
Waktu begitu cepat berlalu, kini usia Erald menginjak lima bulan. Ia tumbuh menjadi bayi yang cerdas dan imut. Pipi gembulnya membuat semua orang menjadi gemas jika melihatnya.
Weekend ini keluarga Ardiansyah berkumpul di rumah utama. Davian dan Ria membawa Fara yang usianya tak jauh dari Erlad. Gama membawa Luci yang sedang hamil tua. Sedangkan Irvan dan Cia masih chek up di rumah sakit. Mereka akan kemari setelah pulang dari rumah sakit.
Semuanya sedang duduk bersantai di ruang keluarga kecuali Nathan. Ia sedang melakukan zoom meeting di ruang kerjanya. Maklumlah orang sibuk.
" Duh cucunya Oma sini sama Oma." Ucap Mami Nesha mengambil alih gendongan Erald dari Valen.
" Ma... Ma... Ma..." Celoteh Erald.
" Eh udah pintar berceloteh ya Kak." Ujar Ria.
" Iya.. Fara juga kan?" Tanya Valen.
" Kalau Fara masih ha ha ha gitu." Sahut Ria.
" Ya namanya bayi masih gitu lah Yank." Sahut Davian yang sedang memangku Fara.
" Iya Mas." Sahut Ria.
" Udah tengkurap kan si Fara?" Tanya Valen.
" Udah Kak." Sahut Ria.
" Luci kapan perkiraan hpl kamu?" Tanya Valen menatap Luci.
" Satu minggu lagi Kak." Sahut Luci.
" Wah dedeknya Fara sama Erald mau lahir nih, besok gedhenya bareng ya." Ujar Valen.
" Iya Kak, besok kalau sekolah juga satu angkatan ya." Sahut Luci.
" Iya." Sahut Valen.
" Ma... Ma... Ma." Erald terus berceloteh ria sampai encesnya kemana mana karna mengoloh jarinya.
" Lap dulu encesnya Mi." Ucap Valen memberikan tisu kepada Mami Nesha.
" Cucu Oma aktif banget nih sampai encesan." Ujar Mami Nesha.
" Papi gendong Fara aja, bawa sini Faranya Dav." Ucap Papi Farhan.
" Iya Pi." Sahut Davian memberikan Fara kepada Papi Farhan.
" Yank temenin aku sarapan donk." Ucap Nathan menghampiri Valen.
Valen menoleh ke arahnya. Ia beranjak mendekati Nathan.
" Sudah selesai meetingnya?" Tanya Valen.
" Udah... Buruan aku lapar banget Yank." Ujar Nathan.
" Salah siapa tadi di suruh makan dulu nggak mau." Cebik Valen.
" Iya maafin Yank." Ujar Nathan.
" Mi aku nemenin Mas Nathan dulu ya." Ujar Valen menatap Mami Nesha.
" Iya tenang aja Erald biar sama Mami." Sahut Mami Nesha.
" Ayo Mas." Valen mengapit lengan Nathan meninggalkan ruang keluarga.
Sesampainya di meja makan Nathan duduk tenang di kursinya sedangkan Valen sibuk mengambilkan makanan untuk Nathan.
" Ini Mas." Ucap Valen meletakkan piring berisi makanan di depan mejanya.
" Makasih sayang." Ucap Nathan.
" Sama sama Maskuh." Sahut Valen manja.
__ADS_1
" Jangan gitu donk Yank! Bikin aku pengin aja." Ujar Nathan.
" Apa sih Mas." Ucap Valen tersenyum malu.
" Nanti malam double lhoh Yank." Ucap Nathan.
" Jangan keseringanlah Mas, aku takut kebobolan." Ujar Valen.
" Ya enggaklah kan aku pakai pengaman, pokoknya double buat ngilangin stres." Ucap Nathan.
" Bikin capek lha iya." Sahut Valen.
" Kamu ini." Ucap Nathan mencubit hidung Valen.
" Sakit Mas." Ujar Valen.
" Iya maaf." Sahut Nathan.
" Udah buruan di makan, kasihan Mami kalau kelamaan jagain Erald Mas." Ujar Valen.
" Kamu makan sekalian ya." Ujar Nathan.
" Aku udah kenyang Mas, kamu aja." Sahut Valen.
" Baiklah." Sahut Nathan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
" Mas apa ada masalah di perusahaan? Kelihatannya kamu lesu banget." Ujar Valen.
" Tidak ada sayang, jangan khawatir." Sahut Nathan.
" Lalu kenapa kamu nggak bersemangat gitu?" Tanya Valen.
" Aku cuma sedang nggak enak badan saja sayang." Sahut Nathan.
" Kamu sakit?" Tanya Valen menempelkan tangannya pada dahi Nathan.
" Ah iya badanmu panas Mas, setelah ini minum obat ya lalu istirahat." Ujar Valen.
" A' Yank." Ucap Nathan menyodorkan sesendok makanan ke mulut Valen.
" Nggak mau." Ujar Valen menggelengkan kepalanya.
" Kamu takut tertular penyakitku?" Tanya Nathan.
" Bukan begitu Mas." Ujar Valen menghela nafasnya pelan.
" Baiklah aku mau." Sambung Valen menerima suapan dari Nathan.
Pada akhirnya keduanya makan dalam sendok dan piring yang sama.
...****************...
Di rumah sakit saat ini Cia sedang berbaring di atas brankar. Dokter sedang menggerakkan transduser di atas perut Cia.
" Lihatlah ke monitor Tuan Nyonya." Ucap Dokter.
Irvan dan Cia menatap ke arah layar monitor yang berada di bagian depan atas brankar.
" Sekarang bisa di pastikan Tuan Nyonya, jika bayi kalian memang kembar." Ucap Dokter membuat Irvan dan Cia nampak bahagia.
" Bagaimana keadaannya Dok?" Tanya Irvan.
" Keduanya sehat Tuan, posisi placenta juga bagus, dan air ketubannya juga masih mencukupi." Terang Dokter.
" Alhamdulillah." Sahut Irvan.
" Makan makanan yang bergizi dan minum air putih yang banyak Nyonya, jika ada keluhan segera datang kemari." Ucap Dokter.
" Iya Dok." Sahut Cia.
__ADS_1
" Ini resep yang harus di tebus Tuan." Ucap Dokter memberikan resepnya.
" Terima kasih Dok, kami permisi." Ucap Irvan.
" Silahkan Tuan." Sahut Dokter.
Irvan menggenggam tangan Cia keluar ruangan. Setelah menebus obat Irvan melajukan mobilnya ke rumah Mami Nesha.
Tiga puluh menit kemudian mobil Irvan terparkir tepat di depan rumah Mami Nesha. Irvan membukakan pintu mobil untuk Cia.
" Aku gandeng sayang." Ucap Irvan menggandeng Cia.
Umur kehamilan Cia baru tiga bulan namun perutnya sudah membuncit seperti wanita hamil enam bulan pada umumnya.
" Assalamu'alaikum." Ucap Irvan dan Cia bersamaan.
" Wa'alaikumsallam." Sahut mereka yang berada di ruang keluarga serempak.
" Kalian sudah datang, sini sayang." Ucap Mami Nesha.
" Iya Mi." Sahut Cia menyalami Mami Nesha dengan takzim. Setelah itu Cia bergantian menyalami Papi Farhan.
" Kak Valen dan Abang dimana Mi?" Tanya Cia duduk di samping Ria.
" Abangmu lagi nggak enak badan jadi Kakakmu sedang merawatnya di kamar." Sahut Mami Nesha.
" Melihat Mami sama Papi gendong Erald dan Fara membuatku membayangkan aku dan Mas Irvan nanti." Ujar Cia.
" Nanti? Maksudmu?" Tanya Gama.
" Aku hamil kembar Kak." Ucap Cia.
" Apa? Kembar?" Pekik Gama, Luci, dan Ria bersamaan membuat Mami dan Papi menggelengkan kepala.
" Iya." Sahut Cia.
" Selamat Cia sekali kamu hamil kamu bisa mendapatkan dua sekaligus, sehat sehat sampai persalinan nanti ya... Jaga keponakanku dengan baik jangan ceroboh." Ucap Ria memeluk Cia.
" Makasih Ria, kamu tenang aja jika aku ceroboh kan ada Mas Irvan yang akan memperbaikinya." Sahut Cia.
" Rumah ini akan semakin ramai kalau kami berkumpul Mi, Mami dan Papi tidak akan sempat istirahat." Ujar Gama.
" Tidak masalah sayang, Mami dan Papi justru sangat bahagia sayang." Sahut Mami Nesha.
" Papi juga kan pengin punya babby, jadi Mami nggak perlu ngelahirin sendiri kan." Sambung Mami Nesha.
" Iya Mami betul." Sahut Papi Farhan.
" Eh Erald bobok Mi." Ujar Ria.
Mami Nesha menatap Erald yang memang memejamkan matanya.
" Ya udah Mami ke kamar abangmu dulu ya buat nidurin Erald." Ujar Mami Nesha.
" iya Mi." Sahut Ria.
" Fara juga bobok yuk, udah siang." Ucap Ria mengambil alih gendongan Fara dari Papi Farhan.
" Mas Davi ku ke kamar dulu ya." Ujar Ria menatap Davian.
" Iya sayang nanti aku menyusul." Sahut Davian.
Ria meninggalkan ruang keluarga sambil menggendong Fara.
TBC.....
Jangan lupa like dan komentnya....
Terima kasih untuk readers yang selalu mensupport author...
__ADS_1
Semoga sehat selalu....
Miss U All.....