
Setelah Nathan membawa Ria ke rumah sakit, Nathan mengabari Valen untuk segera menyusulnya. Nathan merasa bingung apa yang akan dia lakukan saat menghadapi Ria yang hendak melahirkan.
Valen berjalan menghampiri Nathan yang sedang duduk di depan ugd.
" Gimana Mas?" Tanya Valen.
" Dokter sedang memeriksanya Yank, Erald sama siapa?" Nathan balik bertanya.
" Sama Mami." Sahut Valen.
" Maafin aku Yank, karna aku kamu jadi ninggalin Erald." Ucap Nathan.
" Nggak pa pa Mas." Sahut Valen menepuk pundak Nathan.
" Apa kamu sudah ada kabar dari Irvan?" Tanya Nathan.
" Udah Mas, tapi semua bukti mengarah pada Davian karena memang dulu Davian yang memimpin kelompok mereka, akan ada kesulitan untuk membebaskan Davian dari kantor polisi Mas." Sahut Valen.
" Lalu bagaimana dengan Ria? Kasihan Ria kan kalau melahirkan tanpa suaminya." Ujar Nathan frustasi.
" Tenanglah Mas, aku sudah menyuruh Irvan menjemput Davian dengan penangguhan." Ujar Valen.
" Kamu yang menjamin Davian?" Tanya Nathan.
" Iya Mas, aku yakin Davian hanya di jadikan kambing hitam saja." Sahut Valen.
" Aku juga menyuruh Tora melacak keberadaan Reno, aku akan membuat perhitungan dengannya." Sambung Valen.
" Kamu menakutkan juga Yank, aku sebagai pria sampai kalah sama kamu." Ujar Nathan merasa rendah.
" Tidak juga Mas, aku imut gini kok di bilang menakutkan." Sahut Valen.
" Mau di beri hukuman apa si Reno itu?" Selidik Nathan.
" Aku mau sedikit bermain main dengannya Mas." Ujar Valen.
" Bermain gimana?" Tanya Nathan mulai piktor. Mungkin karena efek puasa sebulan.
" Mau tahu aja, yang jelas aku tidak akan melepaskannya begitu saja, dia harus merasakan apa yang Ria rasakan selama ini, bukankah dia penyebab Adrian meninggal? Dia harus menebus semua itu kepada Ria nanti." Ujar Valen.
" Aku nggak mau kamu mengotori tanganmu Yank, ingat ada Erald yang selalu membutuhkanmu." Ucap Nathan khawatir.
" Tenang aja Mas, tanganku banyak dimana mana, aku akan menggunakan tanganku lainnya." Sahut Valen.
Tak berapa lama seorang Dokter keluar dari ruangan. Valen segera menghampirinya.
" Bagaimana keadaan Adik saya dan bayinya Dok?" Tanya Valen.
" Nona Valeria mengalami pendarahan Nona, kami harus segera melakukan tindakan oprasi untuk mengambil bayinya, tapi kami butuh persetujuan dari keluarganya, terutama suaminya." Terang Dokter.
__ADS_1
Valen dan Nathan saling melempar pandangan mereka. Nathan beranjak mendekati Dokter.
" Suaminya sedang dalam perjalanan Dok, tapi saya sebagai Abangnya mengijinkannya Dok, lakukan yang terbaik untuk adik saya." Ucap Nathan.
" Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi Tuan, jika Nona Valeria masih mempunyai suami, maka suaminya lah yang lebih berhak memutuskan, kalau bisa segera hubungi suaminya Tuan sebelum semuanya terlambat." Ucap Dokter.
" Baik Dok kami akan menghubunginya." Sahut Valen.
Dokter kembali masuk ke dalam ruangan UGD. Valen segera menghubungi Irvan untuk menanyakan keberadaan Davian.
" Halo Van kamu dimana?" Tanya Valen setelah Irvan mengangkat panggilannya.
" Aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, sebentar lagi sampai Len." Sahut Irvan.
" Davian gimana?" Tanya Valen.
" Sesuai perintahmu aku membawanya bersamaku." Sahut Irvan.
" Segera sampai ke sini, karena Dokter membutuhkan tanda tangan Davian untuk persetujuan oprasi Ria." Ucap Valen.
" Apa? Oprasi? Ah baiklah aku akan menambah kecepatanku." Sahut Irvan menginjak pedal gasnya.
" Apa Van? Oprasi? Maksudmu Ria harus di cesar gitu?" Tanya Davian dalam mobil.
" Iya Dav, semoga Ria dan bayinya baik baik saja ya." Ujar Irvan.
" Makasih Van." Sahut Davian.
Sesampainya di rumah sakit, Davian segera berlari menuju ruang UGD meninggalkan Irvan yang sedang memarkirkan mobilnya.
" Kakak Ipar." Panggil Davian membuat Valen menoleh ke arahnya.
" Ah syukurlah Davi kau datang dengan cepat, sekarang masuklah dan segera tanda tangani perserujuan oprasi, kita tidak boleh terlambat, anakmu harus segera di selamatkan." Ucap Valen.
" Baiklah." Sahut Davian.
Davian segera masuk ke dalam ruangan UGD. Setelah menandatangani surat persetujuan oprasi cesar, Dokter segera membawa Ria ke dalam ruang oprasi. Davian menatap wajah Ria yang nampak begitu pucat di atas brankar yang sedang di dorong suster.
" Anda tunggu di sini Pak." Ucap Suster mencegah Davian masuk ke dalam ruang oprasi.
" Lakukan yang terbaik untuk istri dan anakku Sus." Ujar Davian.
" Kami akan berusaha semaksimal mungkin Tuan, anda bantu doa saja." Sahut Suster menutup pintu.
Davian duduk di kursi tunggu. Valen, Irvan dan Nathan menghampirinya.
" Sabar Dav, semua akan baik baik saja." Ucap Nathan mengelus pundak Davian.
" Seandainya dulu aku tidak tertarik untuk menjalankan bisnis itu Bang, semua ini tidak akan terjadi, Vale tidak akan mengalami hal hal mengerikan seperti ini Bang." Ucap Davian dengan nada sedih.
__ADS_1
" Semua sudah berlalu Davi, memang itu jalan yang harus kalian lalui untuk menggapai kebahagiaan, bersabarlah dan selalu berdoalah untuk kebaikan kalian semua." Sahut Nathan.
" Aku selalu berdoa untuk keselamatan Vale dan anakku Bang, aku selalu berdoa untuk kebahagiaan Vale." Ujar Davian.
" Bagaimana jika aku terbukti bersalah Bang, aku tidak bisa melihat anakku tumbuh dewasa." Ucap Davian sedih membayangkan hal itu terjadi. Ia yakin anaknya nanti akan malu punya ayah seorang kriminal.
" Jangan pikirkan masalah itu dulu Davi, sekarang fokuslah pada Ria dan anaknya, kami akan membantu membebaskanmu dari tuduhan itu, kami akan berusaha sebisa mungkin untuk mengumpulkan semua bukti bukti jika kamu tidak bersalah." Ujar Valen.
" Terima kasih Kakak Ipar, kau memang manusia terbaik di dunia." Ucap Davian.
" Jangan bilang begitu, aku tidak sebaik yang kau pikirkan." Sahut Valen.
" Aku sudah menyiapkan pengacara terhandal yang akan membelamu dalam kasus ini, aku yakin dia bisa membebaskanmu dari tuduhan ini." Ucap Irvan.
" Siapa Van?" Selidik Valen. Irvan tersenyum ke arahnya.
" Christian coper." Sahut Irvan.
" Apa? Kau memanggil Tian kemari untuk kasus ini?" Pekik Valen tak percaya.
" Iya, sekalian nostalgia kalau perlu clbk." Sahut Irvan.
" Clbk? Siapa yang clbk?" Tanya Nathan menatap Irvan dan Valen secara bergantian.
" Kamu mengenal pengacara Christian sayang?" Tanya Nathan.
Valen melirik ke arah Irvan begitupun sebaliknya.
" Jawab sayang! Kenapa kamu seperti menyembunyikan sesuatu dariku?" Selidik Nathan.
" Aku dan dia pernah dekat Mas, tapi sejak Tian pergi meninggalkan Indonesia kami sudah tidak berhubungan lagi." Sahut Valen.
" Apa kamu mau berhubungan lagi dengannya setelah dia kembali ke sini?" Tanya Nathan menatap Valen.
" Apaan sih Mas, ya nggak mungkinlah aku kembali berhubungan sama dia, aku udah punya kamu dan Erald Mas, nggak ingat apa, udah ah nggak usah bahas soal itu, saat ini kita sedang prihatin dengan keadaan Ria dan Davi malah kita mempermasalahkan hal lainnya." Ujar Valen.
" Gajimu aku porong tujuh puluh lima persen selama enam bulan Van." Sambung Valen.
" Apa? Hanya sisa dua puluh lima persen? Nggak cukup Len untuk memberikan uang belanja untuk Cia." Ujar Irvan.
" Bodo' amat, salah siapa punya mulut lemes." Sahut Valen duduk di samping Davian.
Irvan menghela nafasnya. Keputusan Valen sudah tidak bisa di ganggu gugat. Ia merutuki kebodohannya yang mengungkit masa lalu Valen.
TbC....
Yang minta double up udah author kasih ya untuk penghantar tidur.
Author tunggu like vote dan hadiahnya nih....
__ADS_1
Miss U All....