
Pagi ini Nesha bangun lebih pagi dari biasanya, Ia segera pergi ke dapur memasak sarapan untuk mereka semua. Mbak Nadia membantu bersih bersih rumah. Setelah selesai Nesha segera kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Nesha merendam tubuhnya pada bath up berharap bisa menghilangkan rasa ngantuknya.
Farhan mengerjapkan mata Ia meraba kasur di sampingnya... Kosong. Farhan segera turun ke bawah mencari Nesha. Saat sampai di dapur Farhan merasa heran karena di meja makan sudah tersaji berbagai makanan.
" Mbak siapa yang memasak semua makanan ini?" Tanya Farhan kepada Mbak Nadia yang sedang mengepel lantai.
" Nyonya... Tuan." Sahut Mbak Nadia.
" Sekarang dimana istriku?" Farhan kembali bertanya.
" Nyonya kembali ke kamar Tuan sepertinya tadi mau mandi." Ujar Mbak Nadia.
" Baiklah makasih Mbak... Bantu urus Nathan seperti biasa ya Mbak." Ucap Farhan.
" Baik Tuan." Sahut Mbak Nadia.
Farhan kembali ke kamarnya, Ia mendekati kamar mandi. Ada suara gemericik air tapi tidak ada suara pergerakan seperti orang mandi. Farhan membuka pintunya, Ia masuk ke dalam dan...
" Astaga sayang....." Ucap Farhan menghampiri Nesha yang tertidur di dalam bath up dengan air kran yang masih mengalir.
Farhan mematikan kran airnya, Lalu membuka saluran pembuangan air pada bath up.
" Sayang...." Farhan menepuk pelan pipi Nesha.
Nesha mengerjapkan mata, Ia menatap wajah Farhan yang ada di depannya. Nesha baru sadar kalau ternyata Ia tertidur di dalam bath up. Nesha segera beranjak memakai bathrobenya mengabaikan Farhan.
" Keluarlah Mas." Titah Nesha dingin.
Farhan melangkahkan kakinya keluar kamar mandi. Sedangkan Nesha membilas tubuhnya dengan air shower. Setelah selesai Ia segera keluar dan menuju kamar ganti. Farhan hanya menatapnya saja, Ia segera masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama kemudian,
Ceklek....
Farhan keluar kamar mandi dengan memakai handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya saja. Ia menghampiri Nesha yang sedang berdandan di depan cermin. Farhan mengalungkan tangannya ke leher Nesha menyandarkan dagunya ke bahu Nesha.
" Sayang..... Lain kali jangan paksakan dirimu untuk bangun pagi lagi, Coba kalau tadi aku nggak mencarimu, Kamu bisa kenapa napa di dalam sana sayang..., Bersikaplah seperti biasanya, Biarkan aku yang mengerjakan semuanya." Ucap Farhan mencium pucuk kepala Nesha.
" Itu sudah menjadi tugasku, Baju dan sarapan sudah aku siapkan." Sahut Nesha menurunkan tangan Farhan dari lehernya.
Nesha berjalan keluar kamar membuat Farhan menghela nafasnya pelan. Nesha masuk ke dalam kamar Nathan. Ia menghampiri Nathan yang sedang di pakaikan baju oleh Mbak Nadia.
" Mbak biar aku saja, Mbak Nadia bisa mengerjakan yang lainnya." Ucap Nesha.
" Baik Non." Sahut Mbak Nadia meninggalkan kamar Nathan.
" Mami.... Mami dah banun?" Tanya Nathan.
" Iya sayang.... Sini Mami bantu." Ujar Nesha.
Nesha mendandani Nathan hingga rapi.
" Dah selesai anak Mami sekarang udah wangi dan siap berangkat sekolah, Ayo kita turun untuk sarapan dulu." Ucap Nesha.
" Bental Mi." Ucap Nathan.
Nathan berdiri di atas ranjang lalu memeluk Nesha menempelkan telinganya pada perut Nesha.
" Hallo dedek.... Dedek lagi apa di dalam pelut Mami? Bang Athan mau sekolah dulu ya.. Bial besok Bang Athan bisa mengajali dedek... Mmuahhh." Ucap Nathan mencium perut Nesha membuat Nesha terharu.
" Baik Abang... Abang cekolah yang pintel ya.." Sahut Nesha menirukan suara anak kecil.
" Sekarang waktunya......" Sambung Nesha menggantung ucapannya.
" Sarapan..." Sahut Farhan menghampiri mereka, Nesha memutar bola matanya malas.
" Pagi sayang..." Cup... Sapa Farhan mencium pipi Nesha.
" Hmmm." Gumam Nesha.
" Pagi Papi.." Sapa Nathan.
" Pagi." Farhan menunduk mencium pipi Nathan begitupun sebaliknya.
" Ayo kita sarapan." Ajak Farhan.
Nesha berjalan mendahului Farhan yang berjalan sambil menggandeng tangan Nathan. Mereka menuju ruang makan. Di ruang makan Nesha segera mengambilkan makanan untuk Farhan dan Nathan. Sebelum makan mereka tidak lupa untuk berdoa lebih dulu.
__ADS_1
" A' sayang." Ucap Nesha menyodorkan sesendok makanan ke arah Nathan.
" Kamu juga donk Yank." Ucap Farhan menyodorkan sendoknya ke mulut Nesha.
"Aku belum lapar." Tolak Nesha. Farhan menghela nafasnya, Nafsu makannya tiba tiba menjadi hilang. Ia menyendok makanan dengan malas.
Nathan menerima suapan demi suapan dari Nesha hingga makanan di atas piringnya habis tak tersisa.
" Pinternya anak Mami, Sekarang minum dulu." Nesha membantu Nathan minum dari gelasnya.
" Ayo berangkat." Ucap Nesha.
" Kamu mau kemana Yank?" Tanya Farhan memastikan.
" Mau mengantar Nathan, Memangnya mau kemana lagi?" Ucap Nesha balik bertanya.
" Nggak usah kamu di rumah saja, Biar Mas saja yang mengantar Nathan, Kamu istirahat." Ujar Farhan menyelesaikan makannya.
" Ini juga tugasku." Sahut Nesha.
"Mbak Nadia...." Panggil Farhan.
" Iya Tuan." Sahut Mbak Nadia dari kejauhan. Ia segera menghampiri majikannya.
" Ajak Nathan ke depan dulu Mbak, Saya ada perlu sama istriku." Ucap Farhan.
" Baik Tuan... Ayo Den." Ucap Mbak Nadia menggandeng tangan Nathan.
Nesha hendak berjalan tapi Farhan sudah mencekal tangannya.
" Kamu masih marah sama Mas?" Tanya Farhan menatap Nesha.
" Buat apa aku marah padamu?" Nesha balik bertanya.
" Karna ucapanku kemarin pada Jordan, Aku sudah meminta maaf padamu sayang....Bukan maksudku membanding bandingkan kamu dengan Vera... Mau bagaimanapun kamu jauh lebih baik di banding dirinya, Maafkan aku... Ku mohon jangan bersikap seperti ini, Setiap aku melarangmu kamu selalu bilang ini tugasku, Sudah tugasku.... Kali ini menurutlah sayang... Aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu dan anak kita."Ujar Farhan menyentuh perut Nesha.
" Dimana letak kesalahan yang aku ucapkan? Bukankah benar jika semua yang aku lakukan itu memang tugasku? Sudah menjadi kewajibanku mengurusmu dan Nathan, Aku tidak mau menjadikanmu budakku." Sahut Nesha.
Farhan menarik tubuh Nesha hingga masuk ke dalam pelukannya.
" Jangan seperti ini sayang.... Biarkan aku ikut andil melakukan tugasmu selama kehamilanmu, Aku ingin kamu bedrest, Aku tidak ingin kamu kecapekkan." Ucap Farhan.
" Sayang tunggu....." Ucap Farhan menghentikan langkah Nesha. Farhan menghampiri Nesha, Ia genggam tangan Nesha.
" Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku hmmm? Apa yang harus aku lakukan supaya kamu tidak bersikap dingin lagi padaku? Aku tidak nyaman jika kamu mendiamkan aku seperti Yank... Maafkan aku sekali lagi..." Ujar Farhan mengelus pipi Nesha.
" Aku memaafkanmu Mas.. Kamu tidak bersalah, Aku lah yang bersalah di sini." Sahut Nesha.
" Jangan seperti itu, Maafkan aku atas ucapanku yang menyinggung perasaanmu, Maafkan Mas ya...Sudah donk marahnya. " Ucap Farhan menangkup wajah Nesha. Nesha menatap mata Farhan dengan perasaan yang entah. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya Ia rasakan. Apakah karna hormon kehamilan atau karena dirinya yang cengeng kini justru Nesha menangis karena merasa bersalah telah mengabaikan suaminya. Suami yang Ia cintai dan Ia sayangi.
" Jangan menangis." Ucap Farhan menghapus air mata Nesha.
" Hiks... Maafkan aku Mas... Entah mengapa rasanya hatiku begitu perih saat mendengar kamu membandingkan aku dengan mantan istrimu, Maafkan aku yang bersikap kekanakkan, Maafkan aku yang selalu merepotkanmu, Bukan aku sengaja bermalas malasan Mas, Aku juga tidak tahu mengapa akhir akhir ini aku sering mengantuk di pagi hari." Ucap Nesha memeluk Farhan.
" Tidak masalah sayang ini biasa terjadi pada Ibu hamil, Mungkin bawaan bayi kita sayang... Jangan marah lagi ya..." Ujar Farhan. Nesha menganggukkan kepalanya.
" Terima kasih." Farhan mengecup kening Nesha.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak jauh beda dengan Jordan dan Sifa, Saat ini mereka sedang sarapan, Sudah terhitung dua hari sejak kemarin Jordan dan Sifa saling mendiamkan. Mereka bahkan tidak bertegur sapa, Jordan kesal karena ucapan Sifa sedangkan Sifa memang ingin menguji Jordan. Apakah Jordan akan tetap bungkam dan terus mendiamkannya? Atau Jordan akan membujuknya? Pikir Sifa.
Drt....Drt....
Ponsel Sifa berdering tanda panggilan masuk. Sifa menatap ID pemanggil, Ia melirik ke arah Jordan yang saat ini juga sedang menatapnya. Sifa segera mengangkat panggilannya.
" Hallo say....." Sapa Sifa sambil berjalan menjauh dari Jordan.
............
" Ah iya sayang aku akan segera ke sana, Tunggu setengah jam lagi aku lagi, Aku masih sarapan." Ucap Sifa
.......................
" Miss U.. Bye...." Ucap Sifa menutup panggilan teleponnya. Saat Sifa membalikkan badannya tiba tiba...
__ADS_1
Brugh...
Sifa menubruk tubuh Jordan.
" Awh..." Rintih Sifa mengusap dahinya.
" Siapa?" Selidik Jordan menarik tubuh Sifa membuat tubuh keduanya menempel.
" Siapa apanya?" Sifa balik bertanya.
" Siapa yang meneleponmu? Kekasihmu? Kamu punya selingkuhan di belakangku? Kamu mengkhianatiku? Kamu menduakan cintaku?" Jordan memberondong Sifa dengan pertanyaan.
" Bukannya kebalik? Bukankah kamu yang memiliki wanita lain di belakangku? Bahkan kamu berjanji akan menikahinya, Benar begitu Tuan Jordan?" Tanya Sifa menatap tajam ke arah Jordan.
" Aku sudah bilang kalau aku tidak ada hubungan apa apa dengannya Yank... Tapi kamu justru mau cari pria lain di belakangku." Ujar Jordan.
" Yakin Kamu tidak ada hubungan sama wanita itu?" Tanya Sifa.
" Iya sayang, Aku hanya mencintaimu dan aku hanya menikahimu tidak ada wanita lain dalam hati dan hidupku." Sahut Jordan mengelus pipi Sifa.
" Kamu belum menjawab pertanyaanku." Ujar Jordan.
" Pertanyaan yang mana?" Tanya Sifa.
" Kamu selingkuh dariku?" Tanya Jordan.
" Tanpa aku menjawabnya kamu sudah tahu jawabannya." Sahut Sifa.
" Kamu benar benar menduakan aku?" Lirih Jordan.
" Terserah apa yang kamu pikirkan Mas, Minggir aku mau pergi, Aku sudah di tunggu." Ujar Sifa.
" Tidak boleh.... Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan aku bersama pria lain." Sahut Jordan memeluk Sifa.
" Maafkan aku.... Sudahi semua kesalah pahaman ini sayang.... Aku tidak sanggup berjauhan darimu, Aku tidak sanggup di abaikan olehmu... Maafkan aku." Ucap Jordan.
" Lepas ih... Aku tidak punya banyak waktu, Aku sudah di tunggu juga." Ujar Sifa melepas pelukannya.
" Tidak.... Kau tidak boleh menemui pria itu, Segera putuskan dia atau kalau tidak aku akan menghabisinya." Ucap Jordan mencekal tangan Sifa.
" Pria yang mana?" Tanya Sifa.
" Pria yang meneleponmu." Sahut Jordan.
" Pria ini maksudmu." Sifa menunjukkan riwayat panggilan telepon terakhirnya kepada Jordan.
" Nesha?????" Jordan mengerutkan keningnya, Ia menatap ke arah Sifa.
" Jadi kamu ngerjain aku?" Tanya Jordan.
" Biar kamu tahu rasa dan mau bicara duluan." Sahut Sifa.
" Jahat kamu ya.." Ucap Jordan menggelitik perut Sifa.
" Ha..ha... ha... Mas... Geli Mas.." Ucap Sifa.
" Tidak akan aku ampuni." Ujar Jordan memeluk Sifa dari belakang sambil terus menggelitik perut Sifa membuat Sifa tertawa.
" Udah Mas... Udah... Stop... Aku marah lagi nih." Ujar Sifa. Jordan langsung menghentikan gelitikkannya. Ia memeluk Sifa dari belakang menyandarkan dagunya pada bahu Sifa.
" Minggir Mas... Nesha udah nungguin." Ucap Sifa.
" Baiklah sayang kali ini kamu lolos, Tapi nanti malam tidak." Ujar Jordan melepas pelukannya.
" Siap...." Sahut Sifa.
" Beneran ya.... Aku tagih janjimu." Ucap Jordan.
" Aku berangkat dulu Mas... " Cup.. Sifa mencium pipi Jordan.
" Assalamu'alaikum." Ucap Sifa.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Jordan.
TBC.....
__ADS_1
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...
Miss U All