Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
67. Perasaan Irvan


__ADS_3

" Irvan." Teriak Valen saat melihat Irvan sedang mencumb* seorang wanita di atas sofa ruangannya.


Irvan langsung melepas pagutannya, Ia menoleh ke asal suara yang mengagetkannya.


" Valen." Lirih Irvan.


" Pergilah." Ucap Irvan kepada wanitanya. Wanita itu berjalan keluar meninggalkan Valen dan Irvan.


" Siapa dia?" Tanya Valen setelah kepergian wanita itu.


" Temen gue." Sahut Irvan.


" Partner se** maksud lo." Tebak Valen.


" Nggak, cuma ciuman doank." Sahut Irvan.


" Nggak cuma ciuman doank berarti yang lain lain donk." Canda Valen.


" Gue bilangnya di belakang kata 'nggak' ada komanya sayang, berarti cuma ciuman doank nggak ngapa ngapain lagian gue nggak suka free se** ya." Ujar Irvan.


" Nggak suka kok main nyosor aja, sama tahu bibir lo udah ternoda dengan bibir lain, kasihan nanti yang jadi istri lo dapat second." Cebik Valen.


" Ini juga baru yang pertama, dia juga yang goda gue duluan, yang namanya kucing di kasih ikan asin ya langsung di makan lah." Ujar Irvan.


" Baru tahu gue kalau ternyata lo sama kaya' kucing garong." Ujar Valen.


" Eh nggak ada ya, itukan perumpamaan Say kalau gue orang baik baik dan sedikit alim." Sahut Irvan.


" Ya ya gue percaya lo memang orang yang baik, buktinya lo selalu jagain gue." Ucap Valen.


" Ya karna terlalu baiknya makanya lo ninggalin gue." Ucap Irvan keceplosan.


" Ngomong apa? Gue tinggalin? Emang lo ada rasa sama gue?" Tanya Valen menatap Irvan dengan tatapan menyelidik.


" Mampus, kenapa mesthi keceposan sih? Gawat kalau Valen sampai tahu perasaan gue selama ini, bisa hancur reportasi gue." Gerutu Irvan dalam hatinya.


" Kenapa nggak jawab? Lo ada perasaan sama gue?" Selidik Valen.


" Adalah.... Rasa sayang sebagai temen, lo kan temen gue dari orok, sahabat gue sekaligus bos gue jadi gue harus sayang kan sama lo biar loyalitas kerjanya." Sahut Irvan.


" Owh syukurlah kalau cuma rasa sayang sebagai teman, karna kalau lo punya rasa lebih sama gue, gue akan merasa sangat bersalah sama lo karna nggak bisa balas perasaan lo." Ujar Valen.


" Iya gue tahu." Sahut Irvan.


" Itulah sebabnya gue nggak pernah ungkapin perasaan gue sama lo, karna gue takut hubungan kita akan renggang atau malah berakhir saat itu juga, gue udah merasa bahagia karna bisa jagain lo dan dekat dengan lo saat ini dan ini sudah cukup buat gue." Batin Irvan.


" By the way ada kabar apa soal penguntit itu?" Tanya Valen duduk di sofa depan Irvan.


" Nggak ada yang bisa di telusuri lebih dalam lagi, mungkin dia hanya pengagum rahasia lo aja, maklum cewek cantik." Terang Irvan.


" Bisa aja, tapi menurut lo bahayain gue nggak tuh si penguntit? Gue takutnya tiba tiba dia culik gue di jalan gimana? Apalagi sekarang gue berbadan dua." Ucap Valen khawatir.


" Sejauh ini sih nggak, nggak tahu kalau nanti nanti." Sahut Irvan.


" Tapi lo tenang saja karna gue akan selalu jagain lo, yah walaupun dari jauh karna dari deket kan nggak mungkin, bisa di tonjok sama suami lo." Sambung Irvan.

__ADS_1


" Kali kali di tonjok kan nggak pa pa." Ujar Valen.


" Ya kali, muka gue yang gantengnya kebangetan jadi rusak nanti." Ujar Irvan.


" Tenang aja gue modalin biar cakep lagi." Sahut Valen.


" Eh gimana kabarnya Ria?" Tanya Irvan.


" Baik sih, malah lagi hangat hangatnya kan suasana pengantin baru." Ujar Valen.


" Semoga dia selalu bahagia." Ucap Irvan.


" Semoga." Gumam Valen.


Keduanya meneruskan obrolan layaknya sahabat. Di kantor Nathan, Ia mencoba menelepon rumah berharap Valen yang mengangkatnya. Karna saat Nathan menelepon nomer Valen tidak di angkat.


Tut... Tut...


" Halo." Sapa Mami Nesha.


" Mami ini Abang." Ucap Nathan.


" Abang, kenapa telepon ke rumah?" Tanya Mami Nesha.


" Valen mana Mi? Aku telepon nggak di angkat angkat." Ujar Nathan.


" Valen pergi Bang, kalau nggak salah ke kantornya." Sahut Mami Nesha.


" Kantor?" Gumam Nathan.


" Wa'alaikumsallam." Sahut Mami Nesha menutup teleponnya.


Nathan mencoba menghubungi Valen lagi.


" Halo Mas." Sapa Valen setelah mengangkat panggilannya.


" Kenapa pergi tidak bilang?" Tanya Nathan to the point.


" Maaf Mas, aku mendadak tadi perginya jadi lupa deh mau kasih tahu." Ujar Valen.


" Lalu kenapa aku telepon nggak di angkat? Emang sedang ngapain?" Selidik Nathan.


" Aku lagi ngobrol sama Irvan Mas, ponselnya ada di tas jadi nggak kedengaran apalagi deringnya kan pelan Mas." Ujar Valen.


" Ya udah segera pulang jangan sampai kecapekan, hati hati ya aku lanjut kerja dulu." Ucap Nathan.


" Iya Mas, maaf ya." Sahut Valen.


" Its ok." Sahut Nathan mematikan sambungan teleponnya. Valen memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


" Di cariin?" Tanya Irvan.


" Iya, biasa Mas Nathan mah gitu apalagi sejak aku hamil, bentar bentar telepon, dikit dikit bilang jangan kecapekan kasihan dedeknya, di jaga kandungannya." Ujar Valen.


" Itu namanya perhatian sama kamu, dia nggak mau kamu kenapa napa." Sahut Irvan.

__ADS_1


" Iya sih, beruntung juga kehamilanku ini nggak rewel, mual sama muntah aja cuma waktu awal awal doank, penginya juga nggak macam macam." Ujar Valen.


" Nah itu yang membuat khawatir, katanya kalau nggak mengalami morning sicknes justru sangat rentan terhadap keguguran kan, makanya Nathan selalu bilang nggak boleh kecapekan." Ucap Irvan.


" Lo tahu juga soal kaya gini." Ujar Valen.


" Belajar jadi suami siaga." Sahut Irvan.


" Widih... Idaman banget donk." Ujar Valen.


" Yah gue memang harus tahu karna gue harus jagain lo, gue nggak mau sampai terjadi sesuatu dengan lo Len, apapun akan gue lakukan demi kebahagiaan lo." Ucap Irvan dalam hatinya.


" Ya udah gue pulang ya, semangat kerja dan ingat satu hal." Ucap Valen.


" Apa?" Tanya Irvan.


" Ruangan gue jangan di pakai untuk berbuat mesum, kalau mau gituan di hotel aja, kalau nggak mampu bayar sewanya biar gue yang bayar dan....


" Pergi nggak lo... Kalau nggak pergi gue timpuk nih pake sepatu." Ucap Irvan memotong ucapan Valen sambil mengarahkan sepatunya ke Valen.


" Widih galak juga ternyata, iya deh gue pergi." Ucap Valen berjalan keluar. Sebelum Valen menutup pintu Ia memanggil Irvan.


" Van." Panggil Valen di balik pintu. Irvan menoleh ke arahnya.


" Apa lagi?" Tanya Irvan.


" Mau gue cariin yang gress nggak?" Goda Valen.


" Nggak." Sahut Irvan.


" Atau mau yang udah second?" Valen kembali bertanya.


" Valen...." Tekan Irvan.


" Atau...


" Gue mau sama lo aja." Sahut Irvan.


" Guenya yang nggak mau." Sahut Valen.


" Sini masuk kita lakukan itu sayang, gue minatnya sama lo." Ucap Irvan beranjak menghampiri Valen.


" Eh lo mau ngapain? Gue mau pulang." Ucap Valen menutup pintunya.


" Valen." Panggil Irvan membuka pintunya. Ia menatap punggung Valen yang semakin menjauh dari pandangannya.


" Andai lo tahu gimana beratnya gue menahan perasaan ini, gue yakin lo pasti akan ngehindar dari gue, bertahun tahun lamanya gue memendam perasaan ini sendirian, perasaan yang bertepuk sebelah tangan dan penantian yang tiada berujung, semoga kau selalu bahagia Valen dan semoga gue juga bisa menemukan kebahagiaan gue suatu saat nanti." Batin Irvan.


TBC.....


Kisah Nathan sama Valen mau di kasih konflik nggak nih???


Tulis di kolom komentar ya...


Miss U All...

__ADS_1


__ADS_2