Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
77. Pertunangan


__ADS_3

Malam ini adalah malam pertunangan Irvan dan Cia. Yang awalnya hanya ingin acara sederhana tapi nyatanya pertunangan di gelar dengan mewah. Papa Alex tidak akan membiarkan Irvan merasa kekurangan karna tidak mempunyai siapa siapa di sini. Semua anggota keluarga berkumpul di kediaman Ardiansyah. Begitupun dengan para tamu undangan. Papa Alex mengundang beberapa koleganya.


" Baiklah mengingat waktu semakin malam maka kita mulai acara tukar cincin antara Irvan Adriano dan Valecia Ardiansyah, sekarang pasangkan cincin ke jari pasangan." Ucap pembawa acara.


Irvan mengambil cincin yang di sodorkan oleh Valen, lalu Ia menyematkannya di jari manis Cia.


Prok... Prok...


Suara tepuk tangan menambah meriah acara ini. Selanjutnya gantian Cia yang memasangkan cincin ke jari manis Irvan, tapi tatapannya menatap ke arah Dika. Tak terasa air mata menetes di pipinya. Menyadari itu Irvan menarik Cia ke dalam pelukannya.


" Menangislah." Ucap Irvan.


" Hiks.... Hiks.... Kak." Isak Cia.


" Maafkan aku, seharusnya malam ini menjadi malam bahagia untukmu tapi tanpa sengaja aku mengubahnya menjadi malam kesedihan." Ujar Irvan mengelus punggung Cia.


" Bukan hanya kamu yang bersalah Kak, ini salahku juga." Sahut Cia melepas pelukannya. Ia mengusap air matanya.


" Selamat sayang semoga berbahagia." Ucap Mami Nesha memeluk Cia.


" Makasih Mi." Sahut Cia.


" Jangan menangis lagi, Mami tida mau ada rumor yang tidak menyenangkan tentang keluarga kita." Ujar Mami Nesha.


" Maaf Mi." Sahut Cia.


" Tersenyumlah sayang, dan yakinlah ini yang terbaik untuk kita semua." Ujar Mami Nesha.


Acara di lanjutkan dengan makan makan. Mereka semua menikmati hidangan yang telah di sajikan oleh pihak cathering.


Dika mengambil minuman bersamaan dengan seorang gadis yang hendak mengambil gelas yang sama dengannya.


" Eh maaf." Ucap gadis itu.


Dika menoleh ke arah gadis itu, gadis berparas cantik dengan hijab yang menghiasi kepalanya. Walaupun gadis itu tidak memakai gamis, Ia memakai pakaian setelan panjang tapi membuatnya nampak anggun membuat Dika nampak terpesona. Aura sholehah melekat pada wajah gadis itu.


" Mas." Ucap gadis itu menjetikkan jarinya di depan wajah Dika membuat Dika tersadar dari lamunannya.


" Eh iya... Ini silahkan untukmu saja." Ucap Dika memberikan segelas minuman tadi kepada gadis itu karna kebetulan minuman yang ada di meja hanya tinggal satu.


" Ah tidak terima kasih Mas, saya nunggu pelayan membawanya lagi saja." Sahut gadis itu lembut.


" Kenalkan aku Dika." Ucap Dika mengulurkan tangannya.


" Saya Az zahra Mas, panggil saja Azza." Sahut Azza mengatupkan kedua tangannya di dadanya.


" Nama yang cantik, secantik orangnya." Ucap Dika menarik kembali tangannya, lalu Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Azza tersenyum melihatnya.


Nyes....


Entah mengapa senyum Azza membuat hati Dika seperti di siram air es.


" Mau minum bersamaku?" Tanya Dika menunjuk meja kosong.


" Apa tidak pa pa? Aku tidak mau lhoh saat kita duduk tiba tiba ada wanita yang menyerangku dan menuduhku sebagai pelakor." Canda Azza.


" Tidak ada, silahkan duduk." Ucap Dika.


Keduanya duduk berhadapan dalam meja yang sama. Dika meminta pelayan untuk mengambilkan minum dan cemilan untuk mereka berdua.


" Sebelumnya aku tidak pernah melihatmu di sini?" Tanya Dika menatap Azza. Azza mendongak membuat tatapannya bertemu dengan tatapan Dika tapi Ia langsung memutus pandangannya.


" Aku mewakili Papaku atas undangan Om Alex." Sahut Azza.


" Om Alex? Kau memanggilnya Om?" Tanya Dika.

__ADS_1


" Iya karna beliau kerabat Papaku, tepatnya kakak sepupu Papaku." Terang Azza.


" Owh... Itu berarti kau dan Valen bersaudara donk." Ujar Dika.


" Iya, dia kakak sepupuku." Sahut Azza menyesap minumannya. Entah mengapa itu terlihat sangat manis di mata Dika.


" Maaf Mas bisa jaga pandanganmu? Aku merasa tidak nyaman." Ucap Azza.


" Ah maaf." Sahut Dika mengedarkan pandangannya ke sembarang arah.


" Oh ya apa kamu sudah punya pacar?" Tanya Dika tiba tiba membuat Azza mengernyitkan dahinya.


" Aku hanya ingin tahu saja, kalau kamu tidak mau menjawab tidak apa." Sambung Dika merutuki kebodohannya.


" Aku tidak mau pacaran Mas, aku menunggu orang yang mengajakku ta'aruf." Sahut Azza.


" Pria seperti apa yang menjadi idamanmu?" Tanya Dika.


" Pria Sholeh yang mampu membimbingku menuju syurganya, tapi aku serahkan kepada Tuhan, aku akan menerima jodoh yang Tuhan ciptakan untukku, apapun bentuk dan kondisinya." Sahut Azza.


Azza melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul sepuluh malam.


" Udah malam, aku mau pamit pulang Mas." Ujar Azza.


" Kok buru buru sih! Apa boleh aku mengantarmu?" Tanya Dika.


" Maaf Mas, kita tidak sedekat itu, lagian tidak baik juga jika kita berdua di dalam mobil, bukan muhrim." Sahut Azza lembut.


" Lha ini kita berdua." Ujar Dika.


" Tapi kan di sini banyak orang Mas, ya sudah aku pulang dulu Mas." Ucap Azza.


" Minta nomer telepon donk." Ucap Dika.


" Untuk apa?" Tanya Azza.


" Aku rasa itu tidak perlu Mas." Sahut Azza.


" Aku ingin mengajakmu ta'aruf." Ceplos Dika karna merasa sangat tertarik dengan Azza.


" Mantapkan dulu hatimu, kalau sudah yakin dan ingin bersungguh sungguh datanglah ke rumahku untuk mengkhitbahku, maka aku akan menerimamu." Tutur Azza.


" Tapi jika belum keduluan pria lain." Sambung Azza tersenyum.


" Gimana mau ke rumahmu? Aku kan nggak tahu alamat rumahmu." Ujar Dika.


" Tanyakan saja pada kak Valentina." Sahut Azza menunjuk Valen yang sedang menghampiri mereka.


" Maaf ya baru menemuimu Za." Ucap Valen menjabat tangan Azza.


" Tidak masalah Kak." Sahut Azza.


Valen menatap ke arah Dika.


" Kak Dika mau pdkt sama saudaraku?" Tanya Valen.


" He he." Balas Dika nyengir.


" Ok deh aku dukung, tapi jangan sakiti hati Azza karna tidak ada yang pantas untuk menyakiti bidadari seperti adikku ini." Ucap Valen.


" Siap." Sahut Dika.


" Apa sih Kak." Kekeh Azza.


" Udah makan belum?" Tanya Valen menatap Azza.

__ADS_1


" Udah minum barusan, Kakak kan tahu kalau aku nggak makan di malam hari." Ujar Azza.


" Ah iya Kakak lupa." Sahut Valen.


" Kak aku pamit ya, udah malam juga." Ucap Azza.


" Yah padahal Kakak masih kangen sama kamu lhoh." Ujar Valen.


" Lain kali aku main ke sini deh." Sahut Azza.


" Kapan? Kamu selalu sibuk sama murid murid kamu itu." Cebik Valen.


" Murid? Kamu seorang guru?" Tanya Dika menatap Azza.


" Azza guru play group, dia sabar banget lhoh ngadepin bocil bocil." Sahut Valen.


" Kakak bisa aja." Ujar Azza.


" Wah bagus itu malah, calon ibu yang baik." Sahut Dika.


" Ya udah Kak aku pulang dulu ya, sehat sehat selalu, di jaga keponakanku jangan sampai kenapa napa." Pamit Azza memeluk Valen.


" Ok hati hati." Sahut Valen.


" Mari Mas Dika, saya pulang duluan." Ucap Azza mengatupkan kedua tangannya.


" Iya silahkan." Sahut Dika.


" Assalamu'alaikum Kak." Ucap Azza.


" Wa'alaikumsallam." Sahut Dika dan Valen bersamaan.


Azza meninggalkan Dika dan Valen menuju pintu. Dika menatap kepergian Azza dengan tatapan yang entah dia sendiri juga tidak tahu.


" Udah move on?" Tanya Valen.


" Entahlah Len, melihat Azza tiba tiba hati gue merasa gimana gitu." Ucap Dika tanpa sadar.


" Kalau udah yakin segera lamar, keburu di embat orang, udah banyak lhoh yang mengirim lamaran kepadanya tapi dia selalu menolaknya dengan alasan belum sreg saja di hati." Terang Valen.


" Di tolak? Tapi dia tadi bilang sama aku, kalau aku mengajaknya ta'aruf dia akan menerimaku." Ucap Dika.


" Benarkah dia bilang begitu?" Selidik Valen.


" Iya aku tidak bohong." Sahut Dika.


" Itu berarti kode Kak, cepat yakinkan hatimu lalu segera lamar dia, ah ini kabar gembira, aku akan memberitahu paman Bram soal ini." Ujar Valen.


Tanpa Dika sadari Ia menyunggingkan senyum di bibirnya. Entah mengapa hatinya merasa sangat senang mendengar ucapan Valen.


"Apakah Azza juga tertarik padaku? Kenapa aku merasa sangat senang mengetahui ini? Aku harus menyakinkan hatiku setelah itu aku akan datang melamarnya." Batin Dika.


Acara belum selesai, saat ini Irvan dan Cia sedang berfoto untuk mengabadikan moment pertunangan mereka. Mereka benar benar seperti pasangan bahagia yang saling mencintai. Gama yang sedang berdiri di samping Luci tiba tiba berlutut di depan Luci. Ia menyodorkan sekotak yang berisi sepasang cincin. Luci menutup mulutnya menggunakan tangannya. Ia merasa terharu dengan sikap Gama.


" Sayang, terimalah lamaranku kali ini, tolong jangan menolak lagi karna aku tidak akan sanggup bertemu mereka semua jika kau menolakku lagi." Ucap Gama menatap Luci.


Luci menatap para tamu undangan yang kini sedang menatapnya. Tiba tiba pandangannya bertemu dengan Radha.Tubuhnya terasa kaku dan.....


Mau di kasih konflik dulu apa langsung di terima nih Babang Gamanya????


Tulis di kolom komentar ya...


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author.. Semoga sehat selalu....

__ADS_1


Miss U All...


TBC.....


__ADS_2