
" Apa kau mau menjadi istri dan ibu dari anak anakku?" Tanya Gama sekali lagi.
" Maaf Kak aku tidak bisa." Ucap Luci menarik tangannya.
" Kenapa? Apa kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku?" Tanya Gama.
" Sepertinya kau telah salah menilaiku selama ini Kak Gama, aku hanya mencoba bersikap baik kepada semua orang, jadi jangan pernah artikan itu sebagai cintaku untukmu, aku harap setelah ini kau tidak lagi mengganggu hidupku." Ucap Luci meninggalkan Gama.
Gama menatap kepergian Luci dengan rasa kecewa. Wanita yang sudah mencuri hatinya justru menolaknya? Apakah ini karma karna Ia pernah memainkan perasaan Kavia?
" Aku harus melakukan sesuatu, aku tidak pernah salah menilai orang Luci, aku tahu ada cinta di matamu untukku, aku akan membuktikan itu padamu." Monolog Gama.
Gama meninggalkan cafe itu. Luci berdiri di belakang pintu menatap kepergian Gama. Ia menyentuh dadanya sendiri menahan getaran di dalam hatinya.
" Maafkan aku Kak, aku takut akan cintamu, aku takut mengalami hal seperti yang Kak Ria alami, bahkan aku telah kehilangan hasrat untuk mencintai." Ujar Luci.
Luci berjalan menuju mobilnya. Ia melajukan mobilnya menuju rumah dengan kecepatan sedang. Setengah jam Ia sampai di rumahnya. Luci masuk ke dalam rumah, Ia berjalan menaiki tangga.
" Darimana Ci?" Tanya Ria saat mereka berpapasan di atas tangga.
" Cari buku Kak, Kak Davian udah sembuh?" Tanya Luci.
" Alhamdulillah lukanya sudah mengering." Sahut Ria.
" Kak Ria mau kemana?" Tanya Luci.
" Mau buatin jus buat Kakakmu." Sahut Ria.
" Semenjak Kak Ria kembali ke rumah ini, Kak Davi jadi manja." Ucap Ria.
" Nggak pa pa, kan sudah menjadi tugas seorang istri." Ujar Ria.
" Kak, apa Kakak tidak trauma dengan sikap Kak Davi sebelumnya? Kakak nggak takut Kak Davi kembali seperti dulu suatu hari nanti?" Selidik Luci ingin tahu.
Ria menatap ke arah Luci dengan tatapan menyelidik.
" Apa kamu merasakan trauma itu?" Bukannya menjawab Ria justru balik bertanya.
" Entahlah Kak, melihat sikap Kak Davi dulu membuatku takut menjalin hubungan dengan lawan jenis." Sahut Luci.
Ria menghela nafasnya pelan.
" Luci.... Tidak semua pria bisa bersikap kasar seperti Kakakmu, contohnya pria di keluarga Kakak, mereka mempunyai sifat lembut dan penyayang sayang, jangan jadikan ketakutanmu ini penghalang untuk kebahagiaanmu, carilah pria yang benar benar menyayangimu maka kau akan mendapatkan kebahagiaan, dan perlu kau tahu jika Kakakmu sudah berubah." Terang Ria menggenggam tangan Luci.
" Apa jika ada orang yang mengatakan cinta kepada kita, orang itu benar benar mencintai kita Kak?" Tanya Luci.
" Tidak semua, kamu tidak boleh hanya melihat dari ucapan saja, tapi kamu harus melihat dari perlakuannya juga, Kakak yakin kamu pasti paham maksud Kakak." Ucap Ria.
" Baiklah terima kasih Kak." Ucap Luci berjalan menuju kamarnya. Saat Luci hendak membuka pintu, tiba tiba Ria menghentikannya.
__ADS_1
" Luci." Panggil Ria. Luci menoleh ke arah Ria.
" Iya Kak." Sahut Luci.
" Dalam masalahmu, Kak Gamalah solusinya." Ucap Ria mengerlingkan sebelah matanya membuat Luci melongo.
Ria turun ke bawah menuju dapur, sedangkan Luci masuk ke dalam kamarnya. Tanpa mereka sadari jika Davian mendengarkan pembicaraan mereka di balik pintu kamarnya.
" Ternyata tindakanku membuat adik tersayangku yang merasakan traumanya, Apa ini yang di sebut karma? Ya Tuhan maafkan aku, berikan jodoh yang baik yang mampu membuat adikku bahagia." Ucap Davian.
Davian kembali ke ranjangnya. Ia terlihat murung memikirkan nasib adiknya.
" Mas ini jusnya." Ucap Ria menghampiri Davian.
" Makasih sayang." Ucap Davian.
Setelah itu Davian meminum jusnya sampai habis.
" Sekarang istirahatlah Mas." Ucap Ria.
" Sayang." Ucap Davian.
" Ya." Sahut Ria.
Seolah tahu apa yang terjadi dengan Davian, Ria naik ke atas ranjang, Ia duduk di sebelah Davian dengan menghadap ke arahnya.
" Katakan Mas, kenapa wajahmu terlihat sendu seperti itu? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Ria menatap Davian.
" Apa? Kau mendengarnya?" Pekik Ria.
" Iya... Aku semakin menyesali perbuatanku, aku tidak hanya membuatmu terluka tapi aku juga menyisakan trauma untuk adikku sendiri, aku memang lelaki bodoh yang tak pantas untuk di cintai.." Ucap Davian sendu.
" Mas... Bukankah kita berjanji untuk tidak membahas hal ini lagi? Jangan menyalahkan diri sendiri tapi perbaikilah apa yang sudah terjadi Mas." Ucap Ria.
" Bagaimana aku memperbaikinya sayang, adikku sendiri bahkan sudah tidak mempercayaiku lagi, aku khawatir hal ini akan membuat Luci tidak mau menjalani pernikahan." Ujar Davian.
" Tunjukkan pada Luci kalau kamu sudah berubah, setiap orang mempunyai kesempatan untuk merubah dirinya menjadi lebih baik Mas, perbaiki hubungan kita dengannya, jadilah Kakak dan suami yang menyayangi kami, aku yakin suatu hari nanti Luci pasti akan mengerti, dan ketakutan Luci akan pergi dengan sendirinya." Ucap Ria.
" Andai semua wanita berpikiran sepertimu maka akan sangat beruntung orang orang dzalim sepertiku sayang." Ucap Davian.
" Stt... Jangan berkata seperti itu, ada kalanya orang itu tersesat Mas, dan sudah menjadi kewajiban kita untuk menunjukkan kepadanya jalan yang benar, tentunya dengan memberikan kesempatan kedua kepadanya bukan." Ujar Ria.
" Terima kasih sayang, terima kasih sudah menjadi lentera yang menerangi diriku dalam gelapnya kehidupan, kau membuatku jatuh cinta setiap hari." Ucap Davian mencium tangan Ria.
" Sekarang istirahatlah, soal Luci biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri, karna yang bisa melawan rasa takut itu adalah diri sendiri." Ujar Ria.
" Kamu juga istirahat, kamu pasti capek beberapa hari merawatku." Sahut Davian menepuk ranjang di sisinya.
" Kamu tidur aja Mas, aku mau masak buat makan siang." Ujar Ria.
__ADS_1
" Kalau gitu aku nggak mau tidur kalau nggak ada kamu di sampingku Yank." Ucap Davian.
" Suami siapa sih? Manja bener." Ucap Ria.
" Suami Valeria, wanita tercantik dan terbaik yang pernah aku miliki." Sahut Davian.
" Bisa aja ngegombalnya." Cebik Ria.
" Itu fakta Valeku sayang, bukan gombalan" Sahut Davian memeluk Ria.
" Iya iya deh Mas Davianku sayang, aku percaya kok, sekarang tidurlah suami tampanku." Sahut Ria.
" Berjanjilah sesuatu padaku." Ucap Davian.
" Apa?" Tanya Ria.
" Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku, aku takut tersesat bila tanpa dirimu di sisiku." Ucap Davian.
" Sok romantis." Cibir Ria.
" Sayang kamu nggak menghargai usahaku, aku sedang belajar menjadi suami romantis yang selalu mengungkapkan untaian cinta kepada istrinya." Ujar Davian.
" Nggak usah romantis romantisan Mas, malu udah tua, udah mau punya anak juga." Sahut Ria.
" Ah iya Papa sampai lupa bermain sama anak Papa nih... Hallo sayang kamu sedang apa di dalam." Sapa Davian mengusap perut Ria.
" Aku sedang bermain bola Pa." Sahut Ria menirukan suara anak kecil.
" Emang di dalam ada bola? Siapa yang membelikannya? Papa belum memberikan apa apa padamu lhoh sayang, jangan sampai kamu menerima pemberian orang lain ya." Ucap Davian.
" Om Irvan yang memberikannya." Pancing Ria.
Davian menatap tajam ke arah Ria. Ria menyembunyikan senyumnya. Ia sangat menyukai reaksi Davian jika mengenai Irvan.
" Irvan memberikannya? Dan kamu menerimanya?" Tanya Davian konyol.
" Ya namanya di beri harus di terima kan Mas." Ujar Ria.
" Kamu jahat." Ucap Davian ngambek.
Davian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut membelakangi Ria. Ria menggelengkan kepalanya melihat tingkah childish suaminyam Ia tidak menyangka suami yang dulu kasar seperti singa lapar sekarang menjadi imut seperti kucing. Ria merasa bahagia bisa berkumpul lagi dengan suaminya.
TBC....
Like koment vote dan hadiahnya donk...
Author usahain tiga hari ke depan akan author kasih double up....
Makasih suportnya...
__ADS_1
Miss U All.......