
" Aku mau makan di suapi Tuan tampan itu." Ucap Ria tiba tiba menunjuk seseorang itu. Semua orang menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Ria.
" Irvan." Gumam Nathan.
" Irvan, Ada apa?" Tanya Valen.
" Siang Om, Tante, Pak Nathan, Pak Davian." Sapa Irvan menghampiri Valen.
" Siang, kamu siapa?" Tanya Mami Nesha.
" Dia sahabat sekaligus asistentku Mi." Sahut Valen.
" Wah seneng betul punya asistent setampan ini." Ujar Mami Nesha.
" Mami... Inget udah tua bentar lagi udah punya cucu." Sahut Papi Farhan.
" Emang kenapa Pi? kalau lihat yang bening bening gini jiwa muda Mami bergelora Papi." Ujar Mami Nesha menggoda Papi Farhan.
" Terserah Mami saja." Sahut Papi Farhan menuju sofa.
" Yah ngambek." Ujar Mami Nesha.
" Tante ke sana dulu ya." Sambung Mami Nesha menatap Irvan.
" Silahkan Tante." Sahut Irvan.
" Katakan ada apa!" Titah Valen.
" Lo kalau gue datangi pasti berubah jadi serius gitu, santai aja nggak ada pa pa, gue cuma mau menjenguk adik Lo aja." Sahut Irvan.
" Ah kebetulan adik gue mau makan tapi di suapi sama Lo, suapi gih yang banyak biar cepet pulih." Ucap Valen.
" Hah????" Ucap Irvan melongo. Kenapa harus dia? Bukankah ada suaminya? Pikir Irvan.
" Udah buruan, Davian kasihkan makanannya ke Irvan biar dia yang menyuapi, keburu dingin entar makanannya jadi nggak enak lagi." Ucap Valen.
Dengan terpaksa Davian memberikan piring makanannya kepada Irvan. Valen menggeser posisinya membiarkan Irvan duduk di kursi samping ranjang.
" Mau makan?" Tanya Irvan kepada Ria. Ria menganggukkan kepalanya.
Irvan mulai menyodorkan sesendok makanan ke mulut Ria, Ria menerimanya sambil tersenyum membuat Davian memejamkan matanya sambil mengepalkan tangannya erat menahan sakit dan emosi di dadanya.
Dengan telaten Irvan menyuapi Ria dengan gugup karna Ria terus menatapnya. Semua orang merasa lega setidaknya Ria mau makan walau harus menyusahkan orang lain.
" Selesai, terus sekarang tinggal minum obat ya." Ucap Irvan memberikan piring kosong ke Davian. Ria kembali menganggukkan kepalanya.
" Obatnya biar gue aja." Ucap Davian.
Irvan mundur menjauh dari ranjang. Davian memberikan obat dan segelas air kepada Ria namun lagi lagi Ria hanya berdiam diri sambil menggelengkan kepalanya. Davian menghela nafasnya. Ria menunjuk kepada Irvan membuat semua orang paham.
" Van kamu saja yang memberikan obatnya." Ucap Valen.
Irvan meminta obat dari tangan Davian, lalu memberikannya kepada Ria. Ria menerimanya, Ia segera meminumnya dengan sekali telan. Selesai minum obat, Irvan hendak menjauh tapi Ria mencekal tangannya.
" Di sini aja." Ucap Ria menatap Irvan.
Irvan menatap ke arah Valen seolah meminta pendapatnya, Valen menganggukkan kepalanya.
" Baiklah aku akan di sini, sekarang tidurlah." Ucap Irvan.
__ADS_1
" Jangan kemana mana." Ucap Ria.
" Aku akan menjagamu di sini." Sahut Irvan.
" Terima kasih Adrian." Ucap Ria tiba tiba.
Deg.....
Jantung Davian terasa berhenti berdetak. Dadanya sesak tak karuan. Apa Ria mengingat kalau dia yang sudah melenyapkan Adrian? Kenapa Ria memanggil Irvan dengan nama Ardian? Banyak pertanyaan dalam benak Davian.
Ria menggenggam tangan Irvan lalu Ia memejamkan matanya. Valen, Nathan dan Davian menuju sofa. Davian terus menatap genggaman tangan Ria. Hatinya terasa di remas remas melihat semua itu. Satu kata yang Ia rasakan saat ini yaitu sakit. Hatinya sakit menatap Ria lebih memilih pria lain dari pada dirinya.
Setelah Ria tertidur, Semua orang pamit pulang tapi tidak dengan Davian. Ia tetap seria menjaga istri tercintanya.
Sore hari Luci mengunjungi Ria dan Kakaknya. Ia membawakan baju ganti untuk Davian. Luci membuka pintu ruangan Ria, Ia menghampiri Davian yang sedang tidur bersandar pada sofa.
" Kak, aku bawakan pakaian ganti untukmu." Ucap Luci. Davian menoleh ke arah Luci. Ia mengucek matanya karna baru saja terlelap. Davian merubah posisinya menjadi duduk.
" Terima kasih Luci." Ucap Davian.
" Tidak perlu berterima kasih Kak, aku ini adikmu, bagaimana keadaan Kak Ria? Kak Valen bilang Kak Ria udah sadar." Ucap Luci.
" Kakakmu memang sudah sadar, tapi keadaannya begitu memprihatinkan, dia hanya bisa menatapku dengan pandangan kosong, dia selalu menolak jika aku ingin melakukan sesuatu untuknya." Sahut Davian sedih.
" Bersabarlah Kak lebih banyak rasa sakit yang Kak Ria rasakan dari pada apa yang Kakak rasakan saat ini, Kak Ria menahan semua kesakitannya sendirian, bagaimana Kak Davi memaksanya untuk melayanimu, Kak Davi sering berbuat kasar padanya bahkan Kak Davi membawa wanita lain dengan mengakuinya sebagai kekasihnya." Ujar Luci.
" Kau benar Luci, terlalu banyak luka yang Kakak berikan pada Ria, Kakak akan menebus semua kesalahan itu, Kakak tidak mau kehilangan Ria dan calon anak Kakak." Sahut Davian.
" Bersabarlah Kak karna semua akan indah pada waktunya." Ucap Luci.
" Nghhh." Lenguh Ria membuka matanya.
" Sayang kau sudah bangun? Kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Davian menghampiri Ria.
Ria menatap ke depan dengan pandangan kosongnya.
" Kak, apa Kakak membutuhkan sesuatu? Biar Luci ambilkan." Ucap Luci menyentuh pundak Ria. Ria menoleh ke arah Luci.
" Adrian." Ucap Ria.
" Apa? Adrian?" Tanya Luci memastikan.
" Adrian siapa yang Kakak maksud?" Sambung Luci.
" Tuan tampan." Sahut Ria.
" Siapa yang Kak Ria maksud Kak? Adrian siapa?" Tanya Luci menatap Davian.
" Namanya Irvan, asistentnya Valen." Sahut Davian.
" Entah kenapa Ria memanggilnya Adrian." Sambung Davian.
" Kak Ria mau bersama tuan tampan?" Tanya Luci membuat Ria menganggukkan kepalanya.
" Baiklah akan aku panggilkan." Sahut Luci.
" Apa maksudmu memanggilnya?" Tanya Davian.
" Asistent Kak Valen ada di depan Kak." Sahut Luci.
__ADS_1
" Apa? Di depan? Mau ngapain dia ada di depan?" Selidik Davian.
" Kak Valen menyuruhnya untuk tetap di sini menjaga Kak Ria." Ujar Luci.
" Benar benar keterlaluan Kakak Ipar." Cebik Davian.
" Kak ini demi kesembuhan Kak Ria juga kan? Sudahlah sekarang jangan mementingkan ego, pentingkan kondisi Kak Ria dulu." Ujar Luci berjalan menuju pintu.
Tak lama Irvan masuk ke dalam menghampiri Ria di ranjangnya.
" Maaf Pak Davian, sebenarnya saya merasa sungkan dengan anda, tapi saya di sini sedang bekerja dan saya tidak punya tujuan apapun, saya di bayar Nona Valen untuk membantu memulihkan keadaan Nona Ria." Ucap Irvan kepada Davian.
" Lakukanlah demi kesembuhan istriku, jika kau macam macam aku akan membuat perhitungan kepadamu." Ancam Davian.
" Kau tidak akan mampu melakukannya Tuan Davian, ingatlah jika aku asistent terhandal Alexander Group bukan seorang asistent biasa seperti yang kau pikirkan." Tegas Irvan.
Irvan menatap Ria yang sedang menatapnya.
" Kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Irvan.
" Haus." Lirih Ria.
Irvan segera mengambilkan segelas air putih lalu membantu Ria untuk meminumnya.
" Mau apa lagi?" Tanya Irvan. Ria terlihat sedikit berpikir lalu Ia menggelengkan kepalanya.
" Ya sudah istirahat saja ya, aku akan menemanimu di sini." Ujar Irvan. Ria menganggukkan kepalanya.
" Mau lihat video lucu?" Tawar Irvan. Ria menganggukkan kepalanya.
Irvan mengambil ponsel di sakunya, Ia membuka aplikasi Utube untuk melihat video video lucu untuk menghibur Ria yang saat ini mengalami tekanan batin.
Video mulai di putar, Ria meihatnya sambil senyum senyum sendiri.
" Lucu kan?" Tanya Irvan.
" Hmm." Gumam Ria.
Saat ponsel Irvan menampilkan video yang bisa membuat orang tertawa terpingkal tiba tiba Ria mengeluarkan tawanya dengan lepas.
" Ha ha ha ha." Tawa Ria membuat Irvan tersenyum senang. Sepertinya kondisi Ria mulai membaik berkat bantuan dirinya.
Davian menatap tak percaya ke arah Ria yang bisa tertawa lepas dengan pria lain. Selama beberapa bulan ini Davian bahkan tidak pernah melihat Ria tertawa selepas ini.
" Ya Tuhan... Apa yang harus aku lakukan untuk membuat Ria seceria ini? Apakah aku harus rela untuk melepasnya? Ataukah aku harus tetap berjuang mendapatkan cintanya kembali demi anakku? Ya Tuhan berikan aku petunjuk dan lancarkan jalannya." Batin Davian.
Kasih solusi donk buat Davian mau maju atau mundur nih?
Atau kita pasangkan Ria dengan Irvan saja ya? Tapi kasihan anaknya nanti nggak dapat kasih sayang ayah kandungnya....
Penasaran kan???? Mau gimana.....
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya dan tunggu jawabannya di bab selanjutnya ya...
Terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport author selama ini semoga sehat selalu....
Miss U All...
TBC .....
__ADS_1