
Hari ini Dika dan Azza sedang bersiap hendak ke rumah utama untuk persiapan pernikahan Naren yang akan di laksanakan beberapa hari lagi. Keluarga Dika akan berkumpul mulai hari ini sampai hari pernikahan Naren.
Saat ini Azza sedang menyisir rambutnya di depan meja rias. Dika yang baru saja masuk ke kamar berjalan menghampirinya.
" Istriku cantik sekali." Ucap Dika mengalungkan tangannya ke leher Azza.
" Ada angin apa nih, pagi pagi Mas Dika udah ngegombal aja." Sahut Azza.
" Aku tidak sedang menggombal sayang, aku berbicara fakta, pure... Ini murni kenyataan kalau istriku memang cantik sekali." Ujar Dika.
" Iya aku tahu Mas, tapi menurut Mas Dika aku cantik wajahnya atau hatinya Mas?" Tanya Azza menatap Dika melalui pantulan cermin.
" Dua duanya sayang, kamu cantik fisik dan cantik hatinya, aku merasa kalau kamu adalah wanita yang sempurna." Ucap Dika mencium pipi kanan Azza.
" Tidak ada manusia yang sempurna Mas, karena kesempurnaan hanya milik Allah." Sahut Azza.
" Kalau Allah Maha sempurna sayang, tapi kalau kamu wanita sempurna, itulah kenyataannya." Ucap Dika.
" Baiklah terserah Mas Dika aja, terima kasih sudah menyanjungku Mas, Mas Dika pria terbaik menurut Azza, semoga kita bisa bersama dunia akhirat Mas." Sahut Azza.
" Amin... Sekali kali sanjung aku donk." Ujar Dika.
" Lha tadi udah, Mas Dika pria terbaik." Ucap Azza.
" Lagi." Ujar Dika.
" Mas Dika apa ya????" Ucap Azza sedikit berpikir.
" Mas Dika ganteng deh." Sambung Azza.
" Nah gitu donk! Biar aku semangat memberikan ucapan ucapan romantis sama kamu sayang." Ujar Dika.
" Aku tidak membutuhkan kata kata manis darimu Mas, aku hanya ingin cinta dan kasih sayang dari Mas Dika selamanya." Sahut Azza.
" Itu sudah pasti sayang." Sahut Dika.
" Bener?" Tanya Azza.
" Ya bener lah sayang." Sahut Dika.
" Nanti kalau ada cewek nempel atau masa lalu kembali yakin nggak akan berpaling?" Tanya Azza menggoda Dika.
"Sayang kok kamu ngomongnya gitu sih, kamu nggak percaya sama aku? Kamu meragukan aku?" Selidik Dika.
" Aku percaya sama Mas Dika, tapi semua dan apapun itu bisa terjadi Mas jika Allah sudah berkehendak, jadi jangan pernah menjanjikan apa apa kepadaku, aku takut kamu mengingkarinya dan akan berkata khilaf setelah menyadarinya, ya udah aku mau pakai hijab dulu Mas, lepas gih." Ucap Azza.
" Mas masih ingin seperti ini, dengarkan aku sayang... Aku tidak akan melirik wanita lain dan aku juga akan berusaha sekuat mungkin untuk tidak tertarik dengan wanita lainnya, baik itu wanita dari masa laluku ataupun wanita lainnya, kamu percaya padaku kan." Ucap Dika membalikkan badan Azza menjadi menghadap ke arahnya.
" Iya aku percaya pada Mas Dika, maafkan aku tadi aku hanya bercanda saja." Sahut Azza.
" Usil ya." Ucap Dika gemas.
Azza mendongak menatap mata Dika. Keduanya saling melempar tatapan untuk beberapa saat. Dika menundukkan wajahnya,
Cup....
__ADS_1
Dika mengecup bibir Azza dengan lembut.
" Manis." Ucap Dika membuat pipi Azza merona.
" Kenapa pipimu merah gitu hmm? Kamu malu? Padahal kita udah punya anak lhoh Yank, kenapa masih malu malu." Ujar Dika.
" Ya nggak tahu Mas... Mas Dika ih sukanya mah gitu, udah ah minggir aku mau pakai hijab dulu." Ujar Azza mengambil hijab segitiganya.
Dika terkekeh melihat sikap Azza yang selalu malu malu. Bahkan sampai sekarang Azza tidak mau mencium Dika lebih dulu.
" Aira sama Papa ya, Bunda biar bersiap dulu." Ucap Dika menggendong Aira dari ranjang.
Aira tersenyum manis menatap Dika.
" Eh Aira senyum sayang." Ucap Dika menoleh ke arah Azza yang sedang memakai hijabnya.
" Senyum kan ibadah Mas, dan senyuman itu menjadi ibadah pertama buat Aira, semoga kelak Aira akan menjadi anak sholehah ya Mas, yang bisa menjadi jembatan kita menuju syurga." Sahut Azza.
" Amin." Sahut Dika.
" Ya udah Mas ayo kita berangkat." Ajak Azza.
" Kamu sudah selesai." Ucap Dika.
" Udah Mas, sini biar Aira gendong aku aja Mas." Ujar Azza mengambil alih gendongan Aira dari tangan Dika.
" Baiklah ayo sayang." Sahut Dika.
Keduanya berjalan keluar rumah menuju mobilnya. Dika melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah utama yang dulu Ia dan Naren tinggali.
" Ayo turun sayang." Ucap Dika melepas sealbeltnya.
" Iya Mas." Sahut Azza turun dari mobil.
Dik menggandeng tangan Azza masuk ke dalam rumah.
" Assalamu'alaikum." Ucap Azza dan Dika bersamaan.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Naren menghampiri keduanya.
" Kakak." Ucap Naren memeluk Dika.
" Gimana kabarmu?" Tanya Dika melepas pelukannya.
" Seperti yang Kakak lihat kalau aku baik baik saja" Sahut Naren.
" Halo Azza." Sapa Naren.
" Hai." Sahut Azza mengatupkan kedua tangannya.
" Ponakan Om udah gedhe rupanya ya, cantik banget sih." Ujar Naren menoel pipi Aira membuat Aira tersenyum.
" Eh senyum dia." Ujar Naren.
" Papa sama Mama udah datang?" Tanya Dika.
__ADS_1
" Udah Kak silahkan masuk." Sahut Naren.
Ketiganya masuk ke dalam menuju ruang keluarga dimana Mama dan Papanya Dika sedang berkumpul di sana.
" Halo Pa, Ma, apa kabar?" Tanya Dika menyalami kedua orang tuanya, begitupun dengan Azza.
" Alhamdulillah baik sayang, kalau kalian gimana?" Sahut Papa Toni balik bertanya.
" Alhamdulillah kami juga baik Pa." Sahut Dika.
" Cucu Oma sini sama Oma." Ujar Mama Esti.
Azza memberikan Aira kepada Mama Esti, lalu Ia duduk di sebelah Dika.
" Uluh uluh cantiknya cucu Oma, sholehah seperti Bunda ya sayang." Ucap Mama Esti menciumi pipi Aira.
" Amin makasih Ma." Sahut Azza.
" Mama jadi pengin punya babby cewek gini deh Pa, lucu ya.... Gimana kalau Aira Mama bawa aja ya Ka biar bisa nemenin Mama kalau Papa sedang bekerja." Ujar Mama Esti menatap Dika.
" Ya jangan donk Ma, nanti Azza gimana? Bisa bisa Azza nanti nangis siang dan malam, Dika nggak bisa menenangkannya." Sahut Dika.
" Kalian kan masih muda, jadi kalian bisa buat lagi, kasihanlah sama Mama yang udah nggak bisa hamil lagi, jadi boleh ya Mama bawa Aira." Ujar Mama Esti.
" Kamu ini Ma, jangan menggoda anak anak kita donk, lihatlah Azza mau menangis." Ujar Papa Toni.
Mama Esti menatap Azza yang menundukkan kepalanya.
" Beneran kamu mau menangis Za?" Tanya Mama Esti.
" Tidak kok Ma, Azza tahu kalau Mama hanya bercanda saja." Sahut Azza menatap Mama Esti.
" Ah kamu nih Pa, bikin Mama deg degan aja." Cebik Mama Esti menatap Papa Toni.
" Oh ya Ren, siapa dan dari keluarga mana calon istrimu? Kenapa kamu tidak mengenalkannya kepada Kakak?" Tanya Dika menatap Naren begitupun dengan Azza.
" Maaf Kak aku tidak sempat mengenalkannya padamu, tapi Kakak pasti mengenal keluarganya." Sahut Naren.
" Siapa?" Tanya Dika.
" Dia.....
Siapa hayoooo?????
Bantu Naren jawab gih....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya buat author ya biar makin semangat..
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author....
Semoga sehat selalu....
Miss U All....
TBC......
__ADS_1