
Luci sudah bersiap untuk pergi ke salon, Luci dan Ira membuka salon sendiri dengan merekrut pegawai yang sudah profesional di bidangnya. Setelah berpamitan dengan kedua Kakaknya, Ia keluar rumah menuju mobilnya.
" Pagi Yank." Sapa Gama saat Luci hendak membuka pintu mobilnya. Luci menoleh ke arah Gama sambil menghela nafasnya.
" Ngapain pagi pagi Kak Gama ke sini?" Tanya Luci.
" Jemput kamu, mulai sekarang aku yang akan antar jemput kamu." Ucap Gama.
" Ya terserah kamu saja Kak, ayo." Sahut Luci berjalan menuju mobil Gama.
Luci masuk ke mobil di ikuti oleh Gama. Gama mencondongkan badannya hingga wajah Gama dan Luci begitu dekat. Luci menatap Gama dengan jantung yang berdebar kencang. Gama menatap bibir pink Luci, ingin sekali Ia mengecupnya.
" Kok kamu nggak pejamin mata sih." Ucap Gama.
" Kenapa?" Tanya Luci.
" Biasanya kan kalau cowoknya mau masangin sealbelt ceweknya memejamkan mata." Ujar Gama.
" Itu karna ceweknya mengira kalau cowoknya mau nyium ceweknya, kan aku nggak." Sahut Luci.
" Kenapa?" Tanya Gama.
" Sebentar sebentar, kamu bilang kalau biasanya, berarti kamu sudah biasa lakuin ini sama cewek? Minggir ah aku nggak mau deket deket sama cowok yang suka modus." Ucap Luci mendorong tubuh Gama.
" Eh enggak lah, aku nggak pernah modus sama cewek lain, aku pernah lihat adegan seperti itu dalam drama yang di tonton oleh Cia sayang." Sahut Gama.
" Sayang sayang." Cebik Luci.
" Lha emang aku sayang kamu." Sahut Gama.
" Bodo', udah ah jalan kalau nggak aku turun nih." Ancam Luci.
" Baiklah tuan putri, kita jalan sekarang." Ucap Gama melajukan mobilnya menuju salon Luci.
Di tempat lain tepatnya di rumah Nathan. Ia sedang berdebat dengan Valen tentang rujak yang di makan Valen. Menurutnya rujak itu terlalu pedas dan asam. Nathan khawatir akan berdampak buruk pada janinnya.
" Mas berikan rujaknya sekarang." Ucap Valen hendak merebut piring rujak dari tangan Nathan.
" Nggak boleh! Ini terlalu pedas sama asam sayang, lagian makan rujak kok rujak mangga muda sama belimbing wuluh, nggak kebayang apa gimana asamnya." Ujar Nathan.
" Tapi aku ingin makan itu Mas." Kesal Valen mengerucutkan bibirnya.
" Kasihan anak kita sayang, dia akan kepanasan dan juga lambung kamu akan perih karna ini terlalu asam rasanya, nanti aku belikan lagi yang tidak terlalu pedas dan buahnya yang sedikit matang jadi nggak asam kaya' gini." Ucap Nathan membuang rujak buah yang baru saja Valen buat.
Melihat itu membuat emosi Valen memuncak. Entah karena kesal atau karna hormon kehamilan Ia sendiri tidak tahu. Ia mengambil gelas di depannya lalu membantingnya ke lantai membuat Nathan berjingkrak kaget.
Pyarrrrrr....
Pecahan gelas berhamburan di lantai. Nathan menoleh ke arah Valen yang sedang menatapnya dengan tatapan nyalang.
" Sayang apa yang kamu lakukan? Apa ini pantas di lakukan seorang istri di depan suaminya?" Ucap Nathan meninggi.
__ADS_1
" Kenapa? Kamu bisa melakukan apapun maka aku juga bisa Mas." Tantang Valen.
" Sayang mengertilah makanan tadi tidak baik untuk kesehatanmu, kenapa kamu tidak mengerti juga malah marah seperti ini." Ujar Nathan memijat pelipisnya.
" Ada apa ini sayang? Kenapa gelasnya bisa pecah begini?" Tanya Mami Nesha yang baru saja tiba karna mendengar keributan di dapur.
" Aku memecahkan gelasnya Mi." Sahut Valen tak hentinya menatap Nathan.
" Kenapa sayang? Apa yang terjadi?" Tanya Mami Nesha.
" Anak Mami membuang rujak yang sudah susah payah aku buat ke ranjang sampah begitu saja." Sahut Valen.
Nathan melongo menatap Valen.
" Ap... Apa? Kamu yang buat?" Tanya Nathan menatap Valen.
" Mami tahu kan tadi aku di petikin mangga sama tetangga kita yang super tampan itu, dia juga memetik belimbingnya untukku, tapi apa yang di lakukan anak Mami, dia membuang rujak dari pria super tampan itu Mi." Ucap Valen.
" Pria super tampan? Siapa dia?" Selidik Nathan.
" Tetangga baru kita, namanya Rio Bang, tadi Valen ke rumahnya untuk minta belimbing sama mangganya, dia sendiri yang mengambil dari pohonnya khusus buat Valen, bahkan Rio dan Valen sendiri yang membuat rujak itu." Terang Mami Nesha.
Glek....
Nathan menelan kasar salivanya. Rupanya dia sudah berbuat kesalahan dengan membangunkan singa kelaparan. Nathan menoleh ke arah ranjang sampah.
Valen berjalan meninggalkan dapur menuju keluar. Nathan segera mengejarnya.
" Sayang tunggu." Ucap Nathan.
" Sayang mau kemana? Jangan ke sana lagi." Ucap Nathan.
Valen tidak bergeming. Ia menekan bel rumah Rio. Tak lama Rio membukakan pintu untuknya.
" Valen... Apa ada yang tertinggal?" Tanya Rio menatap Valen.
" Aku mau di buatkan rujak lagi sama kamu, rujak yang tadi tumpah." Ucap Valen.
" Sayang ayo kita pulang, aku akan membuatkannya untukmu." Ujar Nathan menarik tangan Valen.
" Lepas.. Aku mau Rio yang buatin." Sahut Valen.
" Jangan membantah Valen." Ucap Nathan.
" Biarkan aku buatkan lagi." Ucap Rio.
" Kita petik dulu mangganya ya." Sambung Rio.
" Iya." Sahut Valen.
Nathan menghela nafasnya dalam dalam menahan emosinya. Sejujurnya Ia tidak mau menerima sumbangan dari orang lain jika untuk anak dalam kandungan Valen. Tapi jika Valen sudah berkehendak Ia juga tidak bisa menghentikannya.
__ADS_1
Siang ini Ria pergi ke kantor Davian untuk mengajak Davian makan siang bersama. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah menempuh perjalan tiga puluh menit, akhirnya Ria sampai di perusahaan yang di pimpin oleh suaminya.
Ria masuk ke dalam lobby menuju ruangan suaminya. Tatapan dan bisik bisik para karyawan nampak jelas di telinganya.
" Pacar sama istri datang di waktu yang sama."
" Waduh istri bos datang, mana Mbak Radha belum keluar lagi."
Ria nampak acuh, setelah menaiki lift Ia berjalan mendekati ruangan Davian. Ria menggenggam handle pintu hendak membukanya ketika suara dari dalam berhasil menghentikannya.
" Sayang aku tidak akan membocorkan hubungan ini dengan istrimu saat ini kalau kamu mau aku ajak kencan malam ini." Ucap seorang wanita yang Ria sendiri tidak tahu dia siapa.
" Tidak bisa Radha, aku akan membuat alasan apa dengannya, lagian hub...
Ceklek.....
Suara pintu terbuka, Davian menoleh ke arah pintu dan...
Deg...
Deg..
Davian langsung berdiri membuat Radha yang duduk di pangkuannya mendarat ke lantai.
" Awh sakit sayang." Pekik Radha.
Tes....
Air mata Ria menetes di pipinya melihat suaminya sedang dalam posisi intim dengan wanita lain.
" Sayang kamu salah paham." Ucap Davian menghampiri Ria.
Ria segera pergi dari sana, Davian berusaha mengejarnya.
" Vale tunggu aku, dengarkan penjelasanku." Teriak Davian.
Ria masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka satu. Davian mencoba menahan lift tapi Ia tidak berhasil karna lift keburu turun. Davian segera berlari menuju tangga. Ia menuruni anak tangga dengan cepat berharap bisa mendahului Ria saat sampai di lantai dasar.
Setelah lift terbuka Ria berlari menuju mobilnya. Ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Davian tidak berhasil mengejarnya. Davian masuk ke dalam mobilnya berusaha mengejar mobil Ria.
Di dalam ruangan Davian, Radha menelepon seseorang sambil tertawa cekikikan.
" Bagus ternyata dewi fortuna berpihak kepada kita, kita belum memulai permainannya tapi umpan datang sendiri ke kailnya." Ucap seseorang di sebrang sana.
" Yah kau benar sekali, aku sudah melakukan tugasku maka kau juga harus melakukan tugasmu." Sahut Radha menutup sambungan teleponnya.
" Kau akan menjadi milikku lagi sayang." Batin Radha menyeringai.
TBC....
Jangan bosan untuk tekan like dan komentnya ya...
__ADS_1
Jika berkenan beri hadiahnya author akan sangat berterima kasih pada kalian semua.
Miss U All....