
Irvan kembali pulang larut malam, Ia masuk ke dalam kamarnya segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai Ia naik ke atas ranjang menatap Cia yang sedang tidur dengan gelisah.
" Sayang." Ucap Irvan menyentuh dahi Cia.
" Panas." Gumam Irvan.
" Sayang bangunlah." Ucap Irvan menyentuh pundak Cia pelan.
" Kau jahat Mas, kau telah membagi cintamu dengan wanita lain." Racau Cia menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
" Sayang... Bangunlah! Apa yang kau katakan? Siapa yang membagi cintamu?" Tanya Irvan mencoba membangunkan Cia.
Tiba tiba air mata menetes di pipi Cia membuat Irvan sedih menatap ke arahnya.
" Sayang kamu kenapa?" Lirih Irvan mencium kening Cia.
Irvan segera turun ke bawah untuk mengambil air hangat. Setelah mendapatkan apa yang Ia butuhkan, Irvan kembali ke kamarnya sambil membawa sebaskom air hangat beserta washlap di tangannya.
Dengan telaten Irvan mengompres kening Cia sampai demamnya turun. Karena hari sudah hampir pagi akhirnya Irvan tertidur sambil duduk di samping ranjang Cia.
Cia mengerjapkan matanya. Hal pertama yang Ia lihat adalah wajah tampan suaminya.
" Mas Irvan tidur sambil duduk gini? Apa nggak sakit tuh lehernya? Eh.. Kok ada washlap di tangannya, apa semalam aku demam ya?" Tanya Cia dalam hatinya.
Mengingat itu Cia menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Tangannya hendak mengelus pipi Irvan namun Ia urungkan saat mengingat Irvan bersama wanita lain.
Cia turun dari ranjang dengan pelan, lalu Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai Ia keluar dari kamar mandi.
" Kok kamu mandi sayang? Kamu kan lagi sakit." Cia menoleh ke asal suara yang tak lain adalah Irvan yang kini sedang duduk menatapnya.
Tanpa menjawab pertanyaan Irvan, Cia berjalan keluar kamar mengabaikan Irvan membuat Irvan mengerutkan keningya.
" Cia kenapa ya? Kok sepertinya dia mengacuhkan aku? Apa aku berbuat kesalahan? Atau dia marah karena kemarin aku memarahinya? Ah mending sekarang aku mandi dulu, nanti akan aku tanyakan sama Cia." Monolog Irvan.
Irvan turun dari ranjang berlalu ke kamar mandi. Di lantai bawah tepatnya di dapur, Cia sedang membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Ia sedang mengajukan protes kepada suaminya. Ia masih kesal dengan sikap Irvan yang akhir akhir ini mengabaikannya, Ia ingin membalasnya.
Selesai masak, Cia duduk di meja makan sambil memakan makanannya. Sepiring nasi goreng suir ayam di lengkapi telur ceplok mata sapi.
" Sayang mana sarapanku?" Tanya Irvan celingak celinguk mencari barangkali ada makanan lainnya.
Cia tidak bergeming. Ia asyik melanjutkan makannya.
" Sayang kamu tidak membuatkan sarapan untukku?" Tanya Irvan duduk di depan Cia.
" Biasanya kamu makan di kantor Mas." Ketus Cia.
__ADS_1
Ah iya Irvan lupa jika akhir akhir ini Ia tidak pernah sarapan di rumah, karena kesibukannya tentunya.
" Tapi hari ini aku mau sarapan bersama sama kamu." Ucap Irvan.
" Maaf aku tidak tahu." Ucap Cia beranjak ke wastafel untuk mencuci piringnya.
Setelah itu Cia berjalan meninggalkan Irvan sendirian di dapur. Irvan menyusul Cia yang sedang menaiki tangga.
" Sayang kamu ini kenapa sih? Sepertinya kamu menghindariku." Ujar Irvan.
" Aku tidak menghindarimu, mungkin akhir akhir ini aku terbiasa tanpamu." Sahut Cia menohok hati Irvan.
" Cia apa yang sebenarnya ingin kamu katakan? Kamu masih mencurigaiku? Kamu masih berpikiran kalau aku selingkuh?" Tanya Irvan masuk ke dalam kamarnya mengikuti Cia.
" Lalu aku harus berpikir seperti apa Mas? Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, kalau aku katakan pun kamu pasti mengelak lagi." Batin Cia.
" Cia sayang, jangan diam aja donk." Ujar Irvan berjongkok di depan Cia yang sedang duduk di tepi ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah.
" Aku harus ngomong apa Mas? Aku ngomong pun pasti kamu mengelaknya, aku merasa semakin jauh darimu Mas, mungkin karena sekarang aku sudah tidak semenarik dulu itu makanya kamu bosan denganku dan mencari yang lainnya di belakangku." Ujar Cia.
" Apa maksudmu sayang? Aku tidak punya wanita lain, aku hanya punya kamu.. Hanya kamu di hatiku." Ucap Irvan menggenggan tangan Cia.
" Siapa perempuan itu Mas?" Tanya Cia membuat Irvan mengerutkan keningnya.
" Perempuan yang mana lagi sayang?" Tanya Irvan mendongak menatap Cia.
" Perempuan? Rumah Mewah?" Tanya Irvan memastikan.
" Iya, jangan mengelak lagi aku sudah tahu semuanya, kemarin aku mengikutimu sampai ke rumah itu." Ucap Cia.
" Apa? Jadi Cia melihat aku bersama Popi? Jangan sampai Cia curiga padaku." Ujar Irvan dalam hatinya.
" Kenapa? Kamu mau mengelak lagi?" Selidik Cia.
" Dia hanya rekan kerjaku sayang, aku menemui client di rumah itu, kenapa sih kamu nething mulu sama aku, lagian kemarin pas aku ke luar kantor masih jam kerja kan? Itu berarti aku masih kerja sayang." Ujar Irvan.
" Apa benar yang kamu katakan padaku?" Tanya Cia menatap Irvan.
" Iya sayang." Sahut Irvan.
Irvan duduk di samping Cia, Ia menggenggam tangan Cia sambil menghela nafasnya.
" Mulai sekarang jangan pernah berpikiran macam macam ya, percayalah padaku kalau aku sangat menyayangimu sayang, aku tidak akan mencari wanita lain karena kamu sudah cukup bagiku." Ucap Irvan menangkup wajah Cia.
" Apa sekarang kamu mau memaafkan aku?" Tanya Irvan. Cia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Apa kamu percaya sama aku?" Tanya Irvan kembali.
" Iya Mas." Sahut Cia.
" Terima kasih sayang." Ucap Irvan menarik Cia ke dalam pelukannya.
" Aku iyakan saja biar dia tidak tahu kalau aku sedang menyelidiki kebenarannya, aku tidak semudah itu percaya padamu Mas, apalagi dengan perubahan sikapmu yang tidak ada waktu untukku, aku akan menangkap basah kamu dengan wanita itu dan di saat itu kamu tidak akan bisa berbuat apa apa lagi." Ujar Cia dalam hati.
" Sekarang aku mau berangkat ke kantor dulu ya, kamu istirahat yang banyak, ingat tiga hari lagi acara tujuh bulananmu kan, kamu harus terlihat sehat di hari itu." Ujar Irvan.
" Iya Mas." Sahut Cia.
" Aku berangkat, Assalamu'alaikum." Ucap Irvan mencium kening Cia.
" Wa'alaikumsallam Mas." Sahut Cia mencium punggung tangan Irvan.
Irvan keluar kamarnya, tiba tiba ponselnya berdering. Ia seger mengangkatnya.
" Halo Popi." Ucap Irvan.
..........
" Tenang saja aku pasti ke sana." Jawab Irvan.
.......
" Ok kita ketemu di sana ya, aku akan ke sana sekarang juga." Ujar Irvan.
.........
" Ok see you." Sahut Irvan menutup panggilan teleponnya.
Irvan kembali berjalan menuruni tangga untuk berangkat kerja. Tanpa Irvan sadari kalau Cia berada di balik pintu dan mendengar ucapannya dengan Popi.
" Jadi wanita itu bernama Popi, aku akan segera menemukan jawabannya Mas." Ujar Cia dalam hati.
Jawaban apa yang akan Cia dapatkan????
Tunggu di bab berikutnya ya....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar author semangat nerusin ceritanya.
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author...
Semoga sehat selalu....
__ADS_1
Miss U All....