Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
84. Khitbah


__ADS_3

Setelah menjalani taaruf online selama satu bulan ini, malam ini keluarga Dika datang ke rumah Azza. Mereka di sambut oleh Papa Bram, Papa Alex, Papi Farhan dan Mami Nesha di sertai ketua RT setempat sebagai saksi dan Pak ustadz yang hendak memimpin doa.


" Assalamu'alaikum." Ucap Papa Toni.


" Wa'alaikumsallam, silahkan masuk Tuan." Sahut Papa Bram.


Setelah bersalam salaman keluarga Dika masuk ke dalam rumah Azza. Mereka semua duduk di sofa yang sudah di sediakan.


" Sebelumnya kenalkan Pak, saya Toni, ini istri saya Esti, dan itu anak saya Mahardika, dan di sebelahnya adiknya Dika, namanya Narendra." Ucap Papa Toni menunjuk anggota keluarganya.


" Halo Om." Sapa Dika dan Naren bersamaan.


" Halo Boy." Sahut Papa Bram.


" perkenalkan saya Bramono, papanya Azzahra, dan itu kakak saya Tuan Alex, dan di sebelahnya besannya Tuan Alex, Tuan dan Nyonya Ardiansyah." Sahut Papa Bram menunjuk Azza dan keluarganya yang sedang duduk di sampingnya.


" Malam Tuan Toni." Sapa Papi Farhan.


" Malam Tuan, bukankah anda ayah dari bos anak saya?" Tanya Papa Toni.


" Iya Tuan." Sahut Papi Farhan.


" Senang bertemu anda Tuan Farhan dan Tuan Alex, saya tidak menyangka kalau putra saya berani meminang putri dari orang orang hebat seperti anda semua Tuan." Ucap Papa Toni.


" Jangan merendah Tuan Toni." Sahut Papi Farhan.


Di saat para orang tua berbincang, Dika malah sibuk menatap Azza yang terlihat begitu cantik dengan memakai gamis modernnya, di sertai hijab yang menutup bagian depannya. Tanpa sengaja Azza mendongak menatap Dika, tatapan keduanya bertemu, Azza segera menundukkan kepalanya.


" Baiklah sebelumnya mari kita berdoa agar acara ini bisa berjalan dengan lancar." Ucap Pak Ustadz menyela.


" Silahkan Pak." Sahut Papa Bram.


Pak Ustadz mulai memimpin doa sebelum acara khitbah di mulai. Setelah itu baru Pak Toni mengutarakan maksud dan tujuannya datang kemari.


" Kedatangan saya dan keluarga saya kemari untuk mengkhitbah putri anda Azzahra sebagai calon istri anak kami yang bernama Mahardika Pak." Ucap Papa Toni.


" Saya sangat berterima kasih kepada keluarga anda yang telah sudi mengkhitbah putri saya, jujur kalau saya sendiri tidak bisa mengambil keputusan sendiri karna ini menyangkut kehidupan yang akan di jalani putri saya Pak Toni, untuk itu keputusan sepenuhnya saya serahkan kepada putri saya Azza." Sahut Papa Bram.


" Azza kamu sudah mengenalku selama hampir satu bulan ini, aku bukan pria yang sempurna karna aku masih banyak melakukan dosa, aku mungkin bukan pemimpin yang baik untukmu, tapi ketahuilah Azza, aku ingin merubah diriku untuk menjadi manusia yang lebih baik bersamamu, aku menginginkanmu untuk menjadi istriku, istri yang mampu membimbingku ke jalan yang benar di saat aku melakukan kesalahan, istri yang selalu sabar menghadapi sikapku, dan istri yang bisa di ajak menuju syurganya bersama sama, aku melamarmu karena Allah Azza." Ucap Dika.


"Bagaimana? Apakah kamu mau menjadi pendamping hidupku dan menjadi ibu dari anak anakku? Apakah kamu mau menerima lamaranku?" Tanya Dika menatap Azza.

__ADS_1


Semua orang menatap Azza menanti jawaban dari Azza.


" Aku menerimamu dengan sepenuh hatiku dan pastinya karna Allah juga Mas, aku yakin Mas Dika jodoh yang di kirim Allah untukku, aku juga bukan wanita sempurna Mas, karna sejatinya kesempurnaan hanya milik Allah semata, mari kita sama sama berbenah diri untuk menjadi manusia yang baik." Sahut Azza tetap menundukkan kepalanya.


" Alhamdulillah." Ucap semua orang serempak.


" Terima kasih Za." Ucap Dika beranjak hendak memeluk Dika.


" Belum muhrim." Teriak Papa Bram menghentikan Dika.


" Ah iya maaf." Ucap Dika kembali ke tempat duduknya sambil menahan malu.


Azza tersenyum manis menatap tingkah Dika.


Pak Ustadz kembali membacakan doa selesai mengkhitbah calon mempelai wanita.


" Barang kali ada yang mau anda berikan kepada Azza sebagai pengikat hubungan kalian Tuan, silahkan berikan sekarang." Ujar Pak Ustadz.


" Ah iya Pak." Sahut Mama Esti.


" Ini cincin tanda pengikat hubungan kita Za, silahkan di pakai, aku sudah memakai milikku." Ucap Dika menyodorkan sekotak cincin di atas meja.


" Apa perlu aku yang memakaikannya?" Canda Dika menatap Azza.


" Tidak perlu Mas, aku bisa memakainya sendiri." Sahut Azza membuka kotak cincinnya lalu memakainya di jari manisnya. Terlihat sangat indah di jari Azza.


" Tapi besok cincin kawinnya harus aku ya yang memakaikannya." Ujar Dika sambil tersenyum.


" Iya Mas, terima kasih." Sahut Azza lembut.


" Kapan rencana pernikahannya Pak Bram? Saya serahkan kepada pihak anda." Ucap Papa Toni.


" Kalau saya terserah calon pengantinnya saja Pak." Sahut Papa Bram.


" Apa kami boleh berbicara berdua untuk merundingkan tanggal pernikahan kami? Karna kami belum membicarakan sebelumnya." Ucap Dika.


" Boleh saja, tapi di sana saja karna tidak baik berduaan di tempat sepi." Sahut Papa Bram menunjuk kursi di depan jendela.


" Baiklah terima kasih." Ucap Dika.


Dika beranjak menuju kursi yang di tunjuk Pak Bram begitupun dengan Azza yang mengikutinya dari belakang. Keduanya duduk saling berhadapan yang hanya terhalang oleh meja.

__ADS_1


" Bagaimana jika aku mau pernikahan kita seminggu lagi? Semakin cepat semakin baik kan?" Tanya Dika.


" Apa Mas Dika yakin dengan keputusan ini?" Tanya Azza.


" Apa maksudmu?" Tanya Dika.


" Aku ingatkan sekali lagi Mas, yakinkan dulu bahwa di hatimu sudah tidak ada wanita masa lalumu, pertemuan kita adalah pertemuan singkat Mas, aku tidak mau setelah menikah nanti kamu justru mengakui kalau kamu masih mencintai wanita lain, aku mau saat menikah nanti hatimu benar benar bersih, hanya ada namaku di sana." Ucap Azza menyakinkan Dika.


Entah mengapa Azza justru merasa berat setelah menerima lamaran Dika, Ia merasa kalau jauh di dalam hati Dika masih tersimpan nama wanita lain. Ia tidak mau gagal dalam rumah tangga, untuk itu Ia memberi waktu kepada Dika untuk menghapus masa lalunya sebelum menuju masa depannya.


Dika memejamkan matanya. Ia menyakinkan dirinya sendiri.


" Saat ini di hatiku hanya ada namamu Azza, aku sudah menghapus masa laluku jauh jauh hari sebelum aku mengenalmu, percayalah di hatiku hanya ada dirimu, jadi bagaimana?" Tanya Dika.


" Baiklah aku setuju, aku harap jangan pernah membuatku kecewa dengan keputusan ini Mas, aku wanita rapuh, hatiku tidak kuat menahan rasa sakit, aku berharap Mas Dika tidak akan melukai hatiku." Ujar Azza.


" Tentu sayang." Sahut Dika.


" Simpan dulu panggilan sayangmu, karna aku belum pantas untuk mendengarnya." Ucap Azza.


" Baiklah Azza, sekarang kita beritahu keputusan kita pada orang tua kita." Ucap Dika kembali kepada kerumunan para orang tua.


" Bagaimana? Kalian sudah memutuskan?" Tanya Papa Bram menatap Dika dan Azza secara bergantian.


" Kami memutuskan untuk menikah satu minggu lagi Om." Sahut Dika.


" Baiklah persiapkan saja syarat syaratnya, nanti orangku yang akan mengurusnya." Sahut Papa Bram.


" Baik Om." Sahut Dika.


" Azza, Dika Tante ucapkan selamat untuk kalian berdua, semoga lancar hingga ke pelaminan dan kelak akan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warohmah." Ucap Mami Nesha.


" Terima kasih Tante." Sahut Dika dan Azza bersamaan..


Setelah itu acara di lanjut dengan makan makan hingga menjelang tengah malam sampai pada akhirnya keluarga Giorgio dan keluarga Ardiansyah pamit pulang.


Jangan lupa like dan komentnya....


Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author... Semoga sehat selalu


Jangan bosan menemani author berkarya ya...

__ADS_1


Miss U All....


TBC....


__ADS_2