
Setelah mendapatkan kabar dari Nathan jika Valen sudah melahirkan putra keduanya, kini semua anggota keluarga Ardiansyah berkumpul di ruangan vvip nomer sembilan. Mereka semua duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Karena saking banyaknya orang membuat Nathan meminta ijin khusus kepada pihak rumah sakit untuk mengijinkan mereka semua masuk. Dan pihak rumah sakitpun mengijinkannya.
" Uluh.... Tampan banget sih Bang anakmu." Ucap Cia sambil menggendong Babbynya Nathan yang belum tahu namanya.
" Harus donk, siapa dulu Papinya." Sahut Nathan.
" Tapi kaya'nya nggak mirip kamu deh Bang, Babbynya lebih mirip ke Kak Valen." Sahut Ria.
" Mana ada? Kalau mirip Valen nanti Babbynya cantik donk." Ujar Nathan.
" Ada lah, jadi pengin punya yang seperti ini deh, tapi sayangnya belum di kasih." Ucap Cia.
" Ya sabar aja! Berdoa dan berusaha pasti akan ada hasilnya, Abang aja usahanya siang malam kok." Sahut Nathan.
" Itu sih maunya kaum laki laki, nggak mikir apa bagaimana capeknya kaum wanita mengimbangi mereka." Ujar Cia.
" Ya mau gimana lagi, memang itu sudah kewajiban kaum wanita." Sahut Nathan.
" Papi siapa nama dedek bayinya? Fara tanya nih Pi sama Erald, tapi kan Erald nggak tahu siapa namanya." Ujar Erald.
" Iya Kak siapa nama Babby tampan ini?" Tanya Cia mencium pipi Babbynya Nathan.
" Namanya Alvin Valentino Ardiansyah." Sahut Nathan.
" Alvin... Jadi namanya Alvin ya Pi." Ucap Erald.
" Iya sayang." Sahut Nathan.
" Fara nama dedek bayiku Alvin." Ucap Erald menghampiri Fara.
" Owh... Babby Al nama yang bagus." Ujar Cia.
" Kamu selalu saja seperti itu." Ucap Ria.
" Kan bagusan Babby Al daripada kepanjangan kalau menyebutnya Babby Alvin, Abang jadi punya dua pangeran tampan, Abang Er sama dedek Al." Ujar Cia.
" Terserah kamu saja." Sahut Ria.
" Bang Erald... Boleh nggak kalau dedek Alvin buat Fara?" Tanya Fara menatap Erald.
" Ya nggak boleh donk, kamu minta aja sama aunti Ria buat bikinin dedek bayi seperti Al." Sahut Erald membuat Fara mengerucutkan bibirnya.
" Kalau begitu biar Alvin buat Arsen aja." Ujar Arsen.
" Nggak bisa... Dedek Al itu adik Abang jadi nggak boleh di bawa sama siapa siapa." Ucap Erald melirik sinis ke arah Arsen.
" Buat Vebby aja Bang." Ucap Vebby.
" Orang udah di bilangin nggak boleh ya nggak boleh, lagian kamu udah punya Verdy kan." Ujar Erald.
" Nggak mau.. Verdy nakal, jelek nggak imut kaya' dedek Al." Sahut Vebby melirik Verdy yang sedang duduk di sofa sambil asyik memainkan game pada ponselnya.
" Bodo' amat." Ucap Erald.
" Abang jahat." Teriak Vebby.
__ADS_1
" Om ayo kita bermain di taman aja, di sini ada cewek berisik." Ajak Erald menarik tangan Saka.
" Siapa yang berisik? Abang nakal.... Aunti Valen Abang nakal bilang aku cewek berisik." Adu Vebby mendekati Valen yang terbaring lemas di atas kasur.
" Abang nakal ya? Nanti aunti jewer telinganya ya." Sahut Valen lirih.
" Bener ya Aunti?" Tanya Vebby memastikan.
" Tentu sayang." Sahut Valen.
" Ayo Om." Ucap Erald menggandeng Saka berjalan keluar ruangan.
" Lihatlah putramu Bang, dia sangat jutek dengan putriku." Ucap Irfan.
" Putrimu saja yang tidak bisa membuat Erlad nyaman, dia cerewet dan manja mirip Mamanya." Sahut Nathan melirik Cia yang masih menggendong Alvin.
" Apa Bang lihat lihat, biar cerewet begini juga Abang jadiin adik kesayangan kan." Ujar Cia menjulurkan lidahnya.
" Iya deh iya adek kesayangan Abang." Sahut Nathan.
" Cia gantian Kakak donk yang menggendong Babby Al." Ucap Gama.
" Boleh." Sahut Cia memberikan Babby Alvin kepada Gama.
" Ponakan Om yang paling ganteng." Ucap Gama mencium pipi Babby Alvin.
" Emang aku jelek Om?" Tanya Verdy mengalihkan pandangan dari ponselnya.
" Kamu ganteng sayang, tapi lebih gantengan Babby Al." Sahut Gama menatap Verdy.
" Sayang besok kita juga harus buat lagi ya, biar Arsen ada temennya." Ucap Gama menatap Luci.
" Iya Mas." Sahut Luci.
" Kalau kamu mau nggak sayang?" Tanya Davian menatap Ria.
" Ya maulah Mas, tapi sedikasih Tuhan aja mau kasih kapan yang penting kita sudah tidak menundanya." Sahut Ria.
" Iya." Sahut Davian.
" Papi bahagia sekali melihat keluarga kita bisa berkumpul dengan moment bahagia seperti ini Mi." Ucap Papi Farhan menggenggam tangan Mami Nesha.
" Iya Pi, Mami juga bahagia banget setelah apa yang kita lalui dulu, sekarang kita bisa hidup dengan tenang dan bahagia di hari tua kita." Sahut Mami Nesha.
" Terima kasih karena Mami mau menerima Papi yang banyak kekurangan ini, berkat kesabaran Mami kita memiliki anak anak yang baik hati dan penyayang seperti Mami." Ucap Papi Farhan merangkul pundak Mami Nesha.
" Jangan bikin iri donk Pi." Ucap Gama.
" Kenapa? Kan Papi sama Mami harus menjadi contoh buat kalian semua, menjadi pasangan yang harmonis dan menjaga cinta sejati untuk satu wanita yaitu istri kalian masing masing." Sahut Papi Farhan.
" I love you sayang." Ungkap Papi Farhan mencium kening Mami Nesha.
" Astaga inget umur Pi." Cebik Cia.
" Umur Papi masih muda lho." Sahut Papi Farhan.
__ADS_1
" Muda gimana? Orang Papi aja sama Mami terpaut lima belas tahun, lima belas tahun Pi... Kalau sekarang Mami aja udah tua berarti Papi udah tua pakai banget." Cibir Cia menggoda Papinya.
" Dasar anak durhakim." Ucap Papi Farhan.
" Pi nggak boleh gitu ah, kasihan Cianya." Ujar Mami Nesha.
" Papi kesal lah Mi, masa' di bilang udah tua pakai banget lagi." Sahut Papi Farhan.
" Lha emang nyatanya kita sudah tua Pi, udah ah nggak boleh gitu sama anak sendiri." Ujar Mami Nesha.
" Tuh dengerin Pi." Sahu Cia.
" Iya iya." Sahut Papi Farhan.
Mereka melanjutkan mengobrol dan saling bercanda dan saling menggoda. Sedangkan Nathan duduk di kursi samping ranjang sambil menggenggam tangan Valen. Ia menyelipkan rambut Valen ke telinga Valen.
" Mas aku seneng banget melihat keluarga kita selalu akur dan menjadi keluarga yang harmonis seperti ini, terima kasih Mas kamu sudah memilihku menjadi bagian dari keluarga ini, aku bahagia banget Mas, aku dulu hanya bisa bermimpi memiliki keluarga seperti keluargamu Mas, tapi sekarang impianku sudah menjadi kenyataan, sekali lagi terima kasih Mas." Ucap Valen menatap Nathan.
" Iya sayang, aku juga berterima kasih sama kamu sayang, kebahagiaan ini tidak akan lengkap tanpa kehadiranmu, aku juga bahagia banget memiliki kamu menjadi istriku, maafkan aku jika selama ini aku masih sering membuatmu kecewa dan terluka." Ucap Nathan mencium kening Valen.
" Iya Mas." Sahut Valen memejamkan mata.
" Bang Babby Al nangis nih, sepertinya mau minum deh." Ucap Gama.
" Sini." Ucap Nathan mengambil alih gendongan Babby Al.
" Sayangnya Papi lapar ya." Ucap Nathan.
Valen membenarkan posisinya, Ia duduk bersandar pada headboard. Ia memakai kain penutup agar tidak terlihat orang lain saat menyu*** Babby Al.
" Sini Mas." Ucap Valen.
Nathan memberikan Babby Al kepada Valen, Valen segera menyus**nya.
" Lapar banget anak Papi, ini ngomong ngomong Abangmu kemana ya Al?" Tanya Nathan.
" Coba cari gih Mas, aku takutnya Erald sama Saka mainnya jauh." Ujar Valen.
" Iya sayang, aku cari mereka dulu ya." Sahut Nathan.
" Pi Mi aku cari Erald sama Saja dulu ya." Ucap Nathan.
" Iya sayang." Sahut Mami Nesha.
Nathan keluar ruangan menuju taman. Sedangkan keluarga melanjutkan mengobrol ke sana kemari entah membahas apa yang jelas keluarga Ardiansyah terlihat begitu bahagia.
TBC.....
Detik detik The End ya....
Jangan lupa tetap like koment vote dan beri author hadiah yang banyak ya...
Terima kasih untuk para readers yang selalu mensuport author...
Semoga sehat selalu..
__ADS_1
Miss U All.....