Menjadi Mommy Anak Bosku

Menjadi Mommy Anak Bosku
90. Bukti dari Irvan


__ADS_3

Irvan melajukan mobilnya menuju rumah Elin. Di sampingnya Cia memasang wajah juteknya, pasalnya Ia di paksa Irvan untuk ikut bersamanya. Sebenarnya Cia sangat malas, bukan apa apa. Cia hanya belum siap menerima kenyataan yang akan Ia hadapi di sana.


" Jangan cemberut gitu donk Yank." Ucap Irvan fokus menyetir.


Cia tidak menyahut, Ia malah membuang muka menatap ke luar jendela.


" Percayalah aku tidak bersalah sayang, sebentar lagi kau akan mengetahui yang sebenarnya." Sahut Irvan.


" Bagaimana kalau ternyata dia memang anakmu? Apa yang akan kamu lakukan?" Ketus Cia.


" Astaga sayang! Kamu meragukan keperjakaanku? Milikku masih orisinil saat menyentuhmu Yank." Cebik Irvan.


" Bodo' ah aku pusing, yang jelas kalau sampai kamu terbukti bersalah Mas, aku akan pergi sejauh jauhnya dari kamu dan tidak akan kembali lagi." Ancam Cia.


" Jangan begitu donk Yank, aku sudah bawa semua buktinya kalau sampai keluarga Elin mengelaknya." Sahut Irvan.


Tak lama setelah itu akhirnya mobil Irvan sampai di kediaman Elin. Keduanya turun dari mobil.


" Sini aku gandeng." Ucap Irvan menarik tangan Cia.


Cia dan Irvan berjalan menuju pintu rumah Elin.


" Assalamu'alaikum." Ucap Irvan.


" Wa'alaikumsallam." Sahut Elin memghampiri Irvan.


" Akhirnya kau menepati janjimu Van, silahkan masuk." Sahut Elin.


Irvan dan Cia duduk berjalan menuju ruang tamu, di sana sudah ada ayah Elin dan pengacaranya.


" Nak Irvan, silahkan duduk." Ucap Pak Broto, ayah Elin.


" Terima kasih Pak." Sahut Irvan.


Cia dan Irvan duduk bersebelahan di sofa. Sedangkan Elin, Pak Broto dan pengacaranya duduk di sofa sebrang.


" Begini Pak Broto, saya rasa Elin sudah cerita kepada anda tentang pertemuan kami kemarin dan saya ke sini ingin memastikan jika yang di ucapkan Elin mengenai Irvan putranya adalah kebohongan." Ucap Irvan.


" Kebohongan gimana Nak Irvan? Memang dia putramu yang kamu tinggalkan lima tahun yang lalu." Ucap Pak Broto.


Jeduar.....


Bagai di sambar petir di siang bolong. Bukan hanya Cia saja, tubuh Irvan pun mendadak menjadi kaku mendengar ucapan Pak Broto.


" Bagaimana anda bisa mengatakan itu Pak Broto, anda tahu benar kejadian yang sebenarnya." Ucap Irvan.


" Maka dari itu saya mengatakan hal yang sebenarnya jika Irvan adalah putramu, darah dagingmu." Sahut Pak Broto.


" Anda telah menfitnah saya Pak Broto, saya akan menuntut anda ke ranah hukum jika anda berani bermain main dengan saya." Ujar Irvan.


" Ucapan anda bisa di katakan sebuah ancaman Tuan Irvan." Ucap pengacara.


" Terserah anda akan menilai bagaimana Tuan Agus, yang jelas saya tidak terima karena Pak Broto sudah menfitnah saya." Sahut Irvan tegas.


" Kami punya buktinya Tuan Irvan." Ucap Pak Agus.


" Tunjukkan bukti itu." Titah Irvan.

__ADS_1


Pak Agus meyodorkan beberapa foto kemesraan Irvan dengan Elin. Cia menatap foto itu, hatinya teriris saat melihat suaminya menggendong mesra Elin menuju kamar hotel. Ingin rasanya Cia marah saat itu juga, namun sebisa mungkin Ia menahannya. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Elin.


" Jika memang benar anak itu milik suami saya, apa yang anda inginkan Nona Elin?" Tanya Cia menatap Elin.


" Sayang....


" Tenanglah Mas, aku hanya ingin tahu apa yang Nona Elin inginkan." Potong Cia.


" Baiklah sayang." Sahut Irvan.


" Nona Elin." Ucap Cia berharap Elin akan menjawab pertanyaan. Ia ingin tahu apa yang di rencanakan Elin dan ayahnya.


" Saya mau Irvan bertanggung jawab kepada saya Nona Cia, Irvan putra saya semakin besar dan butuh biaya banyak, saya tidak mampu menghidupinya karena sekarang ayah saya sudah bangkrut dan saya hanya bekerja di cafe saja." Sahut Elin.


" Jadi intinya anda menginginkan uang kan?" Selidik Cia.


Elin tidak bergeming. Ia membungkam mulutnya tanpa menjawab pertanyaan Cia.


" Aku tahu jika memang itu tujuanmu Nona Elin, tapi aku ingin mendengar pembelaan dari suamiku dulu, suamiku harus membuktikan jika semua yang kau tuduhkan adalah kebohongan." Sahut Cia.


" Kejadiannya tidak seperti yang anda kira Tuan Agus, waktu itu saya hanya menolong Elin karena dia habis di perk*** oleh lelaki hidung belang, saya hanya memindahkan dia kekamar lain saja, setelah itu saya keluar dari sana." Terang Irvan.


" Anda tahu jelas kebenarannya Pak Broto." Sambung Irvan menatap nyalang ke arah Pak Broto.


" Apa? Di perk***" Tanya Elin menatap Irvan.


" Iya Lin." Sahut Irvan.


" Bukannya kamu yang melakukan semua itu padaku? Kenapa sekarang kamu bilang seperti itu? Apa kamu pikir aku wanita jal**? Aku tidak percaya itu Irvan, pria yang aku anggap cintai mampu merendahkan harga diriku serendah rendahnya." Sahut Elin.


" Aku yakin kau menjebakku Pak Broto." Ucap Irvan.


" Untuk apa saya menjebakmu Nak Irvan, buktinya ada di foto foto itu." Ujar Pak Broto.


" Hanya foto saja kan?" Tanya Cia membuat Irvan menatap ke arahnya.


" Ya, foto foto itu bisa menjadi bukti kedekatan Nona Elin dan Tuan Irvan, kami akan mengumpulkan bukti bukti lainnya Nona untuk membuktikan jika Irvan adalah putra dari Tuan Irvan." Sahut Pak Agus.


" Tidak perlu pak pengacara." Sahut Cia.


" Apa maksud anda tidak perlu Nona?" Tanya Pak Agus.


" Anda tidak perlu capek capek mencari bukti lainnya, karena suami saya sudah membawa semua bukti buktinya." Ucap Cia.


" Bukti apa yang anda bawa Tuan Irvan?" Tanya Pak Agus.


Irvan mengeluarkan satu persatu bukti yang sudah Ia kumpulkan.


" Flashdisk berupa rekaman transaksi Pak Broto dengan pria yang memperk*** Elin." Ucap Irvan menatap Pak Broto yang sedang gugup.


" Bukti video jika saya hanya memindahkan Elin saja, setelah itu saya keluar dari kamarnya." Ucap Irvan memberikan rekaman cctv hotel saat itu, dengan susah payah Ia mendapatkan rekaman itu.


" Dan yang terakhir." Ucap Irvan mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih berlogo rumah sakit ternama di kota ini.


" Hasil tes DNA antara aku dan Irvan putranya." Ucap Irvan menyodorkan amplop itu kepada Pak Agus.


Pak Agus segera membuka laporan hasil tes DNA itu dan ternyata benar jika Irvan bukan ayah biologis dari Irvan junior.

__ADS_1


Pak Agus menatap nyalang ke arah Pak Broto.


" Anda mempermainkan saya Tuan Broto, saya mempertaruhkan karier saya di sini untuk membantu anda, tapi ternyata anda mengkhianati saya Tuan." Ucap Pak Agus.


" Anda sudah menfitnah suami saya Pak, dan anda harus menanggung akibatnya." Ucap Cia.


" Sebentar lagi polisi akan datang kemari untuk menangkap anda Tuan Broto." Sambung Cia.


" Apa polisi? Tidak Nona Cia, maafkan saya, tolong maafkan saya." Ucap Pak Broto menghampiri Cia lalu bersujud di kakinya.


" Nak Irvan saya mohon maafkan saya, jangan penjarakan saya." Ucap Pak Broto.


" Saya akan memaafkan anda, tapi hukum tetap berlaku Pak Broto." Ucap Cia.


" Pak pengacara, berikan bukti itu kepada polisi nanti, dan kamu Nona Elin." Sambung Cia menatap Elin.


" Ganti nama putramu, aku tidak rela nama suamiku di pakai oleh orang lain." Ujar Cia.


" Aku tidak mengerti, sebenarnya apa yang telah terjadi? Kalau Irvan bukan anak suamimu lalu dia anak siapa?" Tanya Elin menatap Cia.


Elin tidak mengingat apa apa saat Ia bangun tidur kala itu. Ayahnya hanya bilang jika Irvan temannya yang melakukan semua itu. Hingga satu bulan kemudian Elin hamil. Elin hendak meminta pertanggungjawaban Irvan namun ayahnya melarangnya.


Tapi kini setelah perusahaan ayahnya bangkrut mau tidak mau Ia harus menemukan Irvan untuk meminta biaya kehidupan putranya, tapu apa ini?


" Nona Elin, kejadian yang sebenarnya adalah, ayahmu telah menjualmu kepada pria hidung belang saat itu, bukan suamiku yang melakukannya tapi orang lain." Ucap Cia.


Jeduar....


" A.... Apa?" Tanya Elin menatap Pak Broto.


" Maafkan ayah Nak, ayah terpaksa melakukannya karena waktu itu ayah butuh uang untuk membangkitkan keuangan perusahaan Nak." Sesal Pak Broto.


" Siapa pria itu Yah? Siapa pria itu?" Teriak Elin.


" Ayah tidak tahu Nak, saat itu ayah hanya mengenalnya lewat ponsel saja." Sahut Pak Broto.


Tubuh Elin luruh ke lantai. Ia menangis meraung meratapi nasibnya.


" Kenapa ayah tidak memberitahuku? Aku hampir saja merenggut kebahagiaan orang lain Yah, kenapa ayah tega kepadaku hiks... Hiks.. Aku akan di cap sebagai pelakor yah...." Isak Elin.


" Maafkan ayah sayang." Ucap Pak Broto memeluk Elin.


" Maafkan aku Nona Cia, Irvan, aku benar benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku terhasut oleh ucapan ayahku, maafkan aku." Ucap Elin.


" Aku akan mengganti nama putraku dengan segera." Sambung Elin.


Elin melepas pelukan ayahnya, Ia berdiri di depan Irvan.


" Van bantu aku untuk menemukan siapa pria itu, ku mohon." Ucap Elin mengatupkan kedua tangannya.


" Aku sudah menemukan biodata orang itu, kamu cari sendiri saja karna aku tidak mau terlibat denganmu terlalu jauh." Sahut Irvan meletakkan sebuah kartu nama di atas meja.


" Ayo sayang kita pulang." Ucap Irvan menggandeng tangan Cia.


Keduanya keluar dari rumah Elin dengan perasaan lega. Masalah sudah selesai sampai di sini. Kini keduanya berharap akan ada kebahagiaan yang selalu menyambut hari hari mereka.


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2