
Malam hari Luci merasakan nyeri yang luar biasa pada perutnya. Ia bahkan meneteskan air mata sambil menahan rasa sakit itu. Bahkan Gama sampai kebingungan untuk menangani Luci. Ia mondar mandir di tepi ranjang sambil menggigit jarinya.
" Shh." Desis Luci saat merasakan rasa panas, pegel dan rasa ingin mengejan secara bersamaan.
" Mas sepertinya anak kita sudah mau keluar." Ucap Luci.
" Aku akan memanggil Dokter dulu sayang." Sahut Gama.
Gama keluar ruang rawat Luci menuju ruangan Dokter dan Suster. Setelah memanggil Dokter, Gama kembali ke ruangan Luci. Ia menatap Luci yang sedang kesakitan. Keringat dingin mengucur pada dahinya.
" Ya Allah kurangi rasa sakit istriku, berikan dia kekuatan dan selamatkanlah anak dan istriku." Doa Gama dalam hati.
Luci di geledek menuju ruang bersalin. Sesampainya di sana Dokter menginstruksi Luci untuk mengatur nafas yang benar sebelum mengejan.
" Tarik nafas dalam dalam Nona, lalu hembuskan." Ucap Dokter Mila. Luci mengikuti apa kata Dokter. Ia menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskannya lewat mulut.
" Hitungan ke tiga mengejan lagi ya Nona." Ujar Dokter Mila.
" Satu dua tiga." Sambung Dokter Mila menginstruksi. Luci mencoba mengejan dengan kuat.
" Ayo semangat sayang, sebentar lagi anak kita lahir." Ucap Gama sambil menggenggam tangan Luci. Ia memberikan semangat agar Luci menjadi kuat.
" Sekali lagi Nona kepalanya sudah terlihat." Ucap Dokter Mila.
Luci mengikuti instruksi dokter untuk mengejan lagi sampai...
Oek.... Oek....
" Alhamdulillah... Terima kasih sayang telah melahirkan babby mungil untukku." Ucap Gama mencium kening Luci.
" Selamat Tuan dan Nona, babbynya laki laki dan terlahir sempurna." Ucap Dokter Mila.
" Terima kasih Dok." Ucap Gama.
" Lakukan inisiasi menyusu dini dulu Nona, setelah itu suster akan mendandani babbynya." Ujar Dokter Mila menengkurapkan babby ke dada Luci.
Babby Luci dengan sigap mencari put** susu, lalu Ia menghisapnya dengan kuat.
" Duh anak Papa kehausan ya sampai kuat banget nyesapnya." Ucap Gama mengelus kepala babbynya.
" Iya Pa, aku haus sama lapar." Sahut Luci.
" Wajahnya mirip aku ya sayang." Ujar Gama.
" Mau mirip siapa lagi kalau nggak mirip papanya." Ujar Luci.
" Iya kau benar sayang." Sahut Gama.
Dokter membersihkan sisa sisa noda darah pada bagian tubuh Luci. Setelah selesai dokter meminta suster untuk membersihkan babby dan memakaikan bajunya.
" Sus bolehkah saya menggendongnya?" Tanya Gama mendekati suster yang sudah selesai mendandani babbynya.
" Silahkan Pak." Sahut suster memberikan babby Luci kepada Gama.
" Terima kasih sus." Ucap Gama menatap babby tampannya.
" Sama sama Tuan." Sahut suster.
" Uluh anak Papa manis sekali, jadilah anak sholeh dan menjadi kebanggaan kami sayang, Papa mencintaimu." Ucap Gama menciumi pipi babbynya.
" Mas aku juga mau gendong." Ujar Luci lemah.
__ADS_1
" Jangan dulu sayang kamu masih lemas, mending kamu istirahat saja sambil menunggu suster memindahkanmu." Sahut Gama.
" Baiklah Mas." Sahut Luci memejamkan matanya.
Gama menimang nimang putra kesayangannya. Ia tersenyum kala melihat lidah putranya bergerak gerak seperti saat menyusu.
" Sayangnya Papa haus lagi ya... Nunggu nanti ya biarkan Mama istirahat dulu sayang, kasihan Mama capek, dedek bubuk aja Papa gendong ya." Ujar Gama.
...----------------...
Pagi hari ruang rawat Luci penuh dengan keluarga Ardiansyah. Nathan, Valen, Davian, Ria, Cia, Irvan, Papi Farhan dan Mami Nesha duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Yang tidak kebagian sofa mereka berdiri.
" Uluh manis banget sih keponakan aunty, jadi pengin cepet cepet lahiran deh." Ucap Cia mengelus pelan pipi babby Luci yang sedang di pangku oleh Mami Nesha.
" Sabar sayang tinggal nunggu lima bulanan lagi kita akan mendapatkan dua sekaligus." Ujar Irvan.
" Iya Mas, aku selalu sabar menanti kok." Sahut Cia.
" Oh ya Kak, siapa nama babby tampan ini?" Tanya Ria menoel pipi babby Luci.
Gama menatap Luci yang di balas anggukan kepala oleh Luci. Gama kembali menatap keluarganya.
" Babby tampan ini Kakak beri nama Arsenio Sky Ardiansyah." Sahut Gama.
" Wow babby Ar namamu keren sekeren wajahmu yang super imut." Sahut Cia merasa gemas sendiri.
" Kamu ini sukanya gitu, suka ngambil dua huruf depannya aja, baby Er, babby Fa sekarang babby Ar, besok kamu mau menamai anakmu siapa?" Tanya Ria menatap Cia.
" Aku akan memberi mereka nama....." Cia menggantung ucapannya sambil berpikir.
" Siapa ya Mas?" Tanya Cia menatap Irvan.
" Kamu sengaja membuatku pusing Mas." Cebik Cia.
" Aku akan memberinya nama babby Ve." Sahut Cia.
" Babby Ve? Ve siapa?" Tanya Ria.
" Ada deh..... Yang penting keduanya berawal dengan huruf Ve." Sahut Cia.
" Ok ok biarkan itu menjadi kejutan untuk kami." Ujar Ria.
" Kita panggil babby Arsen saja ya Gam, biar gampang." Ujar Nathan.
" Boleh Bang, Arsen panggilan yang bagus." Sahut Gama.
" Halo Babby Arsen yang lucu dan imut, nggak kalah imut sama Abang Erald, cepat besar ya biar bisa main sama Abang Erald sama Fara." Ujar Valen.
" Iya Aunty." Sahut Mami Nesha.
" Mi coba aku mau gendong." Ucap Nathan.
" Hati hati." Ujar Mami Nesha memberikan Babby Arsen kepada Nathan.
" Halo ponakan Om yang paling tampan, paling tampan ya karna keponakan Om yang satunya cewek." Ujar Nathan mencium pipi Babby Arsen.
" Gantian aku Bang, aku juga mau gendong." Ucap Davian mendekati Nathan.
" Sekarang gendong Om Davian ya... Jangan nangis karna Om Davian tidak setampan Om Nathan." Ujar Nathan.
" Eleh sok banget kamu Bang muji diri sendiri, anak anak Mami Nesha itu semuanya tampan paripurna Bang." Sahut Davian menggendong Babby Arsen.
__ADS_1
" Iya iya.. Gak rela banget di bilang tampanan gue." Ujar Nathan.
" Ya jelas lah." Sahut Davian.
" Ponakan Om yang baik hati, kamu lebih tampan kok di banding para Ommu ini." Ujar Davian melirik Nathan.
" Ya jelas lah, perpaduan yang sempurna." Sahut Nathan.
Drt.... Drt...
Ponsel Valen berdering tanda panggilan masuk. Ia mengambil ponsel di tasnya.
" Bi Nadia." Gumam Valen menatap id pemanggil.
" Halo Bi." Ucap Valen setelah mengangkat panggilan teleponnya.
" Begini Non Valen, Den Erald badannya panas Non, Den Erald juga nangis terus." Ujar Bi Nadia di sebrang sana.
" Apa?" Pekik Valen membuat semua orang menatapnya.
" Ada apa Yank?" Tanya Nathan mendekati Valen.
" Erald sakit Mas." Sahut Valen.
" Ya udah kita pulang sekarang." Ujar Nathan.
" Iya Mas." Sahut Valen.
" Bi tenangin Erald dulu ya, saya sama Mas Nathan segera pulang." Ucap Valen.
" Iya Non hati hati." Sahut Bi Nadia.
Valen mematikan sambungan teleponnya. Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
" Kenapa sayang? Erald sakit apa?" Tanya Mami Nesha.
" Badannya panas Mi." Sahut Valen.
" Semuanya aku pamit duluan ya." Sambung Valen.
" Iya Kak hati hati ya, semoga Babby Er baik baik saja." Sahut Cia.
" Iya Cia." Sahut Valen.
Valen dan Nathan menghampiri Luci di ranjangnya.
" Luci Kakak pulang dulu ya, cepat pulih dan sehat, sekali lagi selamat untukmu." Ucap Valen memeluk Luci.
" Hati hati Kak, makasih ya udah datang." Ujar Luci.
" Ok." Sahut Valen.
Nathan menggandeng Valen keluar ruangan Luci. Keduanya berjalan menuju parkiran rumah sakit. Nathan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit kencang.
TBC.......
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya donk.... Dari kemarin belum ada yang kasih hadiah buat author...
Terima kasih untuk readers yang sudah setia menemani author sampai di bab ini, semoga sehat selalu, di lancarkan segala urusan dan rezekinya....
Miss U All...
__ADS_1