pintar jadi pasti menurut sama Papa kan." Ucap Davian mengelus perut Ria. Dan ajaib, rasa mual yang Ria rasakan hilang seketika. Seolah bayi dalam kandungannya mengerti apa yang Davian ucapkan.


" Mualnya langsung hilang Mas." Ujar Ria.


Davian tersenyum manis ke arah Ria, Ia merapikan anak rambut Ria.


" Itu tandanya anak kita pengertian dan menurut pada orang tuanya." Sahut Davian.


" Ayo kita keluar." Ajak Davian.


" Iya Mas, hati hati aku bantu." Sahut Ria.


Ria menuntun Davian menuju ranjang. Davian menyandarkan tubuhnya pada headboard.


" Mas lukamu masih terlihat memar, ini pasti sangat sakit ya." Ucap Ria.


" Udah mendingan kok, jangan khawatir minum obat sekali lagi pasti sembuh kok, apalagi kemarin Luci membelikan obat yang ampuh untuk mengobati luka ini." Sahut Davian.


" Mas bolehkah aku bicara sesuatu?" Tanya Ria duduk di tepi ranjang menatap Davian.


" Apa itu sayang? Katakanlah." Ujar Davian.


" Mas sebenarnya aku menginginkan sesuatu, entah kenapa aku sangat menginginkannya sekarang juga." Ujar Ria.


" Katakan kau menginginkan apa hm? Aku pasti akan memberikannya untukmu sayang." Ucap Davian mengelus pipi Ria.


" A.... Aku... Aku ingin...." Ucap Ria sedikit gugup.


" Apa? Katakan saja! Kenapa kamu ragu?" Ujar Davian.


" Emmmm aku... aku ingin itu.." Ucap Ria.


Davian mengerutkan keningnya menatap Ria.


" Ingin itu? Ingin apa?" Tanya Davian tidak mengerti.


" Aku ingin...


Hayo tebak Ria ingin apa ya????


Ha ha ha Author juga tidak tahu.....


Jangan lupa like dan komentnya ya.....


Terima kasih untuk para reader yang sudah mensuport author, semoga sehat selalu...


Miss U All

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2