Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
87. Rumah tangga Dika & Irvan


__ADS_3

Hari ini Dika dan Azza pindah ke rumah baru. Di sana mereka di sambut oleh Valen, Nathan, Naren dan Cia. Kenapa ada Cia? Cia hanya ingin memastikan keadaan Dika dan Azza karna semalam Ia sempat mendengar sedikit keributan. Ia takut Azza akan salah paham kepadanya.


" Selamat datang di rumah baru kalian saudaraku, semoga kalian berbahagia." Ucap Valen memeluk Azza.


" Terima kasih Kak, semoga Allah mengabulkan doamu." Sahut Azza melirik Dika.


Ucapan Azza membuat hati Dika mencelos, seolah olah Azza sedang menyindirnya. Sudah sehari semalam Azza bersikap dingin kepadanya dan hanya menyahut seadanya jika Dika mengajaknya bicara.


" Selamat datang Za, semoga kamu bahagia." Ucap Cia memeluk Azza.


" Terima kasih Cia." Sahut Azza melepas pelukannya.


" Ayo masuk, lihatlah rumah barumu Za." Ujar Valen.


" Makasih Kak." Sahut Azza.


Mereka semua masuk ke dalam rumah.


" Sayang ayo Mas tunjukkan kamar kita." Ucap Dika hendak menggandeng Azza tapi Azza menolaknya.


" Aku sama Kak Valen aja Mas, lagian nggak baik meninggalkan tamu, ayo Kak." Ujar Azza menggandeng Valen.


" Baiklah, aku akan menemani Nathan dan Naren di sini." Sahut Dika pasrah.


Valen dan Azza berjalan menaiki tangga menuju kamar utama. Sedangkan di ruang tamu, mereka sedang berbincang bincang.


" Mas Dika, maaf bukannya aku ingin tahu soal rumah tangga kalian, tapi apa terjadi sesuatu kepada kalian berdua semalam? Karena tidak sengaja aku mendengar suara keributan, aku merasa sangat bersalah dengan Azza jika benar itu terjadi." Ujar Cia menatap Dika.


" Maafkan aku Cia, aku telah berbuat kesalahan dengan meneleponmu semalam, jangan khawatir kami baik baik saja." Sahut Dika.


" Syukurlah Kak aku lega sekarang, kalau begitu aku permisi pulang dulu, sampaikan salamku untuk Azza." Ujar Cia.


" Hati hati Cia." Sahut Dika.


" Iya Mas, Bang aku pulang dulu." Sahut Cia menatap Nathan.


" Hati hati." Sahut Nathan.


Cia keluar meninggalkan rumah Dika. Seorang art yang bernama Bi Rani, wanita paruh baya berusia empat puluh tahunan menyajikan minuman untuk Dika, Nathan dan Naren.


" Silahkan Tuan minumannya." Ucap Bi Rani.


" Makasih Bi." Ucap Dika.


" Sama sama Tuan." Sahut Bi Sari undur diri.


" Kapan kamu mau berangkat Ren?" Tanya Dika menatap Naren.


" Besok pagi Kak." Sahut Naren.


" Kenapa nggak coba bekerja di sini aja?" Tanya Nathan menatap Naren.


" Takut nggak bisa move on Bang." Sahut Naren asal.


" Kamu masih suka sama Valen?" Tanya Nathan.


" Kamu tahu sendiri jawabannya Bang, tidak perlu di pertanyakan." Sahut Naren.


" Abang doakan semoga kamu segera mendapat wanita yang terbaik untukmu supaya kamu bisa melupakan Valen secepatnya." Ujar Nathan.


" Semoga Bang." Sahut Naren.


Tap tap tap

__ADS_1


Valen dan Azza berjalan menuruni tangga, keduanya menghampiri suami mereka di ruang tamu. Valen duduk di samping Nathan, sedangkan Azza duduk di samping Dika.


" Cia kemana Mas?" Tanya Valen menatap Nathan.


" Dia pulang duluan, dia titip salam untukmu Za." Ujar Nathan.


" Wa'alaikumsallam Kak." Sahut Azza.


" Gimana sayang? Apa kamu suka kamarnya?" Tanya Dika menatap Azza.


" Hmm." Gumam Azza menganggukkan kepalanya.


" Dika menyuruhku untuk menata tatanan kamarnya dengan di bantu Cia." Ucap Valen keceplosan.


Deg...


Hati Azza mencelos mendengar ucapan Valen. Kenapa harus orang lain? Bukankah Azza bisa sendiri? Dika benar benar menguji kesabarannya. Pikir Azza.


" Oh ya Za, rencana mau bulan madu kemana?" Tanya Valen.


" Tidak ada acara bulan madu Kak, aku sibuk mengajar, ini akhir tahun ajaran jadi aku tidak bisa kemana mana." Sahut Azza.


Lagi lagi hati Dika mencelos mendengarnya.


" Tapi kalian tidak menunda untuk punya momongan kan?" Selidik Valen ingin tahu.


" Mungkin beberapa tahun lagi Kak." Sahut Azza.


" Lhoh kenapa harus nunggu beberapa tahun lagi? Bukankah kamu ingin segera punya momongan setelah menikah Za?" Valen bertanya lagi. Valen merasa ada yang tidak beres di sini.


" Aku berubah pikiran Kak, aku ingin mengenal lebih jauh suamiku dulu, aku tidak mau kecewa pada akhirnya." Ujar Azza.


Hati Dika serasa di sayat sembilu. Ucapan Azza benar benar merupakan sindiran baginya.


" Kok kamu diam aja Mas Dika? Nggak mau bantu Azza ngomong nih." Ucap Valen.


" Iya bener, rasanya gimana gitu kalau pacaran setelah menikah, lebih gimana gitu ya Mas..." Ujar Valen menatap Nathan.


" Gak usah bikin iri Len." Cebik Naren.


" Owh say....." Valen menggantung ucapannya kala mendapat pelototan dari Nathan.


" Ah nggak jadi." Sambung Valen.


" Ya sudah sekarang lebih baik kita pulang, biarkan pasangan pengantin baru ini menikmati waktunya." Ujar Nathan.


" Baiklah, Za Kakak pulang dulu ya." Ucap Valen.


" Iya Kak makasih udah mau menyambutku." Sahut Azza.


" Sama sama sayang." Sahut Valen.


Valrn, Nathan dan Naren berjalan keluar untuk pulang ke rumah masing masing.


" Kita istirahat sayang." Ucap Dika.


" Suruh pelayan mengubah tatanan kamarnya Mas, aku tidak suka." Ucap Azza.


" Katanya tadi kamu suka." Ujar Dika.


" Itu sebelum aku tahu kalau Cia ikut membantu Kak Valen menatanya, sekarang aku mau merubahnya, itu pun kalau kamu tidak keberatan." Sahut Azza.


Dika menghela nafasnya.

__ADS_1


" Baiklah sayang Mas akan meminta mang Dikin untuk menata sesuai seleramu." Sahut Dika meninggalkan Azza untuk memanggil Mang Dikin, tukang kebun di rumah baru Dika.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari sudah sore, setelah mandi Cia keluar dari kamar mandi hanya memakai bathrobe di atas paha.


Deg....


Tatapannya bertemu dengan Irvan yang sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil menatapnya.


" Asaga Kak, kamu sudah pulang?" Pekik Cia menutupi bagian pahanya dengan tangannya.


" Iya aku sudah selesaikan semua pekerjaanku hari ini, jadi besok kita bisa berangkat dengan santai" Sahut Irvan menghampiri Cia.


Ya Cia dan Irvan hendak pergi berbulan madu sesuai rencana Mami Nesha. Mami Nesha ingin mendekatkan keduanya supaya keduanya bisa semakin dekat. Dengan hal itu bisa membuat keduanya saling melupakan perasaan dengan masa lalu mereka. Apalagi sekarang mereka sudah sama sama menikah.


" Kak apa perjalanan ini merupakan hal yang benar?" Tanya Cia menatap Irvan.


" Benar sayang, dengan kita memiliki seorang anak hubungan kita akan semakin erat, lakukan dengan ikhlas maka semuanya akan terasa mudah." Ujar Irvan.


" Iya Kak." Sahut Cia.


" Jujur saja, aku sudah mulai menyukaimu." Ucap Irvan merapikan anak rambut Cia ke atas telinganya.


" Benarkah? Jangan jangan kau membohongiku hanya untuk hal yang satu itu." Ujar Cia.


" Hei, ya enggaklah.... Aku nggak sekejam itu kali Ci, aku jujur dengan apa yang aku rasakan padamu." Ujar Irvan.


" Hmm baiklah aku percaya padamu, sekarang minggirlah aku mau ganti." Ucap Cia.


" Pakai gini aja lebih enak di pandang mata." Ujar Irvan.


" Nggak mau ya, pikiranmu selalu mesum Kak." Cebik Cia.


" Aku mesum gara gara kamu." Ucap Irvan.


" Kok gara gara aku?" Tanya Cia berjalan menuju ruang ganti di ikuti Irvan dari belakang.


" Iya gara gara malam itu aku jadi ingin lagi dan lagi, kamu tahu nggak sih kalau aku tersiksa banget nahan selama ini." Ujar Irvan.


Cia membalikkan tubuhnya menabrak dada bidang Irvan.


" Suka banget nabrak dadaku." Ucap Irvan.


" Nggak sengaja kali Kak." Ujar Cia.


" Sengaja juga nggak pa pa." Sahut Irvan.


" Apasih Kak." Ujar Cia.


" Boleh peluk Kan?" Tanya Irvan.


Cia menganggukkan kepalanya.


Irvan menarik tubuh Cia ke dalam pelukannya. Keduanya mencoba meresapi perasaan yang ada di dalam hati masing masing.


" Aku semakin yakin dengan perasaanku Kak, nama Mas Dika sudah mulai hilang dari dalam hatiku." Batin Cia.


" Ternyata namamu mulai menghilang dari dalam hatiku Len, aku tidak menyangka baru hidup bersama Cia saja sudah membuatku melupakanmu, semoga aku bisa bahagia seperti dirimu." Batin Irvan.


TBC.....


Maaf telat up date dan jika ceritanya kurang menarik di hati.... Si bontot lagi rewel banget dari tadi pagi bikin author susah berimajinasi hhhh

__ADS_1


Jangan lupa like dan koment...


Miss U All.....


__ADS_2