Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
88. Cia merasa Kecewa


__ADS_3

Hari hari berlalu dengan cepat, kini usia kandungan Valen menginjak tujuh bulan. Setelah acara syukuran semalam, hari ini Valen hanya rebahan di atas ranjangnya saja.


" Mas nanti pulang larut Yank." Ucap Nathan mengancingkan kemejanya.


" Kamu lembur?" Tanya Valen.


" Iya, ada pekerjaan banyak banget yang harus Mas handle, Dika izin pulang awal karna Azza lagi sakit katanya, jadi aku yang harus menyelesaikannya sendiri." Terang Nathan.


" Hati hati pulangnya Mas, kalau lelah atau mengantuk lebih baik tidur di kantor saja, aku tidak mau kalau sampai kamu kenapa napa." Ujar Valen.


" Baiklah sayangku." Sahut Nathan duduk di tepi ranjang.


" Halo sayangnya Papi, jangan nakal ya di rumah Papi mau kerja dulu." Ucap Nathan menempelkan telapak tangannya di atas perut Valen yang sudah membuncit.


Dugh....


" Eh dia nendang Yank." Kekeh Nathan.


" Iyalah kan dia pinter, dia mau ngejawab Papinya... Hati hati Papi, semangat kerjanya." Ujar Valen.


" Siap sayang." Sahut Nathan mencium perut Valen.


" Papi juga jangan nakal, jangan kecentilan sama mbak mbak cantik di kantor." Ujar Valen.


" Mbak mbak cantik di kantor, berarti di luar kantor boleh donk." Canda Nathan.


" Ya nggak boleh lah Mas." Cebik Valen mengerucutkan bibirnya.


" Lha tadi katanya di kantor." Kekeh Nathan.


" Ya udah ralat." Sahut Valen.


" Papi nggak boleh nakal, nggak boleh kecentilan sama mbak mbak cantik maupun jelek di luar sana ataupun di dalam rumah, Papi harus jaga mata dan jaga hati buat Mami seorang titik." Ucap Valen dengan lantang membuat Nathan tertawa.


" Ha ha ha." Nathan masih tertawa.


" Kok ketawa sih Mas." Ujar Valen.


" Habisnya kamu lucu sayang, tenang saja Papi Nathan akan selalu setia sama Mami seorang, cinta ini, hati ini, dan seluruh tubuh ini hanya milik Mami Valen semata, love you sayang." Ucap Nathan mencium pipi Valen.


" Iya deh aku percaya Mas, semoga hidup kita selalu di limpahkan kebahagiaan ya Mas." Ujar Valen.


" Tentu sayang." Sahut Nathan.


" Udah siang lhoh Mas." Ujar Valen.


Nathan menatap jam mewah yang melingkar di tangannya.


" Ya udah aku berangkat dulu, hati hati di rumah! Kalau ada apa apa segera telepon aku." Ujar Nathan mencium kening Valen.


" Iya Mas." Sahut Valen mencium punggung Nathan.


" Assalamu'alaikum sayang." Ucap Nathan.


" Wa'alaikumsallam Mas." Sahut Valen.


Nathan keluar kamarnya menuju lantai bawah.

__ADS_1


...****************...


Hubungan pernikahan Cia dan Irvan berjalan sesuai keinginan mereka, kini keduanya sudah mampu saling mencintai satu sama lain. Bahkan saat ini Cia sedang mengikuti program kehamilan.


" Semoga berhasil ya Mas." Ucap Cia yang baru saja keluar dari ruangan Dokter.


" Iya sayang, semoga Irvan junior segera hadir di sini." Sahut Irvan mengusap perut Cia.


" Malu Mas banyak orang." Ucap Cia menatap sekelilingnya dimana banyak pasien yang mengantri di sana.


" Ya udah kita pulang yuk, kita buat Irvan junior setelah sampai di rumah." Ujar Irvan.


" Massss." Lirih Cia mencubit perut Irvan.


" Awh sakit Yank." Keluh Irvan.


Cia mengapit lengan Irvan, keduanya berjalan menuju mobil mereka.


" Mau kemana sebelum pulang?" Tanya Irvan sebelum melajukan mobilnya.


" Gimana kalau kita ke taman aja Mas." Ujar Cia.


" Baiklah." Sahut Irvan.


Irvan melajukan mobilnya menuju taman di dekat alun alun kota. Lima belas menit kemudian Irvan memarkir mobilnya di pinggir jalan alun alun.


" Ayo turun." Ucap Irvan membuka sealbeltnya.


" Iya Mas." Sahut Cia.


" Halo Boy." Sapa Cia duduk di samping anak itu sedangkan Irvan berdiri di samping Cia.


" Siapa?" Tanya anak laki laki itu.


" Kenalkan, namaku Kak Cia, tenanglah aku orang baik" Ucap Cia menyodorkan tangannya.


" Irvan." Sahut anak itu yang ternyata bernama Irvan tanpa menyambut uluran tangan Cia.


" Namamu sama seperti nama suamiku, Irvan." Ucap Cia menunjuk Irvan suaminya.


" Kata Mamaku namaku sama dengan nama Papaku, apa mungkin kamu Papaku?" Tanya Irvan kecil menatap Irvan besar.


" Emang Papamu kemana?" Tanya Cia kepada Irvan kecil yang kira kira berumur lima tahunan.


" Papaku pergi meninggalkan Mamaku, bahkan kata Mamaku, Papaku tidak tahu jika ada aku di dalam rahim Mamaku saat itu." Ujar Irvan kecil.


Cia menatap Irvan suaminya yang sedang menatapnya. Lalu Cia kembali menatap Irvan kecil.


" Berarti selama ini kamu hanya hidup bersama Mamamu saja?" Tanya Cia. Irvan kecil menganggukkan kepalanya.


" Irvan." Panggil seorang wanita berlari menghampiri Cia dan Irvan kecil.


" Mama." Ucap Irvan kecil.


" Kenapa kamu mengobrol dengan orang asing? Sudah Mama katakan berulang kali jangan lakukan itu." Omel wanita itu menarik Irvan kecil.


" Mbak jangan kasar sama anak kecil." Ucap Cia membuat wanita itu menatap ke arah Cia. Tapi fokusnya terarah ke Irvan besar.

__ADS_1


" Irvan." Pekik wanita itu menghampiri Irvan.


Tiba tiba wanita itu memeluk Irvan dengan erat. Cia menatapnya heran, tiba tiba pikiran buruk melintas di kepalanya.


" Irvan aku merindukanmu, aku mencarimu kemana mana, kamu kemana aja?" Tanya wanita itu dalam pelukan Irvan.


Deg....


Jantung Cia serasa berhenti berdetak. Dunianya serasa berhenti berputar.


Wanita itu melepas pelukannya, Ia menatap Irvan yang kini sedang menatapnya.


" Elin." Ucap Irvan.


" Irvan ini Papamu Nak, akhirnya kita menemukan Papamu sayang." Ucap Elin menarik Irvan kecil.


Jeduar......


Tubuh Cia seperti di sambar petir. Kaku tak bisa di gerakkan. Berita ini benar benar membuatnya terkejut.


" Papa???" Cia mengerutkan keningnya.


" Sayang kamu salah paham." Ujar Irvan.


" Iya, ini Irvan pacarku yang selama ini aku cari, dan ini anak kami yang dia tinggalkan saat Irvan masih dalam kandunganku." Sahut Elin.


" Van ini anak kita, ah maaf kau bahkan tidak tahu kehadirannya kan? Saat kamu meninggalkan aku, saat itu aku baru mengetahui kalau aku sedang hamil" Ujar Elin menggenggam tangan Irvan.


" Kamu salah Lin, ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan." Ucap Irvan.


" Kamu tidak mau mengakui jika ini anakmu? Kamu tidak mau mengakui darah dagingmu sendiri?" Tanya Elin menatap Irvan.


" Aku pulang." Ucap Cia berlari menuju ke mobilnya.


" Sayang tunggu." Teriak Irvan hendak mengejar Cia namun Elin menghadangnya.


" Elin saat ini aku harus menjelaskan semua ini kepada istriku dulu, aku akan menemuimu, sekarang beritahu dimana kau tinggal saat ini?" Tanya Irvan.


" Aku tinggal di rumahku yang dulu, masih bersama kedua orang tuaku Van." Sahut Elin.


" Aku akan menemuimu besok." Ucap Irvan.


" Jangan membohongiku, kami akan menunggumu, aku harap kamu menepati janjimu." Ujar Elin.


" Ok." Sahut Irvan.


Irvan berlari menuju mobilnya, tapi kosong. Ia menatap Cia yang masuk ke dalam taksi.


" Arghhhh sial.... sial... sial." Teriak Irvan di sertai umpatan.


Sebelum tamat author kasih konflik lagi ya kepada pasangan anak anak Mami Nesha...


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...


Miss U All...


TBC....

__ADS_1


__ADS_2