Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
20. Terperangkap


__ADS_3

Hari ini Valen melakukan peninjauan proyek hotel dengan Ardan dan Digdo asistentnya. Mereka hanya bertiga karna Nathan juga sedang ada peninjauan di proyek lainnya. Valen merasa tak nyaman karna Ia harus duduk di kirsi penumpang berdampingan dengan Ardan. Sedangkan Digdo menyetir di depan.


📲 Mamas


Hati" dan jaga diri baik", Ardan bukan pria baik untukmu


📲 Me


Iya Mas... Doakan aku baik" saja coz entah mengapa aku merasa akan ada hal buruk yang terjadi padaku


📲 Mamas


Jangan banyak pikiran fokus kerja aja, setelah selesai aku akan menyusulmu😗


fighting 💪💪


📲Me


Aku selalu menantimu 😘


Valen memasukkan ponselnya ke dalam tasnya kembali. Ardan melirik ke arah Valen yang sedari tadi hanya menatap ke luar jendela.


" Kau akan menjadi milikku malam ini Valen." Ujar Ardan dalam hati.


Mobil terus melaju menyusuri jalan raya yang lumayan padat. Setelah hampir dua jam akhirnya mereka sampai di lokasi. Sebuah bangunan hotel besar tepat di tepi jalan raya.


Karna jadwal terlalu padat hingga kunjungan saat ini di lakukan di sore hari, Ketiganya berjalan mendekati bangunan tersebut. Nampak bangunan setengah jadi dan para pegawai yang sudah bersiap untuk pulang.


" Nona Valen pakai pelindung kepala dulu." Ucap Ardan menyodorkan sebuah helm khas proyek berwarna kuning. Mungkin hanya warna itu yang tersisa.


" Terima kasih." Sahut Valen menerimanya.


" Kau kenapa? Apa kau sakit? Kenapa aku lihat dari tadi kamu tidak bersemangat?" Tanya Ardan menatap Valen.


" Tidak Tuan, maafkan saya." Ucap Valen.


" Kalau kau sakit kita bisa menundanya besok, sekarang kita istirahat saja gimana?" Tawar Ardan.


" Tidak usah Tuan, kita lanjutkan saja." Sahut Valen.


" Baiklah tapi kalau ada apa apa kamu bilang ya." Ujar Ardan perhatian.


" Iya." Sahut Valen.


Ya... Entah kenapa sejak di mobil Valen merasa sedikit pusing, apalagi saat Ardan menyalakan rokoknya. Dengan di temani kontraktor proyek ketiganya berkeliling melihat bangunan yang sedang dalam pengerjaan. Sesekali Ardan mengetuk ngetuk tembok yang sudah berdiri untuk memastikan kualitasnya.


Waktu yang mereka butuhkan ternyata cukup lama. Hari sudah mulai petang kini ketiganya kembali ke mobil bersiap untuk pulang.


" Terima kasih sudah membantu kami Pak Adnan." Ucap Valen.


" Sama sama Nona Valen, selamat jalan dan hati hati, semoga selamat sampai tujuan." Ujar Pak Adnan sang kontraktor.


"Terima kasih, mari Pak." Ucap Valen masuk ke dalam mobil.


" Silahkan Nona." Sahut Pak Adnan.

__ADS_1


" Mau langsung pulang atau kita cari makan dulu?" Tawar Ardan kepada Valen.


" Aku pulang saja." Sahut Valen.


" Kita cari makan dulu gimana? Nanti baru kita pulang." Ujar Ardan.


" Terserah." Sahut Valen.


Valen mengeluarkan ponselnya, Ia membuka kunci layar lalu mencoba menghubungi Nathan. Bukannya suara Nathan yang menjawab tapi justru suara operator.


Valen menghela nafasnya. Ardan mengeluarkan sebatang rokok lalu menyalakan pematiknya. Menghirup asap rokok membuat Valen merasa pusing. Lama lama kesadaran Valen pun menghilang. Ardan tersenyum penuh kemenangan, Ia membuang rokoknya ke luar jendela.


" Dig kita ke hotel." Ucap Ardan.


" Lo yakin mau menjalankan rencana Lo itu? Resikonya sangat besar Ar." Ujar Digdo.


" Apapun resikonya aku akan menghadapinya, Yang jelas Valen harus menjadi milikku seutuhnya, dengan aku mengambil hal paling berharga darinya aku yakin Nathan pasti akan mencampakkannya, dan mau tidak mau dia harus menikah denganku bukan?" Ujar Ardan mengelus pipi Valen.


" Tapi Valen akan membenci Lo seumur hidup Ar, mending Lo pikirin lagi deh sebelum Lo menyesal seumur hidup Lo." Ucap Digdo.


" Aku akan merubah kebenciannya dengan cara menghujaninya dengan cinta Dig dan aku yakin suatu hari nanti Valen akan membalas rasa cinta itu." Kukuh Ardan.


" Terserah Lo lah, semoga kau berhasil." Ucap Digdo pasrah.


Sesampainya di hotel terdekat, Ardan menggendong Valen ala bridalstyle menuju kamar yang sudah di pesannya. Tak jauh dari sana dua orang mengamati pergerakannya dengan versi yang berbeda. Yang satu memanfaatkan momen ini dan yang lain hanya ingin tahu apa yang akan terjadi.


Ardan merebahkan tubuh Valen di atas kasur. Ia menekan telepon untuk memesan minuman yang menyegarkan. Setelah itu Ardan pergi membersihkan diri di kamar mandi. Sepuluh menit kemudian Ia keluar hanya dengan memakai handuk saja. Ia menghampiri Valen di atas ranjang.


" Maafkan aku jika aku harus melakukan ini padamu, ini cara satu satunya agar aku bisa memilikimu." Ujar Ardan mengecup pipi Valen.


Ardan beranjak membuka pintu.


" Ini pesanannya Tuan." Ucap seorang waitres hotel.


" Hmm." Gumam Ardan.


Ardan membawa masuk minumannya. Wine dengan alkohol berkadar sedang. Ia tidak tega jika Ia melakukannya dalam kondisi sadar, itu sebabnya Ia memesan segelas wine. Ya hanya segelas karna selama ini Ardan anti alkohol. Ardan segera meminumnya sampai habis.


Kepala Ardan mulai pusing, Ia mendekati Valen lalu Ia mulai membuka kancing kemeja yang Valen kenakan hingga menampakkan bra di dalamnya. Ardan mulai meraba dan menciumi leher Valen, sesekali Ia menyesapnya meninggalkan jejak merah di sana. Semakin ke sini kepala Ardan semakin pusing.


" Aku harus segera melakukannya, Ahhh kenapa hanya minum satu gelas saja membuat kepalaku sangat pusing sih." Gerutu Ardan.


Dan apa yang terjadi setelah itu.... Temukan jawabannya di bab setelah pernikahan ya.... Sabar mak jangan marah marah dulu ya...


Pagi hari Nathan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah mendapat laporan dari orang kepercayaannya jika Ardan membawa Valen ke sebuah kamar hotel. Nathan merasa kecolongan, kemarin saat Ia hendak menyusul Valen tiba tiba Ia mendapat pesan dari Valen yang mengatakan jika Valen sudah pulang. Nathan yang kelelahan pun semalam tidur nyenyak sampai pagi hari.


" Argh sial sial sial.... Aku tidak bisa menjagamu sayang.... Ternyata firasatmu benar akan terjadi sesuatu hal pada dirimu... Maafkan aku sayang maafkan aku." Ucap Nathan memukul stirnya.


Nathan segera memarkirkan mobilnya lalu berlari menuju kamar yang sudah di beritahukan kepadanya. Kamar 105... Sesampainya di depan kamar Nathan ragu antara ingin mendobrak atau kembali saja. Nathan takut dirinya tidak bisa menerima kenyataan jika Valen sudah di miliki oleh pria lain.


Sedangkan di dalam kamar, Valen mengerjapkan matanya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar.


" Eh... Kok perutku terasa berat sih." Gumam Valen.


Valen menoleh ke samping dan...

__ADS_1


Deg deg deg....


Jantungnya bertalu talu karna pandangannya nampak jelas menampakkan sesosok laki laki yang tidak mengenakan baju tidur sambil memeluknya. Valen segera menjauhkan tangan Ardan dari tubuhnya membuat Ardan terbangun dari tidurnya.


" Sayang kau sudah bangun?" Tanya Ardan menyandarkan tubuhnya pada headboard.


" Apa yang sudah kau lakukan padaku?" Teriak Valen saat menyadari jika bajunya sudah terbuka sepenuhnya. Ia melilitkan tubuhnya dengan selimut.


" Maafkan aku, semalam aku mabuk hingga tak sadar menyentuhmu." Ucap Ardan.


" Tidak... Ini tidak mungkin.... Tidak....." Lirih Valen menutup kedua telinganya.


" Tenanglah Valen aku akan bertanggung jawab atas semua ini, aku akan menikahimu." Ujar Ardan.


" Aku tidak mau menikah denganmu... Kau pasti bohong kepadaku, tidak terjadi apa apa di antara kita kan? Katakan kau membohongiku kan?" Tanya Valen mengguncang pundak Ardan.


" Maafkan aku tapi aku benar benar melakukannya." Sahut Ardan.


Ardan memungut handuknya lalu menutupi bagian tubuh bawahnya. Ia mengambil ponsel di atas nakas lalu mengaktifkan kamera depannya.


" Kau lihat." Ucap Ardan mengulurkan ponsel ke depan Valen. Valen menatap kamera itu dan melihat banyak jejak merah di bagian leher dan dadanya. Air mata menetes di pipinya.


" Kenapa kau lakukan ini padaku... Hiks.. Kenapa kau menghancurkan mimpi yang telah aku bangun dengan Nathan.... Kenapa? Kenapa Ardan?" Teriak Valen.


" Karna aku mencintaimu, aku tidak rela kau menjadi milik pria lain, aku akan menikahimu di hari pernikahanmu dengan Nathan, aku akan mengembalikan semua uang Nathan yang Ia gunakan untuk mempersiapkan pernikahan kita." Ujar Ardan kejauhan.


" Aku membencimu.... Aku tidak sudi menikah denganmu walaupun kau sudah merenggut kesucianku.... Aku membencimu.. Aku membencimu." Teriakan Valen lebih keras dari sebelumnya.


Mendengar teriakan Valen, Nathan langsung mendobrak pintunya.


Brakkkk......


Kedua orang di dalam menoleh secara bersamaan.


" Mas Nathan...." Lirih Valen dengan mata berkaca kaca.


" Sayang." Ucap Nathan menghampiri Valen.


Walaupun Nathan begitu terluka melihat pemandangan di depannya tapi Ia mencoba bersikap biasa biasa saja.


" Jangan mendekat Mas!" Ucap Valen menghentikan langkah Nathan.


" Kenapa?" Tanya Nathan.


" Ak... Aku... Aku kotor Mas... Aku sudah ternoda hiks...." Isak Valen.


Jeduarrrrr......


Bagai tersambar petir di pagi hari tubuh Nathan membeku, Ia bisa menebak apa yang terjadi dengan Valen dan Ardan tapi entah mengapa mendengar pengakuan dari mulut Valen membuat hatinya begitu sakit... Perih... dan begitu terluka....


Apakah Nathan tetap akan menerima Valen?


Ataukah Nathan memutuskan hubungan karna jijik dengan apa yang menimpa Valen?


Tunggu jawabannya di bab berikutnya.....

__ADS_1


TBC......


__ADS_2