Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
135. Menanti Babby Kedua


__ADS_3

Lima tahun berlalu....


Hari ini Erald mulai masuk ke sekolah dasar. Selama lima tahun ini hari hari telah Valen lalui dengan penuh kebahagiaan. Saat ini Valen telah mengandung anak keduanya, usia kandungan Valen menginjak sembilan bulan.


" Mami." Panggil Erald menghampiri Valen yang sedang memasak di dapur.


" Eh anak Mami udah siap masuk sekolah." Sahut Valen menatap Erald yang sudah rapi dengan seragamnya.


" Iya donk Mi." Sahut Erald.


" Siapa yang memakaikan seragamnya?" Tanya Valen.


" Papi lah Mi, kan Erald belum bisa memakai dengan benar.." Sahut Erald.


Ya semenjak Valen hamil yang kedua, semua kebutuhan dan keperluan Erald Nathan lah yang mengurusnya. Nathan tidak mau kalau sampai Valen kecapekan, apalagi saat usia kehamilan Valen tiga bulan, Valen mengalami pendarahan ringan.


" Besok udah harus bisa memakai seragam dengan benar dan rapi ya." Ujar Valen.


" Tentu Mi." Sahut Erald.


" Mami mana sarapan Erald?" Tanya Erald duduk di meja makan.


" Sebentar ya Mami tata dulu di piring." Ujar Valen menata makanannya di atas piring. Lalu Ia meletakkannya di atas meja makan.


" Sekarang makanlah yang banyak biar nanti di sekolah bisa berpikir dengan baik, jadi anak pintar ya sayang." Ucap Valen.


" Baik Mi, Erald akan makan banyak." Sahut Erald.


" Papi sedang apa sayang?" Tanya Valen.


" Papi di sini Mi." Sahut Nathan menghampiri Valen.


" Pagi istriku tercinta." Sambung Nathan mencium kening Valen.


" Pagi Mas." Sahut Valen.


" Anak Papi gimana nih kabarnya? Rewel nggak Yank?" Tanya Nathan mengelus perut buncit Valen.


" Enggak Mas, dedeknya baik baik saja kok dia kan anak yang baik jadi nggak rewel." Sahut Valen.


" Sama kaya' Abang kan Mi?" Tanya Erald.


" Iya sayang Abang Erald kan memang anak yang baik." Sahut Valen.


" Duduk dulu Mas, aku ambilkan makanan dulu." Ucap Valen.


" Biar aku aja Yank, kamu duduk aja sini." Sahut Nathan menuntun Valen untuk duduk di kursi.


" Makasih Mas." Sahut Valen.


Nathan mengambilkan makanan ke dalam piring Nathan, lalu Ia meletakkannya di depan Valen.


" Mau Mas suapi apa mau makan sendiri?" Tanya Nathan menatap Valen.


" Makan sendiri aja Mas, kamu kan juga harus makan nanti keburu terlambat mengantar ke sekolahnya." Sahut Valen mulai menyuapkan makanannya.


" Baiklah." Sahut Nathan.


Ketiganya makan dengan khidmat sampai....


" Awh Mas." Rintih Valen memegangi perutnya.


" Kenapa yank? Apa perutmu terasa sakit?" Tanya Nathan meletakkan sendoknya lalu mendekati Valen.


" Perutku rasanya sakit seperti mulas gitu Mas." Sahut Valen.


" Jangan jangan kamu mau melahirkan sayang." Tebak Nathan.

__ADS_1


" Masa' sih Mas? Kan hplnya dua mingguan lagi." Ujar Valen.


" Ya kan bisa maju sayang, kalau misalkan dedeknya mau keluar masa' harus nunggu tanggal perkiraan dulu, kamu ini ada ada aja." Kekeh Nathan.


" Mami kenapa? Apa dedeknya udah mau lahir?" Tanya Erald mendekati Valen dan Nathan.


" Sepertinya begitu sayang." Sahut Nathan.


" Yei.... Dedek Abang mau lahir." Sorak Erald.


" Awh Mas... Kenapa tambah sakit ya?" Ujar Valen mengusap usap perutnya.


Nathan berlutut di depan Valen. Ia mengelus perut Valen dengan lembut berharap bisa mengurangi rasa sakitnya.


" Sayangnya Papi.... Jangan buat Mami kesakitan ya, kasihan Mami entar nangis gimana." Ujar Nathan.


" Shhhhh." Desis Valen.


" Kita ke rumah sakit sayang." Ujar Nathan.


" Iya Mas." Sahut Valen.


" aku ambil kopernya dulu ya." Ucap Nathan.


" Iya Mas." Sahut Valen.


" Terus Erald gimana Pi? Erald mau ikut Papi sama Mami aja ke rumah sakit, Erald mau nungguin adek bayi lahir." Ujar Erald.


Nathan menatap Valen seolah mmeminta pendapat Valen, Valen menganggukkan kepalanya.


" Baiklah sayang sekarang ganti bajunya ya, nanti Papi akan menelepon gurumu di sekolah untuk meminta ijin." Sahut Nathan.


" Baik Pi." Sahut Erald.


" Ayo kita ganti baju dulu." Ucap Nathan.


Nathan menggandeng Erald menuju kamarnya untuk mengganti baju Erald sedangkan Valen masih sibuk dengan dunianya. Ia mengelus punggung dan perutnya yang semakin sakit. Ia meringis kesakitan.


Nathan menuntun Valen menuju mobilnya di ikuti Erald dari belakang. Setelah ketiganya masuk ke dalam mobil, Nathan melajukan mobilnya menuju rumah sakit ibu dan anak dengan kecepatan sedang.


Lima belas menit kemudian, mobil Nathan sampai di rumah sakit kasih ibu. Nathan membuka pintu mobilnya, Ia menggendong Valen.


" Erald sayang ikuti Papi ya jangan sampai pisah dari Papi." Ucap Nathan.


" Iya Pi." Sahut Erald.


Nathan berjalan sambi menggendong Valen menuju ruang UGD.


" Tolong istri saya Sus." Ucap Nathan.


" Istri anda kenapa Pak?" Tanya Suster memastikan.


" Sepertinya istri saya mau melahirkan." Sahut Nathan.


" Baik Pak silahkan tunggu di luar dulu, Dokter akan memeriksanya." Ujar Suster.


" Baik Sus." Sahut Nathan.


" Ayo sayang kita tunggu di luar ya." Ucap Nathan menggandeng Erald.


" Mi Erald menunggu di luar ya, Mami baik baik di sini semoga dedek bayinya cepat lahir." Ucap Erald.


" Iya sayang, terima kasih doanya." Sahut Valen.


" Semangat sayang." Ucap Nathan mencium kening Valen.


" Makasih Mas." Sahut Valen.

__ADS_1


Nathan dan Erald keluar dari ruang UGD. Keduanya duduk di kursi tunggu.


Drt.... Drt... Drt...


Ponsel Nathan berdering tanda panggilan masuk. Ia menatap ID pemanggil yang tak lain adalah Mami Nesha.


" Halo assalamu'alaikum Mi." Ucap Nathan setelah mengangkat panggilannya.


" Wa'alaikumsallam Bang, kalian dimana? Kok Mami ke rumah kalian, kalian tidak ada." Tanya Mami Nesha.


Ya... Satu tahun yang lalu Nathan pindah ke rumah yang Ia beli untuk Erald. Awalnya Mami Nesha melarangnya namun Nathan membujuknya dengan penuh rayuan, padha akhirnya Mami Nesha mengijinkannya. Ia berjanji jika Ia akan kembali ke rumah Mami Nesha jika Erald sudah menikah.


" Kami sedang di rumah sakit Mi, Valen mau melahirkan." Sahut Nathan.


" Ah syukurlah semoga lancar persalinannya Bang, Mami sama Papi akan segera ke sana, assalamu'alaikum." Ujar Mami Nesha.


" Iya Mi Abang tunggu, wa'alaikumsallam." Sahut Nathan mematikan sambungan teleponnya.


" Apa Oma mau ke sini Pi?" Tanya Erald.


" Iya sayang." Sahut Nathan kembali duduk di samping Erald.


Ceklek....


Suster membuka pintunya membuat Nathan menghampirinya.


" Bagaimana dengan istri saya Sus?" Tanya Nathan.


" Istri Bapak memang mau melahirkan, pembukaannya juga hampir sempurna jadi kami harus memindahkan ke ruang persalinan ya Pak." Sahut Suster.


" Boleh saya menemaninya di dalam ruang persalinan Sus?" Tanya Nathan.


" Boleh Pak, tapi maaf anak kecil tidak di perbolehkan masuk ke sana." Ucap Suster melirik ke arah Erald.


" Tidak pa pa Sus, Erald akan menunggu di luar saja." Sahut Erald.


" Baiklah." Sahut Suster.


Suster mendorong brankar Valen menuju ruang persalinan di ikuti Nathan dan Erald dari belakang.


" Sayang kamu nggak pa pa nunggu di sini sendirian?" Tanya Nathan.


" Tidak pa pa Pi, sudah Papi temenin Mami aja di dalam, kan sebentar lagi Oma kesini." Ujar Erald.


" Baiklah sayang, pegang ponsel Papa kalau nanti Oma menelepon kasih tahu Oma kalau Mami di sini ya." Ucap Nathan memberika ponselnya kepada Erald.


" Siap Pi." Sahut Erlad.


Nathan masuk ke dalam menemani sekaligus memberi kekuatan untuk Valen berjuang melahirkan pewaris ke dua keluarganya sedangkan Erald duduk di kursi tunggu yang sudah tersedia.


" Ya Allah kuatkanlah Mami Erald melahirkan dedek bayi, selamatkan Mami sama dedek bayinya ya Allah." Doa Erlad.


" Amin." Sahut Mami Nesha.


" Oma." Ucap Erald dengan mata berbinar.


" Iya sayang, kamu berani ya menunggu sendirian di sini." Ujar Mami Nesha.


" Erald sekarang mau jadi Abang, jadi Erald harus berani kan Oma." Sahut Erald.


" Pinter kamu." Sahut Mami Nesha mencium pipi Erald.


Kini keluarga Ardiansyah sedang menanti kelahiran putra kedua dari Valen. Mereka berharap Valen dan anaknya baik baik saja.


TBC.....


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya.... Biar author semakin semangat....

__ADS_1


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu....


Miss U All....


__ADS_2