Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
81. Malam Pengantin Yang Tertukar


__ADS_3

Selesai acara keluarga Ardiansyah masih berkumpul di hotel tempat acara di selenggarakan. Di sana ada Papi Farhan, Mami Nesha, Valen, Nathan, Ria, Davian dan tentunya kedua pengantin baru. Siapa lagi kalau bukan Irvan dan Gama. Kalau Luci dan Ria, keduanya sudah masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


" Kamarmu ada di nomer seratus Van." Ucap Valen kepada Irvan.


" Ok." Sahut Irvan.


" Dan kamarmu ada di kamar seratus satu Dek." Ucap Nathan menatap Gama.


" Makasih Bang." Sahut Gama.


Karna hari bertambah malam, akhirnya Gama dan Irvan pamit untuk kembali ke kamar masing masing. Begitupun dengan Papi dan Mami Nesha.


" Gimana Bang?" Tanya Davian setelah kepergian Irvan dan Gama.


" Beres." Sahut Nathan mengacungkan jempolnya.


" Apa yang sedang kalian rencanakan Mas?" Selidik Valen.


" Tidak ada." Sahut Nathan.


" Barusan kalian membicarakan apa?" Tanya Valen.


" Dekorasi untuk kamar pengantin sudah beres." Sahut Davian.


" Owh." Sahut Valen.


" Mas kita pulang ya, aku sudah mengantuk." Ucap Ria menatap Davian.


" Kita juga menginap di sini sayang, gimana kalu kamu tidur sama Kak Valen lalu aku tidur sama Bang Nathan? Bukankah ini tawaran yang menarik?" Tanya Davian.


Ria menatap ke arah Valen yang di balas anggukan kepala oleh Valen.


" Baiklah Mas, kalau begitu kami ke kamar dulu." Ucap Ria.


" Ini akses kamarnya, nomer tujuh lima ya." Ujar Davian memberikan kartu aksesnya.


" Iya Mas, kami permisi dulu." Sahut Ria.


Valen dan Ria berjalan meninggalkan Nathan dan Davian menuju kamarnya.


" Sekarang ayo kita jalankan misi yang sebenarnya." Ujar Davian.


" Kau terlalu bersemangat." Kekeh Nathan.


Nathan dan Davian menuju kamar pengantin baru. Mereka menunggu drama yang akan terjadi di luar kamar.


Beberapa waktu lalu,


Irvan masuk ke dalam kamarnya yang gelap dan hanya di terangi oleh lampu temaram saja. Ia masuk ke dalam menatap Cia yang tidur meringkuk di atas kasur dengan selimut sebatas dadanya. Irvan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Lima belas menit, Irvan keluar dari kamar mandi. Ia mendekati ranjang lalu mengambil bantal.


" Selamat malam Cia, semoga mimpi indah." Ucap Irvan. Kemudian Ia menuju sofa dan merebahkan dirinya di sana.


Irvan menatap langit langit kamar memikirkan langkah apa yang akan Ia ambil untuk melanjutkan pernikahan ini. Sejujurnya sejak Irvan melakukannya dengan Cia malam itu, Irvan merasa ketagihan. Ia ingin merasakannya lagi dan lagi. Tapi sebisa mungkin malam ini Ia menahannya. Ia tidak mau memaksakan kehendaknya, apalagi di hati Cia dan dirinya masih ada nama orang lain yang belum benar benar terhapus. Akhirnya Irvan menutup matanya mencoba melaju ke alam mimpi.


Sedangkan Gama masuk ke dalam kamarnya. Gelap....


Ia masuk ke dalam lalu mengunci pintunya, Ia menatap wanita yang sedang terbaring di atas ranjang dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Gama tersenyum bahagia melihatnya. Akhirnya malam ini akan menjadi malam yang indah untuk Ia dan Luci. Ia tidak mau mengganggu istrinya dulu jadi Ia berpikir untuk membersihkan diri dulu di dalam kamar mandi.


Lima belas menit kemudian, Gama keluar kamar mandi hanya memakai bathrobe saja. Ia menyisir rambutnya lalu berjalan menghampiri ranjang.

__ADS_1


" Apa Luci kalau tidur rapat begini ya? Apa nggak sumpek? Hah ada ada aja." Monolog Gama menggelengkan kepalanya.


Gama membuka selimut yang menutupi tubuh Luci perlahan. Gama menyalakan lampu tidur, Ia menatap wajah Luci yang tertutup oleh rambut. Gama mrnyingkirkan anak rambut Luci lalu Ia mengecup pipi Luci dengan pelan.


" Sayang bangunlah." Bisik Gama di telinga Luci.


Luci tidak bergeming, Ia masih setia menutup matanya bahkan saat ini Luci menyembunyikan wajahnya di bawah bantal. Gama terkekeh melihatnya.


Gama mendorong pelan tubuh Luci hingga merubah posisi Luci menjadi terlentang. Gama mengukung tubuh Luci, Ia hendak mencium bibir Luci. Tiba tiba wanita yang di anggap Luci membuka matanya dan....


" Kakak." Ucap Cia mendorong kasar tubuh Gama hingga terjengkang ke bawah.


" Awh." Pekik Gama saat merasakan pant*nya kesakitan.


" Apa yang Kak Gama lakukan di kamarku?" Tanya Cia turun dari ranjang lalu menyalakan lampunya hingga membuat kamar Cia nampak terang benderang.


" Cia..... Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Gama beranjak sambil mengusap usap bokongnya.


" Seharusnya aku yang tanya, Kenapa Kak Gama ada di kamarku? Mana Kak Irvan?" Tanya Cia menatap Gama.


" Kalau ini kamarmu, berarti Irvan masuk ke kamarku donk." Ujar Gama.


" Apa? Kak Irvan masuk ke kamarmu?" Pekik Cia.


" Lalu bagaimana jika mereka melakukan....." Cia menjeda ucapannya membuat Gama paham akan maksud Cia.


" Tidak boleh.... Ini tidak boleh terjadi." Ucap Gama segera keluar dari kamar Cia.


Ceklek......


" Apa apaan kalian ini?" Tanya Gama saat melihat Nathan dan Davian berdiri di depan kamar Cia sambil menguping.


" Eh Gama." Ucap Davian cengengesan.


" Ulah apa? Kami terkejut kenapa kamu keluar dari kamar Cia? Bukankah kamarmu ada di sebelah?" Tanya Nathan.


" Ah iya, kamarku." Ujar Gama.


Gama segera membuka kamar yang berada di samping kamar Cia.


Brak....


Gama membuka kamar dengan kasar.


" Luci." Panggil Gama memasuki kamarnya.


Tet...


Gama menyalakan lampunya, Ia menatap wanita yang sedang tertidur pulas di atas ranjang. Lalu pandangannya berhenti pada Irvan yang sedang meringkuk di sofa.


Mendengar keributan Irvan membuka matanya. Ia menatap orang orang yang sedang berdiri menatapnya.


" Kalian pada ngapain di kamarku?" Tanya Irvan.


" Ini kamarku bodoh, apa yang kamu lakukan pada istriku?" Tanya Gama membuat Irvan mengerutkan keningnya.


" Istrimu? Kamarmu?" Tanya Irvan.


" Ya... Kita salah kamar bodoh." Sahut Gama.


" Salah kamar?" Tanya Irvan memastikan.

__ADS_1


Irvan menatap Cia yang berdiri di belakang Gama. Lalu Ia menatap wanita yang Ia kira Cia sedang meringkuk di atas ranjang.


" Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" Tanya Irvan menghampiri Cia.


" Kita salah kamar, harusnya kamu masuk di kamar sebelah, lalu aku di kamar ini." Jelas Gama.


Nathan dan Davian menahan tawanya.


" Kok bisa?" Tanya Irvan.


Gama dan Irvan menatap dua orang yang sedang membungkam mulutnya.


" Pasti ini semua ulah kalian." Ucap Gama menunjuk Nathan dan Davian.


" Kok bisa nuduh kami? Harusnya kalian teliti donk lihat nomernya." Sahut Davian.


" Kami yakin kalau kami tidak dalah melihat nomernya." Sahut Irvan.


" Iya tadi aku lihat kamar ini nomer seratus." Ujar Irvan.


Irvan berjalan keluar melihat nomer yang terpasang di depan pintu.


Seratus satu


" Lhoh kok bisa jadi seratus satu?" Tanya Irvan tak percaya.


Gama dan yang lainnya keluar melihat nomer yang di maksud Irvan.


" Iya kok bisa?" Ujar Gama.


Gama menatap Davian dengan tajam.


" Katakan yang sebenarnya kalau ini ulah kalian, kalau masih menyangkal, jangan salahkan aku kalau aku berbuat kasar pada adikmu." Ucap Gama.


Davian menelan kasar salivanya. Ia menatap Nathan yang sedang menggelengkan kepalanya.


" A... Aku tidak tahu." Sahut Davian.


" Mas jawablah dengan jujur, kalau tidak kamu tidak akan mendapat jatah malam ini." Ucap Valen tiba tiba yang sudah berdiri di belakang Nathan bersama Ria.


Nathan menoleh ke belakang menatap Valen.


" Katakan atau...


" Iya." Sahut Nathan.


" Jadi ini ulah kalian berdua?" Tanya Valen.


Nathan dan Davian menganggukkan kepalanya.


" Usil ya jadi orang." Ucap Valen menjewer telinga Nathan. Begitupun dengan Ria, Ia menjewer telinga Davian meninggalkan kamar Gama menuju kamarnya.


Kini tinggal Irvan, Gama dan Cia.


" Ha ha ha ha." Ketiganya tertawa bersama melihat adegan konyol yang Valen dan Ria suguhkan.


TBC.....


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu.....

__ADS_1


Miss U All.....


__ADS_2