Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
Berita Duka


__ADS_3

Seminggu berlalu Nesha sudah menghilangkan rasa marahnya kepada Jordan tapi Ia sedikit memberi jarak pada hubungan keduanya tidak serekat dulu lagi. Nathan masih takut jika bertemu Jordan, Ia lebih memilih mengurung diri di dalam kamarnya. Walaupun Jordan Papa kandungnya tapi bagi Nathan Jordan tetap orang lain karena yang dia tahu dan dia rasakan Papa kandungnya adalah Farhan.


Hari ini Nesha menjenguk Sifa yang sedang di rawat di rumah sakit. Kandungan Sifa rewel, Ia muntah berlebihan hingga membuat tubuhnya lemas tak berdaya. Bahkan Jordan tak kuasa melihat masa ngidam istrinya yang seperti itu.


Ceklek....


Nesha membuka pintunya, Ia melongok ke dalam memastikan apakah benar ini kamar Sifa atau bukan. Nampak Sifa terbaring lemah di atas brankar dengan jarum infus yang menancap pada punggung tangannya.


" Nesha silahkan masuk." Lirih Sifa masih terdengar oleh telinga Nesha.


Nesha berjalan menghampirinya, Ia duduk di kursi samping ranjang.


" Gimana keadaanmu?" Tanya Nesha menatap wajah pucat sahabatnya.


" Aku baik baik saja Nes, Makasih udah datang aku kira kamu masih marah sama aku." Sahut Sifa.


" Apa sih kamu ini, Jelas aku datanglah lah aku kan sahabatmu." Ujar Nesha.


" Kamu sendiri?" Tanya Sifa.


" Iya, Nathan belum mau aku ajak ketemu kamu, Maaf ya nanti akan aku bujuk lagi." Ucap Nesha seakan tahu siapa yang di cari Sifa.


" Nggak pa pa, Mungkin dia masih takut sama Mas Jordan." Sahut Sifa.


" Eh kamu Nes, Sendirian?" Tanya Jordan yang baru keluar dari kamar mandi. Sepertinya Jordan habis mandi karena rambutnya masih basah.


" Iya Kak." Sahut Nesha singkat.


" Nathan tidak ikut?" Jordan bertanya lagi berharap Nesha mau menjawabnya dengan panjang lebar.


" Tidak." Sahut Nesha membuat Jordan menghela nafasnya.


Begitulah naluri seorang ibu apalagi seorang ibu yang begitu menyayangi putranya seperti Nesha. Ia menjaganya bak berlian yang takut kotor karena debu tiba tiba terluka karen bentakan dari Papa kandungnya. Walaupun sebagian orang berpikir Nesha lebay atau berlebihan tapi itulah Nesha.


" Apa Nathan masih takut padaku? Dia masih marah padaku hingga dia tidak mau bertemu denganku?" Tanya Jordan.


" Mungkin." Sahut Nesha singkat.


" Oh ya Sif apa kamu masih terus muntah setiap paginya?" Tanya Nesha mengalihkan pembicaraan.


" Iya Nes, Kata dokter ini bawaan bayi Nes, Apa kamu dulu seperti ini juga?" Tanya Sifa.


" Enggak terlalu sih cuma sekali dua kali aja." Sahut Nesha.

__ADS_1


" Mas ke kantin dulu ya Yank, Nes titip Sifa ya aku mau sarapan dulu." Ujar Jordan.


" Hmm." Gumam Nesha.


Jordan pergi meninggalkan mereka berdua.


" Kamu masih marah sama Mas Jordan karna waktu itu Nes?" Tanya Sifa setelah kepergian Jordan.


" Enggak Sif tapi aku masih enggan untuk ngobrol seperti dulu lagi." Ujar Nesha.


" Itu namanya kamu masih marah sama dia Nes, Gimana sih." Kekeh Sifa.


" Kau tahu kan Sif, Saat saat Nathan sakit saat Nathan koma, Bahkan aku selalu menjaga dan menyayanginya segenap jiwa dan ragaku sendiri, Bahkan sampai sekarang aku tidak pernah membeda bedakan antara Nathan dan Gama." Ujar Nesha.


" Iya aku tahu Nes." Sahut Sifa.


" Entah mengapa rasanya sakit dan aku nggak terima kalau ada yang ngebentaknya apalagi sampai membuatnya takut Sif, Aku tahu Kak Jordan ayah kandungnya, Dia lebih berhak atas Nathan dari pada aku, Tapi Kak Jordan tidak tahu bagaimana perjuanganku untuk menjadi seorang ibu yang baik untuk anak yang bukan darah dagingku sendiri, Itulah sebabnya aku enggan berbicara dengannya, Aku kecewa padanya karena dia tidak bisa memahami sikap Nathan dan lebih mementingkan egonya." Jelas Nesha sambil mengusap air matanya.


" Iya Nes aku juga merasakannya walau tak sedalam yang kamu rasakan, Kamu memang wanita hebat, Nathan lebih pantas bersamamu dari pada bersamaku, Aku takut tidak bisa melakukan hal seperti yang kamu lakukan pada Nathan selama ini, Aku titip putraku bersamamu, Aku yakin dia pasti akan lebih bahagia bersamamu di bandingkan denganku." Ujar Sifa menggenggam tangan Nesha.


" Untuk saat ini biarkan dia bersamaku, Jika sudah dewasa nanti aku akan memberitahu yang sebenarnya kepadanya, Biarkan dia yang memilih mau tetap bersamaku atau berpaling kepadamu yang keluarga kandungnya." Jelas Nesha.


" Makasih Nes, Semoga Nathan bisa melawan rasa takutnya supaya dia tetap dekat dengan Papanya." Ujar Sifa.


" Amien makasih doanya Nes." Sahut Sifa.


Nesha melirik jam yang melingkar di tangannya. Jam sepuluh.


" Kalau begitu aku pulang dulu Sif, Waktunya Gama tidur, Nathan pasti juga sudah menungguku aku berjanji untuk mengajarinya menggambar bebek." Ujar Nesha.


" Iya Nes silahkan, Sampaikan salamku untuk Nathan dan Gama." Sahut Sifa.


" OK." Sahut Nesha.


Nesha berjalan menuju lobby rumah sakit, Saat Ia hendak keluar tiba tiba tangannya di cekal oleh seseorang.


" Lepaskan." Bentak Nesha menarik tangannya tapi Nesha kalah tenaga. Ia mendongak menatap wajah pria yang mencekal tangannya.


" Rendi?" Gumam Nesha.


" Ikut aku, Aku ingin bicara sesuatu padamu." Ucap Rendi menarik tangan Nesha.


" Lepas Ren kau menyakitiku." Pekik Nesha.

__ADS_1


Mendengar wanita yang di cintainya memekik kesakitan Rendi segera melepas cekalannya.


" Kita mau kemana? Selesaikan urusanmu saat ini juga dan jangan pernah temui aku lagi." Ujar Nesha.


" Di taman aja ayo." Ucap Rendi.


Nesha mengikuti Rendi dari belakang. Biarkan Rendi menyelesaikan urusannya hari ini karena Ia jika Ia menghindar Rendi pasti akan selalu mengejarnya. Pikir Nesha.


Mereka menuju taman yang tak jauh dari sana. Keduanya duduk di kursi di bawah pohon yang rindang.


" Mau bicara apa? Aku tidak punya waktu karena saat ini putraku sedang menungguku di rumah." Ucap Nesha.


" Arnold meninggal." Ucap Rendi.


" Apa?" Pekik Nesha menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


" Arnold meninggal? Kapan? Bagaimana bisa dia meninggal? Bukankah dia berada di rumah sakit?" Nesha memborbardir Rendi dengan pertanyaan.


" Kemarin dia bunuh diri." Sahut Rendi.


" Apa???? Kenapa?" Tanya Nesha masih dengan kekagetannya.


" Petugas lalai dalam menjaganya, Ia mencuri ponsel milik salah satu petugas di sana yang baru saja di gunakan, Ia membuka akun sosmed milikmu dan dia melihat postinganmu bersama keluarga kecilmu, Dia merasa frustasi dia menganggap kamu mengkhianatinya, Apalagi kamu tidak pernah datang menjenguknya padahal setiap hari dia selalu menantikan kedatanganmu." Jelas Rendi menghela nafasnya mengingat akhir akhir ini dia menjadi teman curhat Arnold.


" Ya Tuhan." Gumam Nesha.


" Di saat dia berjuang demi kesembuhannya agar bisa bersamamu justru kamu sudah bahagia bersama orang lain, Dia merasa sakit hati karena di khianati olehmu Nes....Itu sebabnya dia gant*** diri menggunakan kabel yang ada di ruangannya." Ujar Rendi.


Tubuh Nesha luruh ke bawah di atas rerumputan. Dadanya sesak menahan emosi yang tidak bisa Ia keluarkan. Bagaimana bisa seseorang rela menghabisi dirinya sendiri karena dirinya. Bahkan selama ini Nesha lupa dengan seseorang yang selalu mengharap kedatangannya. Ia justru hidup bahagia bersama keluarga kecilnya. Air mata Nesha tumpah dengan derasnya.


" Hiks... Hiks... Arnold... Maafkan aku, Maafkan aku karena aku melupakanmu." Isak Nesha memukul dadanya berharap sesaknya akan hilang.


" Tenanglah Nes." Ucap Rendi memeluk Nesha.


Nesha tidak menolak tanpa berpikir panjang Ia menangis dalam pelukan Rendi hingga membuat kemeja Rendi basah karena air matanya. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang mengepalkan tangannya melihat kebersamaan mereka berdua.


" Apa yang kamu lakukan di sini sayang?"


TBC....


*Hari ini dikit aja ya.. Author lagi demam di sertai flu...


Jangan lupa like vote dan komentnya donk.. Jangan pada unfav ya.... Authornya akan kecewa nih.. Author sudah berusaha membuat cerita yang menghibur para readers... Maaf jika mengecewakan...

__ADS_1


Miss U All*


__ADS_2